
"Hubungi sebentar lagi,Brian lagi sibuk"ucap Tia yang melihat Brian sedang serius bicara dengan rekan kerja nya,dan memutuskan panggilan itu.
"Mak lampir?teman?kalau teman kenapa di buat mak lampir namanya"gumam Tia,meletakkan kembali ponsel Brian di tempat semula.Tia kembali duduk di samping kakek Brian,namun tiba tiba Tia terkejut karena kakek Brian terbangun dengan nafas yang tidak teratur,Tia langsung panik dan memanggil kakek Brian sambil terisak dan ketakutan.
"Kakek...Kenapa...Kakek...Kakek...Tenanglah...Aku akan panggilkan dokter"ucap Tia sembari menekan tombol untuk memanggil dokter.Brian yang mendengar suara Tia langsung berlari menghampiri kakek nya meninggalkan rapat nya dengan rekan kerja nya dengan laptop yang masih menyala,sehingga rekan kerja nya itu masih dapat mendengar teriakan Brian.
"Sayang...Kakek kenapa!Kakek....Kakek....Bertahan lah,dokter akan datang"ucap Brian panik.Beberapa saat kemudian dokter datang dengan tergesa gesa,Tia sudah berlari ke pintu agar membuka pintu itu lebih lebar.
"Dokter,kakek kenapa!Cepat periksa dokter"ucap Brian yang melihat kakek nya mulai pucat.Dokter itu memeriksa kakek Brian namun kakek Brian berusaha berbicara.
__ADS_1
"Briii....an"panggil kakek Brian dengan lemah.Brian pun mengemgam tangan kakek nya.
"Tia"panggil kakek Brian lagi,Tia yang ketakutan melihat situasi itu pun mendekat,Tia sudah menangis sejak tadi,dia hanya mematung di dekat pintu,pasalnya Tia belum pernah melihat orang kesakitan sampai susah bernafas.Tia pun berdiri bersama Brian lalu kakek Brian menyatukan tangan mereka.
"Jangan pernah berpisah,apa pun yang terjadi,tetap lah selalu bersama"ucap kakek Brian pelan membuat Tia semakin menangis.
"Berjanjilah nak"ucap kakek Brian. Brian dan Tia pun mengangguk bersamaan.kakek Brian pun melepas tangan nya dan menutup matanya.Melihat kakek nya lemas tak berdaya,sontak membuat Brian berteriak.
"Kakek....Kakek.....Kakek...Bangun....Bangun lah..Dokter cepat periksa kakek ku"ucap Brian menangis.Fokter itu pun langsung memeriksa kakek Brian namun sudah tiada.
__ADS_1
"Maaf,kakek anda sudah tiada"ucap dokter itu.Tia terdiam membisu terduduk lemas kedua kaki nya tak mampu menopang berat tubuh nya.Tia menangis terisak tanpa suara sambil menggemgam tangan kakek Brian.Begitu juga Brian langsung terduduk lemas tak berdaya,dia tau cepat atau lambat kakek nya akan pergi juga namun hati nya belum siap menerima kenyataan.
"Tolong hubungi pak Wanda Alexander,kami akan mempersiap kan segala nya agar kakek anda bisa di bawa pulang dengan ambulance"ucap dokter itu,membuat Brian teringat belum memberitahu keluarga nya.Brian lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi papa nya agar segera ke rumah sakit.
"Pa..Segera ke rumah sakit,kakek sudah tiada"ucap Brian.Wanda dan Widia beserta Roni dan Reno pun segera berangkat dari rumah menuju rumah sakit.Setelah memberitahu keluarga nya Brian pun menghampiri Tia istri nya yang masih menangis di samping jasad kakek Brian.Tia tidak beranjak dari samping jasad kakek Brian walaupun dokter sedang membuka beberapa alat rumah sakit yang melekat pada tubuh kakek Brian.
"Sayang"panggil Brian sambil memeluk istri nya itu dan Tia pun masuk dalam pelukan Brian sambil menangis.Brian tau istri nya itu menahan rasa takut nya sejak tadi.
"Sudah,tidak apa apa,kakek pergi dengan tenang,lihat lah dia pergi dengan tersenyum"ucap Brian mengusap kepala Tia dalam dekapan nya.
__ADS_1