
Tia berjalan menyusuri beberapa ruangan dengan santai setelah melihat ruangan Brian sudah sedikit jauh.
Tia melihat lihat berbagai hiasan di setiap dinding di ruangan itu tanpa peduli para pekerja yang ada di ruangan itu menatap nya dengan berbagai pertanyaan.Menyusuri setiap jengkal lukisan dan hiasan di depan nya.Namun tiba tiba seorang pegawai datang menghampiri nya.
"Maaf bu!pak Brian berpesan agar ibu menunggu nya di ruangan pak Brian"ucap nya sambil menunduk.
"Apa rapat nya masih lama"tanya Tia.
"Seperti nya masih lama bu"ucap pegawai itu.
"Sebaiknya nya aku pergi saja"gumam Tia sambil melihat pegawai itu.
"Baik lah,katakan aku akan pulang saja"ucap Tia sambil berjalan tanpa mendengar jawaban pegawai itu.
"Bu...tunggu"panggil pegawai itu.
__ADS_1
"Apa lagi"tanya Tia menghentikan langkah nya.
"Sepatu nya bu"pegawai itu menunjuk ke arah kaki Tia.
"Hah...."ya ampun jadi aku dari tadi kaki ayam,aku malu banget,tas ku juga ku tinggal?gumam Tia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Tolong ambil kan sepatu ku dan tas ku di ruangan pak Brian yah"ucap Tia namun seseorang menjawab nya dari belakang.
"Tidak perlu"ucap Brian.Tia pun menoleh kebelakang nya.
"Kenapa mau pulang,kamu belum sarapan kan"ucap Brian sambil mengusap rambut Tia namun masih matanya menatap pegawai itu agar pergi.Jangan tanya dari mana Brian tahu Tia mau pulang karena Brian dari tadi tidak fokus rapat,Brian hanya menatap cctv di laptop nya.Brian langsung keluar dari rapat dan menyuruh Roni mengganti kan nya.
"Reno kau masih di sini"tanya Brian begitu mereka masuk ke ruangan nya.Reno yang sedang berdiri dengan ke dua tangan masing masing di dalam saku celana nya,menatap keluar dengan tersenyum lalu menoleh ke arah dua sejoli itu.
"Aku akan keluar"ucap Reno langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Sayang..Jangan pernah pergi tanpa permisi dengan ku lagi"ucap Brian sambil memeluk Tia.
"Astaga,aku hanya bekerja dan kau tahu pekerjaan ku sudah menumpuk"ucap Tia.
"Aku tahu itu,tapi jangan jadi kan pekerjaan adalah yang pertama bagi mu.Aku tidak melarang mu bekerja.Namun ingat lah kita sudah menikah,ada tanggung jawab mu di rumah juga"ucap Brian.
"Maaf"ucap Tia menatap Brian.kemudian mencium bibir Brian sekilas.
"Kenapa hanya sebentar"ucap Brian dan langsung melahap bibir Tia dan mengerat kan pelukan nya hingga ciuman itu semakin menuntut,Brian menuntun Tia ke sofa tanpa melepas kan bibir nya,lalu duduk di sofa itu dan menuntun Tia agar duduk di pangkuan nya.
"Sayang..aku mengingin kan mu sekarang"ucap Brian sambil berusaha membuka kancing depan baju Tia dan melolos kan nya begitu saja.
"pintu nya"ucap Tia melihat ke arah pintu takut ada yang tiba tiba masuk.
"Tidak apa apa tidak ada yang akan berani masuk"ucap Brian kembali melakukan tugas nya dan menangkup benda kenyal itu dengan kedua tangan nya lalu menghirupnya dan mengulum nya.Sambil melakukan tugas nya Brian menekan tombol remot di meja agar pintu nya terkunci.Brian melakukan nya dengan lembut.Tangannnya mulai menyusuri isi salam segi tiga itu.Dengan nafas yang memburu Brian meraba nya membuat Tia menutup mulut nya dengan satu tangan nya.Brian membuka seluruh penutup yang di pakai Tia dan meletakkan begitu saja.Tanpa menunggu persetujuan Tia,Brian langsung memasuk kan senjatanya yang sudah berdiri sejak tadi.Sedikit berteriak Tia merasakan di hujam dari bawah dan akhirnya seluruh nya masuk.Brian menuntun nya agar bisa memaju mundurkan pinggulnya.Dengan rasa sesak di bawah Tia berusaha menuruti kemauan suami nya itu.Mulut Brian tidak tinggal diam,bibir nya menghisap kuat benda kenyal itu yang naik turun seiring irama yang berpadu.Kata kata cinta terus keluar dari mulut Brian seiring menaiki puncak bersama sama.
__ADS_1