
"Hmm... Kenapa.. gejala ini seperti di film-film, yah? Seperti.. di film zombie dan Vampir. Tapi ini versi kombinasi nya, mungkin?" Gumam nya dengan terus terang.
"Vampir?! Zombie?!!!!"
Semuanya menatap aneh Alin atas ucapan nya yang menurut mereka tidak masuk akal, mereka menahan tawa mendengar nya. Sungguh dungu sekali si Alin ini, pikir mereka semua.
"Pftt.. Vampir? Zombie? Hahaha! Kau bodoh atau memang tidak tau, Alin? Sejak kapan di dunia sihir bisa dimasuki oleh Vampir dan Zombie?" Sindir Sarah.
"Heh! Kurang pendidikan!" Tambah Yeni.
"Y-ya, kan.. Siapa tau bisa dan benar.. Bukti penyakit nya kan ada!" Alin menunduk merasa malu setelahnya.
Hatinya benar-benar terluka mendengar makian dari mereka, semua raut tanggapan mereka seakan seperti pisau yang siap untuk menusuk, sakit sekali. Alin menunduk dan hanya diam saja setelahnya. Ia terlalu takut untuk menghadapi berbagai respon negatif dari yang lain.
"Alin.. Tidak usah murung begitu. Bukan-
"Sudah! Rapat kita tidak akan beres jika terus berdebat seperti ini! Untuk penawar, aku yang akan ajukan kepada ketua tabib." Potong Lukas dengan tegas.
Seketika semua langsung terdiam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Kini semuanya serius mendengarkan pimpinan mereka di depan. Dengan wibawa yang terlihat menawan tapi arogan nya, Lukas menatap tajam semua anggota, hingga tak ada satupun yang berani berkutik saat itu.
"Seperti yang kalian katakan tadi, tidak mungkin Zombie dan Vampir bisa masuk ke dunia sihir."
Yeni tentu saja merasa bangga, ketika Lukas ternyata tak berpihak lagi pada Alin. Ia tersenyum sinis menatap Alin yang ada di depannya dengan angkuh. Sedangkan Alin hanya bisa diam sambil menghela nafas pelan, melihat usulan nya seakan tenggelam ke laut di tengah-tengah rapat pertamanya.
Beberapa saat setelah itu, Lukas memunculkan sebuah buku jurnal pada masing-masing anggota. Ia menggeser buku jurnal miliknya ke depan, sambil mengangkat kedua alisnya sedikit, dengan senyum penuh arti.
"Tapi aku akan tetap menyelidikinya." Imbuhnya.
Senyuman itu tidak terlihat manis, tapi menakutkan, ia seakan siap menerkam siapa saja yang bersuara saat itu.
Mendengarnya Yeni terlihat merapatkan kembali mulutnya, sangat kuat. Tatapan nya pun menajam dan kembali serius, tidak ada lagi terlihat keangkuhannya untuk sesaat.
"Apa kita lanjutkan lagi?" Tanya Neli.
"Hm, berikan aku proposal milikmu dan jelaskan di depan."
Segera Neli beranjak dari tempatnya menuju kedepan, ia memberikan proposal nya pada Lukas, di susul oleh Yeni yang kembali duduk di tempatnya. Neli pun mulai mempresentasikan sebagian dari proposal miliknya, di depan.
"Kita memiliki 4 kota yang sudah terkontaminasi virus, tiga diantara nya memiliki presentase yang tinggi terhadap virus ini, mereka akan menjadi prioritas utama kita. Kita total memiliki 6 anggota, 1 orang diantaranya akan tinggal dan bertugas melindungi ibu kota nanti." Ucap Neli memulai.
Hologram tadi yang sebelumnya menunjukkan presentasi dari Yeni, sekarang berubah, ketika Neli mengusapnya, hologram itu kini berubah menunjukan presentasi miliknya.
...Kota Hari dengan presentase 2%- Sarah...
...Cimki 52%- Gion...
...Wudeo 23%-Neli...
