Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 49 Mencoba berbaikan


__ADS_3

Malam harinya di rumah Alin. Ibunya sedang memasak di dapur, sementara itu Alin hanya duduk diam di kursi meja makan sambil memperhatikan ibunya.


Alin ingin mendekati nya, tapi Alin terlalu takut. Setelah beberapa lama berpikir, Alin akhirnya memberanikan diri untuk mendekati ibunya yang sedang memasak. Alin berdiri dari tempatnya, berjalan mendekati Nam Yeon yang sedang memotong bahan makanan.


"Ibu duduk saja, Bu. Biar Alin yang memasak makanan untuk kita malam ini" Alin berusaha mengambil pisau dari tangannya Nam Yeon.


"Tidak usah! Aku bisa melakukan nya sendiri!" Tolak Nam Yeon dengan nada yang ketus.


Ia menepis tangan Alin yang ingin mengambil pisau itu dari tangan nya. Hati Alin terasa sakit karena di tolak oleh ibunya sendiri, namun ia tetap berusaha untuk bersabar dengan ibunya. Alin kembali membujuk Nam Yeon lagi dengan nada yang lebih lembut lagi.


"Bu... Apa ibu tau? Saat Alin pergi, Alin sudah belajar membuat resep baru. Ibu pasti suka..."


Dengan perlahan tangan Alin menyelinap di antara tangan ibunya untuk mengambil pisau yang ibu Alin pegang sekarang. Namun anehnya tak ada penolakan lagi dari Nam Yeon.


"Kemana kau pergi selama ini?! Dimana kau tinggal saat kau menghilang?!" tanya Nam Yeon dengan nada yang dingin khas Lukas.


Alin terdiam sesaat, ia tak merespon nya untuk beberapa menit dan mulai memotong wortel yang ada di talenan. Alin menundukkan sedikit kepalanya dan berpikir.


"Untuk apa ibu menanyakan itu? Apa ibu sudah menyesal dan ingin aku kembali lagi sekarang?" Tanya Alin dengan tersenyum palsu.


"Hump, Kau terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak menganggap mu anak ku lagi. Jadi berhenti berharap!" Ucapnya dengan ada yang ketus.


Namun Alin juga tak mau kalah dengan ibunya. Alin mencoba untuk memanipulasi ibunya, agar Nam Yeon mau mengakui Alin kembali sebagai anaknya walaupun itu hanya di dalam sebuah ucapan saja.


"Tapi kau tidak bisa menyangkal nya, darah mu mengalir di dalam tubuh ku. Jika kau merasa aku membawa kesialan bagimu, itu resiko mu sendiri. Tapi... Aku akan selalu menunggu ibuku untuk kembali seperti dulu."


"Sudah cukup! Semenjak kau pergi dari rumah ini, apa saja hal yang kau lakukan sampai berlagak hebat seperti ini! Apa karena kau sudah menjadi simpanan nya presdir keluarga prantha?!" Bentak Nam Yeon.


"Seperti nya begitu, memangnya apa urusan mu?" Sahut Alin dengan entengnya.


"Dasar anak yang tidak tau terima kasih! Aku sudah merawat dan mendidik mu saat kecil. Jadi ini balasan mu untuk ibu?! dengan mempermalukan keluarga kita?!"


Nam Yeon marah, dia mencengkeram kerah baju Alin dan membentaknya. Pisau yang Alin pegang kini terjatuh ke lantai. Nam Yeon masuk ke dalam rencananya Alin, tanpa ia sadari ia mengakui Alin sebagai orang dari keluarga nya.

__ADS_1


"Humpt... Ternyata kau sekarang sudah mau mengakui ku?"


Alin sedikit menyeringai sambil menatap ibunya. Ia terlihat angkuh, kuat dan berani, namun sebenarnya hatinya sangat terluka dengan semua kalimat yang ibu nya katakan.


Nam Yeon membelalakkan matanya dan mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tidak menyangka Alin akan menjadi sekuat itu hanya dalam waktu beberapa bulan. Nam Yeon berbalik dan berjalan menjauh dari Alin.


"Sudahlah, aku akan memesan makanan. Kau makan atau tidak malam ini itu bukan urusan ku. Karena kau adalah simpanan seorang Presdir kaya dan kau... bukan anakku lagi." Nam Yeon berjalan pergi meninggalkan Alin sendirian.


Hati Alin sangat sakit, ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Semua yang ibunya katakan selalu berputar-putar di kepalanya. Alin duduk di kursi meja makan dan meletakkan kepalanya dia atas meja dengan malas.


