Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 138 First kiss//Revisi


__ADS_3

Di suatu tempat, telah berdiri Lukas yang sudah siap untuk menjalankan misinya. Dari atas tebing yang tinggi, ia menatap kota Fuken yang terlihat sangat kacau.


Orang-orang yang terkena wadah ada di sana seakan kesurupan. Bahkan terlihat juga para penduduk yang berlari terbirit-birit ketakutan berusaha menyelamatkan diri mereka. Untuk sesaat ia menatap desa Fuken itu.


"Semoga yang lain bisa mengatasi penduduk yang tersisa juga..."


Hatinya menjadi begitu gelisah dan hancur melihat para penduduk seperti itu. Lukas pun meloncat turun ke bawah, ke kota Fuken dari atas tebing di bantu oleh sihir teleportasi.


Setibanya di kota, Lukas langsung sigap menghampiri dan berdiri di depan sekumpulan penduduk yang sedang dikejar-kejar oleh orang-orang yang terjangkit wabah. Ia memunculkan sebuah perisai di sekitar mereka.


Melihat kedatangan Lukas, penduduk yang ketakutan tadi langsung bersorak lega saat ia menyelamatkan mereka dari bahaya. Perisai itu di penuhi dengan gemuruh seruan mereka yang menggema di semua sisi.


"Kalian sudah aman sekaran." Ucap Lukas dengan muka datarnya.


"WAHH!!! Pangeran, syukurlah anda telah tiba!"


"Pangeran Lukas sudah tiba!!"


"Akhirnya aku bisa selamat!!"


"Pangeran Lukas!! Terima kasih!"


Suara sukacita mereka menggelegar terdengar di dalam perisai itu. Lega semua hati mereka. Tapi ternyata sukacita mereka itu tidak berlangsung lama, dalam sekejap mata, suasana menjadi kembali tegang.


Para orter (orang yang terjangkit) tiba-tiba saja menjadi ganas dan lebih liar dari sebelumnya, mereka berlari cepat ke perisai dan terlihat berusaha untuk memecahkan nya.


Krekk krekk krekk


"Reuarrrruuuueeeerrr..." Suara para orter menggerutu.


Lukas sontak saja berbalik melihat keadaan di belakangnya, mengerikan sekali. Orter itu sudah berwajah busuk, berdarah-darah dan terlihat gila. Di titik itulah Lukas sudah melihat ketidak mungkinan untuk menyembuhkan para orter. Mata nya menjadi iba melihat orter-orter itu.


"Sepertinya tidak ada cara lagi untuk menyelamatkan mereka... Aku harus apa sekarang..?"


Ribuan orter itu mengepung di segala arah perisai, tak ada jalan keluar lagi bagi mereka yang tidak punya sihir teleportasi.


Sekumpulan orter itu seakan sangat murka, mereka mencakar-cakar dan memukul perisai agar rusak dan hancur. Penduduk yang melihat itu pun kembali panik dan ketakutan lagi.


"Pangerannnn! pangeran, bagaimana lagi sekarang nasib kitaaa.. Huhuhu.."


"Pangerannn tolong kamiii, kami tidak ingin mati... Huhuhu..."


"Matilah sekarang kitaaa..."


Suasana menjadi riuh, semuanya menangis dan menjerit ketakutan melihat diri mereka seperti sudah tak ada harapan lagi. Tapi mereka lupa akan sesuatu, bahwa yang menyelamatkan mereka itu bukan pangeran biasa, namun luar biasa.


"Tenang.. tenang dulu!"


Lukas berbalik, menatap sekumpulan penduduk di belakang dan menyuruh mereka untuk tenang, namun tak ada yang memperhatikan, semuanya sibuk meratapi nasib mereka masing-masing.


"Kalian semua diam! Diam semua!" Bentak Lukas dengan suara yang di tinggikan.


Seketika itu juga mereka menjadi tambah takut, mereka takut dengan Lukas sekarang. Terdiam semua, tak ada satupun yang berani berbicara. Hanya suara orter dan sisa isakan dari penduduk yang terdengar.


