Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Semakin hari semakin dekat


__ADS_3

Bel tanda jam kepulangan sekolah baru saja terdengar. Seperti murid-murid yang lainnya, Zahra segera mengenakan ranselnya dan bersiap keluar kelas bersama Lala, sang teman sebangku.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar kelas.


Saat mereka sudah di luar, tiba-tiba Lala menyikut lengan Zahra sembari menunjuk ke sisi dinding kelas menggunakan dagunya. Zahra paham dengan isyarat yang Lala berikan, sehingga diapun melihat pada arah yang dimaksudkan oleh Lala.


Ternyata disana sudah ada Ken yang berdiri bersandar sembari bersedekap santai. Ken seperti tengah menunggu seseorang, tapi kenapa harus didepan kelas Zahra?


"Aku duluan ya, Ra ..." kata Lala langsung undur diri karena melihat Ken yang sudah menyoroti mereka berdua dengan tatapan tajamnya itu. Dari sorot mata Ken, Lala paham jika Ken ingin menemui Zahra, sementara Zahra sendiri masih belum peka akan hal itu.


"E-eh, iya, La." Zahra tampak bingung, dia belum rela jika Lala pergi meninggalkannya begitu saja.


Zahra masih berdiri terdiam. Kenapa Ken ada didepan kelasnya sekarang? Padahal biasanya, ini tidak pernah terjadi.


Ken melangkah mendekat pada Zahra. "Udah?" tanyanya.


"Udah?" ulang Zahra tak paham.


"Udah bisa pulang belom?" tanya Ken sembari bersedekap lagi didepan Zahra.


"Pulang?" tanya Zahra dengan raut bingung.


"Iya, lo gak mau pulang? Atau lo mau jadi penjaga gedung sekolah?" Ken tersenyum smirk.


"I-iya, ini mau pulang." Zahra menggaruk sekilas pelipisnya sendiri karena masih heran dengan keadaan ini.


"Ayo ... buruan!" Ken menarik lengan Zahra menuju arah parkiran sekolah.


Zahra terperangah, apa sekarang Ken sedang mengajaknya pulang bersama? Begitu? Kenapa sinkronisasi otaknya semakin lambat saja sejak mengenal Ken?


"Lo lupa kalo hari ini jadwal bimbel gue?" tanya Ken sambil terus melangkah.


"Aku ingat, Ken. Tapi kita bisa lakukan bimbel di area sekolah ini ..."


"Bosen lah! Dari pagi gue udah disini, sekarang udah pulang lo masih mau disini juga?" Ken menyodorkan sebuah helm pada Zahra saat mereka sudah tiba di parkiran.


Zahra mengernyit heran, sebab sejak kapan Ken membawa helm cadangan seperti ini? Apa Ken benar-benar telah mempersiapkan 'kepulangan bersama' mereka, hari ini?


Tempo lalu, waktu Ken mengantarnya pulang untuk pertama kalinya ke panti, saat itu Ken hanya membawa satu helm saja, itupun untuk dikenakannya sendiri.


"Kamu bawa helm dua?" tanya Zahra dan Ken hanya tersenyum sekilas sambil mengangguk sekali.


Zahra mengenakan helmnya, lalu lelaki yang sudah menaiki motor besarnya itu ikut membantu memasangkan pengait helm di dekat dagu Zahra.


Ternyata Ken tidak secuek yang Zahra perkirakan selama ini.

__ADS_1


"Buruan naik! Jangan bengong!" Ken bicara sembari menstater motornya, membuat Zahra terkesiap sebab sempat terpana dengan kegiatan memasang helm barusan.


"I-iya ..." Zahra menaiki motor Ken dan ini untuk yang kedua kalinya Ken memboncengnya.


"Kita belajar dimana?" tanya Zahra setelah motor Ken mulai bergerak membelah jalanan.


"Makan dulu! Gue gak bisa belajar kalo masih laper," kata Ken enteng.


Zahra ingin protes, tapi Ken segera menarik gas dengan kencang, membuat Zahra refleks mencengkram ujung kemeja sekolah Ken dibagian pinggang lelaki itu.


Zahra tidak fokus lagi dengan keadaan karena sungguh merasa cemas akan posisinya yang sekarang berada dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi diatas motor yang dilajukan oleh Ken.


Sampai akhirnya motor Ken mulai terasa bergerak melambat, kemudian berhenti tepat disebuah warung yang cukup sederhana.


"Ayo turun, Hana ..." kata Ken.


Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya, sepertinya dia salah mendengar? Apa tidak salah dengar tadi Ken menyebut namanya?


Zahra pun turun dari motor Ken secara perlahan-lahan dengan sejenak menumpukan kedua tangannya di pundak lelaki itu.


"Makan disini?" tanya Zahra, cukup heran karena tempat makan pilihan Ken adalah warung yang sederhana.


"Iya, gak masalah kan buat lo?"


Zahra mengangguk dan mereka mulai melangkah masuk ke warung yang didominasi dengan tiang-tiang bambu itu.