...Fuken 82%- Lukas, Alin...
buangan @Yeni~
"Karena Sarah sedang dalam kondisi lemah, jadi aku meminta sedikit wewenang dari pimpinan untuk menetapkan sarah di kota yang paling rendah presentase nya, mohon pimpinan pertimbangkan." Ucap Neli dengan sopan, pada Lukas yang menatap lekat layar hologram.
Lukas tak bergeming sejenak, ia nampak sangat berpikir keras memikirkan sesuatu sambil menatap layar. Hingga Gion ambil suara.
"Aish! Sudahlah, kami semua setuju. Hei Lukas, cepat setujui saja! " Decak Gion.
"Hmn, baiklah. Terserah kalian saja, jika semuanya sudah setuju."
Lukas nampaknya peduli tak peduli dengan proposal pertama, ia sepertinya kurang tertarik dengan pembahasan yang saat ini.
Semua pun kembali serius menatap layar hologram, sambil mendengarkan suara Neli lagi menyampaikan di depan. Mereka berpikir keras, memikirkan susunan ini, apakah sudah pas dan cocok dengan situasi sekarang.
Neli telah berusaha keras menyusun dan merancang semua nya pada malam hari lalu, telah ia pertimbangan dan cocokan dengan kemampuan anggota yang lain, tinggal menunggu persetujuan dari pimpinan dan anggota lainnya saja.
"Jadi anggota yang bertugas akan di tempatkan pada masing-masing kota. Sarah di kota Hari, Gion di kota Cimki, aku di kota Wudeo, Alin dan Lukas di kota Fuken, kemudian Yeni akan berjaga di ibu kota. Ada yang keberatan? Ada pertanyaan?"
"Aku setuju." Sahut Gion dan Alin bergantian dengan yg berpikir matang.
"Terserah." Tambah sarah yang nampak pasrah.
__ADS_1
Tapi tak semua orang senang dan menerima susunan proposal ini. Entah kenapa sedari proposal terlampir pada hologram, Yeni terlihat nampak tak senang padanya.
"Aku mengajukan keberatan." Yeni mengangkat tangannya meminta perhatian.
Kembali Yeni menarik perhatian diruangan rapat lagi, tentu saja semua langsung memperhatikan sesuai harapannya. Tapi sepertinya Neli terlihat mulai jengkel pada Yeni yang dari tadi selalu bersuara itu, karena dia tau apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
"HUH! Orang ini berulah lagi! Kerja keras ku pasti akan sia-sia lagi kalau begini! Apalagi kalau Lukas itu sampai menyetujuinya."
"Silahkan." Ucap Lukas sedikit melirik.
"Aku tidak setuju jika kau dan Alin yang harus menangani kota Fuken berdua."
"Heh, maimunah! Apa kau mau mengerjakan semuanya sendiri?! Apa kau ketua rapat? Mengubah formasi seenak jidat lebar mu seperti biasa?!" Sindir Gion jengkel.
"Aku bukan ingin seenakny-
"Lalu apa kalau bukan seenaknya? sesuanieknya, begitu?!"
"Coba kau pikir! Lukas saja sudah cukup untuk menangani kota Fuken, untuk apa membawa Alin yang memiliki jiwa Clorian tak berguna itu! Dia hanya akan meropotkan saja! Jadi beban!" Sahut Yeni dengan lantang.
Dan.. Perdebatan pun terjadi diantara mereka berdua yang melibatkan Lukas di tengah-tengah. Lukas terlihat sangat frustasi, pasrah, dan heran pada kedua orang itu. Ia memijit-mijit pelepis matanya dengan frustasi.
Sementara sarah, seperti yang sudah terlihat dan terdengar, ia hanya pasrah di pojok, diam menyimak perdebatan Gion dan Yeni. Kemudian Alin dan Neli hanya bengong tak mengerti dan bingung dengan apa yang diperdebatkan. Perdebatan pun masih saja berlanjut.
