Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 144 (Collaboration with Naiwa)


__ADS_3

SURAT UNTUK YOHAN JOVIAL


Om, ada seseorang yang mendatangi dunia ku... Dia agak aneh, dia bilang dia mau membantuku... Namun cara dia berbicara dan auranya membuatku merinding... Dia mengenalkan dirinya dengan nama Neverth atau Nev


Apa dia 'The Reader' itu?


.


.


.


.


Kemudian Lukas menggulung secarik kertas surat itu dan menaruhnya di cengkraman kaki merpati pos yang berbulu putih bersih. Lalu membiarkannya terbang bebas melalui jendela kamar menuju ke Dunia lain.


Dunia tempat dimana Yohan Jovial berada...


Lukas menatap lekat merpati pergi itu melalui jendela kamarnya, dengan harapan gurunya ini bisa membantu... Setidaknya memberikan sebuah clue untuk situasi yang sekarang dihadapinya.


"Lukas.."


Suara Gion dan beberapa ketukan dari balik pintu membuat lamunan Lukas pecah. Langkah kaki perlahan masuk bersamaan dengan pintu kamar yang perlahan-lahan terbuka, Gion menghampiri Lukas yang sekarang masih menatap lekat ke luar jendela, menatap bekas kepergian merpati putih.


"Ada apa?"


Lukas berbalik menatap Gion, kakaknya dengan mata biru yang bahkan lebih dingin dari kutub Utara. Tidak banyak emosi yang bisa Gion tangkap dalam tatapan Lukas sekarang. Gion menghela nafas berat dan menyilangkan tangannya di depan dada dengan tatapan yang tegas.


"Kau yakin menerima bantuan Pria itu? Dia misterius sekali... Aku memiliki firasat buruk tentangnya ."


Lukas terdiam mendengarkan kata perkataan Gion, kakaknya ini ada benarnya juga. Namun, mereka sudah tak punya pilihan..


"Maaf, tapi inilah satu-satunya jalan sekarang. Aku tau ini pilihan yang berisiko, tapi aku yang akan bertanggung jawab dengan segala resikonya..." Lukas meletakkan tangan kanannya di dada kiri dan menunduk di hadapan Gion,


"Menatap pria itu, rasanya seperti bukan melihat manusia lagi...dia berada diatas level manusia,Lukas... tolong berhati hati didekatnya."


Gion kemudian berbicara lagi dan menepuk pundak Lukas dengan tangannya.


Lukas kemudian menganggukkan kepalanya,dan berjalan keluar dari kantor pribadinya dan berjalan menuju sebuah kamar yang ditepati oleh Nev sekarang.


Lukas sebenarnya memiliki keraguan dihatinya. Namun,dia tak memiliki pilihan lain,Alin tidak sadarkan diri, dunia nya semakin hancur, wabahnya semakin menyebar.


Keadaan kacau,pikiran Lukas benar benar kacau dan nyaris tak terkendali,Lukas nyaris kehilangan kewarasan dirinya..


Dia lelah


Dia ingin istirahat


Namun dia tak bisa istirahat sekarang..


Keadaan terus menekan Lukas,dia kelelahan sekali... bagaikan menaruh garam diatas luka.


"Nev..."


Panggil Lukas mengetok pintu kamar Nev. Lalu, pintu itu terbuka dan terlihat Nev sedang menatap tangannya sendiri yang sebelumnya terbelah.


"woahh~...sihir kalian hebat yah,bisa menyembuhkan luka ku sampai terlihat seperti baru~!"


Puji Nev kemudian menepuk tangannya yang sudah sembuh dengan pelan.


Lukas kemudian berjalan dengan tenang, terdengar suara tapak sepatunya memenuhi ruangan ini dan akhirnya duduk diatas kursi didepan Nev.


Nev yang sedang duduk di kursinya dengan meja bundar yang menjadi penengah mereka,Nev menaruh tangannya diatas meja dan menggenggam tangannya sendiri.


Lukas hanya duduk sembari menyilangkan tangannya, mengamati semua gerak gerik Nev.


"Jadi? Kau ingin menolong mu seperti apa?"


Lukas bertanya dengan dingin, memperhatikan jari jari Nev nampak mengetuk sesuatu diatas meja,jarinya seakan menggeluarkan suara irama yang memiliki makna.


Jarinya terus mengetuk ngetuk meja itu,namun Lukas berpikir bahwa Nev hanyalah sedang bermain main dan tak mengambil pusing hentakan jari jari Nev itu.


"Kau berisik."


Saat Lukas mengatakan itu, kemudian mata Heterochromia Nev melirik tajam Lukas. Namun,dia tersenyum dan kemudian melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Kami punya seseorang yang mungkin bisa membantu..." Lukas memunculkan dua cangkir teh di atas meja dengan sihirnya.


