
Kael masuk dan melihat semuanya yang sedang memeluk Alin dengan erat. Semuanya berkumpul dan membuat Alin menjadi pilar pelukan yang menahan mereka. Tapi Lukas kini sudah terlihat berhenti menangis, ia duduk di kursi dengan keadaan kepala yang masih kacau. Kepalanya terasa seperti berputar-putar karena sudah terlalu lama menangis. Mukanya pun terlihat sembab dan bekak.
Sedangkan Alin sudah hampir kehabisan nafas karena di peras oleh sekelompok orang yang. Kael tentu saja keheranan dengan sekelompok orang itu dan ia hanya bisa menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"?!*!"?";!'?$;!';*;"?-$?;"?"
"Huhuhu... Kael... ?Mereka ingin menjadikan aku jeruk peras..." Rengek Alin yang sudah tidak sanggup lagi.
"Huftt... Kalian semua....KELUAR!!" Teriak Kael yang sudah sangat muak dengan kebisingan itu.
Mereka semua langsung terkejut dan terdiam seperti seekor hewan peliharaan yang sedang di marahi oleh majikannya, tidak ada yang berani bersuara setelah itu. Kael berjalan mendekat ke arah segerombolan orang itu dan membubarkan kerumunan tersebut.
"Bagus! Bisakah kalian diam? Ini tempat pengobatan, jika ingin ribut, silahkan keluar..." Ucap Kael seraya memberi jalan keluar untuk mereka.
Lukas yang tadinya berada di sofa, hingkat dari tempatnya dan berjalan pergi menuju ke arah pintu.
"Kael, panggil saja aku kalau perlu bantuan. Aku akan pergi beristirahat ke kamar ku sebentar." Ucapnya.
"Oke..."
Setelah Lukas keluar, Kael langsung bergegas untuk membereskan peralatan medis yang telah ia gunakan tadi. Ia menghampiri mereka dan memeriksa nadi Alin kembali.
"Baiklah Alin, kondisimu sudah mulai normal sekarang tapi kau tetap perlu istirahat. Jadi para pengunjung, kalian bisa pulang sekarang."
"Tapi... Kami masih merindukan Alinn... Apa tidak ada yang bisa kami bantu...?" Rayu Gion dengan wajah imutnya.
"Iya..." Tambah Reyhan dan Lina juga.
"Tidak, Olivia yang akan menjaga Alin nanti. Kalian semua pulang saja." Tolak Kael.
"Ayolah, Kael..." Rayu mereka bertiga lagi.
"Biarkan saja mereka Kael, mereka mungkin bisa membantu Olivia nantinya. Aku akan pergi, kalau butuh apa-apa atau terjadi sesuatu, kalian bisa mendatangi ku." Bela Deon Li yang memang sudah berkerja sama dengan mereka sebelumnya.
"Baiklah, Master."
Karena itu adalah permintaan pemimpin mereka, maka Kael tidak bisa berkata-kata lagi, ia harus menurutinya. Setelah beres, Deon Li pergi dari tempat itu menggunakan mantra teleportasi. Viko yang tadinya masih terdiam di samping bekas duduk Lukas di sofa, langsung meloncat ke pangkuan Alin.
"Viko..."
__ADS_1
Alin mengelus-elus bulu lembut Viko yang lebat itu. Ia merasa kalau sudah lama ia tidak melihat dan merasakan kehadiran Viko di sampingnya. Tapi ia tidak tau, bahwa ia memang sudah cukup lama tidak sadarkan diri.
"Huftt... bereskan barang-barang kalian sekarang dan bawa ke kamar Alin. Lina kau bisa pulang sekarang, kau tidak bisa berlama-lama di sini, ibu mu pasti akan mengkuatirkan mu. Pengawal ku akan mengantarkan mu ke rumah." Suruh Kael
"Ehmmmm, tidak boleh kah?" Tanya Lina.
"Ayolah, Kael..." Rayu Reyhan.
"Tentu saja boleh, tapi Alin perlu beristirahat. Kau bisa kembali kemari besok."
"Okelah... Dah Alin..." Pamit Lina dengan lesu.
"Hm, sampai bertemu lagi besok!" Balas Alin.
Mereka semua pergi dari ruangan tersebut, lalu berkemas. Setelah Olivia selesai membereskan barang-barang medis nya, mereka akan pergi dari situ. Alin pun turun dari bangsal dengan di bantu Olivia dan mereka bertiga pergi lebih dulu ke kamarnya Alin.
"Apa kau bisa berjalan?" Tanya Olivia sambil memegangi tangannya.
"Hm, aku... bisa."
Dengan kaki yang masih lemah, Alin memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan sendiri. Saat mereka melewati kamar Lukas, Alin teringat akan Lukas yang menangis tersedu-sedu di pelukannya tadi. Alin menoleh ke arah Kael yang ada di sampingnya dan bertanya.
"Apa kita bisa melihat Lukas sebentar? Sebentarrrr.... saja.. " Pinta Alin yang sudah sangat memelas.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di dalam."
Kael dan Alin mengetuk pintu kamar Lukas, namun tidak ada sahutan ataupun orang yang membukakan pintu untuk mereka berdua dari dalam. Hingga akhirnya Kael menyuruh penjaga Lukas untuk membukakan pintu kamarnya.
