Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 44 Merasa bersalah.


__ADS_3

*Ke esokkan harinya.


Seperti biasanya para pangeran dan putri kerajaan dunia sihir putih pergi ke academy Ligen. Saat ingin pergi ke academy, mereka melewati kamar Reyhan yang tertutup rapat. Alin menghela nafas dengan kasar, ia hanya bisa berjalan sambil tertunduk melewati kamar Reyhan dengan perasaan yang merasa bersalah kepada Reyhan.


Mereka pun tiba di academy dan masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Saat di dalam kelas, Alin menatap bangku Reyhan yang kosong. Anggota KIMASEF semuanya duduk di bangku mereka masing-masing kecuali Reyhan, dan Alin menyandarkan kepalanya ke atas meja sambil melamun.


"Andai saja... Aku tidak memasak untuk mereka pada malam itu, Reyhan pasti tidak akan absen dan tidak harus terbaring di kasur saat ini, dia pasti akan duduk di sini bersama kami. Ini semua salahku"


Tanpa Alin duga satu tetes air matanya jatuh ke atas meja, dengan cepat ia menghapus air mata itu dan duduk dengan tegap. Lukas dan Gion juga menyadari nya, bahwa Alin merasa bersalah pada Reyhan. Dari tadi pagi Alin terlihat murung dan lebih diam dari biasanya.


*Jam istirahat makan siang.


Pada jam istirahat makan semua murid pergi ke kantin academy untuk makan. Saat Lina melewati tempat duduk para anggota KIMASEF, ia tidak melihat ada Alin dan Reyhan di situ. Lina berjalan mengambil makanan ke antrian dan saat ia sudah selesai mengambil makanan, ia berbalik dan mendapati Alin tengah duduk sendirian di pojokan. Lalu ia berlari dan menghampiri Alin yang sedang melamun.


"Putri Jiu, boleh saya duduk di sini?" tanya Lina sedikit bercanda.


"hm" Alin tidak menoleh atau pun menghiraukan Lina, ia sibuk sendiri dengan lamunannya.


"Ada apa dengan mu?"


"Tidak apa-apa" Jawab Alin tidak bersemangat.


"Ayo ceritakan! Aku pasti akan membantu mu"


"Reyhan sakit karena alerginya kambuh dan itu semua karena aku" Jelasnya sambil menghentakkan kepalanya dengan keras ke atas meja dan hampir menangis.


"Hei jangan menghentakkan kepalanya mu begitu! Bagaimana kalau kepalamu pecah?!" Bentak Lina pada Alin, seperti ibu yang sedang menceramahi anaknya.


"Biarkan saja, mungkin rasa sakitnya tak sebanding dengan apa yang Reyhan rasakan tadi malam" Sahut Alin.


"Huftt... Seperti nya kau butuh bantuan psikologis dan obat-obatan untuk Reyhan. Datanglah ke rumah ku nanti sore."


"Baiklah, terserah..." Sahut Alin dengan nada frustasi sambil menghentak-hentakan kepalanya lagi.


"Hei berhenti!" Bentak Lina lagi.


"Tidak mau!" Sahut Alin masih menghentak-hentakan kepalanya ke atas meja.


Beberapa menit kemudian seseorang datang dan menahan kepala Alin dengan tangannya agar ia berhenti menghentakkan kepala lagi. Itu adalah Yudian! Saat Yudian lewat ia melihat Alin yang terus-terusan menghentakkan kepala nya, jadi dia menghampiri mereka.


"Alin... sebaiknya kau mendengarkan nasihat Lina tadi." Ucap Yudian menasehati nya.


"Hm, oke" Alin menurut dan mengangkat sedikit kepalanya dengan malas.


"Giliran laki-laki ganteng yang bicara baru kau mau menurut?!" Batin Lina greget dengan Alin.


"Terima kasih ketua kelas sudah mau menegur Alin, selanjutnya biar aku saja yang mengurus nya" Ucap Lina.


"Baiklah. Ini, oleskan salep ini agar kepala mu tidak terlihat terlalu memar"


Yudian memberikan sebuah wadah kecil yang berisi sebuah salep kepada Alin, ia pun mengambilnya.


Setelah jam istirahat makan siang selesai semuanya kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajarannya. Beberapa lama kemudian, kelas mereka sudah usai dan mereka semua pergi pulang ke rumah masing-masing.


Seperti biasa KIMASEF pulang bersama-sama sambil di iringi oleh para penjaga istana. Saat di tengah jalan, jalan menuju ke rumah Lina, Alin berbelok sendiri dan berjalan menuju ke rumah Lina. Saat Alin mulai menjauh, Lukas mengejarnya dan menarik pundaknya dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Kemana?"


"Aku ingin ke rumah Lina sebentar, kalian duluan saja" Jawabnya dengan nada malas.


"Aku akan menunggu mu di istana"


"oke"


Lukas kembali ke barisannya dan pergi pulang bersama yang lain tanpa Alin. Alin pun berjalan menuju rumah Lina melalui danau salju.


Danau itu sungguh indah dengan bunga-bunga teratai nya yang warna-warni. Butiran salju terus saja berjatuhan, angin berhembus dengan kencang, namun danau itu tidak membeku atau pun terasa dingin. Danau itu seperti mencerminkan hati seseorang. Seberapa banyak pun hantaman menghantamnya ia akan tetap sama, tidak akan pernah berubah.


Cuaca di luar semakin dingin dan Alin merasa kedinginan. Dengan cepat ia berlari menuju rumah Lina.


