Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 92 Obat aneh.


__ADS_3

Setelah menelan pil obat, rasa pahit dan rasa manis yang sangat tidak mengenakan terasa di permukaan lidah dan itu membuat Alin merasa mual. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan langsung memuntahkannya.


"Astaga, tidak enak sekali! Huuuuekk..."


"Haisshh... Sudah aku duga, kau pasti akan memuntahkannya." Keluh Kael.


Kael yang tadinya duduk di kursi, beranjak dari tempat dan menyusul Alin yang sedang muntah ke kamar mandi. Ia berjongkok dan menepuk-nepuk punggung nya dengan sedikit keras.


"Berhenti memuntahkannya Alin." Ucap Kael yang sedikit resah.


"Tapi ini... rasanya aneh!"


Rasa pahit dan rasa manis yang aneh itu pun terus saja menghantui lidah yang membuat Alin memuntahkan isi perutnya secara terus menerus. Hingga di satu titik, Alin sudah memuntahkan semuanya yang membuatnya menjadi lemas dan ia langsung terduduk di tempatnya sekarang.


"Ini racun atau obat? Rasanya terasa seperti racun saja. Perutku terasa sakit sekarang."


"Yah... Tidak semua obat itu manis dan enak, pastinya ada juga yang terasa pahit dan tidak enak. Begitu juga dengan racun, tidak semua racun itu rasanya pahit, pastinya ada juga yang rasanya manis." Ucap Kael menasehati Alin.


"Entahlah, aku tidak mau menelan obat itu lagi."


"Tapi kau harus meminumnya lagi, karena yang kau minum sebelumnya sudah di muntah kan semua. Ayo, kita keluar dulu."


"Huhu... Kael, perutku sudah sakit karena meminum obat itu. Apa tidak ada obat yang lain?" Rengek Alin.


"Tentu saja ada. Tapi racun mu akan lebih lambat sembuh dan kau harus beristirahat seperti ini selama sebulan, tapi jika kau meminum obat tadi... Kau mungkin akan pulih dengan cepat. Bagaimana?" Tanya Kael.


"Huhu... Okelah. Apa pun asalkan aku tidak di kurung seperti ini lagi."


"Ayo."


Karena tidak ingin tersiksa di dalam kamar seperti itu lagi, Alin akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang Kael katakan. Dengan berat hati, Alin harus meminum obat yang rasanya bagaikan racun itu demi bisa sembuh dengan cepat. Alin pun berdiri dari tempatnya di bantu oleh Kael untuk keluar dari kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Kael membantu Alin untuk duduk di kasurnya, lalu memeriksa Alin kembali.

__ADS_1


"Apa perutmu masih sakit?" Tanya Kael yang terlihat iba melihat Alin yang terlihat lemas.


"Hm. Aku merasa mual dan pusing sekarang."


Alin benar-benar terlihat lemas dan pucat setelah muntah tadi. Bukannya membaik, ia malah semakin memburuk karena perutnya yang kosong. Kael memanglah dokter yang cukup posesif terhadap para pasiennya, tapi tindakan nya itulah yang buat pasiennya menjadi lekas sembuh.


Karena Kael tau kalau perut Alin sedang kosong sekarang, ini adalah waktu yang terbaik untuk memberikan obat itu kembali. Kael pun memberikan sedikit kemudahan untuk Alin meminum obat tersebut.


"Aku akan mencampur obat tadi dengan daun filium dulu agar aroma nya hilang. Tapi kau harus meminum 2× lipat dari dosis yang sebelumnya."


"Hm."


Kael duduk di kursi yang tadi dan mulai mencampur obat tadi dengan obat filium menggunakan mantra sihir. Terlihat daun filium mengelilingi tangan salah satu Kael yang bergerak-gerak di sekitar botol obat yang melayang di tangan yang satunya lagi. Beberapa saat setelah itu, daun filium yang beterbangan langsung lenyap.


"Ini, pelan-pelan saja." Ucap Kael yang langsung menghampiri dan memberikan obat itu kembali.


