Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 47 Mengunjungi rumah lama.


__ADS_3

*Akhir pekan, dunia sihir putih.


Sesuai rencana Alin dan Gion, setelah mereka pulang dari academy mereka akan pergi ke dunia manusia bersama-sama. Sebelum mereka berangkat ke dunia manusia, mereka pulang ke istana sebentar untuk mengganti pakaiannya dan mengambil barang-barang. Setelah mereka mengganti bajunya dan mengambil barang-barang, mereka berkumpul di taman istana.


"Bagaimana? Apa kau sudah siap?" tanya Gion.


"Siap!" seru Alin bersemangat.


Mereka berdua pun mulai berjalan menuju ke sumur di hutan Jlim.


"Aku harus kuat! Aku harus mengunjungi makam Ayah dan kakek".


Mereka akhirnya tiba di sumur. Mereka berdiri di samping sumur itu dan melihat ke dalam.


"Kalo di lihat begini... sumurnya kelihatan agak menyeramkan yah" Gumam Alin.


"Yah... begitu lah."


"Apa ada sumur lain yang menghubungkan ke dunia lain juga di sini?"


"Tentu, semua planet yang ada di seluruh Alam semesta terhubung dengan semua sumur itu. Tapi setahuku hanya Master ketua Lio yang tau bagaimana caranya masuk ke situ."


"Woh, hebat... Jadi, kapan kita berangkat?"


Gion tidak menjawab dan langsung duduk di samping sumur itu. Alin pun ikut duduk di sebelah nya dan bertanya lagi.


"Hei, aku berbicara padamu! Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Alin sekali lagi.


"hmm... 2 jam lagi"


"Apa?! Lalu kenapa kau mengajak ku jika belum waktunya?!" Tanya Alin kesal.


"Tidak ada" Jawab Gion dengan ekspresi yang sedang bercanda.


Alin pun hanya bisa diam, tak ada yang bisa lakukan. Dia juga tidak bisa apa-apa tanpa Gion, jadi mereka pun menunggu hingga pukul 6 malam. Akhirnya jam tangan yang ada di tangan Gion menunjukkan pukul 6.


"Ayo, ini sudah pukul 6" Ajak Gion


"Eh tunggu, sejak kapan kau memakai jam tangan dari dunia manusia?" Alin menarik pergelangan tangan nya Gion.


"Ya sejak tadi. Memangnya kau tidak melihatnya?"


"Tidak"


"Sudahlah, ayo pergi!" Ucap Gion mengakhiri percakapan mereka.


Gion menggenggam tangan nya Alin dan membacakan sebuah mantra seperti yang di lakukan Lukas sebelumnya. Seketika mereka sudah tiba di dunia manusia. Mereka kemudian berjalan menyusuri jalan setapak yang sering di lalui Alin dulu bersama kakeknya.


Kenangan dulu seketika tergambar di pikiran Alin. Saat ia kecil Kakek dan Ayahnya membawanya ke sumur itu untuk bersantai setiap hari. Dan teringat pula ia akan kenangan terakhir yang pernah ia lalui di dekat sumur itu, saat itu ia menangis tersedu-sedu di pelukan nya Lukas.


"Bagaimana? Apa kau senang bisa kembali?" Tanya Gion.


"hmm..." Gumam Alin bingung.


Alin bingung. Dia tidak tau apa yang ia rasakan sekarang, perasaannya terasa campur aduk. Ia merasa senang karena bisa kembali ke tempat tinggal nya yang dulu dan bisa mengunjungi makam ayah dan kakeknya. Tapi di sisi lain, ia merasa takut dengan ibunya.

__ADS_1


"Aku tidak tau" Jawab Alin sambil tertunduk.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa" Alin mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Gion. Ia berusaha agar terlihat baik-baik saja.


Gion berhenti berjalan dan memegang ke dua pundak Alin. Ia menatap Alin dengan serius dan berkata.


"Kita ini teman! Kau boleh menceritakan apa yang menggangu mu sekarang" Ucap Gion.


"Aku benar-benar tidak apa-apa Gion" Sahut Alin meyakinkan nya sambil tersenyum. Alin tetap menyangkal dan menyembunyikan nya.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjut jalan saja" Gion melepaskan pegangannya dan kembali berjalan ke depan meninggalkan Alin.


"Hei, Gion! Tunggu" Alin berlari mengejarnya.


"Awas ada lubang!" Teriaknya.


Gion tak memperhatikan jalan, ada sebuah lubang yang cukup besar di tanah itu dan ia pun terjatuh.


...Brugh...


Alin berlari menghampiri dan membantunya berdiri. Gion tak merasakan sakit sedikit pun namun bajunya kini kotor terkena tanah yang basah.


"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Alin sambil memperhatikan dan memeriksa Gion.


"Hei, kau bodoh sekali! Mana mungkin lubang sekecil itu menyakiti ku." Maki Gion pada Alin.


"Baiklah, baiklah kau yang paling hebat. Apa kau benar-benar tidak apa-apa?" Alin pun mengalah pada Gion yang rumornya paling hebat.


"Sini biar aku obati" Alin menarik lengan Gion dengan perlahan. Ia pun mengambil kotak obat di dalam tasnya dan mulai mengobati tangan Gion.


*Di sisi lain, Dunia sihir putih.