Ternyata Lukas tidak hanya menakutkan di dalam istana, tapi di kalangan penduduk pun sama saja. Ketika semuanya sudah lebih tenang, Lukas maju beberapa langkah mendekati mereka dengan perlahan.


"Kalian tenang saja, perisai ku masih bisa menahan mereka. Kita duduk dulu, tenang dan kita bahas bersama."


Dengan sekejap, Lukas berusaha untuk melembutkan suara dan aura agar mereka tidak takut lagi. Memang suatu hal yang berat bagi sebuah kulkas berjalan untuk melakukannya, tapi itu berjalan dengan lancar. Semuanya pun menjadi tenang dan duduk di tanah menuruti perkataannya.


Semuanya terdiam, selagi Lukas memperhatikan mereka satu demi satu dari tempatnya duduk, ada hal yang membuatnya penasaran.


"Kalau dipikir-pikir... Orang-orang yang ada di dalam sini kebanyakan dari penduduk desa. Sebagian kecilnya adalah bangsawan dan penduduk kota. Hmm..."


"Sttttt..." Desis Lukas yang mulai berpikir kritis.


Tapi sayangnya tidak ada satupun jawaban dari pemikirannya, ia pun mulai berpikir di luar otaknya di bantu oleh para penduduk.


"Kenapaa... Anu, kenapa kebanyakan orang di sini adalah penduduk kota dan bangsawan?" Tanya Lukas yang sudah mulai lelah menebak sendiri.


Mereka pun ikut kebingungan, baru mereka sadari akan hal itu. Semuanya jadi saling menatap satu sama lain, bertanya-tanya akan hal yang terjadi.


"Oh iya, benar juga..! "


"Oh iya yah! Wahh.. hanya ada beberapa orang yang terlihat menggunakan baju mahal.."


Saat semuanya sedang sibuk berdiskusi, salah seorang yang mengenakan baju bangsawan langsung berlutut di hadapan Lukas dan menjelaskan apa yang dia lihat. Ia nampaknya sangat takut dan gelisah ketika mengatakan apa yang dilihatnya itu.


"Pangeran! Sebenarnya... Beberapa waktu yang lalu wali kota mengadakan perjamuan bagi seluruh penduduk kota. Kemudian.. :-!-:-?:-:-'!'?!'


Semakin lama orang itu berbicara semakin cepat, Lukas bahkan merasa sedikit terkejut. Perkataannya menjadi tidak jelas saking takut dan tergesa-gesanya dia. Tentu saja Lukas sendiri bahkan tidak memahami perkataannya, ia menatap sinis orang itu.

__ADS_1


"Hei, hei...! Pelankan perkataan mu, aku tidak mengerti." Ucap Lukas dengan ketus.


Orang itu kemudian terdiam, ia baru ingat bahwa pangeran itu adalah kulkas berjalan yang berhati dingin, tidak heran dia kesal padanya.


"Ah maaf, pangeran..." Kepalanya tertunduk saat meminta maaf.


"Lanjutkan dari walikota mengadakan perjamuan."


"Jadi.. Ketika wali kota mengadakan perjamuan, orang dari kota Cimki tiba-tiba saja datang dengan kondisi sudah terjangkit wabah. Dia muntah darah dan para tamu yang terkena percikan itu langsung menggila, pada saat itulah keadaan menjadi riuh, pangeran..." Jelasnya.


"Tunggu... Darimana kau bisa tau bahwa orang yang datang itu dari kota Cimki?" Tanya Lukas yang penasaran.


"Karena orang itu... adalah saudara saya.." Mata orang itu mulai terlihat berkaca, nampak berat sekali dia mengatakannya.


Lukas pada kali ini mulai paham akan situasi sekarang dan memilih diam. Ia berhenti meminta informasi yang lebih lanjut dari orang itu. Lukas kemudian mulai berpikir dan memahami kejadian seadanya yang di ceritakan oleh orang tersebut. Memang sulit, tapi tidak ada salahnya mencoba.


