
Lina kembali menatap Reyhan sekilas di samping. Dengan keberanian seperintil, Lina mencoba untuk tenang dan menyusun kata-kata yang akan di ucapkanya. Setelah siap, ia menatap lekat ibu nya dengan yakin.
"Bu.. Kami ingin mengatakan sesuatu." Lirih Lina masih agak gugup.
"Ada apa?"
Melihat Lina yang masih gugup, Reyhan langsung ambil tindakan untuk membantunya.
"Sebenarnya... Tujuan saya kemari ingin melamar Lina sebagai tunangan saya, bi." Ucap Reyhan mendahului Lina.
...Prangggg...
Ibu Lina terpekik, ia tak sengaja menjatuhkan adonan roti kembali ke dalam baskom yang ada di depannya. Matanya terbelalak tak percaya. Ia nampaknya masih bingung dengan apa maksud dari Reyhan yang ingin melamar Lina.
"Me-melamar Lina?" Tanya ibu Lina masih tak percaya.
"Benar, bi. Kiranya an-
"Tidak setuju! Aku tidak akan menyetujui pertunangan kalian. Kalian boleh saja pacaran tapi tidak dengan tunangan." Tolak nya dengan tegas.
"Tapi, bu." Sela Lina
"Ada apa lagi?! Tidak ada bantahan Lina! Aku tetap tidak akan menyetujui pertunangan kalian ini!" Ucapnya sekali lagi.
"Tapi bu... Aku... Sebenarnya sudah mengandung bayi kami. Dan usianya sudah hampir 2 bulan!"
...BRAKK...
Meja makan di depan, digebrak oleh ibu Lina yang kini mulai murka. Lagi-lagi ibu Lina terkejut dengan apa yang di dengarnya, ia membelalakan matanya tak percaya. Begitu pun dengan Renu, ia juga tidak percaya dengan apa yang masuk ke telinganya. Sementara itu ibu Lina masih terpaku dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Kak, kau hamil?!" Tanya Renu tersentak.
Lina hanya bisa mengangguk sambil memegangi perutnya yang kini sudah mulai membesar. Ia terlihat sangat ketakutan menunggu reaksi ibu yang selanjutnya. Reyhan juga tau apa yang di rasakan Lina, ia menggenggam erat tangan Lina untuk menguatkan nya.
"Lina! Apa yang kau lakukan?! Kau ingin mengulangi kesalahan ibu juga?! Apa kau sudah lupa dengan apa yang ayahmu lakukan pada kita?! Ingin membuat hal yang sama pada anak mu?!"
"Tapi bu, Reyhan berbeda!" Bantah Lina.
"Berbeda apa?! Gugurkan anak itu segera! Dan kau brengsek, KELUAR DARI RUMAHKU!!" Bentak ibu Lina pada keduanya, sambil menunjuk kepada Reyhan.
Tapi Reyhan tidak tergerak sedikit pun, ia sudah sangat bertekad untuk bertanggung jawab pada Lina dan anak mereka. Sudah tidak tahan dengan kata-kata yang tertahan di benaknya, ia menggebrak meja dengan sedikit keras hingga membuat ibu Lina bungkam seketika.
...BRAK...
"Bibi, aku di bicara di sini dengan bersungguh-sungguh. Aku tulus pada Lina dan akan bertanggung jawab atas dirinya serta anak kami. Jadi tolong restui pertunangan kami." Ucap Reyhan dengan tegas dan percaya diri.
"Bersungguh-sungguh?! Heh! Sejak kapan para bangsawan di istana tulus dan bersungguh-sungguh mencintai seseorang?! Lihat saja ayahnya Lina, Master Gi itu, dulu dia bilang tulus mencintaiku. Tapi lihatlah sekarang, ia menelantarkan aku dan anaknya! Dia bahkan rela menikah lagi dengan seorang putri kaisar demi mendapatkan jabatan Master!" Bentak ibu Lina yang mulai berkaca-kaca.
Kisahnya, Master Gi dulu hanyalah bangsawan biasa yang sangat baik di istana. Ia menikah dengan ibu Lina dan di karuniakan seorang putri, yaitu Lina sendiri. Beberapa tahun setelah ia menikah, posisinya sebagai bangsawan terdesak oleh karena peperangan yang terjadi di dalam wilayah perkembanganya.
Demi memperkuat posisi, ia menikah dengan salah satu putri dari seorang kaisar yang sudah lama menyukainya. Master Gi pun pergi meninggalkan keluarganya hidup sendiri.
Setelah kejadian itu ibu Lina menjadi sangat stres. Tabib psikolog sampai menyarankan ibu Lina untuk mengasuh seorang anak laki-laki untuk mengurangi stres nya, yaitu Renu. Mulai dari situlah ibu Lina membenci para bangsawan.
