
Happy reading๐๐๐
Beberapa bulan kemudian.
Di lorong rumah sakit tampak Brian tengah berlari dengan cepat,napasnya sudah tidak beraturan,jantungnya berdegup dengan kencang sembari menghitung jumlah kamar pasien yang di lewatinya.Hingga sampailah ia di tempat tujuannya dimans tempat yang ia tuju adalah ruang operasi.
Pagi itu sebelum Brian berangkat ke kantor, sebenarnya ia sudah tidak tega meninggalkan Tia di rumah namun karena istrinya itu mampu menyakinkannya jika ia baik-baik saja akhirnya Brian pun berangkat ke kantornya.Hanya Uci sang asisten rumah tangga yang menemaninya di rumah sebab Bela sudah di bawa oleh Fardan ke luar negri untuk melanjutkan pengobatannya.
Dan saat ini Brian sudah berada di depan ruang operasi yang terlebih dahulu sudah ada Uci yang siap menjaga di tempat itu.Uci yang sudah memberitahu jika Nona Tia sudah berada di rumah saiit.
"Tuan,syukurlah anda sudah datang! Nona sejak tadi sudah kesakitan dan dokter menyarankan agar di operasi namun Nona kekeh tidak mau di operasi karena ia ingin melahirkan secara normal"ucap Uci panik.
"Anda keluarganya pasien"tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan rambut yang sudah acak-acakan pasalnya sejak dokter itu memeriksa jalan lahirnya tanpa di duga Tia menjambak rambutnya hingga membuat dokter itu kewalahan.
"Benar dokter ,saya suaminya"jawab Brian dengan rasa khawatir.
"Silahkan ikut dengan saya"ajak dokter itu kembali keruangan operasi.
"Ada kendala pada posisi bayi anda,dan kami sarankan agar istri anda di operasi saja"jelas dokter itu.
"Bagaimana sayang,apa di operasi saja"tanya Brian sembari menghampiri istrinya itu yang tengah duduk saambil bersandar.Terlihat beberapa perawat membantunya mengelus perutnya dan ada juga yang mengusap -usap punggung dan pinggangnya.
__ADS_1
"Tidak mau,aku yakin sayang! Aku akan melahirkan secara normal"renggek Tia.
"Baiklah kalau kamu yakin"ucap Brian.
"Aku akan periksa sekali lagi jalan lahirnya dan anda suaminya tolong pegang tangannya"ucap dokter itu tidak ingin rambutnya kembali di tarik.
"Sudah buka enam,apakah anda masih sanggup menahan kontraksinya hingga sampai waktunya melahirkan"tanya dokter itu.
"Aku sangat yakin dokter"ucap Tia pelan sebab ia tengah di peluk Brian dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu.
"Baiklah kalau begitu,kalian boleh berjalan - jalan pelan sembari menunggu jalan lahirnya buka lagi"ucap dokter itu.
"Sayang,usap yang ini dan perutku juga"renggek Tia sembari menyuruh Brian mengusap Pinggangnya.
"Uci,tolong kamu hubungi mama"pinta Brian sebab ia tidak ada waktu untuk menyentuh ponselnya.
"Baik tuan"ucap Uci kemudian ia menghubungi majikannya itu.
Beberapa saat kemudian.
"Sayang,sepertinya dia sudah mau keluar"seru Tia seraya mengambil napas panjang.
__ADS_1
"Bagaimana ini,Uci panggilkan dokternya sekarang"teriak Brian spontan membuat Uci berlari menuju ruangan dokter itu.Saking paniknya Brian tidak sadar untuk menekan tombol singkat untuk memanggil dokter.
"Apa sudah saatnya"dokter itu kembali memeriksa Tia .
"Baiklah,kita mulai sekarang.Perawat sudah siap semuanya peralatannya"dua orang perawat itu tampak mengangguk.
"Aaakk,sakit sekali"teriak Tia hingga membuat Brian panik rasa sakit di rambutnya akibat tangan Tia yang menariknya dengan sangat kuat tidak lagi di rasakannya.Perhatiannya hanya fokus pada wajah istrinya itu yang menahan rasa sakitnya.
"Tarik napas,dan keluarkan secara perlahan"intruksi sang dokter.
"Kemudian,dorong dengan keyakinan yang pasti"ucap dokter itu lagi.
"Aaakkk"jeritan panjang Tia saat ia berhasil mengeluarkan buah hati mereka.
"Hua,oek,oek"terdengar suara seorang bayi menangis hingga membuat pasangan suami istri itu juga ikut menangis melihat bayi mereka lahir dengan selamat.
Dokter dan perawat itu tampak membersihkan bayi itu beserta ibunya.
"Selamat buat kalian yang sudah menjadi orang tua,anak kalian seorang pria yang cukup tampan"ucap dokter itu sambil memberikan bayi itu pada tangan Brian setelah selesai di bersihkan.
"Terima kasih.
__ADS_1