
Tanpa ragu Lukas menyerahkan surat tersebut kepada Kael untuk di baca nya.
"Apa ini?" Tanya Kael penasaran.
"Surat dari Anita."
Kael pun mengambil surat tersebut dan membacanya dalam hati dengan amat serius di hadapan Lukas. Di belakang surat itu terlihat ada cap sebuah simbol yang sangat rumit di sana. Untuk sesekali Kael mengerutkan keningnya saat membaca beberapa bagian-bagian dari kalimatnya.
^^^Untuk Nang Meng Xiao.^^^
Bagaimana kabarmu, Lukas? Sudah tidak terasa 5 tahun telah berlalu. Nampaknya kau sudah banyak berkembang. *M**antra medis tingkat tinggi? Kau juga sepertinya telah berhianat dari ku. Baru 5 tahun kita berpisah kau sudah memiliki yang lain. Tapi.. Kalian sepertinya tidak ada hubungan apapun, mungkin saja dia hanya ingin memanfaatkan mu bukan mencintaimu. Bagaimana kalau aku bantu singkirkan dan biarkan aku di sisimu seperti dulu? Aku menantikannya, tunggu aku*...
Dari orang yang kau tunggu...
Setelah membacanya, Kael tiba-tiba saja membanting kertas itu ke atas kasur dengan kesal. Raut wajahnya langsung berubah drastis, ia terlihat sangat gelisah dan kesal sekali.
"Apa ini?! Dia bilang kau berhianat?! Padahal dia yang berhianat! Argh! Dasar wanita tidak tau diri!" Maki Kael.
Tapi Lukas hanya mengangkat kedua bahunya santai dengan ekspresi mengejek yang terlihat setuju pada perkataan Kael.
Kael kemudian terdiam dan kembali mencoba untuk mencerna isi dari surat tersebut. Wajar saja jika Kael sangat marah mendengar hal itu, karena itu sangat berhubungan dengan sahabat baiknya. Ia nampak masih berpikir keras di sana, dengan Lukas yang ikut melamun sendiri di sampingnya.
"Sttt! Kau seperti nya harus lebih waspada sekarang untuk melindungi Alin. Dia itu sangat licik, kalian berhati-hati saja." Saran Kael pada Lukas.
"Benar. Itulah mengapa aku akan menjadikannya tunangan ku secepatnya." Senyum ala devil nya tiba-tiba saja muncul.
"Hah?!" Pekik Kael terkejut setengah mati.
Sementara itu, Alin dan Lina yang tadinya pergi ke kamar Reyhan telah tiba di depan pintu kamarnya. Alin pun mengetuk nya pelan, tapi tidak sahutan dari dalam. Ia pun dengan blak-blakan membukanya dengan keras.
"Reyhan!" Panggil Alin dengan lantang.
...BRAK...
Pintunya kini terbuka lebar. Reyhan nampak sedang duduk di sebuah kursi megah di seberang pintu dengan murung. Setelah Alin dengan tiba-tiba membuka pintu, ia langsung terkejut melihat kedatangan keduanya dan langsung tertegun.
"Alin? Lina? Kalian sedang apa?" Sapa Reyhan dengan keheranan.
Tapi cara pandang Lina terhadap Reyhan berbeda. Matanya langsung berlinang saat melihat Reyhan yang ada di seberang pintu sana. Alin pun langsung terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Reyhan.. Kau.. Teganya..."
Suaranya terdengar begetar, mencoba untuk menahan tangis. Walau sekuat apapun Lina mencobanya, air mata terus saja berjatuhan. Ia pun berlari meninggalkan Reyhan yang tengah kebingungan dengan Alin di situ. Reyhan pun berjalan cepat keambang pintu.
"Lina! Kau kenapa?!" Teriak Reyhan ingin menahannya.
Tapi Lina sudah berlari jauh entah kemana. Reyhan kemudian tertuju kepada Alin. Ia menatap Alin dengan serius di hadapannya.
"Alin, Lina kenapa? Kenapa dia menangis seperti itu?" Tanya Reyhan yang tidak tahu menahu.
Dengan geram Alin mencubit lengan Reyhan dengan pelan. Tatapannya sinis terhadapnya, dengan cepat Alin menjelaskan inti dari semuanya itu dengan sedikit emosi.
"Kenapa?! Kau tanya kenapa?! Lina sedang mengandung anak kalian, tapi kau.. Apa yang kau lakukan ini? Pasangan mana yang tidak sakit hati melihatnya?!"
Alin pun berlari menyusul Lina. Setelah semuanya pergi Reyhan kembali duduk di tempatnya. Reyhan termenung, ia sedang mencoba mencerna semua yang barusan terjadi. Setelah bebeberapa saat ia sadar dengan apa yang membuat Lina marah tadi.
Bagaimana tidak marah, tentu saja Lina berhak untuk marah padanya. Pasangannya saja sedang bersama wanita penggoda, sedangkan dia sedang mengandung anak mereka, itu pasti akan sangat menyakiti hatinya. Bahkan sampai detik itupun para wanita penggoda itu masih menggodanya.
"Pangeran, ini anggur nya. Ayo di minum.."
