
Tapi apa yang terlihat, belum tentu benar, juga belum tentu salah. Sebenarnya Lukas sedari tadi membaca buku yang selalu di bawanya kemana-mana itu, sambil melirik Alin untuk beberapa kali. Juga tidak lupa sambil memakan cemilan yang telah mereka beli sebelumnya.
Setelah kegiatan imajinasinya selesai, semuanya yang ada di kepalanya sebelumnya pun ikut buyar. Kini Alin kembali memikirkan cara untuk membantu Lina dan Reyhan yang sekarang membutuhkan bantuan.
Sambil berpikir, Alin berjalan-jalan disekitaran tempat itu, hingga tak di sadarinya langkahnya sekarang mulai menjauh dari keberadaan Lukas. Lukas yang merasakan keberadaan Alin yang mulai menjauh, langsung memanggilnya.
"Kau ingin kemana?"
"Memikirkan sesuatu." Jawab Alin manyun-manyun seraya memalingkan wajahnya.
"Memikirkan apa? Coba katakan padaku, mungkin saja bisa bantu."
Pria itu nampak tertarik untuk mendengarnya. Lukas dengan segera menutup bukunya dan berbalik menghadap ke Alin yang kini berada tak jauh di belakang. Ketika Alin mengetahui Lukas tertarik dengan pemikiran nya, ia langsung berjalan mondar-mandir di dekatnya sambil berfikir.
"Hmm... Kalau Reyhan bukan lagi seorang pangeran, itu berarti semua fasilitas nya akan di cabut, kan? Lalu bagaimana mereka akan mengadakan pernikahannya?" Tanya Alin.
"Mereka tidak bisa menikah dulu, untuk sekarang hanya bisa bertunangan."
"Hah? Kenapa bisa begitu? Apakah karena Reyhan bukan pangeran lagi? Apa karena tidak di restui oleh orang tua?"
Sungguh tidak masuk akal, pikir Alin. Itu semua karena dunia sihir memiliki tradisi dan adat-istiadat yang jauh berbeda dari dunia manusia. Bahkan perbedaannya dapat langsung dilihat dari penampilan lingkungan dan penduduk di sana.
Alin tentu saja sangat antusias dengan apa yang tidak di ketahui nya. Ia lantas menanyakan pada orang yang sudah tinggal ditempat itu sejak lama, secara langsung. Alin berjongkok di samping Lukas, menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
"Kenapa mereka tidak bisa menikah?" Tanya Alin lagi.
"Itu karena umur Lina belum genap 21 tahun."
"Tapi, tapikan Lina sekarang sudah hamil, kenapa masih tidak boleh menikah??"
"Itu peraturan di sini. Tapi pertunangan disini tidak beda jauh dari pernikahan. Setelah acara pertunangan dan umurnya sudah 21 tahun, statusnya akan langsung berubah jadi nikah. Bahkan ada yang pernah hamil di usia 14 tahun." Jelas Lukas dengan entengnya sambil melahap kue yang ada dalam keranjang.
"Apa?! 14 tahun?! Wah! Kalau para orang tua di dunia manusia tau bisa begini, mereka pasti akan mengamuk!"
"Benarkah. Kalau begitu mereka akan lebih mengamuk saat mendengar kalau anak umur 5 tahun juga bisa bertunangan." Ucap Lukas sambil tersenyum cengar-cengir.
"Di sana memang ada juga. Bahkan dari lahir, kandungan. Eh, itu pertunangan atau perjodohan, ya? Aih... Aku lupa." Gumam Alin mengingat.
"Benarkah?"
Lukas terlihat mulai sedikit teralih dari topik mereka. Sambil mendengar Alin bicara, Lukas membuka sekilas buku yang sebelumnya. Yang di sana, ada telihat sebuah jam cahaya pada salah satu lembar bukunya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan pendidikan Reyhan di academy kalau fasilitas nya di ambil semua..??"
__ADS_1
"Ya, begitu..." Jawab Lukas yang nampak peduli tak peduli.
