Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Bimbingan Belajar


__ADS_3

12 Tahun yang lalu


Seorang siswa lelaki dengan perawakan tinggi, memasuki ruang kelas Zahra di sekolah.


Beberapa teman lain memandang siswa lelaki itu dengan tatapan kagum namun juga terheran-heran, sebab mereka tak tahu apa keperluan siswa lelaki itu sampai menyambangi kelas mereka. Karena, siswa ini dari kelas yang lain dan tindakannya ini diluar kebiasaannya yang biasa.


Langkah siswa itu pun terhenti tepat didepan meja Zahra yang ada didepan, namun posisinya terletak di baris paling ujung ruangan.


Zahra yang menyadari ada seseorang tengah berdiri didepannya, langsung mengalihkan atensinya dari buku kimia yang tengah dia pelajari. Zahra mengadah dan mendapati siswa lelaki itu berdiri menatapinya.


Pandangan mereka pun bertemu satu sama lain, namun itu hanya terjadi beberapa detik sampai keduanya tersadar dengan situasi sekitar.


"Ada apa?" tanya Zahra cukup heran. Jelas saja, dia tak mengenali siswa ini. Zahra sibuk mencari uang dan belajar dengan giat, sehingga dia minim bersosialisasi, kawannya pun bisa dihitung dengan sebelah tangan.


"Lo yang namanya Zahra?" Siswa lelaki itu balik bertanya dan Zahra mengangguki.


"Ada apa?" tanya Zahra mengulangi pertanyaan yang sama.


"Bu Tania ada bilang sama lo tentang gue?" tanya siswa lelaki itu.


Zahra berpikir sejenak. Bu Tania-- sang kepala sekolah, memang sempat mengatakan ingin meminta bantuan Zahra agar bisa membantu mengajari seorang siswa, sebab siswa itu merupakan anak salah satu donatur sekolah-- yang menyokong dana besar untuk sekolah mereka. Dengan kata lain, Zahra yang pintar diminta membuat bimbingan belajar pribadi bersama dengan siswa itu, agar siswa itu bisa memperbaiki nilai-nilainya.


Sebagai murid yang menerima beasiswa dari pihak sekolah, Zahra tak bisa menolak permintaan Bu Tania itu, dia yang terpilih untuk mengajari siswa tersebut dan dia pun menyanggupinya saja.


Tapi, Zahra belum mengetahui siapa siswa yang dimaksud Bu Tania itu, karena beliau belum sempat mengatakan hal lebih lanjutnya kepada Zahra.


Dan kedatangan siswa lelaki dihadapannya, seperti jawaban tentang pertanyaan Zahra mengenai sosok siswa yang akan melakukan bimbel dengannya.


"Apa dia yang bakalan bimbel denganku?" batin Zahra.


"Kelamaan mikirnya!" kata siswa lelaki itu yang melihat Zahra hanya diam sedari tadi.


Zahra menunduk sembari memilinn ujung jilbabnya karena dia tak tahu harus mengatakan hal apa lagi pada siswa lelaki ini, karena bisa saja dugaannya salah, kan?


"Oke kalau memang Bu Tania belum ada bilang ke lo, biar gue yang bilang... Bu Tania nyuruh gue ikutin bimbel sama lo sepulang sekolah," ujar siswa yang Zahra pun tak mengetahui siapa namanya itu.


"Ya, soal itu ... aku memang sudah mendengarnya, tapi aku---"


"Gue gak mau ikutan bimbel itu!" potong siswa itu cepat.


Zahra menelan ludahnya dengan susah payah. Sebenarnya dia pun tak pernah ingin memaksakan orang untuk mengikuti bimbingan belajar bersamanya, hanya saja dia tak enak karena sudah mengiyakan permintaan sang kepala sekolah. Bu Tania juga memintanya dengan sangat-- agar bisa membujuk siswa itu untuk melakukan bimbingan belajar karena siswa ini sulit sekali ditaklukan.


"Kamu harus ikut bimbel itu, begitu kata Bu Tania ..." ucap Zahra dengan suara terendah.


"Gue gak peduli!" kata Siswa itu mengangkat bahu cuek dan ingin segera beranjak dari hadapan Zahra.


"Tunggu!" cegah Zahra.

__ADS_1


Siswa itu menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh dia kembali berkata-kata.


"Gue kesini cuma mau bilang hal itu sama lo! Jadi, jangan sia-siain energi lo untuk membujuk gue, karena itu gak akan berhasil!"


Zahra terdiam. Pupus sudah harapannya menyakinkan siswa itu untuk melakukan bimbel bersama. Kenapa Zahra harus jadi murid yang menerima beasiswa jika harus dimintai pertolongan yang berat seperti ini? Mengajari banyak anak-anak yang mempunyai minat belajar jauh lebih baik, ketimbang membujuk satu siswa yang sepertinya tak tertarik dalam pembelajaran.


Zahra memandangi punggung siswa itu yang sudah berjalan menjauh dan keluar dari ruangan kelasnya.


"Duh, aku harus bilang apa sama Bu Tania?" gerutu Zahra.


Tak berapa lama, kawan sebangku Zahra yang bernama Lala menghampiri dan duduk disebelah Zahra.


"Mau apa Ken nemuin kamu?" tanya Lala.


"Ken?" tanya Zahra mengernyit.


"iya, cowok yang tadi itu namanya Ken. Masa kamu gak tahu! Dia anak donatur terbesar di sekolah ini, tapi ya gitu ..."


"Ya gitu, gimana?" tanya Zahra.


"Ganteng tapi berandalan," bisik Lala ditelinga Zahra.