"Pangeran tubuh anda seksi sekali..."
Saat salah seorang dari wanita itu ingin menyentuh bagian dada Reyhan, ia langsung menepis nya dengan kasar. Matanya menatap tajam wanita-wanita itu.
"Pergi kalian!" Bentak nya dengan nyaring.
"Pangeran, anda jangan marah. Saya hanya bercanda."
"Iya.."
Tapi Reyhan tidak peduli dengan perkataan mereka. Ia langsung bergegas pergi mencari keberadaan Lina dan Alin berada.
Sementara itu, Lina sudah berada di tempat Alin. Ia menangis tersedu-sedu hingga hanya ada suara tangisnya saja di sana. Alin pun sudah berusaha untuk menenangkannya. Tapi Lina tetap saja menangis dengan sejadi-jadinya.
"Lina... Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi." Ucap Alin seraya mengelus-elus punggungnya.
"Untuk apa?! Apa gunanya...?! Calon ayahnya saja bersama wanita lain seperti itu...! Hiks.. Huhuhuhu... Percuma saja aku mengandung dan melahirkan nya nanti. Dasar pria brengsek! Huhuhuhu..."
Alin pun tidak tau harus berkata-kata apa lagi, ia hanya bisa mengelus-elus punggung nya saja. Tiba-tiba saja Lina beranjak dari tempatnya. Mata nya merah dan sembab dengan kesedihan mendalam yang sangat terlihat.
__ADS_1
Ia berjalan kearah sebuah meja yang ada sekeranjang buah di sana. Ia mengambil pisau yang ada di dalam keranjang itu, lalu meletakkan nya di leher.
"Heh! Percuma saja kami hidup, mungkin mati lebih baik. Sudah cukup aku yang hidup dengan ayah biasab yang tidak bertanggung, cukup aku saja." Gumam Lina dengan senyuman sinis nya.
Pisau itu mulai menggores lehernya. Dengan panik, Alin langsung berlari untuk mencoba menghentikan Lina.
"Lina!"
Adegan rebut pisau pun terjadi. Mereka berdua saling rebut pisau yang ada di tangan Lina itu. Alin sudah mencoba untuk mengambil dan merebutnya, tapi tanpa Alin duga Lina mempunyai stamina yang lebih kuat darinya. Tapi walapun begitu, ia tetap saja mempertahankan pisau yang ada pada Lina agar tidak melukai dirinya.
"Lina hentikan... Aku mohonnn... Linaaa... hiks.. Berhenti Lina, jangan lukai dirimu sendiri.." Ucap Alin yang sedang berusaha
"Lepaskan! Lepaskan aku Alin, aku tidak akan pernah mau membiarkan anakku hidup seperti diriku. Lepaskan!"
Lina mengamuk dengan hebatnya. Ia menepis dan mendorong apapun yang menghalanginya untuk menacapkan pisau itu ke dirinya. Berkali-kali Alin mencoba merebut pisau itu, tapi Alin tidak mampu melawan Lina yang lebih kuat dari. Ia hanya bisa menahan Lina dan berharap ada seseorang yang akan membantu mereka.
"Lina... Aku mohon... Kalau kau tidak mau, aku bisa. Jangan sakiti bayi yang tidak berdosa ini."
"Linaaa... Hiks.. aku mohon berhenti! Kalau kau tidak mau anakmu, biar aku saja yang mengadopsinya! Tapi jangan sakiti bayi ini.." Tangisan Alin benar-benar pecah, ia tidak tega dengan sahabat dan calon keponakannya itu.
Tangisan, teriakan menggelegar di seluruh ruangan. Tapi Lina tetap tidak peduli dengan sekitarnya. Ia hanya mengamuk dengan sejadi-jadinya, sambil berkali-kali ingin menusuk pisau pada dirinya sendiri.
Bahkan darah berceceran di mana-mana oleh karena perebutan itu. Tapi darah itu bukanlah berasal dari Lina, tapi darah dari Alin yang terus keras kepala menahan Lina untuk bunuh diri.
...BRAKK...
Tiba-tiba saja pintu kamar di dobrak paksa dari luar. Seseorang telah masuk ke dalam, tapi keduanya tidak ada yang menghiraukan kedatangan orang tersebut.
Sedetik kemudian orang itu menarik Alin langsung ke dekapannya, yang di susul oleh Reyhan yang segera memeluk Lina untuk menenangkannya. Setelah mengetahui akan kedatangan Reyhan, Alin langsung benar-benar lega.
Saat mendongak, wajah orang yang mendekap terlihat samar-samar di mata Alin. Tapi ia sudah tau dan hapal dengan sensasinya yang begitu familiar.
"Lukas.."
"Aku di sini."
"Phobia nya masih belum teratasi. Ini salahku, seharusnya aku lebih melindunginya lagi."
Tubuh Alin langsung terkulai lemas, ia terduduk tepat diatas kakinya dengan nafas yang tersengal-sengal dengan wajah pucat nya. Lukas pun dengan segera menggendong Alin dengan perlahan ke suatu tempat.
__ADS_1
Sementara itu, Reyhan dan Lina...