"Tapikan.. Tidak akan seru lagi kalau kita kekurangan orang.. Apalagi Reyhan yang paling ricuh di kelas. Eumhh... Lukas...." Gumam Alin yang terdengar memelas.
"Huftt.." Lukas menghela nafas.
Setelah Alin mengatakan itu, tatapan dan responnya tiba-tiba saja terlihat berubah dengan seketika. Ia nampak kecewa sekaligus tidak senang mendengarnya. Alin tentu saja kebingungan dengan Lukas yang tiba-tiba saja berubah itu. Lukas pun berdiri dari tempat sambil mengulurkan tangannya untuk Alin.
"Tangan mu."
"Hah? Untuk apa?"
Tanpa pikir panjang dan menunggu jawaban, Alin meraih tangan Lukas yang terulur baginya. Ketika tangannya menyentuh tangan Lukas, dengan seketika mereka sudah berada tepat di depan kamar Alin, di istana. Alin sontak terkejut dan semakin kebingungan padanya.
"Lukas..! Kenapa kau membawa ku pulang?!" Decak Alin kesal.
"Sudah malam. Tidurlah, besok ada ujian praktek sihir. Kau perlu istirahat lebih hari ini. Sudah cukup kan jalan-jalan seharian ini?" Ucap Lukas dengan lembut sambil memegai salah satu pundak Alin.
Alin sangat kesal, ia mengerutkan keningnya kepada Lukas yang sudah membawanya pulang itu. Sebenarnya Alin terlihat masih sangat ingin di sana, menikmati pemandangan dan makan makanan yang lebih banyak lagi. Tapi entah kenapa Lukas tiba-tiba saja membawanya kembali pulang setelahnya.
"Ah, yasudahlah! Padahal aku masih mau jalan-jalan lagi juga! Mau melihat pemandangan nan indah di luar! Makan makanan enak! Aih!" Gerutu Alin.
Alin pun masuk ke dalam kamarnya sambil menghentakkan kaki dengan kesal dan mengomel ala-ala ibu dasteran. Omelan Alin bahkan sampai berlanjut hingga ia memasuki kamarnya. Ye Min yang tidak tahu apa-apa, bahkan sampai terheran-heran ketika melihat Alin yang tiba-tiba saja mengomel dari kepulangannya.
Setelah melihat Alin benar-benar masuk, Lukas juga pergi menghilang dari situ dengan sekejap mata entah kemana di tengah ramainya suasana istana.
"Huftt..."
"Kau gugup, Rey? Kalau kau..."
Kalimatnya terpotong, Lina merasa sangat enggan untuk melanjutkan kata-katanya. Rasa bersalah sangat terlihat jelas pada raut wajahnya itu. Tapi Reyhan mempunyai tekad yang sudah bulat, yang tidak bisa di hancurkan dengan begitu saja.
"Kalau kau... Reyhan, kau pergilah. Tempatmu bukan disini, kehidupan mu bukan di sini. Tempatmu di istana, menikmati mewahnya hidup. Aku dan anak kita akan baik-baik saja, jangan paksakan dirimu." Ucap Lina dengan berat hati seraya melempar senyum palsunya.
"Untuk apa, yang aku butuhkan sekarang adalah dirimu dan anak kita. Tidak peduli sebanyak apapun harta dan kekuatan, tidak akan bisa ditukarkan dengan kalian."
"Kau terlalu baik Reyhan, aku... merasa tidak enak. Karena aku, kau jadi harus meninggalkan apa yang kau punya dan usahakan selama ini."
Mendengar itu Lina merasa lega, tapi rasa tidak enak dan bersalah masih tertancap erat pada dirinya. Keduanya kini masih terdiam di depan rumah, yang di terangi oleh beberapa lentera di depannya. Lina terdiam, bingung dengan kata-kata yang harus di katakan nya sekarang.
Reyhan menatap Lina dengan sangat dalam. Terlihat jelas rasa sayangnya pada Lina. Pada hatinya sekarang, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun. Setelah beberapa waktu ikut terdiam, Reyhan tiba-tiba saja memeluk Lina yang ada di depannya itu dengan erat.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Dengar ini, ini semua adalah keputusan ku sendiri. Yang aku butuh kan adalah keluarga. Tapi di istana, aku tidak menemukan sedikit pun keluarga. Jadi, tolong jadilah keluarga ku, hidup bersama bagaimana pun keadaannya." Bisiknya pada Lina dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi Reyhan.."
