
Semua pasukan, Deon Li, Lukas, Alin dan Gion pulang ke istana lebih dulu. Sedangkan Kael dan Reyhan memantau keadaan di sekitar titik pusat perbatasan itu. Mereka menyusuri jalanan sekitar untuk mencari petunjuk akan hal yang mungkin terlihat menarik, seraya mengobrol santai.
"Kak?" Panggil Reyhan.
"Sudah ku bilang berapa kali? Berhentilah memanggilku kakak."
"Humpptt... Biar saja, aku kan ingin memanggil mu kakak!" Bantah Reyhan yang tak mau kalah.
"Tapi aku bukan kakak kandungmu, aku hanya anak angkat yang di pergunakan untuk istana. Kau boleh memanggil ku dengan nama Kael." Sahut Kael seraya menatap tanah-tanah yang ada di depannya.
"Tidak mau! Aku tau kalau kau hanyalah anak angkat dari keluarga ku, tapi kau selalu bersikap baik terhadapku selama 7 tahun terakhir. Aku sudah menganggap mu sebagai kakak ku, keluarga ku sendiri."
Kael yang mendengar itu langsung memberhentikan langkahnya dan menatap Reyhan dengan serius. Reyhan pun berhenti memunguti batu-batu Hom dan menatap Kael juga untuk beberapa saat.
"Dengarlah, aku bukan kakakmu dan kita bukanlah keluarga! Aku.. hanyalah budak yang di jadikan alat untuk istana, sementara kau adalah seorang pangeran kerajaan ini dan anak dari orang tua angkat ku. Jadi berhentilah merendahkan dirimu dengan cara memanggil ku kakakmu! Aku sudah menegaskannya selama 7 tahun terakhir, jadi dengarkan lah!" Tegas Kael lagi.
"Tidak mau."
Namun hal itu sangatlah percuma, seberapa sering dan seberapa keras pun kalian menegaskan Reyhan yang keras kepala itu, tak akan ia dengarkan. Kael pasrah dan seperti biasa ia harus mengalah dari Reyhan.
Ia kembali berjalan mengamati tanah-tanah yang ada di depannya dan kembali mengacuhkan Reyhan, begitu juga dengan Reyhan. Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening di antara mereka. Mereka hanya berfokus terhadap keadaan sekitar, sehingga suasana menjadi agak canggung sampai Kael memulai pembicaraan mereka lagi.
"Bagaimana dengan hubungan mu dengan teman Alin itu?" Tanya Kael yang masih berfokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Hmm.. tidak terlalu baik, aku rasa.. ibunya tidak merestui hubungan kami. Aku dengar kalau ibunya marah kemarin kerena mengetahui hubungan kami." Jelas Reyhan dengan ekspresi yang terlihat sedih.
"Apa kau tau, jika hubungan yang seperti itu berhasil kalian pertahankan hingga akhir, maka kebahagian itu akan abadi hingga maut memisahkan kalian."
"Aku tau itu... Aku juga sudah berjanji dengannya untuk selalu bersama. Aku pasti akan membereskan ini semua."
"Bagus! Jika kau berhasil melakukannya, maka aku bersedia menjadi kakakmu." Sahut Kael sambil senyum-senyum sendiri.
Saat mendengar Kael berkata begitu, Reyhan langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kael dengan mata yang berbinar-binar. Hal yang di tunggu-tunggunya sejak dulu adalah syarat untuk menjadi adiknya Kael. Jika Reyhan bisa memperjuangkan cintanya, ia akan menjadi adiknya Kael dan mendapatkan restu dari orang tuanya Lina. Reyhan sangatlah senang mendengar hal itu.
__ADS_1
"Wahhh... Benarkah?! Kau tidak berbohong kan?!" Seru Reyhan seraya mengerumuni Kael.
"Ya... itu jika kau bisa memperjuangkan cinta mu."
"Hm! Aku pasti bisa! Demi Lina dan Kak Kael!" Seru Reyhan lagi.
"Terserah kau saja.. Ayo cepat lanjutkan, matahari sebentar lagi akan terbit. Setelah ini kita akan pulang untuk beristirahat, lalu pergi menemui ibu suri."
"Oke.."
Reyhan dan Kael kembali memfokuskan diri dengan tugasnya masing-masing. Kael mengamati keadaan sekitar dan sementara itu Reyhan memunguti batu-batu Hom yang berserakan menggunakan mantra sihir. Kali ini mereka berpencar agar pekerjaan nya menjadi lebih cepat lagi.