Saat pintu sudah di bukakan, mereka masuk dan mendapati Lukas yang sedang tertidur di kasurnya dengan pulas. Alin terus saja berjalan maju menuju ke arah Lukas yang sedang tidur itu, ia berjongkok dan memperhatikan nya untuk beberapa saat.
"Apa dia baik-baik saja? Sejak di ruangan tadi mukanya terlihat sembab, apa dia sudah menangis sebegitu lamanya?"
Kael yang berada di dekat Alin dari tadi, berjongkok di sampingnya juga. Mereka menatap Lukas untuk beberapa saat. Tapi Kael tidak tau apa tujuannya menatapi Lukas, ia hanya mengikuti yang Alin lakukan di sampingnya. Alin yang merasa kalau Kael bertingkah seperti dirinya menegurnya.
"Apa yang kau liat?" Tanya Alin dengan suara yang pelan.
"Oh, tidak ada. Aku hanya mengikuti mu." Jawab Kael dengan polosnya.
"Apa Alin juga menyukai Lukas? Jika itu benar, hubungan mereka akan semakin cepat bersatu. Teman ku yang satu ini sudah menjadi kepala dan hati batu selama beberapa terakhir ini. Jika Alin ada, mungkin dia bisa membantunya, buktinya, Lukas sampai menangisi Alin."
__ADS_1
Setelah itu, Alin hanya mengabaikan Kael dan menatap Lukas kembali. Wajah Lukas terlihat memerah dan hal itu membuat Alin cukup kuatir padanya. Alin menyingkirkan rambut-rambut Lukas yang menutupi keningnya, lalu meletakan tangannya dengan lembut. Hawa panas yang samar-samar terasakan di telapak tangannya. Dari situ Alin tau kalau Lukas sedang tidak enak badan sekarang.
"Kael, sepertinya Lukas sedang sakit. Kepalanya terasa agak panas, apa dia baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja, dia bisa mengurusi dirinya sendiri nanti. Ini hanyalah demam ringan." Jawab Kael.
"Hm."
Alin berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah jendela kamar Lukas dan membuka tirai sedikit. Melihat Alin yang tiba-tiba menengok ke jendela membuat Kael merasa aneh dengannya, ia menghampiri nya.
"Wanita tadi... aku seperti mengenalnya. Tapi siapa dia? Semenjak mimpi aneh yang terjadi padaku terjadi... memori ku terasa bercampur dan aku melihat sedikit samar-samar ingatan baru."
"Ada apa?" Tanya Kael yang kini berdiri di belakangnya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu. Siapa wanita yang tadi? dia terlihat asing. Juga.. wajahnya terlihat rada-rada familiar di ingatan ku." Tanya Alin balik yang langsung berbalik ke arah Kael.
"Oh, Olivia? Dia.. hmm.. dia adalah seorang pengembara tua biasa dan dialah yang menyelamatkan kalian dari kondisi kritis beberapa minggu yang lalu. Setelah kondisi membaik, dialah yang akan menjadi guru mu. Dialah yang akan mengajari ilmu bela diri dan yang akan mengajarimu untuk mengendalikan jiwa Clorian." Jelas Kael.
"Hm."
Alin yang mendengar nama kedua orang itu menjadi tertegun, ia seperti pernah mendengar nama-nama tersebut namun terasa samar-samar. Ia termenung dan memikirkan yang sedang terjadi sekarang.
"Jiwa Clorian? Apa itu? Tapi! Aku seperti pernah mendengar kata Clorian dan Olivia. Sebenarnya siapa orang-orang itu?!"
Tanpa Alin sadari, ia sudah benar-benar tenggelam dalam pikirannya. Bahkan Alin sampai tidak mendengar Kael yang tengah memanggilnya. Hingga ia menepuk bahu Alin.
"Alin?Alin?!" Panggil Kael seraya menepuk bahunya.
"Oh, ada apa? Maafkan aku."
"Kita harus pergi sekarang, kau beristirahat segera."
"Oke."
...Kranggg...
Suara dentingan gelang perak yang membentur lantai berbunyi cukup nyaring sehingga membuat Alin dan Kael langsung menoleh. Saat mereka berdua menoleh ke arah sumber suara, suara dentingan itu berasal dari Lukas. Gelang yang ia kenakan tidak sengaja jatuh dan menghasilkan bunyi yang menarik perhatian keduanya.
Alin menghampiri gelang perak itu, mengambil dan memperhatikan desain gelang perak itu dengan detail. Saat Alin memperhatikannya ia tersenyum, desain gelang itu sangatlah indah, ada motif bintang, bulan, matahari dan bunga di situ. Saat Alin melihat ke sisi lain gelang itu, ia melihat sebuah ukiran nama seseorang di sana. Alin membacanya dan betapa kecewanya dia saat melihat nama 'Anita' terukir di situ.
__ADS_1
Rasa kecewa dan cemburu kembali menghantui Alin. Tapi ia tidak ingin memaksakan cinta nya itu, cinta tidak akan terbentuk jika di alaskan dengan cinta yang di paksakan. Dengan berat hati, Alin memasangkan gelang itu kembali ke lengan Lukas. Ia berbalik dan menyusul Kael yang sudah menunggunya di belakang.
Tanpa mereka sadari, Lukas bukannya benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan matanya saat mereka mengunjungi tadi. Lukas yang mengetahui kalau mereka sudah pergi, langsung membuka matanya dan duduk di atas sofa yang ada di dekat jendela yang telah Alin buka sebelumnya.