
"Duduk lah"ucap Brian pada Roni saat mereka sudah berada di kantornya.Setelah sarapan selesai Brian dan Roni berangkat ke kantor karena akan ada rapat penting dengan rekan kerja nya dua jam lagi.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan"tanya Roni sambil duduk di sofa.
"Nanti malam ada pertemuan keluarga kita dengan keluarga Mahendra.Mama dan Papa sudah hampir tiba di rumah sekarang dan mama bilang luangkan waktumu untuk menghadirinya"ucap Brian sambil memainkan pena di tangannya.
"Apa ada acara penting sampai mengundang rekan bisnis papa ke rumah"tanya Roni penasaran.
"Mungkin saja,karena mana mungkin papa rela datang jauh-jauh hanya untuk hal yang tidak penting"ucap Brian.
"Baiklah aku akan datang"ucap Roni.
"Kak"panggil Brian.
"Apa ada lagi"tanya Roni.
"Tadi malam Sefi tidur dimana,jangan bilang kalian tidur bersama"tanya Brian dengan penuh selidik.
"Menurutmu bagaimana?"tanya Roni balik.
__ADS_1
"Kak,aku serius.Sefi tidur dimana dan kenapa kalian bisa datang bersama tadi pagi"tanya Brian kali ini dengan menatap Roni tajam.
"Ayolah Brian,Sefi itu sudah dewasa dan aku tidak akan merusaknya"ucap Roni santai.
"Sudah dewasa?Dulu kakak bilang dia masih anak kecil !Kak dia itu sepupuku jadi aku harus menjaganya dari perjaka tua sepertimu juga pergaulan bebas yang di jalani selama ini"ucap Brian.
"Umurku tidak jauh beda darimu,mengapa sekarang kau mempermasalahkannya,dan biarkan aku sendiri yang menjaganya "ucap Roni sambil meninggalkan Brian sendiri di ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di taman belakang.
"Siska tadi kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan"tanya Tia karena ketika selesai sarapan tadi Siska membisikkan sesuatu pada Tia.
"Tia aku sudah menanda tangani surat perceraianku dengan Brian dan besok adalah persidangan kami"ucap Siska dengan muka sedihnya dan Tia yang mendengar itupun menutup mulutnya antara senang juga sedih karena melihat wajah Siska yang terlihat sedih.
"Tapi apa kau tahu"tanya Siska membuat Tia menggeleng kepalanya karena tidak mengerti apa maksud Siska.
"Aku sangat....Sangat...Bahagia"ucap Siska langsung memeluk Tia membuat Tia bengong terdiam.
__ADS_1
"Bagaikan melepas beban berat yang kurasakan selama ini dan sekarang aku cukup lega.Aku lega Tia,sekarang aku bisa bebas menikah dengan Dean kapanpun dia akan mengajakku menikah aku pasti sudah siap"ucap Siska seraya melepas pelukannya.
"Tia,Brian juga memberikan sebuah resort juga rumah untukku,dan aku sangat berterima kasih padanya"ucap Siska sambil tersenyum.
"Hanya itu kah yang di berikan Brian untukmu"tanya Tia karena sejak tadi ia hanya diam saja mendengarkan Siska.
"Maaf,apa kamu keberatan?Tia semua itu Brian yang memberikan untukku bukan aku yang minta.Aku cukup tahu diri juga karena selama ini aku hanya bisa menyusahkannya saja.Aku juga tidak berharap jika Brian memberikan resort juga rumah untukku"ucap Siska merasa tidak enak hati.
"Siska,bukan itu maksudku.Aku hanya tidak habis pikir mengapa Brian hanya memberikan itu untukmu.Dia pelit sekali ternyata"ucap Tia membuat Siska bernapas lega.
"Jadi kamu tidak keberatan Tia jika Brian memberikannya untukku"tanya Siska tak percaya.
"Mengapa harus keberatan,seharusnya dia memberikan yang lebih untukmu.Jika aku sepertimu aku akan meminta setengah hartanya untuk ku"ucap Tia.
"Wow,ternyata kamu begitu matrenya dariku"ucap Siska tertawa.
"Aku akan memberikan sesuatu untukmu,tunggu sebentar yah"ucap Tia beranjak dari duduknya.Tia meninggalkan Siska di taman belakang dan Tia masuk ke dalam kamarnya mengambil sesuatu dari dalam laci setelah itu kembali lagi ke taman di mana Siska masih duduk menunggunya di situ,
"Ini terimalah"ucap Tia memberikan sebuah buku kecil untuk Siska.
__ADS_1