Hingga Kael melihat ada jejak rubah kecil di tanah, ia merasa aneh dan janggal. Ia mengerutkan keningnya dan kembali melihat jejak itu dengan teliti seraya berjongkok. Jejak rubah itu mengingat kan nya akan sesuatu, namun belum tertebak oleh benaknya. Karena merasa bingung harus melakukan apa, Kael memanggil Reyhan kembali.
"Reyhan! Kemari lah sebentar!" Panggil Kael.
"Ada apa?"
Reyhan langsung menghampiri Kael segera setelah ia memanggil nya. Ia menghampiri Kael dan ikut berjongkok di sebelahnya.
"Hmm... Apa yah...?" Pikir Reyhan.
Untuk beberapa saat mereka memperhatikan jejak kaki itu untuk beberapa saat, berharap mengingatkan mereka akan sesuatu. Beberapa saat kemudian, ingatan itu muncul secara bersamaan di benak mereka masing-masing. Dengan ekspresi yang aneh, Kael dan Reyhan menatap satu sama lain.
"Viko!" Seru keduanya secara bersamaan.
"Kemana Viko? Dimana dia?!" Tanya Kael yang terlihat panik.
"Tidak tau! Bukannya... Bukannya dia tadi pergi saat kita di tangkap oleh Indara tadi?! Kemana dia pergi?!" Jawab Reyhan yang panik juga.
"Gawat! Reyhan cepat cari!" Perintah Kael dengan cepat.
Dengan keadaan yang sangat panik, Kael dan Reyhan langsung berlarian ke sekitar tempat itu mencari Viko, namun tak ada tanda-tandanya. Mereka juga memanggil manggil namanya, namun tidak di respon juga.
__ADS_1
"Viko?!"
"Viko! Kau ada di mana?! Ini kami, Kael dan Reyhan!"
"VIKOOOOOO! Kau ada di mana!"
Mereka terus saja berteriak memanggil Viko, namun tak ada tanda Viko di sekitar situ. Kael dan Reyhan terlihat semakin panik, mereka berlarian dan berteriak mencari Viko. Namun hasilnya tetaplah nihil.
"Kak, bagaimana ini?! kita kehilangan Viko!"
"Kita cari saja dulu."
Kael dan Reyhan terus mencari dan memanggil nama Viko terus menerus. Tak terasa kini matahari sudah hampir terbit, dan naik ke atas langit yang menandakan hari sudah pagi. Di saat matahari bersinar menyinari sebuah pohon besar yang masih berdiri kokoh di tengah kekacauan itu, Kael mendengar sebuah kebisingan di belakangnya.
Ia berjalan ke arah pohon besar itu untuk menyelidiki apa yang ada di belakang pohon. Reyhan yang sedang sibuk mencari Viko di sisi lain pun melihat pohon besar yang tiba-tiba muncul dan ada di ada di tengah kebakaran hutan Jlim. Karena penasaran juga, Reyhan menghampiri Kael untuk ikut menyelidiki pohon besar yang terlihat misterius itu.
"Apa kau mendengar sesuatu dari belakang pohon besar itu juga?" Bisik Kael.
"Iya."
Mereka berdua terus majukan langkah, hingga sudah berada tepat di depan pohon. Ketika Kael ingin memajukan langkahnya lagi, tiba-tiba saja ada seorang wanita berbaju putih muncul dari balik pohon. Wanita itu terlihat sedang membawa hewan kecil yang sedang terluka parah di lengannya. Hewan itu tidaklah jelas karena tertutupi oleh kain-kain putih yang menutupinya.
Kael dan Reyhan sontak terkejut dan langsung melangkah mundur. Wanita itu sangatlah asing di mata mereka, tidak ada yang berani maju ataupun berbicara kepadanya. Wanita itu mengangkat kepalanya dan menampakan wajah cantik miliknya.
Wanita itu terlihat sangat cantik dengan kulit putih dan rambut indah yang ia miliki. Tidak hanya itu, ia memiliki paras wajah yang cantik dan imut serta postur tubuh yang terlihat sempurna. Ia terus maju dan maju ke arah Kael dan Reyhan. Sementara itu, Kael dan Reyhan terus saja mundur seiring wanita itu memajukan langkahnya.
Setelah wanita itu mengetahui akan Kael dan Reyhan yang terus saja memundurkan langkahnya di saat ia maju, wanita itu menghentikan langkahnya. Ketika wanita itu menghentikan langkahnya, Kael dan Reyhan pun menghentikan langkahnya.
"Kalian tidak perlu takut kepada ku, aku bukanlah orang jahat." Ucap wanita itu untuk menenangkan Kael dan Reyhan yang ketakutan.
"Bagaimana kalau kami bisa tau kalau kau bukanlah orang jahat?!" Tanya Kael.
"Pergilah kau wanita!" Usir Reyhan.
__ADS_1
"Namaku..."