"Coba kau pikir juga! Lukas kuat, Alin punya jiwa Clorian yang kuat, jika bersatu, mereka bisa menangani kota Fuken yang punya presentasi wabah 82%!" Lanjut Gion.
"Kau pikir lagi juga! Alin masih belum menguasai jiwa Clorian, dia lemah! Dia hanya akan jadi beban untuk Lukas nanti!"
"Justru itu, Alin akan bisa belajar membangkitkan kekuatan jiwa Clorian nya jika ikut kesana! Kau tau ap-
...BRAK...
"Cukup!"
Kesal karena perdebatan mereka tidak kunjung selesai dari tadi, Lukas menggebrak meja dengan sedikit kuat. Seketika suasana pun menjadi hening, kembali tidak ada yang berani bersuara. Tapi masih saja ada terlihat ejekan dan rasa jengkel pada keduanya, mereka menatap sinis satu sama lain.
"Kalian berdua berhenti! Aku yang akan putuskan!"
Lukas memutarkan kursi nya menatap hologram yang berisi sebagian proposal dari Neli sebelumnya. Ia mengusap hologram itu, lalu berubahlah kembali hologram nya, menunjukan proposal yang baru saja Lukas buat dengan sekejab mata.
"Heheeee... baiklah." Sahut Neli tersenyum paksa.
Mau tak mau harus diubah, jika Lukas sang pimpinan mereka itu sudah memutuskan. Rasa kesal yang membara terpendam pada Neli, mulutnya hampir saja meledakan berjuta-juta gerutuan pada hatinya di depan semua orang. Pasalnya sudah semalam penuh ia mengerjakan dan memikirkan proposal itu, tapi pada akhirnya akan selalu diubah.
Walaupun hal ini memang sudah sering terjadi ketika Yeni mengajukan keberatan dan disusul diperdebatkan oleh Gion, tapi bukan hanya beberapa kali, sudah terjadi berulang-ulang kali. Malang sekali Neli :"(
Untuk beberapa langkah Neli mundur dari posisinya sekarang, membiarkan Lukas untuk maju. Lukas berdiri di depan dengan proposal baru miliknya, ia kemudian menjelaskan posisi, tujuan dan target yang diperlukan untuk tugas mereka kali ini.
"Kali ini kita akan meninggalkan 2 anggota untuk bertugas di kota. Yeni dan Gion yang akan tinggal, Yeni bertugas menjaga ibu kota, sedangkan Gion akan melakukan penelitian di lab bersama dengan bawahannya. Kita lanjutkan.." Jelas Lukas.
...BRAK...
Tak berselang lama Yeni mulai membuat ulah lagi atau apalah itu. Ia berdiri dari kursi nya, menghentakkan tangannya di meja dengan keras, meminta perhatian lagi pada yang lain.
Namun semua sudah lelah mendengar gebrakan di meja itu, tak satupun menoleh kecuali Lukas yang sudah berkobar-kobar kesabarannya.
"Tidak setuju, biarkan Alin yang di ibu kota. Aku yang akan pergi bertugas ke salah satu kota. " Ucap Yeni kembali membantah keputusan rapat sambil menatap tajam Lukas.
"Yeni, kenapa lagi?! Bukan kah tugas mu itu juga sama saja dengan Alin?! Mau apalagi, hm?!" Lukas mulai geram padanya.
"Memangnya kenapa? Bukannya melindungi rakyat di kota yang bermusibah juga sama penting nya?!!"
Lukas sudah benar-benar sudah berkobar-kobar, sudah berusaha sekali dia menahan semua amarah, sambil mengusap gusar wajahnya. Bagaimana tidak, bukan masalah boleh atau tidak boleh, tapi waktu. Mereka sekarang didesak oleh waktu, karena semakin lama wabah itu akan terus menyebar.
"Kau ini cari muka atau bagaimana?! Kau memiliki peran penting sebagai bangsawan wanita terkuat, tapi begini sikap mu?! Kau tau kan ibu kota masih dalam kondisi kritis setelah serangan Clorian? Ibu kota prioritas utama dunia sihir kita." Sahut Gion.
