
Sementara itu di dalam kamar Lina, Reyhan dan Lina tengah duduk bersebelahan di atas kasur. Reyhan menatap Lina dengan penuh keyakinan, ia ingin mengetahui apa Lina sudah siap atau tidak untuk menerimanya. Sementara itu Lina hanya terdiam sambil sedikit melirik-lirik Reyhan.
"Hm, pangeran... Eh, Reyhan. Jadi apa yang ingin kau ingin kan?" Tanya Lina salah tingkah.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu sebuah Glom. Alin mengatakan kepadaku kalau kau sangat menginginkan sebuah Glom jadi aku membelikannya." Jelas Reyhan.
"Sejak kapan Alin satu komplotan dengan Reyhan...?" Batin Lina.
"O-owh..Terima kasih."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong... apa kau sudah siap menerima ku?" Tanya Reyhan ragu-ragu.
"Aku..."
"Aku memang tidak memaksa mu. Tapi aku sangat penasaran, apa kau sudah menerima ku atau belum?"
Lina terdiam dan menundukkan kepalanya. Lina sangat bingung ingin menjawab apa kepada Reyhan. Ia terduduk dan memikirkan semua keputusan yang harus dia pilih.
"Kalau aku menerima Reyhan, mungkin saja aku akan dikucilkan oleh keluarga kerajaan. Dia orang yang terhormat, sedangkan aku hanya seorang rakyat biasa.Aku memang mencintai nya. Tapi kalau dia mencintaiku dengan tulus..."
"Sebelum itu aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada mu. Berjanjilah kau akan menjawab nya dengan jujur." Ucap Lina.
"Baiklah aku berjanji!"
"Pertama, apa kau benar-benar tulus mencintai ku?" Tanya Lina.
"Apa kau melihat ketulusan ini kurang untuk membuktikan nya?" Tanya Reyhan seraya menggoda Lina.
Reyhan mengangkat dagunya Lina dan menatap Lina dengan penuh keyakinan. Untuk pertanyaan pertama, Lina langsung percaya kepada Reyhan hanya dengan melihat tatapan nya. Tatapan Reyhan membuat Lina tidak bisa berkutik, mata Lina terasa enggan untuk berpaling dari Reyhan. Tidak hanya itu, tatapan Reyhan bahkan berhasil membuat muka Lina memerah.
"hmm... mu-mundur sedikit."
Reyhan tersenyum geli saat melihat Lina salah tingkah. Ia mundur dan mengacak-acak rambut Lina dengan lembut.
"Berapa pun pertanyaan mu akan aku jawab!" Tegasnya.
"Baiklah. Pertanyaan kedua, Jika kita ada masalah apa kita akan melewatinya bersama-sama?"
"Tentu saja!" Seru Reyhan.
"Pertanyaan ketiga, Jika orang tuamu dan orang tuaku tidak menyetujui hubungan kita, apa kau akan ikut berjuang dengan ku?" Tanya Lina lagi
"Tentu saja, jika orang tua kita tidak setuju dengan hubungan kita, kita akan memperjuangkannya. Jika tetap tidak bisa, aku siap untuk kawin lari dengan mu. Apa ada pertanyaan lagi?" Sahut Reyhan dengan entengnya.
Reyhan terdengar tidak ada keraguan lagi saat menjawab pertanyaan-pertanyaan Lina. Semua pertanyaan yang Lina lontarkan kepadanya, dia sudah memberikan jawaban yang memuaskan untuk Lina.
"Reyhan..." panggil Lina
__ADS_1
"Apa?"
"Kurasa, aku akan mencoba menerima mu."
"A-apa? Kau menerima ku?! Serius?!!" Tanya Reyhan tidak menyangka.
"Iya... Tolong ingatlah apa yang sudah kau katakan. Aku sebenarnya takut..." lirih Lina.
"Apa yang kau takutkan? Sudah ku katakan, aku akan berusaha keras untuk memperjuangkan hubungan kita."
"Hm, aku percaya padamu. Terima kasih Reyhan." Ucap Lina.
Lina mendekat ke samping Reyhan dan langsung memeluknya. Reyhan sempat tertegun tapi pada akhirnya, ia tetap membalas pelukannya Lina.
"Lina... "
"Kenapa?" Tanya Lina seraya menatap ke atas, ke arah Reyhan.
"Hmm... Apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Reyhan malu-malu.
"Apa itu?"
Reyhan melepaskan pelukan Lina, ia bergeser sedikit ke arah yang berlawanan. Setelah itu Reyhan tersenyum dan langsung menunjuk ke arah bibirnya. Saat itu Lina sangat paham dengan isyarat dari Reyhan. Tapi ia memilih untuk menggoda Reyhan terlebih dahulu.
"Apaan?" Tanya Lina memulai rencananya. Lina beranjak dari tempatnya dan ia berdiri tepat di depan Reyhan.
"stt... Jangan sampai Alin dan Gion mendengarnya." Bisik Lina.
"Makanya itu! cium aku! cium aku!" Seru Reyhan.