Sesaat mata Nev menatap ke arah dua cangkir teh itu, menatapnya cukup lama kemudian tersenyum kecil.


Senyuman yang Nev berikan seakan memiliki makna,seakan dia sudah tau apa yang dicampurkan didalam teh itu.


"kenapa tidak diminum?"


Lukas bertanya,dia berusaha memastikan sesuatu dari Nev.


Nev kemudian tertawa pelan,dan akhirnya menatap mata Lukas dengan tajam,tatapan matanya benar benar menusuk sampai ke jiwa Lukas.


Bagaimana bisa ada seseorang memiliki mata setajam itu?


"Aku gak suka teh~! Apalagi teh buatan mu,emoh~"


Tolak Nev secara terang terangan dan blakblakan,membuat Lukas berdecih kesal.


Sudah terlihat jelas sekali,Nev menolak teh yang dia berikan.


Lukas mengernyitkan dahinya,namun akhirnya Lukas tidak begitu memikirkannya dan menghela nafas panjang.


Mungkin Nev menyadari bahwa ada sihir didalam teh itu, kemampuan THE READER memang tidak bisa diremehkan.


"Kalau begitu,mari kita kembali ke pembahasan.."


Nev kemudian menaruh tangannya diatas pahanya sendiri dibawah meja,Lukas nampak bingung.


Kenapa cara duduk orang ini menjadi sangat sopan? Padahal diruang interogasi tadi dia duduk dengan sangat tidak slay.


Dan lagi,kenapa dia menaruh tangannya diatas pahanya dan tidak dimeja lagi? Mungkin trauma dengan tusukan belati ditangannya.


"....Ada seorang kakek yang mungkin bisa membantu kita,tapi untuk menemuinya itu hal yang sangat mustahil...."


Lukas menjelaskan sedikit frustasi,Nev mendengarkan dengan tenang.


Nev sudah tau,bahwa ada seorang kakek yang mengisolasi dirinya didalam hutan dewa.


Hutan itu memiliki energi sihir yang sangat kuat, siapapun bisa tersesat disana dan tak bisa kembali lagi.


Siapapun bisa terkena efek sihir itu,membuat seseorang mengingat trauma terdalamnya atau mentrigger sesuatu yang menganggu mental korbannya.

__ADS_1


'Heh,apa semua dewa selalu mengisolasi dirinya sendiri?'


Nev membatin dengan mengigit salah satu jarinya sendiri sampai sedikit berdarah.


Lukas memperhatikan jari Nev yang nampak berdarah,dia tak begitu memperdulikan itu. Orang ini,sudah sangat aneh.


"Hmm..aku bisa membantumu menemui kakek itu."


Tiba tiba Nev berbicara dengan tenang,membuat Lukas tertegun tidak percaya.


Serius? Orang seperti Nev? Lukas nampak ragu namun,Nev nampak sangat percaya diri dan seakan akan dia sudah tau apa yang akan dia lakukan.


Cara Nev tersenyum,cara Nev berbicara. Lukas menyimpulkan bahwa Nev lah yang memang THE READER.


Mungkin,Lukas bisa memanfaatkan Nev,dia bisa membuat Nev sepenuhnya percaya padanya dan memberikan Wahyu nya. Namun,bisakah dia? Apakah Nev bisa dipercaya?


"Kalau begitu ayo jangan buang waktu kita untuk berbicara."


Nev kemudian berdiri dan berjalan sendiri keluar ruangannya,Lukas menghela nafas panjang dan mengikuti Nev dari belakang.


'Om...kenapa kamu tak membalas pesanku? Pos merpatinya bahkan tak kembali.'


Apa suratnya sebenarnya terkirim dengan selamat? Yohan Jovial itu benar benar slow respon.


.


.


.


.


Kini, mereka ada didekat kawasan hutan Dewa,Lukas maupun Nev bisa merasakan energi sihir yang sangat kuat disana.


Lihat saja,segelnya bahkan masih terlihat jelas mengelilingi hutan itu supaya tak ada yang bisa masuk.


"Tersegel."


Ucap Lukas memegang segel itu,namun saat dia pegang tangannya terasa tersetrum dan Lukas segera menarik tangannya.


Sial,sakit sekali... untunglah Lukas bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Nev menghela nafas panjang kemudian berjalan mendekati segel itu.


"Hei,apa yang kau lakukan–"


Belum selesai Lukas berbicara,saat Nev menaruh tangannya disegel itu seketika segel itu lenyap menjadi partikel-partikel sihir kecil yang kemudian menghilang bagaikan gelembung.


Lukas terkejut,mata birunya terbuka lebar... bagaimana bisa Nev? Sebenarnya seberapa kuat pria bermata Heterochromia itu?


