Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 70 Dalam bahaya.


__ADS_3

Pertarungan kini di mulai, tidak ada kata mundur ataupun tak mampu melawan untuk saat ini. Salah sedikit, nyawa sendiri ataupun nyawa orang banyak akan dipertaruhkan di tangan mereka. Bahkan Alin yang tadinya tidak bisa bertarung, mau tidak mau ia harus menjalankan kewajibannya sebagai putri kerajaan dunia sihir putih untuk melindungi pada warga.


Berjam-jam terlah berlalu, kini waktu sudah menunjukan pukul 12:28 malam. Tanpa henti mereka terus bertarung untuk memusnahkan Hom, namun Hom itu bukannya berkurang malah semakin banyak berdatangan. Kini semua orang yang bertarung sudah sangat kelelahan dan bahkan ada yang sudah terluka parah dalam peperangan itu.


Kondisi tim Alin dan Lukas kini juga sudah semakin terdesak. Banyak pasukan yang sudah gugur dan terluka parah dalam peperangan itu. Mereka bahkan sudah hampir tidak sanggup untuk berjalan lagi. Berbagai mantra, teknik, dan tenaga sudah di kerahkan, namun semua usaha itu sia-sia saja, Hom-Hom itu terus berdatangan.


"Huh.. huh.. pasti... menang!" Gumam Alin yang sudah terengah-engah.


"Bertahanlah, kita pasti bisa!"


Kemampuan Lukas yang sedang lemah seperti ini, mungkin tidak bisa melindungi mereka. Apalagi dengan teknik bertarung Alin yang pas-pasan, mereka mungkin tidak akan bisa menyelesaikan pertarungan ini sebelum matahari terbit. Harus ada jalan pintas dan lorong lain agar mereka bisa mencapainya.


"Gawat! Situasi kita sudah semakin terdesak. Kemampuanku yang sedang lemah ini, bertarung pun tidak cukup untuk mengalahkan Hom itu. Aku harus mengajarkan Alin mantra elemen api secepatnya. Tidak peduli itu akan mencapai tingkat apa jika dia yang melakukannya."


"Kemarilah!" Panggil Lukas memanggil Alin yang berada tak jauh darinya.


Saat ia mendengar Lukas memanggilnya, Alin dan Viko langsung berlari ke arah Lukas. Ia berdiri di belakang Lukas sambil memantau situasi mereka.


"Ada apa?"


Namun Lukas tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya diam. Beberapa saat kemudian, ia membacakan mantra pelindung dan terbentuklah pelindung kecil di dekat mereka. Setelah pelindung itu aktif, Lukas menghampiri Alin.


"Pelajari dengan cepat!" Perintah Lukas singkat.


"Hah?! Apa?!" Tanya Alin yang masih tidak mengerti.


Lukas hanya memutar bola matanya dengan malas ke arah Alin. Di kondisi yang gawat ini saja ia bahkan masih belum memasang otaknya dengan benar. Hingga akhirnya Lukas mengalah dan menjelaskan itu untuk Alin.


"Tolong pelajari mantra yang aku ajari ini dengan cepat. Kita tidak punya waktu lagi, cepatlah."


Alin hanya mengangguk mengerti dan menunggu instruksi dari Lukas yang akan mengajarinya. Tanpa banyak basa-basi lagi, Lukas mencotohkan caranya. Ia mengayunkan tongkat dan menggumamkan sebuah mantra dengan sedikit keras. Tak lama setelah ia menggumamkan mantra itu, api besar keluar dari tongkat yang ada ditangannya.


"Woah! Tapi aku tidak yakin aku akan bisa menguasainya dengan cepat." Gumam Alin.


"Cobalah dulu."

__ADS_1


Lukas terlihat sangat berharap dengan kemampuannya, sehingga Alin luluh. Dengan perlahan, Alin mencoba untuk mempraktekkan mantra api itu sesuai dengan instruksi dari Lukas tadi. Sekali, dua kali percobaan gagal, namun ia tidak menyerah dengan begitu saja. Hal yang menakjubkan pun terjadi saat percobaan yang ketiga kalinya di lakukan. Api besar keluar dari tongkat sihir Alin dan api memenuhi pelindung itu.


Untungnya Lukas langsung memudarkan api itu dengan cepat, jika ia tidak melakukannya dengan cepat mereka mungkin akan menjadi ayam bakar nantinya. Lukas sangat kagum dengan kemampuan Alin yang begitu cepat berkembang. Baru tiga kali ia mencobanya, mantra api Alin hampir setara dengan mantra apinya. Sungguh hebat!


"Itu sudah cukup hebat, kita akan mulai bertarung lagi." Ucap Lukas.


"Hm! Baik, aku siap!"


"Tolong bertahanlah hingga pertarungan berakhir.." Lirih Lukas yang terlihat berharap akan kemampuannya Alin itu.


"Aku... berjanji!"


"Mantra api tingkat tengah dalam tiga kali percobaan? Tidak mengherankan jika ia cucunya master."


Setelah pembelajaran kilat itu selesai, Lukas langsung membuka pelindungnya dan mereka akan kembali bersiap untuk berperang kembali. Kali ini mereka mungkin akan menyelesaikannya dengan cepat di karenakan Alin yang sudah bisa menguasai mantra elemen api yang cukup besar.