Zahra tak habis pikir, kesibukannya dalam pembelajaran dan mencari uang, menyebabkannya tak mengenali banyak teman di lingkungan sekolah. Baginya yang terpenting adalah bagaimana dia bisa menjadi yang terbaik lalu lulus dengan nilai yang memuaskann.


Beberapa hari berlalu sejak Ken mendatangi kelas Zahra. Zahra sudah mengatakan kepada Bu Tania tentang ketidaksetujuan Ken mengikuti bimbingan belajarnya. Bu Tania meyakinkan agar Zahra bisa membujuk Ken, karena jika Ken terus kehilangan minat belajar dan sampai tinggal kelas, maka sekolah mereka pun akan terkena imbasnya dengan hilangnya donatur tetap.


Zahra harus memutar otak, bagaimana caranya dia membujuk Ken yang sudah jelas menolak mentah-mentah perihal bimbingan belajar itu.


Zahra memberanikan diri untuk menghampiri Ken dan duduk didepannya.


"Boleh duduk disini, gak?" sapa Zahra tersenyum.


"Gak!" sahut Ken cepat.


"Tapi dimeja lain udah penuh..." kata Zahra masih dengan senyum yang sama, dia harus punya kesabaran ekstra untuk menghadapi siswa bernama Ken ini.


Ken berdecak, tapi tak mengusir Zahra yang sudah mulai melahap makanannya dengan cuek didepan Ken.


"Aku lihat kamu gak punya temen," kata Zahra memulai.


Mendengar itu, Ken mengalihkan atensinya dari layar ponsel demi menatap Zahra. Ucapan Zahra cukup menyinggungnya dan menyulut emosinya.


"Bukan urusan lo!" kata Ken mulai beranjak karena tak suka sikap Zahra yang sok kenal padanya.


"Aku mau kok jadi teman kamu!" kata Zahra pede.


Ken tersenyum meremehkan. "Gue gak butuh temen!" katanya sambil bergerak menjauh.

__ADS_1


Zahra menghela nafas panjang, mungkin membujuk Ken memang adalah ujian terbesarnya, melebihi mengerjakan soal-soal ulangan semester.


Hampir sebulan berlalu, Zahra terus mendekati Ken dengan niat membujuk Ken untuk belajar, tapi laki-laki itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Zahra mulai lelah dan ingin menyerah saja, dia berniat mengatakan hal ini pada Bu Tania dan meminta Bu Tania mencari siswa beasiswa lain yang mungkin bisa membujuk Ken.


Sepulang sekolah, Zahra ingin pulang seperti biasanya, dia biasa menaiki angkutan umum dan menunggu di pinggir jalan untuk menyetop transfortasi itu.


Namun, sebuah mobil yang cukup mewah justru menepi didekatnya. Dari dalamnya keluar seorang pria setengah baya yang masih tampak tampan dan gagah diusianya yang sangat matang.


"Kamu, Zahra?" tanya pria itu dengan suara baritonnya.


Zahra mengangguk namun dengan wajah bingung yang terpancar jelas.


"Perkenalkan, Saya Bagas. Ayahnya Ken."


Zahra terperangah dan dia segera menyambut uluran tangan pria itu dan menyalaminya dengan takzim.


"A-ada apa, Pak?" tanya Zahra gugup bercampur sungkan.


"Kita bicara di cafe itu saja, biar gak panas-panasan di sini. Bagaimana?" Bagas menunjuk sebuah Cafe yang terdekat, bahkan letaknya selurusan dengan tempat mereka berdiri, jadi tak perlu menyebrang jalan untuk menuju cafe itu.


Zahra mengangguk dan mulai berjalan pelan kearah cafe.


"Mau pesan apa, Nak?" tanya Bagas sopan, saat mereka sudah duduk di cafe itu.


"Apa saja, Pak."


Bagas tersenyum kecil. "Jangan panggil saya 'Pak', pangggil 'Om' saja. Kamu kan temannya Ken," ujarnya.


Zahra mengangguk, dia masih tak tahu apa alasan Bagas menemuinya secara khusus seperti ini.


Bagas memesankan jus buah dan camilan untuk mereka berdua karena Zahra menolak saat ditawari makan siang. Kemudian, Bagas pun mulai buka suara untuk berkata pada gadis kecil didepannya.


"Begini, Om sudah tahu jika kamu yang diminta Ibu Tania untuk mengajari Ken. Ken itu sebenarnya pintar, hanya dia keras kepala dan sulit diarahkan."


"Saya sudah menyerah membujuk Ken, Om!" aku Zahra langsung ke poinnya.


Bagas tersenyum kecil. "Om sangat amat minta tolong sama kamu secara pribadi ... Ken itu anak Om satu-satunya, kalau dia tidak naik kelas atau sampai tidak lulus sekolah lagi, Om akan sangat kecewa pada diri Om sendiri yang tidak bisa mendidik Ken dengan baik." lirihnya.


"Tidak lulus sekolah lagi?" tanya Zahra dengan mata membulat.


"Ya, Ken pernah gak lulus saat SMP, jadi Om takut dia mengulangi kesalahan yang sama saat SMA, makanya Om mohon bantuan kamu."


Zahra meremass tangannya dibawah meja, ucapan Bagas cukup membebaninya karena pria itu sampai memohon padanya seperti ini demi Ken.


"Baiklah Om, saya akan mencoba membujuk Ken lagi."


"Terima kasih, Nak. Apabila kamu berhasil membujuk Ken dan dia mau belajar sampai masa SMA ini selesai, sebagai gantinya nanti ... Om akan memberi beasiswa untuk kamu kuliah."

__ADS_1


Zahra tersenyum simpul dengan tawaran yang diberikan Bagas kepadanya, merasakan bangku kuliah memanglah sebuah impian baginya. Tapi membujuk Ken yang dingin serta keras kepala? Apa bisa?


...Next?...


__ADS_2