"Sudah tak tersegel...ayo,jangan melamun dan tetap fokus."


Kaki jenjang Nev mulai berjalan menyelusuri Hutan Dewa itu, langkahnya seakan akan dia sudah mengetahui tempat ini dengan sangat jeli.


Dia seakan akan tau kemana dia akan pergi. Sementara Lukas,dia berjalan mengikuti Nev dari belakang.


Lukas bisa melihat tangan kanan Nev nampak memiliki luka bakar yang cukup parah.


Itu wajar, karena di Hutan Dewa tak ada siapapun yang bisa menggunakan sihirnya karena akan berefek serius ke fisik jika dipaksakan. Hutan ini benar benar digunakan kakek itu untuk mengisolasi dirinya sendiri.


Lukas terus berjalan dan berjalan mengikuti semua langkah Nev.


Namun, pikiran Lukas nampak kacau entah kenapa setiap dia melangkah pikirannya dipenuhi dengan banyak suara yang menyakitkan.


"Lemah! Kau bahkan tak bisa menggunakan sihir!"


"Yang sangat ku inginkan adalah kau menghilang dari hidupku!!"


"Kau hanya anak yang memiliki gelar dibelakang nama,sisanya kau hanya sampah tak berguna."


Lukas pusing,dia bahkan tak sanggup berjalan lagi,pipinya basah...ah air mata? Benar,Lukas menangis.


Menangis layaknya anak anak yang ditinggalkan sendirian di kegelapan sementara semua orang pergi ke tempat yang lebih cerah.


Meninggalkannya seorang diri,sakit,tak berdaya dan tak punya rumah...


"A-aku...hiks...hentikan–!"


Lukas berusaha menenangkannya dirinya,namun energi sihir disekitarnya mentrigger trauma didalam diri Lukas. Membuatnya tak berdaya,dan menangis.


Sihir itu menyerang mental korbannya,membuat korbannya putus asa dan takkan bisa keluar lagi dari hutan Dewa ini.


Terdengar simpel,namun mental korban akan sangat bermasalah.


"HENTIKAN–!!!"


Teriak Lukas memegangi kepalanya sendiri sembari meringkuk ketakutan,mata birunya sangat gelap seakan kehilangan cahaya kehidupannya, wajahnya pucat dan dia berkeringat dingin.


"Lukas!"


Teriak Nev menarik tangan Lukas dan membuat pangeran itu menatap wajahnya.


Terlihat jelas,Lukas yang menangis dan mata birunya bahkan sudah kehilangan cahaya hidupnya.


Sial,dia sudah terkena efek sihir itu Nev kemudian menggerakkan giginya. Mau tidak mau dia harus menggunakan sihirnya.


"Sadarlah....."


Nev kemudian memegang pundak Lukas dan sekitarnya menjadi bersinar dengan cahaya putih kebiruan, kemudian menghilang dengan sedikit ledakan kecil.


Lukas kembali tersadarkan, mata birunya kembali memiliki cahaya kehidupan itu. Pangeran itu menatap terkejut Nev.


"N-nev...?"


Lukas tergagap,dia tak sanggup berbicara...dia masih berkeringat dingin karena mengingat trauma dimasa lalunya itu.


Nev hanya diam memegangi tangan kanannya yang sedikit retak itu,dia meringis kesakitan–tunggu... retak? Apa karena Nev menggunakan sihirnya di Hutan Dewa ini? Nampaknya Hutan Dewa memang bukan tempat yang aman untuk mereka.


Lukas pun termenung,dirinya hanyalah pangeran yang memiliki gelar dibelakang namanya,tidak lebih dari itu.


Rasa sakit mendalam itu masih memenuhi hati Lukas, bertahun tahun Lukas berusaha sembuh dari rasa sakitnya.


Hatinya bagaikan kaca yang dipecahkan dengan palu dan menjadi sebuah keping kepingan kecil,lalu Lukas berusaha memperbaiki keping kepingan itu walaupun masih sangat berbekas dan akan hancur lagi dengan mudah.


Dan keping kepingan itu kini sudah hancur.


"Aku....aku tidak bisa–"


PLAKK!!

__ADS_1


Hening,Kata kata Lukas tadi terpotong karena Nev,menampar Lukas diwajahnya cukup keras sampai ujung bibir Lukas berdarah karena kuku Nev.


Lukas menatap Nev dengan tatapan kesal dan bingung,memegangi pipinya sekali yang sangat nyeri itu.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa menampar ku?!"


Bentak Lukas benar benar kesal dengan pria bermata Heterochromia itu,Nev hanya menatap Lukas sinis.


Suasana menjadi sangat hening dan mencengkram,Lukas tak pernah melihat Nev yang sebegitu dingin seperti ini.


"....Jika kau menyalahkan dirimu terus menerus,maka artinya kau membenarkan perkataan mereka..."


