
Setelah mendengar penyataan itu Lukas sangat terkejut akan yang akan ia dengar, begitu juga dengan yang lainnya, mereka juga tidak kalah terkejutnya dari Lukas. Deon Li pun memberikan mereka yang ada di belakangnya itu isyarat mata, yang menyuruh semuanya untuk menyimpan kembali senjatanya. Setelah melihat isyarat tersebut, semuanya langsung menyimpan senjata mereka masing-masing.
"Henil, bubarkan dan bereskan semuanya. Lalu suruh putri Jiu untuk ikut dengan kami ke aula istana." Perintah Deon Li.
"Eh?! Putri Jiu? Adikku kah?!"
"Ikut dulu dengan ku, kita akan membahasnya nanti. Yuno, kau ikut dengan kami juga."
"Baik, ayah." Sahut Yuno yang langsung mengikuti Deon Li.
Mereka bertiga pun pergi ke aula istana meninggalkan semuanya yang berada di tempat itu. Sementara itu Henil sedang sibuk memerintahkan para pasukan dan pengawal untuk bubar dan membereskan kekacauan tersebut. Sedangkan Alin, ia sedang berbicara dengan Lukas yang terlihat kelabakan.
"Kau kenapa, Lukas? Apa yang terjadi? Kenapa kau panik begitu?" Tanya Alin yang keheranan.
"Jika kau ke aula istana nanti berhati-hati lah, tetap berada di samping Henil, yah?"
"Hm, iya baiklah."
Saat percakapan mereka itu selesai, pekerjaan Henil pun telah selesai dan sekarang ia hanya perlu membawa Alin bersama nya ke aula istana untuk menemui Deon Li. Alin pun mengikuti Henil untuk ke aula istana bersamanya. Tapi Lukas terlihat sangat gelisah, bahkan benar-benar gelisah. Ia menghampiri Gion dan menariknya ke suatu tempat.
"Hei! Hei! Kemana?!" Tanya Gion.
"Ikut saja!"
Lukas terus saja berjalan sambil menarik-narik tangan Gion, Hingga mereka berdua tiba di suatu tempat, tepatnya gudang istana. Di saat itulah Gion kebingungan dengan adik nya yang bertingkah aneh itu.
"Untuk apa kau membawaku kemari, Lukasssss? kita mau mencari barang bekas?Hah?" Tanya Gion yang terlihat kesal.
"Sttt, diam..."
Lukas maju ke salah satu sisi ruangan itu dan menempelkan telinga nya di belakang tembok itu. Tapi tak terdengar sedikitpun suara dari tembok itu, lalu kesal lah ia. Gion yang keheranan dengan Lukas langsung menghampiri nya.
"Sedang apa kau? Mencari harta di dalam tembok? Ada ada saja kau ini." Ejek Gion.
"Ishh, diam saja. Aku sedang mencoba untuk mendengarkan percakapan mereka."
"Eh? Mereka siapa? Kakak tertua dan yang lainnya?"
"Hm." Sahut Lukas yang masih sibuk mendengarkan tembok.
Gion yang mendengar itu langsung terkekeh geli, baru kali ini ia melihat adiknya itu bertingkah seperti kekanakan. Ia pun berniat untuk menganggu adiknya itu, yang sibuk mendengarkan tembok.
"Hahaha... Kau aneh-aneh saja, kau bisa tanyakan sendiri kepada Alin nanti, kan? Lagi pula... Untuk apa kau mendengarkan tembok di sini!" Ucap Gion yang langsung menjitak kepala Lukas untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
...Bukkk...
"Hei! Hei! Sudah berapa kali kau menjitak kepala ku, Hah?!"
"2 kali" Jawab Gion dengan entengnya sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Berisik sekali, di balik tembok ini aula istana. Itulah mengapa membawa kita kemari. Menyesal sekali aku membawa mu bersama ku tadi!"
"Ih, kau sendiri yang menarik ku." Sahut Gion yang tidak mau kalah.
Lukas pun akhirnya mengalah dan pergi dari tempat itu yang di susul oleh Gion yang mengejarnya. Saat Lukas tergapainya, Gion merangkul tengkuk adiknya itu dan mengajaknya jalan-jalan ke pasar untuk meringankan rasa kuatir nya itu.