Bukan hanya Lukas yang sudah mulai habis kesabaran pada Yeni, Gion pun begitu. Wajahnya sampai merah membara menahan amarah.
"Kau.. Dari tadi kenapa sepertinya hanya mempermasalahkan Alin?! Ada masalah pribadi? Kita sedang terburu-buru!!! Tapi kau.. Argh terserah!" Imbuh Gion dengan sedikit membentak.
Amarah Gion kelihatannya sudah hampir tak terbendung, ia sangat geram pada Yeni yang terus membuat masalah dan perdebatan dari tadi pada rapat mereka. Di tambah lagi mulutnya yang sangat pedas dan mengesaalllkan sekali itu.
__ADS_1
"Heh! Lagi pula penguasa Clorian kalian itu juga kuat, kan? Jadi kenapa tidak menyuruhnya saja?"
"Ehm.. Lukas, Yeni benar, biarkan aku saja yang di ibu kota. Mungkin aku bisa membantu dengan jiwa Clorian. Kalian tidak usah berdebat lagi." Sahut Alin memotong perdebatan itu sejenak.
Alin yang sedari tadi hanya diam, akhirnya bicara. Sepertinya bukan karena kesal atau muak pada Yeni, tapi karena sudah mulai tidak nyaman dengan alur pembicaraan yang melibatkannya.
"Wow! Tidak aman sepertinya aku di sini, ayolah aku ingin pergiiiiii"
Suara Alin terdengar sedikit bergetar, ada rasa takut dan rasa tak enak pada hati nya. Rasanya ia ingin berlari keluar dari tempat itu, meninggalkan ketegangan dan ketakutan nya di sana, lalu pergi ke kasurnya untuk bermimpi indah, tapi saat ini, tidak bisa!
Tetapi sekeras apapun kepala Yeni, kepala kulkas berjalan itu lebih keras dari pada nya. Kepala Yeni dapat di ibaratkan seperti sebuah buah kelapa dan kepala Lukas adalah batu tempaan pedang, tentu saja batu tempaan itu akan menghancurkan kelapa itu.
Jika pilihan nya itu, maka itu lah, tidak banyak yang dapat meluluhkan kepala kulkas berjalan tersebut.
"Yeni, ini keputusan tetap ku. Jika tidak suka, kau bisa keluar dari ruangan rapat!"
Sudah cukup kesabaran Lukas teruji, ia sudah sangat marah. Yeni sepertinya hanya bisa protes dan mengubah rencana milik seseorang tanpa tau situasi dan sebab yang sekarang terjadi. Bahkan cara pandang Lukas sepertinya berubah terhadap Yeni, ia lebih.. seperti seseorang yang tidak bisa menghargai kerja keras orang lain.
Setelah Lukas mengatakan hal itu, muncul lah tangga turun di ruang rapat itu, sepertinya Lukas telah mempersilahkan jalan keluar khusus untuk orang yang seperti itu.
Yeni tentu saja merasa sangat malu, ia akhirnya bungkam dan tak berani berkata-kata lagi, hanya bisa pasrah pada Lukas yang sepertinya akan menelannya dengan omelan.
"Heh! Ternyata muka asli mu begini, yah? Di luar kau nampak elegan dan tegas, tapi ternyata kau tidak dapat menghargai kerja keras kami yang ada di sini! Kami telah bersusah payah menyusun semua, tapi kau hanya bisa mengajukan tidak setuju tanpa berpikir dulu?! Yeni, ini pilihan mu, keluar atau diam!" Tegas Lukas.
Keadaan kembali menegang, amarah dan aura dingin Lukas sangat pekat mengelilingi ruangan, tak ada yang berani bicara lagi, bahkan Yeni tadi sekali pun.