Setelah tiba di rumah Lina, ia mengetuk pintu nya. Beberapa menit kemudian pintu rumah Lina terbuka, terlihat lah Renu yang sedang memegang sebuah balok kayu.


"Kak Alin?"


"Halo Renu, apa Lina ada?" Sapa Alin.


"Oh, masuk saja kak"


Renu membukakan pintu lebar-lebar dan Alin pun masuk ke dalam. Rumah itu terlihat sepi sekali.


"Dimana ibumu dan Lina?"


"Ibu dan kak Lina sedang bekerja, mereka akan kembali sebentar lagi."


"oh, jadi kau sendirian di rumah?"


"Hehehehe... Renu memang cerdas" puji Alin sambil mengacak-acak rambut nya Renu.


Tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Renu dan Alin terlihat ketakutan, dengan cepat mereka mengambil dan memegang balok kayu di tangan mereka masing-masing. Saat membukakan pintu, ternyata...itu Lina dan ibunya.


"Bwaahahaha, ada apa dengan kalian berdua?" tanya Lina sambil terbahak-bahak melihat mereka berdua ketakutan.


"Kami kira kalian penjahat, apa salahnya waspada!" gerutu Alin kesal.


"Ibu!" Renu berlari menghampiri ibunya.


"Renu, kamu sangat pintar di rumah. Ayo Alin kita masuk" Ajak ibu Lina sambil masuk dengan membawa tas rotan yang penuh dengan padi.


Lina dan ibunya mengganti pakaian nya lalu duduk bersama Renu dan Alin di dapur. Lina beranjak dari duduknya pergi ke lemari dapur untuk mengambil sesuatu dan kembali duduk bersama mereka.


"Jadi pangeran Reyhan alergi apa?" tanya Lina.


"Lukas bilang... Reyhan alergi pada daging sapi dan aku memasakkan sup daging sapi kemaren malam. Ini salahku..." Jawab Alin sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu tenang saja Alin, Lina bisa membuatkan obatnya untuk Pangeran Reyhan. Dia itu sangat pandai membuat obat-obatan" Ucap ibu Lina meyakinkan nya.


"Benarkah?"


"Benar kak" Sahut Renu.


Sementara itu Lina hanya diam dan berbicara dalam hatinya. Ia merasa senang karena di puji-puji begitu.

__ADS_1


"Yah, yah, aku akui aku sehebat itu" Batin Lina memuji diri nya sendiri.


Lina memasukkan semua bahannya ke dalam lesung kayu yang kecil. Saat ia memasukan ingin memasukan sebuah benda berwarna merah, Alin bertanya.


"Apa itu?"


"Oh ini? ini buah dari pohon sihir" jawab Lina.


Beberapa lama kemudian obat itu telah selesai di buat dan Lina pun memasukkan nya ke sebuah botol berwarna coklat lalu memberikan nya pada Alin.


"ini"


"Terima kasih Lina" Ucap Alin sambil tersenyum gembira.


"sama-sama, Apa kau akan pulang sekarang? Di luar sangat dingin sekarang"


"Yah... Mau bagaimana lagi? Lukas akan mengomeli ku nanti jika terlambat pulang."


"Kalau begitu berhati-hatilah"


"Baiklah, aku akan pulang. Tante, Lina, dan Renu sampai bertemu lagi" Alin pamit dan berjalan ke luar pintu.


"Berhati-hatilah" Sahut ketiganya bersamaan.


Alin pulang pada saat matahari sudah mulai terbenam, jalannya terlihat gelap dan menyeramkan dengan angin yang berhembus kencang. Saat di tengah jalan ia mendengar suara aneh dan itu membuat nya ketakutan.


...KRIETTT KRUSHUKKK KRUSHUKKK...


Alin ketakutan, spontan kakinya melemas dan merasa gemetaran ketakutan. Hingga... sebuah ranting besar jatuh di dekatnya.


...BRUKKK...


"KAKEKKKK!" Teriaknya ketakutan sambil berlari dengan cepat menuju jalan ke istana.


Sementara itu Lukas menunggu Alin di depan gerbang istana sambil berdiri dengan tangan yang menyilang di depan dadanya. Lukas sangat kuatir pada Alin yang belum pulang dari tadi jadi ia menunggu nya. Saat ia melihat Alin berlari ke arahnya, ia langsung mengomeli Alin.


"Kenapa lama sekali?! Apa kau tau di luar sana berbahaya?! Kau bilang hanya sebentar, tapi ini sudah hampir gelap!" Omel Lukas dengan nada yang sedikit tinggi.


"Maaf, Tadi aku..."


"Sudahlah, cepat masuk dan ganti baju mu! Kita akan menjenguk Reyhan." Perintah Reyhan sambil menyela Alin.


"oh, baiklah. Tunggu sebentar"


Alin berlari ke dalam istana dan dengan cepat ia masuk ke dalam kamar lalu mengganti baju. Saat sudah selesai mengganti bajunya, Alin keluar. Terlihat di luar kamar Alin, Lukas menunggu Alin sambil menyandarkan punggungnya pada salah satu pilar dan menyilang kan tangan nya di depan dada.


"Aku sudah siap, ayo"


"Kenapa membawa Viko?" tanya Lukas sambil memandang Viko.


"Kasihan dia, dia selalu ku tinggalkan sendirian di kamar." Sahut nya.


"Ayo"


Mereka pun berjalan lewat koridor istana menuju kamarnya Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2