
Diapartemen Siska tampak kesal dengan terpaksa dia merapikan kamarnya yang berantakan.
"Kenapa hidupku jadi kacau begini.Thor....buat dong hidup aku bahagia"Siska mendumel sambil menyusun kembali pakaiannya.
"Ini sudah porsi mu Siska,jadi terima saja"author tersenyum hehehehe.
"Brian..kami sudah mencarinya tapi tidak ada.Apa mungkin dia meninggalkannya di Jerman?"Roni tampak kesal karena tidak menemukan apa yang di cari.
"Kalau begitu aku akan mengurus perceraian ku saja,mungkin dengan itu dia akan mengancamku lagi.Kita akan tahu nanti apa dia masih menyimpan video itu atau tidak".ucap Brian sambil memandang foto Tia di ponselnya.
"Brian apa benar kalian sudah punya anak,dimana anak itu?!"Roni menghela nafas karena Brian tersenyum.
"Siska yang punya anak dari pria lain.Mana mungkin Bela itu anak ku,usianya saja sudah lima tahun,sementara aku menikah dengan nya masih dua tahun".Brian pun menceritakan bagaimana Tia mengenal Siska pada Roni membuat Roni mengerti apa yang terjadi.
"Dimana Reno,apa kau juga sudah mencari tahu tentangnya.Sudah sangat lama aku ingin mengetahuinya"Brian memandang Roni.
__ADS_1
"Reno pergi mengurus pendaftaran Sefi di kampus"ucap Roni menatap Brian.
"Kau tahu,Reno adalah mantan nya Tia istrimu"ucap Roni lagi namun sangat pelan takut jika Brian marah.
"Mantan?Maksudmu mereka pernah berpacaran!Tidak mungkin bagaimana bisa mereka pernah berpacaran"ucap Brian sambil berdiri.Roni pun di minta untuk menceritakan semuanya.Dengan tangan mengepal Brian mengumpat dalam hati.
"jadi itu alasan nya memukulku kemarin"ucap Brian namun sesaat kemudian ponselnya berdering.
"Katakan ada apa"ucap Brian.
"Wanita itu sekarang ada di rumah.Aku tidak tahu sedang apa karena mereka bicara di taman belakang"ucap Uci melapor pada Brian.
"Gantikan rapat hari ini.Aku akan pulang,Siska ada di rumah.Aku takut jika dia melukai istriku"ucap Brian sambil mengambil kunci mobil di meja meninggalkan Roni yang masih bingung.
☆☆☆
__ADS_1
Dirumah tepatnya di taman belakang Siska tampak emosi karena Tia menolak keinginannya.Dengan duduk santai Tia menatap Siska sambil menghirup teh yang di pegangnya.
"Apa uang segitu membuat mu bahagia"ucap Tia menatap Siska."Aku benar benar menyesal sudah mencari mu,apa kau tahu Bela saat ini mengidap suatu penyakit dan dia membutuhkan pendonor yang sesuai dengan hatinya.Dia memhutuhkan pendonor hati,mana ada orang yang mau mendonorkan hatinya untuk orang lain dan itu ilegal kecuali keluarganya sendiri"Tia masih menatap Siska dengan tajam.
"Aku tidak peduli dengan anak itu.Aku hanya minta dua belas milyar apa uang segitu akan membuatmu miskin.Jika kau tidak mau memberikan uang itu aku akan memintanya pada suamiku Brian"ucap Siska memancing emosi Tia."Lagian aku sudah lama tidak di beri uang bulanan oleh Brian,jadi aku akan memintanya pada Brian saja"ucap Siska lagi.
"Astaga...Kau memang wanita tidak tahu diri"umpat Tia.
"Sialan kenapa sakit sekali mendengar nya menyebut suami pada suamiku"batin Tia.
"Kapan kau akan mendonorkan hatimu untuk Bela,disitu juga aku akan memberimu dua belas milyar"ucap Tia pada akhirnya.
Tanpa pikir panjang Siska pun menyetujuinya dengan senyum mengembang Siska mengulurkan tangan nya.
"Aku tunggu kabar darimu,semakin cepat semakin baik"ucap Siska namun Tia diam saja tidak menyambut uĺuran tangan Siska.Siska tersenyum sinis karena Tia tidak menyambut tangannya,Siska kembali duduk di kursinya sambil menatap Tia.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku tinggal di rumah ini juga"ucap Siska senang.
Duuuaaaarrrr.