Alin yang merasa semakin tidak enak, ingin mengalah dan pergi secepatnya dari sana. Pikir nya jika ia pergi dari sana, mungkin Lukas akan menyetujui usulan dari Yeni, yang menyuruh nya untuk tinggal di ibu kota. Alin pun segera berdiri dari tempatnya.
"Hmnmnnmm... Lukas, mungkin.. aku bisa berjaga di ibu kota saja, aku tidak masalah, siapa tau lebih seru!" Ucap Alin berusaha mencairkan sedikit suasana di sana.
Tapi ternyata ia salah, suasana nya malah semakin menegang, Lukas kini menatap tajam padanya. Alin pun hanya bisa meneguk liur nya dengan kasar, waww! Tatapan Lukas sangat seram.
"Ermm.. Kalau tidak ada hal lagi, aku akan pergi. Viko belum makan." Imbuh Alin untuk mencari alasan.
"Untuk apa?! Bukannya kau punya pelayan pribadi?! Diam di sana, aku belum selesai."
"Ah! Ye Min pulang kampung, mudik untuk liburan!" Sahut Alin lagi mencari alasan lain.
"Ada Linaaa..!" Waww! Lukas menampilkan tatapan super Devil nya.
"Lina... Lina.. D-dia.. Di-dia.. kan, sedang hamil."
Alin hampir tak berdaya, ia hanya bisa terpaku di sana. Sesaat kemudian Lukas mengibaskan tangannya, membuat tangga tadi langsung menghilang dan Alin juga tiba-tiba terdorong duduk ke kursinya dengan bersamaan oleh Lukas.
"Ugh."
"Diam di sana! Aku akan menjelaskan nya secara terus terang dan rinci sekarang. Tidak ada lagi kata protes."
"Tapi Lukas, ini tidak adil, kau tidak dapat menyebut ini rapat jika tidak ada musyawarah." Potong Sarah mulai bersuara.
"Aku tau, hanya kali ini. Kita harus segera menyelesaikan rapat ini dan pergi. Jika rapat ini hanya ada protes dan tidak menghasilkan apa-apa, habislah kita. Ini keadaan yang mendesak."
Sementara itu Lukas kembali duduk pada kursinya, menyalin proposal nya ke semua layar hologram anggota dan layar utama. Untuk beberapa saat Sarah terdiam, setelah berpikir akhirnya Sarah ikut setuju juga, tapi tak keluar satupun kata dari nya.
"Baiklah, langsung saja. Sarah kau di kota Hari, Alin di Wudeo, Neli di Cimki, aku di Fuken, Yeni di ibu kota dan Gion akan membantu membuat penawar.
Jadi masalah kenapa Alin ku tempat kan di Wudeo bukan di ibu kota, karena kekuatan Clorian Alin belum stabil, aku masih belum yakin dengan itu. Walaupun kekuatan Alin saat ini masih belum sepadan dengan kasusnya saat ini, tapi dia pasti bisa.
Oleh karena itu Ibu kota akan lebih aman jika Yeni yang bertugas, karena kekuatannya yang cukup kuat. Sudah jelas, kan Yeni?" Lukas menatap malas Yeni yang ada di samping kiri nya.
"Hm."
"Yang lain, jelas?"
"Jelas, pimpinan!" Seru semuanya.
Seruan mereka menggema nyaring di seluruh ruangan itu menyahut Lukas. Sungguh membangkitkan semangat yang sangat berapi-api, semuanya sudah sangat tidak sabar untuk mengerjakan bagian dari tugasnya masing-masing.
"Kita akan memperbaiki total formasi kimasef setelah 'dia' datang." Tambah Lukas sebelum semuanya beranjak.
Para anggota pun terlihat mengangguk paham, hanya Alin yang terlihat kebingungan dengan siapa yang di maksud oleh Lukas. Sesaat Alin termenung.
__ADS_1
" 'Dia'? Siapa?"
Setelah seruan itu, tangga ruang rapat kembali muncul, semuanya keluar dari sana, pergi berpencar untuk bersiap ambil bagian tugas. Hanya ruang rapat kosong yang tersisa.