"Tapi tunggu... Muntah dara-


Belum saja Lukas selesai berpikir dan menyimpulkan, ia tiba-tiba saja merasakan ada sesuatu yang menarik jubahnya. Ketika menoleh, Lukas melihat ada anak kecil yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, ia terlihat membawa harapannya kepada Lukas.


"Kakak tampan... Hiks! Jika anda kesini untuk menyelamatkan kami, tolong bantu saya... hiks...! Adik saya kelaparan dan sedang sakit. Tolong adik saya..! Tolong adik saya, bantu kami... Hiks! Huhuhu..." Suara anak lelaki itu bergetar menahan tangis, tapi pada akhirnya tangis itu pecah dihadapan Lukas.


Ketika melihat anak itu menangis, Lukas merasakan ada nya deja vu, waktu kecil tangisannya juga pernah pecah di hadapan seorang om-om tampan.


Lukas merasa iba, simpati dan kasihan kepada anak kecil itu. Setelah sekian lama hatinya keras, ini adalah yang kesekian kali hatinya luluh.


"Baiklah. Kakak tampan ini akan membantu mu." Ucap Lukas seraya berdiri dan mengelus lembut pucuk kepalanya.


Pada situasi ini Lukas bisa-bisa masih bersikap narsis, dengan cara mengakui bahwa dirinya itu tampan. Memang fakta, namun bukan waktunya.


"Nyali anak itu besar juga, apa dia tidak tau kalau pangeran itu pernah dijuluki pangeran berhati dingin?"


"Iya benar, tapi apa yang kita lihat sekarang?"


"Hei..! Bukannya itu anak gelandangan yang sering mencuri dagangan tukang buah yang ada di pasar?"


"Benar! Itu dia! Nyali nya besar sekali!"


"Cih! Pencuri seperti mereka untuk apa dikasihani?!"


Anak lelaki itu kemudian menarik tangan Lukas menuju ke kerumunan penduduk dan para penduduk pun memberikan jalan bagi mereka, hingga mereka berhenti di hadapan seorang anak kecil yang terlihat sebaya dan mirip dengannya.


"Kakakkk...! Tolong adikku..." Pintanya lagi.


Tanpa banyak buang waktu, Lukas meletakkan tangannya pada kening anak itu, panas. Sebuah cahaya putih kemudian mengitarinya dan perlahan kondisi anak itu mulai pulih dan sembuh dengan cepat. Sang saudara terlihat sangat senang dan lega melihat akan hal itu.


"Adikkk!"


Kembali air matanya mengalir, ia merasa sangat lega. Anak itu memeluk erat sang adik yang sekarang sudah sembuh dan memberikan senyuman termanis nya kepada Lukas.


"Kakak tampan! Terimakasih! Terimakasih banyak!"


Lukas pun membalas senyumnya. Ia kembali menatap penduduk yang sedari tadi memperhatikan tindakannya.


"Tolong perhatikan instruksi ku! Untuk sementara ini jangan ada yang keluar perisai, apalagi pergi untuk mengungsi ke kota lain karena wabah sangat cepat menyebar. Kalian tunggulah-


"Tapi pangeran, sampai kapan kami harus menunggu?! Apa kami harus menunggu pihak kerajaan mengatasi sampai umur 1000 tahun begitu?! Sudah cukup kami terus menunggu dan berusaha menyelamatkan diri sendiri selama sepekan ini!" Sela salah seorang dari kerumunan.


"Benar! Benar!"


"Iya! Pihak kerjaan tidak konsisten!"


Tapi Lukas tetap mencoba tenang dan tidak termakan cemohan orang-orang itu.


"Kami dari pihak kerajaan akan berusaha untuk menjamin keselamatan kalian, tapi tolong dengarkan instruksi ku tadi. Kami sedang berusaha mencari solusi untuk wabah ini, jadi tolong kerja samanya." Ucap Lukas dengan lantang tanpa peduli pada basa basi yang tak penting.


