
Dua anak kecil berlari dengan kaki mungilnya,mengejar ombak kecil yang sudah menghapus tulisan yang mereka gariskan di bibir pantai itu.
Mereka berdua adalah Bastian Alexander dan Cristian Aĺexander.Mereka berdua sama -sama menyukai pantai.Anak dari pasangan Brian Alexander dan Tia Rania Pradipta itu kini sudah berumur enam tahun dan empat tahun.Usia dimana mereka sudah mengerti akan kesukaan masing-masing.Dan akan selalu bertengkar di kala memperebutkan mainan yang sama.Bastian adalah sang kakak yang selalu mengalah,dan terkadang "ia menangis juga saat mempertahankan miliknya.
Tia saat ini tengan fokus untuk mengurus kedua buah hatinya dengan Brian.Tia keluar rumah jika hanya ada rapat dan untuk mengurus hal yang penting saja.Mengurus kedua anak laki-lakinya membuat ia selalu ke walahan,walaupun kadang juga ada Widya mertuanya yang akan membantunya.
"Mommy?! Kakak mendorong Cristian sampai jatuh"adunya sembari menunjukkan sikunya yang terluka sedikit.
"Bukan Mommy! Aku hanya mengejarnya saja dan Cristian yang berlari terlalu kencang"membela diri,Bastian ikut menghampiri mommynya yang masih menunduk melihat luka di siku adiknya.
Tia menghela napas panjang,kemudian menatap putra sulungnya tersebut."Bas,Mommy saat ini sedang marah,Jadi Mommy minta Bastian masuk ke dalam kamar"ucap Tia yang tidak mau langsung memarahi anaknya itu di depan adiknya.Suatu pembelajaran buatnya,untuk tidak membela siapapun di antara mereka.
"Bastian gak salah Mom!"ucapnya masih membela diri.
"Bastian mau masuk ke kamar,kalau Mommy ijinkan Bastian pakai ponsel Mommy!"ujar Bastian lagi dengan kesal.
"Tidak ada ponsel hari ini"ucap Tia sembari mengoleskan obat merah pada siku putra bungsunya itu.
"Aaw..perih Mom!"Cristian ingin menangis,namun langsung menciut karena Tia menatapnya dengan tajam.Tia sangat tahu jika Cristian sangatlah nakal,berbeda sekali dengan sifat Bastian yang selalu mengalah dan baik hati itu.
"Mommy?! Bastian cuma mau bicara sama Papa Roni!"ujar Bastian masih berdiri di tempatnya.Bastian memang akan selalu menghubungi Roni jika ia merasa tersudutkan seperti saat ini.
__ADS_1
"Apa kamu mau mengadu?"Tia masih mengalihkan pandangannya."Ponsel Mommy ada di meja,ambillah!"ujar Tia yang sudah paham betul karakter putranya itu.
"Apa masih sakit?"Cristian menggeleng saat Tia menghembus sikunya yang terluka itu.
"Kalau sudah tidak sakit lagi,sekarang adek pergi ke kamar dan jangan bertengkar lagi sama kakak Bastian.Mommy mohon sama adek,bisakan?"ucap Tia dengan lembut.
"Tapi Cristian mau pakai ponsel Mommy juga,Cristian mau bicara sama Daddy!"ujarnya dengan wajah yang di tekuk.
Jika Bastian mengadu pada papa Roni,maka Cristian juga akan mengadu pada Daddynya.
"Jangan ganggu kakak lagi,Adek bisa pakai ponsel Oma saja!"ujar Tia sembari melihat putranya itu pergi ke kamarnya.
"Jika aku punya satu anak perempuan,apakah mereka masih bertengkar terus seperti ini?"ucap Tia pada diri sendiri.
"Kamu sudah pulang?"Tia terduduk di atas ranjang,merasa legah karena suaminya cepat pulang dan sudah pasti akan membantunya untuk mengurus kedua putra mereka.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu tadi ?"Brian ikut duduk di atas ranjang sembari membuka kaus kakinya.
"Tidak,aku hanya bercanda"
"Pada diri sendiri ?"
__ADS_1
"Hmm"
"Mana mungkin?"
"Mungkin saja"
"Aku tidak percaya!"
"Terserah"
"Jika benar-benar mau buat anak perempuan,aku sudah siap sekarang?"
"Jangan mimpi"
"Aku serius"
"Tidak mau"
"Tidak mau apa?"
"Tidak mau nolak!"
__ADS_1
"Aakk..jangan sekarang!"
"Jangan teriak,nanti anak-anak kita datang"😁.