
Reno menghentikan langkahnya saat mendengar wanita itu menyangkut pautkan masalahnya dengan adiknya.
"Kamu,tadi bilang apa?"Reno menatap wanita itu dengan serius.
"Apa?enggak ada kok.Aku tadi cuma asal bicara"ucap wanita itu dengan berpura-pura tidak paham.
"Pergilah dari sini,jangan pernah menggangguku lagi"ucap Roni dengan tegas.
"Sebelum kamu menyetujui permintaan ku,aku tidak akan pernah pergi dari sini.Aku akan selalu mengikuti mu"ucap wanita itu lagi.
"Terserah kamu,aku tidak peduli"ucap Reno kemudian meninggalkan wanita itu.
Sementara itu di dalam kamar Tia,tampak Brian dan Tia sudah selesai membersihkan diri,habis berenang dari pantai mereka langsung kembali ke resort dan di sinilah mereka Sekarang berada dan mereka saat ini sedang menenangkan Bela yang sedang menangis.
"Bela, sudah yah! berhenti menangis.Mommy tidak tahu apa yang membuat Bela sampai sedih begini.Apa liburan nya tidak menyenangkan?"ucap Tia sambil membujuk Bela namun tidak kunjung untuk diam.
"Daddy belikan makanan kesukaan Bela yah!tapi Bela harus cerita dulu"ucap Brian sambil menunduk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Bela agar bisa melihat wajah Bela yang menunduk.
Beberapa menit kemudian akhirnya Bela membuka suara.
__ADS_1
"Mommy,apa benar Bela masih punya orang tua?"tanya Bela sambil menghapus air mata nya.
Deg.
Tia tidak menduga harus kah secepat ini?
"Mengapa Bela tiba-tiba bicara seperti itu"ucap Tia sambil memeluk Bela.
"Bela tadi dengar Om Fardan sama tante Siska bicara berdua,dan mereka sedang ribut di taman belakang"ucap Bela.
"Dan mereka bilang kalau Bela adalah anak mereka.Apa itu benar, mommy?"ucap Bela lagi.
"Sayang, apapun yang terjadi mommy tetap menyayangi mu"Tia memeluk erat Bela sambil ikut menangis ðŸ˜.
"Hallo.."sahut Fardan di seberang.
"Fardan datang lah kemari juga bawa Siska bersama mu"Brian berbicara di ponselnya sambil mengusap punggung istrinya.
"Apa ada masalah Brian?"tanya Fardan.
__ADS_1
"Kita akan menjelaskan semua,jadi cepatlah kemari"ucap Brian.
"Baik,kami akan datang"ucap Fardan kemudian Brian mengakhiri panggilan nya.
Sesaat kemudian tampak Fardan juga Siska sudah berada di ruang yang cukup luas itu dengan di depannya ada sebuah kolam renang yang cukup besar sehingga mampu menambah sejuknya mata memandang.Di sinilah mereka Sekarang sudah berkumpul.Mereka duduk namun terdiam dengan kebingungan masing-masing terutama Siska dan Fardan.
Siska melihat Tia dan Bela seperti nya baru selesai menangis berusaha bertanya apa yang sedang terjadi.
"Tia,ada apa ini.Mengapa kalian menyuruh kami ikut berkumpul begini dan mengapa kamu dan Bela menangis?"tanya Siska.
"Apa yang sudah kalian bicara kan berdua tadi"tanya Brian menatap Siska dan Fardan bergantian.
"Apa maksudnya Brian?"tanya Fardan terkejut.
"Bela mendengar semuanya apa yang sudah kalian bicarakan berdua tadi"terang Brian sambil memilih duduk di samping istrinya itu.
"Maafkan aku,maafkan papa nak"ucap Fardan yang mengerti maksud arah pembicaraan Brian dan ia langsung berlutut di hadapan Bela yang masih betah berada di pelukan Tia.
"Seharusnya papa bicara langsung padamu,maafkan papa karena Bela mengetahuinya dengan cara seperti ini."ucap Fardan namun Siska hanya diam saja.
__ADS_1
"Dasar Fardan sialan,tidak seharusnya aku terpancing omongannya tadi,dan sekarang apa yang harus ku lakukan?"batin Siska seraya menatap Fardan dengan kesal.
Bersambung.