Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 31 Pelukan hangat


__ADS_3

*Ke esokkan hari nya


Lukas bangun lebih dulu dari Alin, ia duduk dan menyandarkan punggung nya di dinding. Saat Lukas terbangun Alin masih tertidur di pinggir kasur. Lukas kemudian melihat sekeliling, semua kekacauan yang ia buat tadi malam semuanya sudah hilang. Ia juga melihat telapak tangannya yang sudah berbalut kain, sebelumnya tidak ada yang berani mendekatinya saat ia mengamuk. Bahkan keluarga nya pun takut untuk mendekati nya. Untuk beberapa saat dia menatap Alin.


"aku tidak tau seberapa beraninya perempuan ini. Sebelumnya tidak ada yang mendekatiku saat aku mengamuk, tapi dia sungguh nekat bahkan membiarkan dirinya sendiri sampai terluka." batin Lukas.


Beberapa lama kemudian Alin membuka matanya dan menatap Lukas. Dengan cepat Lukas mengalihkan pandangan nya.


"oh, sudah bangun" Ucap Alin begitu ia melihat Lukas.


"hm"


"tadi malam... maafkan aku" lirih Lukas dengan suara pelan karena merasa bersalah.


"eh apa kata mu? ulang lagi" pinta Alin, karena ia tidak menyangka Lukas bisa meminta maaf.


"Lupakan" sahutnya seraya membuang muka.


Beberapa saat situasi terasa agak sedikit canggung di antara mereka berdua saat itu. Sebenarnya Alin tadi jelas-jelas mendengar ucapan Lukas.


"nggg... sebenarnya kau tidak perlu meminta maaf, aku tidak apa-apa." Jawab Alin sedikit terlambat.


"apa kamu mendengar nya?" tanya Lukas sedikit malu dengan muka nya yang mulai memerah.


"hihihi" kekeh Alin tertawa geli.


"kenapa tertawa?" tanya Lukas bingung.


"kalau mau minta maaf itu, tidak usah malu-malu" Jawab Alin sambil tertawa geli saat melihat Lukas.


"nggg..."


"Kemaren kamu bilang kamu sendirian kan? Sebenarnya kamu tidak sendirian ada aku, Gion, Reyhan, keluarga mu, anggota KIMASEF lainnya dan banyak lagi orang yang mendukung mu." ucap Alin menasehati Lukas.


"Maksudku... Ah sudahlah kalian tidak akan mengerti perasaan ku." Kata Lukas sedikit sedih sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu biarkan aku memahami perasaan mu" ucap Alin.


Lukas merasa terharu dengan ucapan Alin, ia ingin menangis tapi ia malu dan menahan air mata nya. Lukas memalingkan wajahnya ke arah lain agar air mata tidak keluar.


"bagaimana caranya kamu memahami perasaan ku?" tanya Lukas.


"Yah... bagaimana yah? Aku juga sama seperti mu, jadi aku mungkin bisa memahami perasaan mu. Biasanya saat aku sedih kakek selalu memelukku dan menenangkan ku, itu membuatku sedikit lebih tenang. Bahkan itu bekerja pada mu." Jawab Alin.


"Kalau begitu lakukan lagi" sahut Lukas memberi isyarat kecil untuk memeluk nya kembali.

__ADS_1


"Hah?" tanya Alin kebingungan dengan isyarat dari Lukas itu.


Karena Alin tidak mengerti apa maksudnya, Lukas kecewa dan tak menjawab Alin. Alin masih kebingungan dengan apa yang Lukas katakan tadi, ia pun mulai berpikir.


"hmmm... tadi kan aku bilang kalau pelukan itu bisa menenangkan perasaan. Terus dia bilang lakukan lagi? Apa maksudnya... hehehehe" Batin Alin terkekeh saat berpikir.


Setelah memahami kata-kata Lukas tadi, akhirnya Alin paham apa maksudnya. Ia naik ke atas kasur dan duduk di sebelah Lukas. Lukas tetap diam dan tak menoleh.


Alin kemudian memeluk Lukas, saat Alin memeluknya Lukas hanya diam merasakan pelukan Alin yang terasa hangat. Ia tidak memberontak atau pun menolaknya, karena itu lah yang dia inginkan.


"Kalau mau di peluk bilang saja, jangan malu-malu" bisik Alin di telinga Lukas.


Lukas mendengar nya namun iya tidak mempedulikan itu. Setelah beberapa lama Alin melepaskan pelukannya dan ingin kembali ke kamar untuk bersiap-siap menghadiri rapat istana.


"Aku ingin bersiap-siap untuk ke rapat istana. Kau sebaiknya bersiap-siap juga." Ucap Alin sambil berdiri ingin pergi ke luar.


"hm, baiklah"


"apa bisa...kau melupakan semua perkataan ku tadi" pinta Lukas malu-malu.