"Sudahlah. Ayo kita jalan-jalan."
Dan Lukas pun hanya diam mengikuti keinginan Gion.
Sementara itu, di aula istana. Deon Li, Yuno dan orang asing tadi, sedang duduk untuk mendiskusikan yang terjadi sekarang. Yaitu tentang saudara orang tersebut yang bermarga Jiu seperti Alin.
"Apa benar adikmu itu bermarga Jiu?" Tanya Yuno.
"Iyalah, dia kan adikku. Aku mencarinya kemari karena mata-mata ku bilang, adikku pergi ke istana beberapa bulan terakhir, itulah mengapa aku mencarinya kemari." Jawab orang itu terus terang.
"Siapa namanya?"
"Jiu Xiao Alin."
"Siapa wanita ini?" Tanya orang itu yang masih belum terlalu jelas melihat wajah Alin.
"Kami akan memberitahukan mu nanti, siapa namamu?" Tanya Deon Li.
"Lio Yu Yeo. Kalian bisa memanggil ku Yu atau Yu Yeo."
"Hah?! Marga master Jun Yeo?!" Batin semuanya yang ada di situ.
Deon Li, Yuno, dan Henil benar-benar terkejut mendengar itu. Sedangkan Alin, ia tidak mendengarnya. Ia terlalu sibuk kuatir di dalam hatinya sehingga tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kau benar-benar...?!" Tanya Yuno yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Hah?!"
"Yu Yeo, Alin?" Panggil Deon Li yang menoleh ke arah Alin yang menunduk itu.
"Hah? Apa?" Tanya Alin.
__ADS_1
"Kalian bicara lah dulu, kami akan pergi." Ucap Deon Li yang langsung pergi.
Lalu Yuno dan Henil pun keluar juga meninggalkan mereka berdua di dalam. Sementara itu Yu Yeo menatap Alin dengan rasa rindunya, ia tidak menyangka jika adiknya, yang sudah lama jauh darinya selama bertahun-tahun sekarang ada di hadapannya.
"Adikkk!!" Seru Yu Yeo yang berlari dan ingin memeluk Alin.
Tapi Alin masih belum percaya jika orang yang di hadapannya itu kakaknya, karena ia tidak mendengarkan percakapan tadi. Saat Yu Yeo ingin memeluknya, sontak Alin langsung mengeluarkan pedang petir yang ia siapkan untuk berlatih dan ia mengacungkan pedang itu ke depan agar Yu Yeo tidak bisa mendekat padanya.
"Ho! Ho! Jangan mendekat! Kau siapa mau peluk-peluk, Hah?!"
"Adik, ini aku kakak mu!" Ucap Yu Yeo dengan wajah memelas nya.
"Adik, adik! Aku tidak punya kakak, aku anak tunggal!"
"Akan ku jelaskan nanti kepadamu detail nya."
"Kalau begitu... aku akan memberimu pertanyaan. Kalau berhasil menjawabnya aku akan percaya."
Alin kemudian mengencangkan pedangnya lagi untuk berjaga-jaga. Dan Yu Yeo pun bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan dari Alin yang ia ingin peluk sedari tadi.
"Kapan aku lahir?" Tanya Alin.
"17 November." Jawab Yu Yeo.
"Dia tau! Tidak, tidak. Dia pasti membuka data ku di dunia manusia!"
"Siapa nama ayah?!"
"Lio Woon Yeo."
"Siapa nama ibu?!"
"Jiu Nam Yeon." Jawab Yu Yeo lagi.
"Siapa nama kakek?"
"Lio Jun Yeo."
Di titik inilah Alin mulai percaya kepada Yu Yeo, dia hampir menjawab semua pertanyaan Alin. Terlihatlah Alin mengepalkan tangan sebelahnya, ia ingin menangis dan langsung memeluk orang itu, tapi pertanyaan terakhir belum ia lontarkan.
"Si-siapa nama... nenek?"
"Gue He--"
__ADS_1
"Kakakkk!"
Belum sempat Yu Yeo menyelesaikan jawabannya, rasa rindu Alin sudah tidak terbendung lagi. Ia langsung berlari dan memeluk Yu Yeo dan menangis di pelukannya. Yu Yeo yang memang sedari dari tadi ingin memeluk adiknya itu pun membalas pelukannya.