"Stt... Aku benar-benar tulus mencintaimu, bukan oleh hal lain. Aku ingin terus bersamamu, hidup dengan mu, menghadapi semua masalah bersama mu, dan mengurus anak kita bersama. Tidak peduli apa kata orang nantinya."
Kata-kata Reyhan benar-benar begitu menyentuh dan tulus. Lina merasa sangat terharu dengan apa yang di katakan Reyhan. Matanya kini mulai menjatuhkan bulir-bulir air yang mewakili rasa bahagia dan haru nya.
Lina sudah tidak dapat membalas Reyhan untuk beragumen lagi, hatinya sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit dari kebohongannya sendiri. Perlahan, Lina mulai membalas pelukan dari Reyhan.
"Huhuhu... Reyhan..."
"Sudahlah... Ayo kita masuk. Angin nya sangat kencang, tidak baik untuk mu."
Lina pun menurut, ia melepaskan pelukan Reyhan dan menyeka air mata yang masih tersisa di pipi. Mereka berdua pun masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam, Reyhan kembali merasa gugup saat ingin menghadapi ibu mertuanya. Keringat dingin pun mulai bercucuran saat mengetahui betapa heningnya suasana di rumah. Seperti orang linglung, Reyhan melihat sekitaran seperti orang baru pertama kali datang ke sana.
...PRANG...
"Suara apa itu?!" Seru keduanya bersamaan.
Suara besi yang terjatuh terdengar sangat nyaring dan jelas dari dapur. Sontak keduanya langsung berlari ke arah sumber suara, dengan cepat. Ketika sampai di dapur, terlihat ada ibu Lina dan Renu yang sedang memasak makanan di sana.
Reyhan dan Lina masih terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi. Sementara ibu Lina dan Renu membalas tatapan mereka dengan terheran-heran juga. Ketika melihat Reyhan dan Lina di hadapan nya, senyuman yang ramah langsung terbesit pada raut wajah ibu Lina.
"Eh, Reyhan dan Lina. Kalian kapan datangnya? Ayo duduk, bibi dan Renu sedang membuat makanan di sini." Ucap ibu Lina dengan ramah seraya membersihkan kekacauan yang barusan di buatnya.
"Hehehe... iya, bi." Sahut Reyhan dengan gugup.
"Ehm.. baik bu." Balas Lina juga.
Renu yang sedari tadi sibuk sendiri, langsung menghampiri mereka dengan semangkuk makanan yang terlihat sangat lezat di sana. Lina yang sedang hamil pun sampai ikut tergiur akan kue-kue enak yang tersaji di depannya
"Kak Reyhan, kak Lina. Coba kalian makan kue nya, ini buatan Renu lhoo..." Ucap Renu dengan percaya diri.
Lina dan Reyhan langsung membalas senyuman Renu, sambil mengambil kue yang katanya di buat oleh Renu itu sendiri.
"Wahh, kau ternyata pandai juga membuat kue ya Renu." Puji Reyhan.
"Hm, benar." Tambah Lina.
Mereka pun duduk di sana untuk menyantap makanan yang tersedia. Ibu Lina juga sampai membawa adonan miliknya ke atas meja makan, untuk ikut bergabung dengan mereka. Kini, semuanya telah berkumpul. Lina memberikan sedikit isyarat mata kepada Reyhan. Ia pun membalas juga isyaratnya itu. Kini keduanya saling tatap menatap satu sama lain, memberikan isyarat.
"Kalian berdua kenapa?"
__ADS_1
Ibu Lina sampai kebingungan dengan mereka berdua yang bertingkah aneh seperti itu. Keduanya langsung menelan ludah, mereka tiba-tiba saja merasa sangat gugup untuk mengutarakan apa yang ingin di ungkapkan mereka.
Hingga akhirnya, telah di putuskan...