Keheningan itu pecah,saat Nev berbicara dengan suara tenang dengan tatapan mata sinis. Menatap Lukas langsung ke jiwanya.


Lukas tak bisa membantah itu,kata kata Nev ada benarnya.


"Aku tidak akan membahas apa trauma mu... namun yang hanya akan ku ucapkan adalah.....itu hanya masa lalu, sekarang kau menghadapi masa sekarang, berhenti terikat dengan masa lalu mu....itu membuat mu lemah dan menyedihkan."


Nev kemudian berjalan lagi,dia sudah menaruh segel didalam tubuh Lukas sehingga sihir yang mengincar trauma seseorang itu takkan bisa memengaruhi Lukas.


Lukas kemudian menganggukkan kepalanya,dan berjalan mengikuti Nev dari belakang.


Nev nampaknya sudah sangat berpengalaman,entah apa yang sudah Nev lalui...tapi,itu bukan urusan Lukas.


Sekarang,dia hanya ingin fokus menghilangkan wabah didunianya.


Tak lama, mereka sampai disebuah rumah pondok yang nampak sangat nyaman dan bersih.


"Heh...dia benar benar mengisolasi dirinya disini."


Ucap Nev kembali tersenyum arogan, membuat Lukas bingung.


Nev memiliki dua kepribadian? Atau dia yang memang pandai mengatur emosinya? Dan mengubah ngubah sifatnya.


Apapun itu,Nev bukanlah seseorang yang bisa disebut 'manusia'.


"Ayo masuk,lepas sepatu ya"


Nev kemudian memasuki rumah pondok itu dengan tenang dan tanpa beban.


"Hah? Kenapa harus lepas sepatu?"


Lukas bertanya bingung,kenapa random sekali Nev berkata seperti itu.


"Gak pernah diajarin tata Krama ya kamu ini,kita kan mau masuk rumah si Mbah ini...liat aja rumahnya kek baru aja selesai disapu,jadi kita lepas dulu sepatu kita supaya tetap bersih...nanti kita diusir."


Jelas Nev dengan blakblakan,bodohnya Lukas menganggukkan kepalanya dan melepaskan sepatunya begitu pula Nev.


"Ta-tapi aku di istana...pake sepatu...."


Lukas berbicara sedikit ragu sembari melepaskan sepatunya,Nev kemudian menghela nafas panjang.


"Kan itu di Istana mu! Ini rumah pondok atuh!"


Nev kemudian sedikit menjitak kepala Lukas,dan mulai berjalan masuk setelah melepaskan sepatunya.


Lukas merasa bodoh...


Kemudian,saat pintu itu terbuka.


Nampak sebuah kakek kakek yang menggunakan baju yang sederhana nampak sedang merapikan botol botol ramuan dilemari dan merapikan beberapa bukunya.


"Greetings to you~"


Salam Nev dengan tenang sembari menatap kakek kakek itu, sementara Lukas memberikan hormat kepada kakek itu.


Kakek itu kemudian melirik ke arah dua pria muda itu,dengan matanya yang nampak sudah rabun.


"Aku sudah tau kalian akan datang..."


Ucapnya dengan suara yang sangat menenangkan.


Lukas dan Nev kemudian saling melirik satu sama lain dan mulai berbisik ke satu sama lain. Bak orang menggosip.


"Kakek ini dukun yah?"


Tanya Nev berbisik ke Lukas.


"Kagak sih...dukun apa emang?"


Lukas bertanya balik.


"Dukun teh Penyihir atuh.."


Bisik Nev lagi,Lukas manggut-manggut aja, mengingat kakek ini emang dikenal sebagai penyihir Agung.


"Kalian ini tidak ada sopan sopannya ke orang tua..."


Ucap kakek itu kemudian duduk diatas kursinya dan menatap dua pria muda yang nampak sedang bergosip itu.


"Anda cenayang ya? Kok tau kami bakal kesini.."


Ucap Nev dengan kurang ajarnya,membuat Lukas speechless.


"Bukan."


Balas Kakek itu dengan tenang.


"Dukun?"


Tanya Nev lagi.


"Bukan juga."


Jawab kakek itu lagi.


"Penyihir?"


Nev malah bertanya lagi..


"Hampir benar."


Balas Kakek itu juga,Lukas seketika Speechless lagi...merasa hanya dirinya yang normal dan waras disini.


"Tadi kan aku sudah bilang,beliau adalah penyihir Agung.."


Lukas akhirnya menyudahi acara tebak tebakan ini, membuat Nev menatap datar Lukas.

__ADS_1


"Yaelah sama aja penyihir,cuma ditambahkan agung doang."


Kata kata Nev,membuat Lukas sangat ingin menjambak rambut hitam panjang Nev itu.


__ADS_2