"Lalu bagaimana dengan makanan dan minuman kami? Kalian tidak akan membiarkan kami mati kelaparan kan!" Cemoh seorang bangsawan lagi.


"Semuanya sudah ku letakan pada storage masing-masing. Malam ini tim penyelamat akan membuat tenda pengungsian. Usahakan jangan ada yang tidak kebagian makanan sampai matahari terbit."


"Baik, pangeran." Sahut semuanya serentak.


Malas mendengar cemohan dari sebagian penduduk yang tidak bersyukur itu, Lukas langsung bergegas pergi menjauh ke sisi lain perisai untuk menyendiri dan berpikir. Bukan karena apa mereka mencemohnya, memang sedari dulu Lukas sudah memiliki banyak sekali isu yang tidak baik.


Saat sudah berada jauh dari para penduduk yang pada saat ini menikmati makanan, Lukas kembali berpikir dan membaca topik rapat tadi dari hologram yang sekarang ada didepan nya.


"Muntah darah... Hmm... Gejalanya ini ternyata tidak terdata oleh Yeni." Gumam Lukas pelan.


Kemudian perasaan gelisah tiba-tiba saja menghampiri nya.


"Tunggu! Alin... Apa dia baik-baik saja?!"

__ADS_1


...----------------...


Sementara itu Alin di kota Wudeo ternyata tidak sambut ramah oleh para Orter yang mengamuk. Ia justru dikejar-kejar oleh Orter dan hanya bisa membela diri dengan kayu runcing yang dipegangnya. Bagaimana tidak, fobia nya itu masih ada.


"WEIIIII!!! Jangan mengejarku!!! Aku hanya ingin menyelamatkan para penduduk dari kalian! Huhuhu!" Rengek Alin sambil masih berlari menyelamatkan diri.


Tapi para Orter sepertinya memiliki energi yang tak terbatas untuk mengejar mangsanya. Semakin jauh dan jauh Alin berlari. Hingga tak terasa ia sudah berlari hingga ujung jurang dan terhenti, selangkah lagi dia akan jatuh.


"Astagaaaaaa! Aku datang dengan damai!!!"


Puluhan Orter itu semakin mendesak, tak berdaya lagi Alin ingin melarikan diri. Tapi ketika Orter sudah hampir mendekati, angin dasyat di sertai bayangan putih menghempaskan semua Orter hingga terpental beberapa meter dan segera pergi menjauh.


Mata Alin terpejam takut, kiranya itu adalah maut yang sudah menjemput nya. Hingga seseorang terasa seperti memeluknya, perlahan Alin membuka mata. Pandangannya buram tapi bau parfum itu dapat dikenali Alin dengan baik.


"Lukas..."


Alin sudah merasa sangat lemas, ia terkulai ke tanah di pelukan Lukas yang tak bergeming sedikitpun. Perisai telah terbangun disekitaran mereka.


Ketika lebih tenang, Alin melihat Lukas tengah membuang mukanya dengan datar. Tak bisa sedikitpun Alin membaca pikirannya. Selagi Lukas hanya diam, Alin bersandar dengan nyaman disana. Sekilas ia melihat ada tetesan darah tepat di samping tangannya dan Lukas.


"Lukas, kau berdarah..."


Mendengar itu Lukas langsung grasak-grusuk memeriksa keadaannya dan Alin. Tapi tidak terduga, yang terluka adalah Alin. Lukas refleks merebahkan Alin di tanah. Benar saja, ada luka goresan yang besar pada lengan nya.


"Kau yang terluka, Alin! Kenapa ini?!" Lukas panik.


"Uh! Sepertinya... taring salah satu dari mereka mengenai ku.. Dan... Tiba-tiba saja... mereka muntah darah..."Jelas Alin dengan lemas.


Muka Alin berubah sangat cepat menjadi pucat selayaknya para Orter. Kesadaran nya pun ikut menurun dengan keringat yang mulai bercucuran.