Lukas masuk ke dalam kamar Alin seperti biasanya karena ia kuatir pada Alin yang tak kunjung keluar dari tadi sore. Saat ia membuka kamar Alin, betapa terkejutnya dia. Tak ada Alin di dalam. Kamarnya tersusun dengan rapi dan tak ada tanda-tanda Viko di situ.


Lukas mulai panik. Dengan cepat ia berlari ke kamarnya Reyhan dan masuk seperti biasanya. Reyhan terkejut dengan Lukas yang tiba-tiba menggebrak pintu kamarnya.


"WHAA...LUKAS?!" pekiknya terkejut.


"Di mana Alin?!" Tanya Lukas dengan nada yang sedikit tinggi.


"Lah, mana aku tau. Bukannya dia selalu bersamamu?"


Lukas tidak menghiraukan Reyhan dan langsung berlari lagi. Ia berlari dengan cepat keluar gerbang istana.


"kemana lagi anak itu?! Merepotkan sekali!"


Saat ia berlari tadi, seketika ia ingat dengan Lina. Lina adalah sahabat nya, mungkin saja ia tau di mana Alin berada. Dia pun langsung menghampiri salah satu penjaga yang ada di gerbang itu.


"Segera ambilkan aku kereta kuda, antar aku ke rumah Lina sekarang!" perintah nya dingin.


"Baik, segera laksanakan pangeran" Penjaga itu berlari dengan sangat cepat ke dalam.


Beberapa menit kemudian penjaga tadi keluar dengan kereta kuda dan kusir nya. Lukas masuk ke dalam kereta kuda itu dan di ikuti oleh beberapa penjaga. Mereka bergerak dengan sangat lambat, padahal ia tak punya waktu untuk menunggu lebih lama lagi.

__ADS_1


"Apa bisa lebih cepat lagi?!" Bentak Lukas mulai kesal.


"Baik, pangeran!" Sahut kusir yang mengendarai itu.


Mereka melesat dengan cepat ke rumah Lina dengan 2 Glom kuda. Glom itu mengeluarkan semacam angin dari kakinya. Mereka pun pergi dengan cepat bagaikan angin di tengah butiran salju yang terus berjatuhan.


Saat kereta kuda dilajukan, pesona Lukas terlihat semakin meningkat dari jendela kereta kuda dengan rambut putihnya yang tertiup angin. Setiap wanita yang berpapasan dengan kereta kudanya, terpesona melihat Lukas. Namun Lukas terganggu dengan tatapan mereka.


Mereka pun tiba di depan rumah Lina. Lukas langsung turun dan bergegas berjalan menuju pintu rumah Lina lalu mengetuk nya.


...tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, pintu nya terbuka dan terlihatlah Lina dengan Renu di depan pintu. Ibu mereka hari ini lembur jadi meninggalkan mereka sendirian hingga besok pagi. Saat mereka melihat Lukas, mereka terlihat ketakutan dan mundur beberapa langkah.


"Di mana Alin?" tanya Lukas dingin.


"A-Alin?"


"hm"


"Tapi... dia tidak memperbolehkan ku mengatakan nya padamu." Jawab Lina dengan sedikit bercanda karena ingin iseng.


Namun Lina bercanda pada orang yang salah, Ia bercanda pada orang yang sudah lupa apa arti dari lemah lembut sejak 4 tahun lalu. Lukas sangat kesal, ia tidak ada waktu untuk bercanda saat itu. Ia pun menarik tangan Renu, menariknya ke pelukan nya dan meletakkan sebuah belati di leher Renu.


"Ka-Kakak... Tolong Renu..." Lirih Renu ketakutan sampai hampir menangis.


"Katakan!" perintah nya lagi dengan nada yang dingin.


"Oke, oke. Lepaskan dulu adikku!" Lina pun pasrah.


Perlahan Lukas melepaskan belati yang ia pegang ke tanah dan mendorong Renu dengan sedikit kasar. Renu dengan cepat berlari ke belakang Lina dengan ketakutan.


"Sekarang katakan!" Perintahnya lagi.


"Alin bilang dia akan pergi ke dunia manusia bersama Gion hari ini. Hanya itu saja yang aku tau." Jawab Lina.


Lukas berbalik dan berjalan menuju ke kereta kudanya. Ia masuk ke dalam dan memanggil kusir kudanya.


"Antar aku ke sumur Puno di hutan Jlim." perintah nya.


"Baik pangeran, saya ingin menyapa penduduk itu dulu"


"hm"


Kusir itu berjalan ke arah Lina dan Renu. Ia sedikit menundukkan kepalanya dan berkata.


"Maafkan pangeran kami. Kami akan mewakili nya meminta maaf pada kalian." Ucap kusir itu.


"Hufttt... Aku sudah tau, tidak perlu minta maaf. Sudah ku maklumi."


"Baiklah terima kasih, kalau begitu kami permisi dulu"


Kusir itu duduk di tempat nya dan menjalankan kereta kudanya ke sumur Puno. Lina dan Renu berdiri di depan rumahnya menatap kereta kuda istana yang mulai menjauh itu.


Viko pun keluar dari dalam rumah Lina dan langsung melompat ke pelukan Renu. Dia menggosokkan badannya di lengan Renu. Mereka pun masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2