Alin pun menurut dan tidak mau basa-basi lagi karena kepalanya yang sudah mendesaknya untuk pergi beristirahat. Ia menelan obat itu di bantu oleh segelas air yang melarutkannya. Rasa pahit dan manis itu pun masih terasa. Tapi untuk kali ini, Alin mencoba dengan keras untuk tidak memuntahkannya.


Tapi rasa mual yang luar biasa tidak mau hilang dan terus saja membuatnya merasa mual sehingga Alin sampai-sampai mengigit bibir bagian bawahnya. Kael yang merasa kasian, membantu Alin untuk meredakan rasa mual tersebut.


"Hm."


"Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan memanggil Olivia sebentar."


"Aku masih ragu, ini obat atau racun?! Kepalaku pusing sekali..."


Kael pun pergi dari tempat itu. Alin yang sudah tidak tahan dengan kepala dan matanya yang terus saja memberontak dari kendalinya, langsung tertidur dengan keadaan yang masih merasakan sakit di perut.


Di sisi lain, di tempat yang sangat jauh, yang tepatnya di dunia manusia. Saat itu, hari itu sudah tengah malam di sana, di mana kota masih saja sibuk beroperasi. Di kota sangatlah sibuk dan berisik, terutama di pusat kota. Bermacam-macam kendaraan dan tragedi pasti semua orang tau melalui media sosial.


Sementara itu, Arga yang berada di rumah nya tiba-tiba saja kepikiran dengan Alin. Arga terlihat duduk di kursi kerja ayahnya sambil menggigiti salah satu pulpen dari atas meja. Ia melamun kan Alin yang ia temui di beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


Saat ini ia sangat ingat dengan kejadian waktu itu. Dimana Alin dan Lukas terlihat dekat dan akrab, tapi yang membuat Arga bingung adalah Alin yang tiba-tiba saja bisa mengenal orang besar seperti Lukas. Setaunya Arga, Alin adalah anak pendiam dan lugu, yang mungkin saja tidak mengenal orang-orang besar yang ada di negara mereka sendiri.


"Tuan muda Lukas."


"Bagaimana Alin bisa mengenal tuan muda dari keluarga Pranatha? Bahkan bisa akrab sampai-sampai tuan muda bisa merangkulnya begitu? Apa yang saudara-saudara nya katakan itu benar? Tidak, tidak. Tapi untuk beberapa bulan terakhir... aku memang tidak menemukan informasi tentang aktivitas nya. Apa benar?"


Saat Arga sedang asyik-asyiknya melamun, pintu ruang kerja ayahnya itu terbuka, seseorang masuk ke tempat itu tanpa sepengetahuan nya.


"Arga... Apa yang kau lakukan di ruangan kerja ayah?"


Suara berat seorang lelaki itu langsung menyadarkannya. Arga berbalik dan melihat tampang orang tersebut. Orang itu ialah ayahnya sendiri.


"A-ayah, ada apa?" Tanya Arga.


"Akulah yang harus bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan di ruang kerjaku? Apa kau mencuri wine ku lagi?"


"Tidak! Lihatlah, wine mu masih ada di sini semua." Jawab Arga yang merasa tertuduh


"Hahaha... aku hanya bercanda, kau sudah dewasa sekarang, aku tidak akan melarang mu untuk meminum wine lagi."


Untuk beberapa saat Arga berpikir kembali. Hingga sesuatu membuat nya tertegun. Ia ingat bahwa keluarga Pranatha adalah teman bisnis keluarga nya juga. Dan dalam kesempatan ini, Arga mungkin bisa menggali informasi tentang Lukas yang bersama Alin pada saat itu.


"Ayah?" Panggil Arga.


"Ada apa?"


"Bukannya keluarga Pranatha itu teman bisnis ayah? Apa kau bisa membantuku menyelidiki sesuatu?" Tanya Arga.


"Hmm... Ini mungkin akan sulit, tapi akan ku coba. Memangnya apa yang membuatmu tertarik dengan keluarga Pranatha?"


"Tidak. Tolong selidiki aktivitas mereka untuk 1 tahun terakhir dan... apa ada seseorang yang mendekati mereka akhir-akhir ini?" Pintanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyuruh asisten ku untuk menyelidikinya. Ayo makan, kau belum makan bukan?"


"Baiklah, terima kasih ayah."


__ADS_2