Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 97 Berlatih berpedang.


__ADS_3

Setelah mendengar cerita dari Olivia tersebut, Alin termenung sejenak membiarkan otaknya mencerna semua cerita yang membuatnya agak bingung. Alin memikirkan semua cerita itu secara panjang lebar di kepalanya, namun tetap saja belum bisa ia cerna.


"Ehmm... Jadi kakek ku menikah dengan nenek, setelah itu... Ah.. bagaimana tadi?" Tanya Alin yang mulai frustrasi dengan isi kepalanya sendiri.


"Kau akan mengerti nantinya seiring berjalannya usia mu. Ngomong-ngomong, apa kau memiliki saudara?"


"Tidak, aku anak tunggal." Jawab Alin apa adanya.


"Oh. Mau makan cemilan sebelum berlatih dulu?"


"Tentu."


Karena menyetujui nya, Olivia mengeluarkan beberapa kue melalui mantra sihirnya dan mereka pun makan cemilan bersama sebelum latihan di mulai.


Sementara itu, Lukas dan Kael sedang rebahan santai di tepi sungai yang mengalir deras di depan mereka. Suasana diantara mereka sangatlah hening, hanya ada suara arus air dan suara burung-burung yang terdengar. Lukas yang sedari tadi merebahkan tubuhnya di rerumputan, memejamkan matanya untuk menikmati keheningan tersebut. Hingga Kael memecahkan keheningannya.


"Lukas?"


"Hm?!" Gumam Lukas yang terdengar agak kesal.


"Apa kau tidur?"


"Tidak, kenapa?"


"Aku penasaran, Siapa yang kau pilih?" Tanya Kael dengan tiba-tiba.


"Apanya?"


"Orang yang akan kau cintai nanti nya."


"Kau sudah tau jawabanku, bukan?" Tebak Lukas dengan santai, yang masih memejamkan matanya.


"Alin?! Wahhhh!! Akhirnya kau mendengarkan ku juga. Jadi kapan kau akan menembaknya?" Tanya Kael lagi yang langsung terduduk karena saking berantusias nya.


"Entahlah, tujuanku saat ini... hanya ingin melindungi dan membuatnya nyaman saja. Aku masih... ragu dan takut." Jawab Lukas.


Setelah menjawab pertanyaan dari Kael, Lukas membuka matanya dengan perlahan dan duduk di tepi sungai sambil memandang bayang-bayang nya. Kael yang tau perasaan Lukas pada saat ini, mencoba untuk menyakini Lukas akan dirinya sendiri. Ia berjalan ke arah Lukas dan berakhir duduk di sampingnya.


"Apa yang kau takutkan? Apa kau belum melupakannya dengan sungguh-sungguh?!" Tanya Kael dengan nada bicara yang agak sedikit tinggi.

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku hanya takut kalau cintaku akan bertepuk sebelah tangan dan di tolak oleh Alin. Aku.. masih belum siap untuk di kecewakan. Jika berani mencintai, maka harus berani kecewa juga." Jelasnya.


"Tidakkah kau menyadari akan sesuatu?"


"Apa?"


"Sudahlah, kau terlalu bodoh untuk mengerti isyarat dari ku."


Kael yang kesal dengan Lukas yang tak kunjung mengerti isyaratnya dari dulu, langsung menangkan wajah datar kepadanya. Setelah obrolan itu selesai keduanya menjadi terdiam kembali, sampai Lukas menanyakan sesuatu kepada Kael.


"Apa kau yakin kalau racun pada Alin sudah sembuh total? Aku melihat ada bercak biru pada leher belakangnya." Tanya Lukas yang langsung menoleh ke Kael yang ada di sampingnya sedari tadi.


"Hm? Bercak biru? Tapi kemarin aku sudah menyuruh Olivia untuk memeriksa seluruh tubuhnya, tidak ada kelainan lain padanya. Akan aku periksa sepulang dari sini nanti."


"Hm. Oh iya, bagaiman denganmu? Apa kau menyukai Olivia?"


"Olivia? Hmm... Tidak. Walaupun aku suka pun aku tidak bisa...! Dia sekarang sudah berumur 1229...!" Jeritnya.


"Apa?! 1229 tahun?!" Tanya Lukas yang langsung terkejut mendengar itu.


Tiba-tiba saja suara Olivia terdengar memanggil mereka berdua dari kejauhan. Mereka pun terkejut sekaligus takut kalau Olivia mendengar percakapan mereka. Keduanya sontak menatap satu sama lain dengan tatapan yang tajam serta dengan mata yang melotot.


"Gawat!" Seru keduanya dengan suara yang agak tertekan.


