
"Namaku Olivia, aku seorang pengembara. Adik mu itu bisa membunuhku ku, jika aku berbohong. Kalau aku tidak berbohong, maukah kau percaya dengan ku?" Sahut Wanita itu tanpa adanya keraguan di matanya.
Kael dan Reyhan langsung tertegun akan Olivia si wanita misterius itu. Saat ia mengatakan hal itu, tidak ada keraguan yang terlihat di matanya. Dengan perkataan Olivia itu, Kael menjadi agak yakin dan percaya kepadanya. Kael perlahan maju melangkah ke arah Olivia.
"Aku pegang perkataan mu. Jadi, apa yang kau lakukan di sini?!" Tanya Kael.
"Oeh... itu, aku tadi sedang berkeliling dan tak sengaja melihat suasana hutan yang sudah hancur begini. Karena penasaran... yasudah, aku mampir saja. Kalau kalian berdua, sedang apa di sini?" Tanya Olivia balik.
Reyhan maju dan mensejajarkan langkahnya dengan Kael, berusaha untuk ikut dalam obrolan mereka. Reyhan merasa teracuhkan di belakang, jadi ia maju ke depan dan berdiri di samping Kael.
"Kami dari istana, kami berdua di tugaskan untuk memeriksa tempat ini dan... Sepertinya... Glom teman kami hilang. Heheh.." Sahut Reyhan.
"Oeh.. Glom? Apa glom anak rubah?"
"Nah, iya. Apa kau tau di ada mana?"
__ADS_1
Untuk beberapa saat Olivia terdiam dan menatapi glom tersebut dengan tampang yang terlihat kebingungan. Glom itu tidaklah lain dan tidaklah bukan Glom milik Alin yang tiba-tiba menghilang itu. Olivia sedang berpikir bagaimana caranya ia harus menjelaskan situasi glom itu kepada mereka. Nyawa Viko kini sudah di ujung tanduk, ia sedang sekarat sekarang, namun dalam situasi yang seperti itu, Olivia masih sempat-sempatnya berpikir panjang.
"Ada apa? Dimana dia?" Tanya Reyhan lagi.
"Dia.. sepertinya sekarat..."
Dengan santainya, Oliva menyodorkan Viko ke arah Reyhan. Namun setelah mendengar hal tersebut, dengan terburu-buru Kael langsung merebut Viko dari tangan Olivia dan meletakkan nya di tanah. Kael dan Reyhan terlihat panik, mereka berjongkok di dekat Viko dan memasang mantra penyembuh di dekatnya.
"Bagaimana? Apa Viko baik-baik saja?" Tanya Reyhan kuatir.
"Ck, dia sudah benar-benar terluka parah. Sangat kecil kemungkinannya untuk tetap hidup. Aku.."
Kael dan Reyhan hanya menatap Olivia dengan tatapan sinis dan kembali menyembuhkan Viko. Rasa jengkel mereka terhadap Olivia sudah ia ketahui, dengan terpaksa Olivia harus membantu nya untuk mendapatkan kepercayaan mereka.
Sambil menghela nafas, Olivia ikut berjongkok di dekat mereka. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam dan memasukkan itu ke dalam mulut Viko. Kael langsung menoleh kearah Olivia dengan keheranan.
__ADS_1
"Apa yang kau berikan kepadanya?!"
"Hanya pil penyembuh, tidak perlu panik begitu. Dia akan sadar dan membaik nantinya." Ucap Olivia dengan santainya.
Ia berdiri dan berbalik, ingin meninggalkan mereka berdua. Namun Kael lebih cepat darinya, ia memborgol tangan Olivia dan menahannya.
"Reyhan, bawa Viko ya.. Aku akan menahan orang ini." Pinta Kael.
"Siap, kak!"
"Hei! Hei! Mau kau bawa kemana aku?! Lepaskan!" Teriak Olivia seraya memberontak dari genggaman Kael.
"Diam! Kau harus ikut dengan kami ke istana!"
"Tidak mau! Lepaskan!"
__ADS_1
"Diam!" Bentak Kael lagi.
Olivia pasrah, ia memilih untuk diam dan mengikuti mereka ke istana.