Mereka tiba di sebuah meja yang ada disudut ruangan. Zahra masih memindai keadaan warung yang tampak ramai di jam yang masih bisa dikatakan jam makan siang.


Sampai seorang wanita paruh baya menghampiri meja mereka dan menyapa Ken dengan ramah.


"Ken ... udah lama gak kelihatan? Mau makan apa?" tanya wanita itu dengan senyum semringah pada Ken, seolah telah mengenal Ken sejak lama.


"Eh, Bude ... sehat de?" tanya Ken tersenyum.


"Sehat, Alhamdulillah ..." jawab wanita itu.


"Aku mau pesan kayak biasa, untuk dua orang," sambung Ken.


"Oke beres, ganteng!" sahut wanita itu kemudian melirik ke arah Zahra dengan senyuman ramah. Zahra pun membalas tersenyum pada wanita itu.


"Pacarmu ayu tenan, Ken!" ucap wanita itu sebelum benar-benar berlalu dari meja mereka, membuat wajah Zahra memerah karena malu. Lagi-lagi Zahra dan Ken disangka berpacaran oleh orang lain.


Dikelasnya juga Zahra sudah tertuduh berpacaran dengan Ken, sejak lelaki itu menyambangi kelasnya tempo hari, ditambah lagi Zahra memang mengikuti kemanapun langkah Ken saat berada disekolah.


Belum lagi anak-anak panti yang menggoda mereka dengan perkataan yang sama. Sepertinya godaan itu semakin lengkap hari ini.

__ADS_1


"Kamu ... sering kesini?" tanya Zahra ingin tahu.


Ken mengangguk sekilas. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka sampai wanita paruh baya yang tadi datang kembali untuk menyajikan makanan di meja mereka.


"Makan ... jangan bengong!" kata Ken yang mulai menyuap makanannya sendiri.


Zahra melihat makanan yang sudah ada diatas meja. Makanan itu ada sop sayur dan telur balado. Makanan sederhana tapi cukup menggugah selera makan Zahra yang memang sudah lapar di jam ini.


Mereka pun mulai makan dengan diam, Zahra merasa cocok dengan makanannya karena itu memang benar-benar enak dan pas dilidahnya.


"Aku gak nyangka kamu mau makan makanan seperti ini, ini makanan sederhana kayak di panti," celetuk Zahra.


Zahra mengingat sekilas saat Ken makan siang dipanti waktu itu, Ken melahapnya dengan antusias dan memuji masakan Bu Nurma dengan tulus. Zahra pikir, waktu itu adalah kali pertama Ken makan-makanan sederhana. Tapi, menelisik jika Ken sering makan di warung ini, itu berarti dia sering menyantap makanan sederhana seperti ini, kan?


"Gue suka makanan rumahan kayak gini, karena itu gak gue dapatin di rumah gue!" kata Ken sembari mengunyah.


"Aku pikir kamu doyannya makan daging atau makanan luar kayak steak atau roti-rotian," cibir Zahra sengaja sambil mengulum senyum.


Ken menghentikan makannya dan menatap Zahra dengan tajam.


"Gue cinta Indonesia, kalo gue sering makan roti, gue takut iris mata gue berubah jadi warna biru!" kata Ken datar, sementara Zahra terkekeh cukup kencang mendengar guyonan yang jarang sekali Ken ucapkan. Ralat, bukan jarang sekali, tapi tidak pernah sama sekali!


Bahkan saat Ken berseloroh seperti ini wajahnya tetap datar, seolah tidak mengucapkan kalimat lucu. Padahal itu cukup bisa membuat Zahra tertawa.


Zahra menghentikan tawanya, karena tak mendapat sahutan yang sama dari Ken.


"Yang aku lihat hari ini, kamu punya banyak temen di tempat ini. Tapi di sekolah kenapa gak ada temen?" tanya Zahra.


"Kan ada lo. Lo temen gue, kalo lo lupa..." kata Ken enteng.


"Iya, sih! Tapi tetap aja aneh..." sahut Zahra.


"Jangan dipikirin, abis ini kita bimbel, kan?" kata Ken.


"Bimbelnya dimana?" tanya Zahra.


"Di panti..." jawab Ken singkat.


"Tapi di panti banyak anak-anak lain, nanti kamu gak konsen belajar."


"Jadi lo mau kita belajar ditempat yang sepi gitu?" Sudut bibir Ken tertarik ke atas.


Zahra menggeleng keras. "Ya enggaklah!" sungutnya.


Tiba-tiba Ken tertawa. "Gue pikir lo mau berduaan doang!" cibirnya.

__ADS_1


Zahra terheran-heran melihat sikap Ken yang berubah-ubah dan sulit ditebak itu. Lagipula, maksud perkataan Zahra tidak begitu, dia hanya tak mau konsentrasi Ken terganggu karena anak-anak panti semakin sering menggoda mereka, walaupun Ken seperti bersikap datar-datar saja, tapi Zahra cukup malu dengan keadaan itu.


...Bersambung ......


__ADS_2