"seperti nya tidak" Jawab Alin sambil bercanda.


Alin pun berlari pergi kamarnya dan bersiap-siap, begitu juga dengan Lukas. Setelah semuanya selesai, mereka pergi dengan rombongan para putri dan pangeran lainnya.


*Aula istana


Mareka semua sepakat, Alin tidak bisa membayang betapa ramainya nanti malam. Namun muncullah 2 kekuatiran nya.


" oh iya... Apa Lukas akan hilang kendali lagi nanti malam? Dan bagaimana tugasku? yang mana yang harus aku pilih... Aku rasa mungkin aku tidak bisa melihat pertunjukan nanti malam" Batin Alin penuh pikiran.


Ia kemudian berpikir sejenak seraya melamun.


"Mungkin aku akan menemani Lukas saja nanti malam, lagi pula dia sering membantu ku. Aku rasa ini mungkin bisa membayar budinya pada ku." batin Alin berpikir.


Saat ia melamun, ia tidak sadar kalau rapat telah selesai dan semua orang hampir bubar. Suara-suara orang di situ membuat kebisingan, namun Alin tetap belum tersadar dari lamunannya. Hingga akhirnya giliran anggota KIMASEF yang pergi, saat melihat Alin melamun Gion pun menegur nya.


"Hei, Alinn" panggil Gion.


"eh Ada apa Gion?"


"rapat sudah selesai, apa kau akan tinggal di sini?" tanya Gion.


"Hah apa? rapat sudah selesai?" tanya Alin panik.


"iya, ayo" Ajak Gion.

__ADS_1


Alin pun mengikuti mereka dan pergi ke kamarnya. Karena ia memutuskan untuk menemani Lukas nanti malam, jadi ia harus belajar lebih awal untuk tes. Alin membuka bukunya dan duduk di lantai dengan setumpuk buku yang menggunung.


Tiba-tiba Lukas masuk kamarnya seperti biasa. Ia sontak terkejut karena sedang fokus belajar.


"Lukassss...bisa tidak ketuk dulu pintu nya sebelum masuk" pinta Alin kesal pada Lukas yang selalu masuk kamarnya secara tiba-tiba.


"pintu nya tidak di kunci" ucap Lukas dengan entengnya.


Alin terpaksa menahan amarahnya, ingin rasanya ia menginjak-injak orang itu. Namun ia menahan amarahnya agar dia bisa lebih fokus nantinya.


"hufttt...." Alin menghela nafas.


"masih siang begini kenapa belajar" Tanya Lukas.


"Minggu depankan ada tes, jadi aku harus belajar. Dan juga nanti malam aku akan menemanimu. oh iya, apa nanti malam akan seperti malam kemarin?" tanya Alin kwartir.


"entahlah" Jawab Lukas.


"nggg...oke, aku mau lanjut belajar dulu." Ucap Alin lalu melanjutkan perjalanan nya menempuh gunung buku.


"tapi untuk apa kau membaca buku sebanyak ini" tegur Lukas.


"Yakan untuk belajar mantra perpindahan" Jawab Alin.


"baca ini" Perintah Lukas seraya mengambil salah satu buku yang ada di tumpukan bukunya Alin.


Alin sedikit ragu, tapi apa salahnya mencoba. Ia membaca beberapa halaman dari buku dan semua yang ingin ia tau sudah ada di satu buku yang Lukas pilihkan tadi.


Berjam-jam Alin membaca buku itu, mempelajarinya dan puncak dari pembelajaran nya adalah menguji coba. Alin mencoba mantra perpindahan barang namun selalu Gagal. Karena Lukas melihat Alin yang sudah kelihatan kelelahan ia berinisiatif untuk membantu nya.


"Ayunkan seperti ini" ucap Lukas sambil mencontohkan cara mengayunkan tongkat sihirnya.


"Begini?" Alin mengikuti gerakan Lukas tadi. Namun Alin hanya bisa memindahkan barang dalam jarak 1 meter.


"Konsentrasi" ucap Lukas mengingat kan nya lagi.


Alin kemudian mengikuti apa yang Lukas katakan tadi. Ia mulai mengayunkan tongkat nya dan mencoba untuk lebih berkonsentrasi.


Setelah beberapa kali gagal, pada ke 7 kalinya Alin berhasil dan bisa memindahkan barang dengan jarak 10 meter. Itu bahkan lebih dari cukup untuk lulus tes.


" WAHHH HEBATTT!! HAHAHA TERIMA KASIH LUKAS." seru Alin kegirangan. Tanpa ia sadari, refleks ia langsung memeluk Lukas.


Lukas sontak terkejut namun iya tidak melepaskan pelukannya hingga Alin sadar sendiri.


"eh..hmn maaf, aku terlalu senang" ucap Alin masih dalam mode kegirangan.

__ADS_1


"hm" perlahan wajah Lukas memerah karena malu.


__ADS_2