Kini Reyhan bersikap kekanakan terhadap Lina. Dengan terpaksa Lina harus mengalah dan membatalkan rencananya. Lina mencondongkan badannya ke arah Reyhan dan mencium bibir Reyhan sekilas.
...cup...
Seketika muka mereka memerah, karena tersipu malu. Namun Reyhan menyukainya, ia tersenyum lebar ke arah Lina. Saat Lina ingin berbalik, dengan tiba-tiba Reyhan menarik tangan Lina dan Lina kini berada di pangkuan Reyhan.
Mereka bertatapan untuk beberapa saat dan Reyhan pun mencium bibir Lina. Awalnya Lina merasa terkejut, namun pada akhirnya ia menikmati nya juga. Semakin lama, Reyhan semakin memperdalam ciumannya itu hingga membuat Lina tidak bisa melepaskannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar sebuah langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kamar Lina. Reyhan mendengarnya, tapi ia enggan melepaskan Lina. Hingga orang itu mengetuk pintunya.
...Tok tok tok...
"Kakak, cepatlah keluar. Ibu sudah membuatkan makan malam."
Ternyata itu adalah Renu. Saat mereka mendengar suara Renu, Lina langsung kelabakan dan langsung berdiri dari pangkuan Reyhan. Reyhan kecewa, padahal ia ingin lebih lama lagi bersama Lina tapi apalah dayanya.
"Dahlah... hiks..."
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi kakak keluar!" Teriak Lina.
Lina berjalan mengambil ikat rambutnya di atas meja dan kembali menghampiri Reyhan yang masih duduk di atas kasur.
"Ayo..."
"Cium lagi.." Rengek Reyhan dengan manja seraya menunjuk-nunjuk bibir nya.
"Apa kau seorang pecandu ciuman? Ayolah cepat, ibu ku akan mengetahuinya jika kita tidak cepat keluar."
"Baiklah" Reyhan memasang ekspresi kecewanya, berharap Lina mau lebih lama lagi bersama di situ. Namun Lina tak mau ibunya tau tentang hubungan mereka untuk sementara waktu.
Mereka berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lina mengeluarkan kepalanya sedikit ke luar pintu dan melihat keadaan sekitar. Saat ia tidak melihat ada seorang pun di sekitar situ, Lina menarik tangan Reyhan dan mereka pun keluar dari dalam kamar.
Sesampainya di dapur, terlihat ada Alin, Gion, Renu dan ibu Lina tengah duduk di meja makan. Saat Alin melihat Lina dan Reyhan sedang berjalan menuju ke arah mereka, Alin menyapanya.
"Lina, Reyhan! Kesini" Panggil Alin seraya melambaikan tangan nya.
Reyhan dan Lina pun duduk di kursi. Saat ibu Lina ingin menyajikan makanan ke atas meja, ia melihat Reyhan. Ia pun memberikan hormat kepada Reyhan.
"Salam sejahtera untuk pangeran Reyhan." Ucap ibu Lina sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Eh? Tidak usah sungkan Tante. Saya tidak masalah dengan itu." Sahut Reyhan dengan sedikit canggung.
"Iya, tidak perlu terlalu sungkan padanya Tante. Dia ini adiknya Kael." Tambah Gion.
"Oh benarkah? Wah... ternyata pangeran Reyhan itu adiknya Kael." Balas ibu Lina. Ibu Lina pun duduk di kursi yang ada di dekat Lina.
Reyhan merasa bingung. Ia bertanya-bertanya, Kenapa ibunya Lina bisa tau tentang kakaknya, Kael. Reyhan menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Kenapa Tante kenal dengan kakak ku?" Tanya Reyhan.
"Jadi Kael itu memang anak yang cukup terkenal di sekitar sini karena keterampilan medisnya cukup hebat. Kael juga sering berkunjung ke sini untuk bermain bersama Lina." Jelas ibu Lina.
"owh..Jadi begitu..."
"Oh, iya. Kenapa kalian berdua tadi bisa datang secara bersamaan?" Tanya Ibu Lina dengan tiba-tiba kepada Reyhan dan Lina.
Seketika Lina dan Reyhan langsung mematung, tidak bisa berkata-kata lagi. Ibu Lina, Renu, dan Gion menatap mereka dengan kebingungan. Sementara itu, Alin yang mengetahui tentang hubungan mereka berusaha untuk menahan tawanya. Tubuh Alin kini bergetar karena hampir tak kuasa menahan tawa.
"Ka-Kami tadi...sedang mengerjakan tugas sekolah bersama, Bu." Jawab Lina.
"I-iya Tante" Tambah Reyhan.
Alin kini mempunyai rencana jahil. Ia berjalan ke tengah-tengah Reyhan dan Lina. Alin tersenyum lebar ke arah mereka, namun di balik senyumannya itu ada sesuatu. Alin mencubit pipi kedua orang itu dan menggodanya.
"Benarkah?" Tanya Alin sambil menggoda Reyhan dan Lina.
__ADS_1
"ALINNN" Teriak keduanya kesal.