"Apa ibuku yang dulu tidak bisa kembali lagi? Apa ibu sudah benar-benar melupakan ku? Itu tadi sangat mengerikan, ngomong-ngomong sejak kapan aku berani melawan ibu?!. Seperti nya aku sudah mulai tidak waras."


Alin berjalan ke kursi ruang tamu dan merebahkan dirinya di situ. Tak beberapa lama kemudian Alin tertidur di kursi dengan sangat pulas. Untuk malam itu, sudah cukup saja perdebatan Alin dan ibunya sampai situ.


Sementara itu di sisi lain, Lukas dan Gion sedang bersantai di Vila. Mereka berdua duduk di ruang tamu sambil menonton film di TV. Mereka sangat menikmati menit-menitnya, tak sering mereka bisa merasakan dunia yang penuh dengan teknologi yang modern ini. Di dunia sihir tidak ada yang namanya teknologi hanya ada sihir.


Tiba-tiba melintaslah di pikiran Gion akan kekhawatiran nya pada Alin. Lukas tidak peduli dan hanya fokus pada televisi yang ada di depannya.


"Mungkin dia sedang berurusan dengan wanita itu, berbicara dalam ketegangan dan..." Sahut Lukas dengan pandangan yang masih fokus ke depan TV.


"Darimana kau tau?"


"Hanya menebak"


"ck, kau bahkan hebat dalam hal menebak. Sebenarnya apa yang tidak kau bisa lakukan?" Tanya Gion dengan perasaan yang sedikit iri pada Lukas.


"Entah"


Gion menatap Lukas dengan tatapan datar nya untuk beberapa saat. Ia sangat frustasi dengan sifat Lukas yang semakin dingin, bahkan pada orang terdekatnya. Ingin rasanya ia memaki Lukas, namun Gion sadar kalau beberapa pelayan ada di samping mereka.


"Dasar BATU ES! GUNUNG KUTUB! PATUNG ES! KULKAS!!!!" Gion mengamuk di dalam batinnya.


Beberapa jam kemudian Lukas dan Gion merasa sangat mengantuk. Saat Gion melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya, ia terkejut karena jamnya telah menunjukkan pukul 1 subuh. Tanpa mereka sadari mereka terhanyut dengan alur cerita yang mereka tonton itu hingga lupa waktu.

__ADS_1


"Aku mau tidur dulu, ini sudah pukul 1 subuh. Sebaiknya kita tidur sekarang kalau mau menemani Alin besok."


"Baiklah"


Lukas beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke sebuah kamar di pojok sebelah kanan di lantai atas. Dan Gion juga pergi ke kamar yang ada di seberang tempat Lukas.


Mereka akhirnya tidur. Alin, Lukas, dan Gion merasa sangat kelelahan hari itu. Hari itu telah berlalu dan malam harinya mereka pergi beristirahat.


...****************...


Ke esokkan harinya, Lukas dan Gion bangun pagi-pagi. Mereka mandi dan menyiapkan sarapan sebelum pergi. Sambil menunggu sarapan yang sedang di buat para pelayan selesai di masak, Lukas dan Gion menyibukkan diri mereka dengan Gadget nya masing-masing.


Lukas menelpon salah satu bawahan nya untuk mencari tau nomor telepon rumah nya Alin. Setelah mendapatkan nomor telponnya, ia langsung menelpon nya.


"Halo?" Sapa seseorang dari seberang sana.


Namun Lukas malah memberikan telponnya ke Gion dan memberikan kode padanya untuk berbicara. Gion yang melihat Lukas memberikan kode secara tiba-tiba terlihat kebingungan.


"Halo?" Sapa orang itu lagi dari seberang sana.


"Tanyakan tentang Alin!" Perintah Lukas dengan suara yang pelan.


"Oeh, Apa ada Alin?" Tanya Gion pada orang itu.


"Oh, saya Alin. Ada apa?"


Ternyata orang yang mengangkat telpon itu benar-benar Alin. Gion ingin kembali berbicara, namun saat Gion ingin berbicara Lukas sudah terlebih dahulu mengambil telpon itu kembali. Gion kesal pada Lukas dan memasang ekspresi datar lagi.


"Temui kami di taman kota!" Perintah Lukas dingin.


"Oke, baiklah. Aku akan siap-siap."


Saat Lukas berbicara, Alin sudah tau kalo itu Lukas karena caranya berbicara yang terkesan dingin. Alin pun mengiyakan nya. Alin ingin menanyakan sesuatu, namun sebelum ia berbicara telponnya sudah di tutup oleh Lukas. Seperti biasa, siapapun yang yang berhadapan dengan Lukas pasti pernah memasang ekspresi datar padanya karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2