Mereka pun dengan cepat berlari-lari menuju ke tempat Olivia dan Alin berada supaya kedua orang itu tidak menyusul mereka berdua di sana. Setelah sampai di tempat Alin dan Olivia berada, mereka berdua sudah siap dengan peralatan berlatih. Sedangkan Lukas dan Kael masih planga plongo, mereka pun dengan kelabakan langsung mencari dan menyiapkan segala peralatan yang akan mereka gunakan.


Setelah siap, Lukas dan Kael langsung menghampiri Alin dan Olivia yang tengah menunggu mereka di sebuah batang pohon besar yang sudah roboh di sana.


"Sudah siap?" Tanya Lukas.


"Hm!"


Setelah mendapatkan respon dari Alin, Lukas langsung mengeluarkan beberapa pedang sihir yang terbuat dari petir melalui mantranya. Mereka semua ada 1 pun mengambil pedang itu masing-masing satu, dan mereka bertiga akan berkerja sama untuk mengajari Alin ilmu berpedang.


"Untuk sekarang kau hanya perlu menangkis pedang kami bertiga, apa kau mengerti, Alin?" Tanya Lukas sekali lagi.


"Apa pedang ini tidak akan melukainya?" Tanya Olivia seraya mengamati pedang yang ada di tangannya sekarang.


"Ini pedang petir yang mempunyai aliran petir yang kecil. Jika terkena tusukannya hanya akan terasa menyengat sedikit."

__ADS_1


"Oke, aku mengerti." Sahut Alin.


Setelah Alin mengerti tentang pelatihannya untuk kali ini, mereka langsung memulainya. Alin berdiri di tengah-tengah mereka dan mereka bertiga berdiri mengelilingi nya. Latihan pun di mulai.


Satu demi satu dari mereka melontarkan teknik-teknik berpedang kepada Alin dengan perlahan dan Alin masih bisa menangkis serangan mereka. Karena sudah bisa menangkis itu mereka menggunakan cara yang kedua.


Olivia dan Kael maju dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Alin sempat kesusahan dan hampir saja pedang petir mereka mengenainya. Untungnya ia masih bisa menangkis serangan Olivia dan Kael. Mereka pun melakukan cara yang ketiga lagi.


Ketiganya berputar-putar dengan cepat, lalu menyerang Alin yang ada di tengah dengan kuat. Alin sangat kesusahan dengan itu, ia sampai hampir tidak sempat untuk menangkis.


"Egh.."


Mereka bertiga terus saja menyerang secara bersamaan, sampai-sampai Alin kehilangan konsentrasi nya. Ia menjadi tidak sempat bersiap untuk menangkis serangan ketiganya yang menyerang secara bersama. Sehingga Alin harus menunduk dan berjongkok untuk menghindari serangan tersebut.


...PRANGGGG...


"WHA..!" pekiknya.


Ketiga pedang itu saling bentrok sehingga menghasilkan suara yang cukup nyaring dan hal itu juga membuat Alin sangat terkejut. Mereka bertiga yang melihat Alin ketakutan, langsung menyimpan pedang mereka masing-masing dan memilih untuk berhenti sejenak untuk menghampiri Alin yang terlihat ketakutan. Setelah merasa kalau pedang itu tidak ada di atas kepalanya, Alin pun berdiri dan menatap mereka bertiga.


"Huftt... Untung saja. Cepat sekali..."


"Tidak apa-apa, kan?" Tanya Olivia.


"Iya. Kalian kenapa tidak ragu-ragu sekali mengarahkan pedang itu kepadaku? Apa kalian ingin benar-benar membunuhku?!" Tanya Alin sambil memanyunkan bibirnya.


Alin tentu saja mengira kalau mereka ingin membunuhnya karena melihat mereka bertiga yang tidak ragu-ragu untuk menyerang dan mengarahkan pedang ke arahnya. Tapi bukan itu kenyataannya, mereka hanya ingin Alin belajar untuk mengontrol rasa takutnya pada saat di pertarungan yang ketat seperti tadi.


"Hanya pedang petir biasa saja. Kau terlalu penakut! Lihat lah, citttt..." Ucap Kael yang lalu menusukan pedang miliknya ke lengan Alin.


Saat Kael menusukan pedang petir ke tangannya, Alin langsung merasakan suatu aliran yang menyengat di kulitnya dan ia pun langsung terkejut. Muka Alin seketika itu juga langsung terlihat masam oleh karena Kael.


"Ah! Kael! Walaupun itu hanya pedang petir yang memiliki aliran petir kecil, itu tetap saja sakit! Humpt!" Gerutu Alin.


"Hahaha, maaf-maaf aku hanya bercanda." Canda Kael lagi.


"Tidak lucu!"


"Latihan hari ini cukup sampai di sini saja dulu. Hari sudah semakin petang, kita pulang saja. Alin harus mengambil formulir pendaftaran misi Regental besok."

__ADS_1


__ADS_2