
Braakkk....Suara pintu di banting,Tia dengan sengaja melakukan nya tepat di depan wajah Siska membuat Siska langsung terdiam."Aku hanya ingin melihat kamar mereka,apa salahnya?"usai bicara sendiri Siska turun ke lantaia bawah menuju kamarnya.
Dengan rasa kesal yang sudah memuncak Tia berjalan menuju kamar mandi tanpa peduli Brian melihatnya sambil melongo.Masuk ke kamar mandi dan berendam adalah salah satu caranya untuk menenangkan diri.Brian masuk ke kamar mandi menyusul Tia yang sudah berendam air hangat dan menghampirinya kemudian menarik sebuah kursi dan duduk menghadap istrinya itu.Tia melihatnya sekilas kemudian memejamkan matanya kembali.Brian tersenyum memandang istrinya itu yang di rasa cukup unik.
"Sayang...Apa sudah selesai marahnya?Apa aku bisa bicara?"tanya Brian.
"Hmmm...Aku akan mendengarkannya"jawab Tia masih memejamkan matanya.
"Mengapa menuruti keinginan Siska untuk tinggal bersama jika kamu sendiri tidak bisa mengatasinya"tanya Brian.
"Bukannya tidak bisa,aku hanya malas berdebat.Aku hanya kasihan padanya,siapa nanti yang akan mengurusnya jika dia tinggal sendiri dan biaya pengobatannya kan memang harus aku yang bayar sampai dia benar-benar sembuh"ucap Tia sambil membuka matanya.
"Masih beberapa menit saja dia tinggal di rumah ini sudah membuat mu kesal,bagaimana jika dia akan lama tinggal di rumah ini?"Brian masih tidak terima dengan keputusan Tia.
"Dia tidak akan berani berbuat macam-macam,karena aku akan selalu mengawasinya"ucap Tia lagi.
"Bagaimana jika Siska menggodaku"ucap Brian dengan tersenyum namun tanpa di duga Tia bangkit berdiri dan mengguyur Brian dengan air membuat Brian tidak sempat menghindar.
"Sembarangan!Apa kamu senang di goda sama Siska"ucap Tia sambil berjalan meninggalkan Brian yang sudah basah kuyup.
__ADS_1
Sementara di kamar Siska sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya,sambil berbaring Siska tampak terlihat senang.
"Ya...Aku sudah pulang dari rumah sakit.Kamu harus menebus kesalahan mu karena kamu tidak menepati janjimu waktu itu"ucap Siska sambil menggigit ujung jari telunjuknya.
"Kita ketemuan dimana?Apa kamu akan menjemputku?"Hati Siska tampak berbunga-bunga saat pria yang memberikannnya mobil itu mengajak nya untuk makan malam bersama.
"Aku juga merindukan mu!"Siska dengan senang mendengar pria itu mengatakan sangat merindukannya.
"Aku akan menunggumu nanti,jangan sampai terlambat!"ucap Siska mengakhiri panggilannya.
"Apa aku harus berdandan?Ahh...Aku juga tidak membawa bajuku semua tertinggal"Siska tak habis akal dengan tersenyum Siska melangkah keluar dari kamarnya dan naik lagi ke lantai atas dimana kamar Tia dan Brian berada.
"Ada apa"ucap Brian sambil membuka pintu walau hanya sedikit yang terbuka.
"Aku mau masuk"ucap Siska ingin mendorong pintu itu namun di tahan oleh Brian.
"Aku ada perlu sama Tia,jadi biarkan aku masuk"ucap Siska masih berusaha mendorong pintu itu.
"Kalau kamu tidak membiarkan aku masuk,maka aku akan minta uang padamu saja,kamu kan masih suamiku"ucap Siska lagi sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"Sayang...Ada apa"Tia menghampiri mereka yang masih berdebat di depan pintu.
"Nenek lampir berulah lagi,kamu atasi dia jangan sampai masuk ke kamar ini"ucap Brian memilih meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa Siska"tanya Tia seraya keluar dari kamar karena tidak ingin Siska masuk ke kamarnya.
"Aku butuh bantuanmu!Aku mau pinjam sepatu,gaun,sama tas mu juga beri aku uang saku"ucap Siska tanpa malu.
"Kamu mau keluar"tanya Tia bingung untuk apa Siska membutuhkan semua itu.
"Tapi kamu belum sembuh Siska,kamu tidak boleh keluar dari rumah ini sebelum kamu benar-benar sembuh"ucap Tia.
"Tia ini hanya makan malam,aku juga akan di jemput bukan bawa mobil sendiri.Aku hanya malas pulang untuk mengambil gaun ku,jadi pinjamkan aku punya mu saja"ucap Siska.
"Apa kamu mau kencan"selidik Tia namun Siska hanya mengangguk.
"Dengan Fardan"ucap Tia lagi dan Siska langsung menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Rahasia"ucap Siska sambil tersenyum layaknya orang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1