Mereka bertiga kembali berpencar ke kerumunan para pasukan dan membantu mereka untuk memusnahkan Hom-Hom yang terus berdatangan itu. Dengan hebatnya Alin mengeluarkan mantra api tingkat tengah nya itu dan memusnahkan berpuluh-puluh Hom dengan sekejap mata. Namun pertarungan itu masih saja berlanjut.


...Krang...


...krang...


...wusshhhh...


...krang...


Bunyi-bunyi pedang yang mengenai belati Hom dan mantra api yang memusnahkan berpuluh-puluh Hom terdengar menggema di sekitar tempat itu. Pasukan-pasukan istana yang terluka dan gugur pun tergeletak dengan begitu saja di tanah yang bersimbah darah bersama dengan batu-batu merah Hom yang berhamburan di mana-mana.


Beberapa jam telah berlalu, kini Hom-Hom dunia sihir merah sudah berhenti berdatangan dan Hom-Hom itu hanya tersisa sedikit lagi. Kemenangan mereka semua sudah dekat. Di semua titik pusat perbatasan sudah mendekati kemenangannya. Usaha mereka tidak sia-sia dengan begitu saja, jika di lakukan dengan bersungguh-sungguh pastilah tidak akan sia-sia.


Kemenangan pun sudah mendekati di wilayah tempat Alin dan Lukas bertarung, hanya tersisa sedikit Hom di hadapan mereka. Dengan beberapa kali melakukan mantra api, semua Hom itu langsung musnah semua. Lukas dan Alin sangat senang akan keberhasilan mereka, mereka telah berhasil mengalahkan Hom itu dengan usahanya sendiri.


"Lukas! Kita berhasil! Kita menang! Yeeee..." Seru Alin yang kegirangan.


"Iya, kerja yang bagus."

__ADS_1


Tanpa Lukas sadari dengan tersenyum tipis, ia menepuk dan mengelus-elus kepala Alin. Alin pun juga tidak sadar dengan hal itu karena saking gembiranya. Beberapa lama setelah itu teman-teman mereka datang menghampirinya.


"Hei Lukas, Alin!!! Kita menang!" Seru Kael dengan ekspresi yang kegirangan seraya menghampiri mereka berdua di susul oleh teman-teman yang lainnya.


"Iyaaa, kita semua menang!" Balas Alin yang langsung maju ke depan.


Namun Lukas tak membalas ataupun menjawab Kael, ia hanya terdiam memikirkan sesuatu. Ada hal yang janggal dan aneh dengan Kael dan yang lainnya, itu memang tidak terpikirkan oleh Alin namun Lukas memikirkannya. Kael yang melihat Lukas hanya terdiam melihat mereka merasa aneh dan ia pun menanyakannya.


"Ada apa? Apa kau tidak senang dengan kemenangan kita ini?" Tanya Kael dengan sifat yang terlihat kekanak-kanakan.


Setelah mendengar perkataannya Kael itu, Lukas langsung tertegun. Ia maju dan menarik Alin untuk kembali berdiri di belakangnya. Alin yang melihat tingkah Lukas menjadi keheranan terhadapnya, begitu juga dengan Kael dan yang lainnya.


"Ada apa?" tanya Kael lagi.


"Siapa kalian?! Apa yang kalian inginkan?!" Tanya Lukas dengan tatapan dingin khasnya.


"Apa maksudmu? Kami temanmu, memangnya siapa lagi?"


"Heh! Apakah Kael pernah bersifat kekanakan seperti ini?!" Tanya Lukas sekali lagi.


"Apa yang kau lakukan, Lukas?! Ya, mungkin saja Kael bersikap seperti itu karena dia sedang senang. Ada apa denganmu? Apa kau sakit?!" Bantah Alin yang merasa kalau Lukas bersikap aneh.


"Ingin bukti dan penjelasan?! Baiklah!" Sahut Lukas yang merasa benar.


Mereka semua hanya terdiam dan menunggu Lukas untuk berbicara Kembali. Terlintas lah rasa yang aneh di hati Alin terhadap Lukas, ia merasa kalau Lukas bersikap aneh semenjak teman-temannya datang tadi. Hingga Akhirnya, ia memutuskan untuk mendengarkan penjelasan Lukas.


"Kael tidak pernah bersikap seperti ini di hadapan orang banyak, hanya Reyhan yang sering melakukannya. Dan... Ada aura daun filium serta pil penyamaran yang terasakan di tubuh kalian. Siapa kalian?!" Ucap Lukas dengan nada sinis.


Ternyata orang-orang yang ada di hadapannya, bukanlah teman-teman mereka. Melainkan orang yang menyamar, tidak ada yang tau siapa mereka itu. Alin yang mendengar itu menjadi tertegun dan langsung ketakutan, dengan cepat ia langsung bersembunyi di belakangnya Lukas.


Setelah mendengar penjelasan yang masuk akal dari Lukas, sosok teman-teman mereka langsung tertunduk untuk beberapa saat. Lalu sosok Kael yang ada di hadapan mereka, mengangkat kepalanya.


"Hehe... pangeran Lukas, kau.. benar-benar teliti sekali. Tidak heran kau dinobatkan sebagai pangeran hebat." Ucap orang itu dengan senyuman jahat di wajahnya.


Seketika, semua teman-teman yang ada di hadapan Alin dan Lukas langsung berubah menjadi Hom. Dan Kael yang ada di depan mereka berubah menjadi... tidak lain dan tidak bukan adalah putra mahkota kerajaan dunia sihir merah, Indra Taran.

__ADS_1


__ADS_2