Mendengar itu Reyhan sangat kerkejut, ia tidak menyangka akan apa yang di dengarnya. Reyhan terdiam, ternyata tidak hanya dia saja yang memiliki cerita hidup yang suram, nyatanya ada orang lain yang memiliki cerita hidup lebih suram darinya.
Lina juga benar-benar sedih mendengar cerita lama dari keluarga nya itu. Tapi hanya Reyhan lah yang dapat menghibur, membuatnya nyaman dan melindungi nya. Hanya Reyhan, hanya Reyhan yang membuatnya nyaman, Satu-satunya...
Wajah semua orang yang ada di situ memerah menahan tangis. Mereka semua meratapi nasib kisahnya masing-masing. Tangisan Lina seketika pecah, ia bersujut di kaki ibunya dan menangis, kembali memohon padanya.
__ADS_1
"Bu... Lina mohonnn... Lupakan ayah, seperti yang ibu selalu katakan pada kami. Hiks.. huhuhuhu... Biarkan hidup kita di bangun dari dasarnya. Tolong jangan benci orang lain tanpa alasan." Ucap Lina dengan suara yang sedikit bergetar sedih.
"Ibu hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama. Hanya itu Lina..." Tambah ibu Lina yang kini mulai terkulai.
"Reyhan berbeda, dia sangat tulus denganku... Dia berbeda... Dia bahkan rela untuk meninggalkan jabatan dan keluarga nya demi ku, bu... Tolong beri dia kesempatan..." Ucap Lina yang disertai dengan tangis nya.
Reyhan yang terdiam, tiba-tiba saja berjalan kearah mereka, memeluk mereka dengan tangisan yang tertahan. Ia sekarang sadar tidak hanya dia saja yang punya sisi kelam. Tapi orang lain pun ada. Reyhan membenamkan wajahnya di punggung Lina dengan mata yang kini telah belinang, sambil memeluk betis ibu Lina juga.
"Bibi, Reyhan berjanji, akan selalu setia dan bersama dengan Lina. Menyayanginya dengan tulus. Bibi... Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan nya." Pinta Reyhan.
Renu yang terdiam berdiri di tempatnya kini berjalan ke arah mereka, memeluk mereka semuanya. Ada rasa kebahagiaan di keluarga ini bagi Renu. Baginya orang-orang ini adalah harta yang paling berharga. Walaupun banyak kekurangan, tapi setidaknya ia dapat bahagia.
"Terima kasih untuk kalian yang sudah mengadopsi ku dulu. Aku sama sekali tidak menyesal dengan kehidupan yang sederhana ini. Aku bahagia karena aku bisa menemukannya keluarga yang sesungguhnya di sini."
...****************...
Di suatu tempat di dekat perbatasan, seseorang sedang berdiri di sana. Orang itu mengenakan baju serba hitam dengan jubah merah yang menyelimuti tubuhnya. Ia menatap lekat pembatas yang ada di depannya.
Tak lama setelah itu, pembatas tiba-tiba saja terbuka sedikit dengan sendirinya. Ia melewati pun melewati perbatasan yang terbuka itu. Kini orang itu telah tiba di dunia sihir merah.
Pemandangan dunia sihir merah sangatlah berbeda jauh dari dunia sihir putih yang masih sangat asri. Tempat itu di penuhi dengan serba merah, ada abu dan juga lava di mana-mana. Bagaimana tidak, di sekitaran itu saja sudah ada tiga buah gunung merapi yang besar.
Orang tadi berjalan menuju lebih dalam lagi ke sana. Hingga, ia sudah tiba di salah satu kota di dunia sihir merah. Para penduduk terlihat berlalu-lalang layaknya orang-orang yang ada di dunia sihir putih. Tapi yang anehnya mereka tampak tidak ramah dan menyeramkan. Tak ada satupun sapa dan senyum untuk orang tersebut.
Setibanya orang itu di tempat yang ditujunya, ia melepas jubah merahnya. Lalu, ia pun masuk ke dalam sebuah istana besar nan megah yang berwarna hitam pekat di sana. Ketika sudah berada di dalam istana, puluhan pelayan menunduk padanya dan salah seorang dari mereka berdiri di depannya seakan ingin mengantar orang itu ke suatu tempat.
"Mari.." Ucap pelayan itu.
Orang itu hanya mengangguk pelan lalu mengikutinya.
__ADS_1
Setelah beberapa lorong dan tangga, akhirnya mereka telah tiba di suatu ruangan yang sangat besar. Seseorang telah menunggu kedatangannya di sana, ia duduk di singgasana seberang sana.
"Hey, Yeni! Lamban sekali kau ini, aku sudah menunggu mu lama sekali di sini!" Decak orang itu.