"Lu-lukaas... panas... pergi..."


"Bodoh! Kau kira aku akan mau meninggalkan mu?!"


Gejalanya ternyata sangat cepat berkembang pesat, Alin sudah hampir menjadi sama seperti mereka. Tapi gejolak dalam tubuhnya menahan penyebaran itu sendiri tanpa terduga, ia seakan sangat tersiksa dengan rasa sakit yang dialami nya ini.


Lukas pun cepat-cepat mengangkat kepala Alin ke pahanya. Ia mencoba menggunakan segala sihir penyembuh yang dimiliki, tapi itu semua hanya menunda penyebaran gejala sebentar saja, tak satupun yang membuatnya berhenti.


"Alin bertahan lah... Aku akan menolongmu apapun caranya!"


Sudah beberapa saat berlalu, hasilnya tetap sama, tak ada yang dapat membuat gejala itu berhenti, hanya menunda. Alin sudah sangat pasrah, ia terlihat sudah memiliki taring dan berkulit pucat dengan rasa haus darah yang tertahan.


Lukas sudah kehabisan akal, hingga ia teringat akan sesuatu yang pernah di dengarnya.


...Hei, lihat! Itu titisan dewa yang buta sihir itukan?...


...Dengar-dengar ciuman titisan dewa bisa menyembuhkan penyakit.....


Tanpa banyak pikir, Lukas mengangkat tengkuk Alin dan mendekatkan bibirnya. Tapi sebelum bibirnya menyentuh bibir Alin, Alin menghadangnya dengan telapak tangan. Lukas pun menyirit bingungan.


"Apa yang kau lakukan..?" Ucap Alin sambil mencoba membuka matanya.


"Menyembuhkan mu. Jangan banyak basa-basi."


Kembali Lukas mendekatkan bibirnya, tapi lagi dan lagi Alin menghadang Lukas dengan kuatir.


"Jangan... Kau.. akan ikut terjangkit jika taring ini melukai mu..." Tunjuk Alin pada kedua taring tajam nya.


"Diam, aku tau."


Sebelum Alin kembali menyela, sesuatu yang dingin mendarat tepat pada bibir Alin yang terasa panas. Ketika membuka mata, Alin sudah melihat Lukas berada sangat dekat dengannya.


Wajah tampan Lukas tertampang jelas dengan sentuhan lembut dari bibir nya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan dirinya sendiri.


Degupan jantung kedua orang itu terasa sangat kencang. Semakin lama ciuman itu semakin dalam, perasaan mereka seakan menjadi satu dalam ciuman itu. Mereka memejamkan matanya masing-masing menikmati momen ini.


Di selangi momen tersebut, sebuah kabut putih mengitari di sekitar perisai. Kabut itu perlahan meresap kedalam tubuh Alin dan akhirnya menghilang. Tapi keduanya enggan melepas satu sama lain walau efeknya sudah mulai sedikit demi sedikit berkerja.


"Ini... adalah hal yang memang ku tunggu.. Tapi bisakah ini dikatakan tulus? Lukas mungkin akan menjawab ini semua hanya karena dia tidak ingin aku kenapa-kenapa." -Alin.


"Ketahuilah, aku sebenarnya ingin melakukan ini di momen yang lain, tapi nyatanya... saat ini juga tidak terlalu buruk..."-Lukas.


"Sttt..!"


Ketika masih tengelam dalam momen mesra itu, tak di sangka bibir Lukas tergores oleh taring Alin. Dengan cepat ia menghentikannya dan mengusap darah itu. Ia sedikit menyirit kesakitan dan termenung sebentar.


"Habislah! Aku lalai!"


Tapi tanpa Lukas duga, Alin tiba-tiba saja menggapai jubah dan menariknya mendekat. Alin menghisap darah itu perlahan dari bibir Lukas.


"Biarkan aku serakah untuk kali ini saja... Anggap saja aku tidak sadar akan apa yang aku lakukan sekarang..."

__ADS_1


__ADS_2