
Sepanjang perjalanan pulang, hanya diisi dengan senyap. Zahra lebih memilih memandang keluar jendela mobil tanpa melirik Ken sedikitpun.
Mereka bahkan tidak jadi ke supermarket karena Zahra langsung badmood dengan keadaan yang mendadak berubah. Padahal tadi mereka baik - baik saja sebelum bertemu dengan Jenar.
Sementara Ken, ia merasa harap - harap cemas dengan kemarahan sang istri setelah bertemu dengan Jenar secara tak sengaja tadi.
Ken sudah biasa bertemu dengan mantan teman kencannya saat ia sedang bersama wanita lainnya pula. Dan ia selalu tak mempedulikan itu, meski pertemuan tak sengaja itu sering berakhir dengan keributan kecil diantara para wanita - wanita itu.
Perlu digaris bawahi, disini bukan Ken yang ribut dengan pasangannya, melainkan kedua wanita yang tak sengaja bertemu itulah yang jadi ribut didepan Ken, sedangkan Ken? Tentu saja ia cuek, seperti biasanya.
Jika dulu Ken menganggap para wanita itu bukan siapa - siapanya, berbeda dengan sekarang. Karena kali ini Ken bertemu Jenar saat ia tengah bersama Zahra yang berstatus istrinya. Apalagi ia sangat menghargai perasaan Zahra.
Sekarang Zahra mendiamkannya. Apa kali ini ia dan Zahra yang akan ribut?
"Sayang..." Ken mencoba buka suara untuk meluluhkan hati istrinya.
"Hmmm..."
"Aku tahu kamu marah, tapi--"
"Udah... jelasinnya dirumah aja nanti!" potong Zahra cepat dan Ken hanya bisa menghela nafas dalam - dalam.
Setibanya dirumah, Zahra langsung masuk ke dalam rumah dan naik menuju kamar. Sementara Ken, ia masih sibuk mengeluarkan semua barang belanjaan mereka dari dalam bagasi mobil. Kemudian, Ken mulai menenteng semua barang dikiri-kanan tangannya.
Ken menyusul Zahra ke dalam kamar sembari meletakkan semua paperbag dimeja yang ada disana.
Tampaklah Zahra yang sedang membuka pashmina-nya didepan cermin.
"Sayang..."
"Nanti aja, aku mau shalat isya dulu.." ucap Zahra pelan sembari gegas menuju kamar mandi.
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, demi apapun ia tidak siap jika Zahra harus mendiamkannya karena masalah ini. Ia tahu ini adalah dampak dari masa lalunya yang bebas. Cepat atau lambat Zahra pasti tahu segalanya tentang dia. Namun, ia tak siap jika Zahra tak mau menerima masa lalunya itu.
Ken menoleh saat melihat Zahra keluar dari kamar mandi. Ken pun bangkit untuk menuju ke bilik itu, ia ingin ber-wudhu juga, sama seperti yang baru saja Zahra lakukan.
"Shalat isya' bareng ya..." celotehnya didepan Zahra. Zahra mengangguk patuh namun tetap saja Ken belum melihat ada senyuman yang terbit dari bibir istrinya sejak keluar dari Mal tadi.
Mereka melakukan shalat isya berjamaah, dan seperti yang sudah - sudah, seusai ibadah itu, Zahra menyalami tangan Ken dengan takzim.
Tanpa Ken sadari, Zahra sudah mengambil tangan pria itu untuk diletakkan diatas kepala Zahra.
"Ke-kenapa?" tanya Ken mendadak gugup karena kini tangannya menyentuh puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Usai shalat, pegang ubun - ubun dikepala istrimu... lalu usahakan untuk mendoakan yang baik- baik." Zahra pun tersenyum lembut.
Ya Allah, istriku... batin Ken merasa nelangsa melihat senyuman sang istri yang sangat tulus.
"Ya Allah, ini adalah istriku. Tolong jagakan dia disaat aku tidak disampingnya, lindungi dia saat aku lalai dalam menjaganya. Hindarkan dia dari segala mara bahaya. Jauhkan yang buruk dan datangkan yang baik untuknya serta keluarga kecil kami."
Ken merasa terharu dengan ucapannya sendiri, ia tak menyangka bisa merangkai doa seperti itu khusus untuk istrinya tercinta.
Ken menatap Zahra yang tampak berbinar dengan mata berkaca - kaca dihadapannya. Apa doanya membuat Zahra ikut terharu juga?
Dalam hati, Ken pun melanjutkan doanya.
"Ya Allah, semoga kami bisa melewati apapun masalah yang mulai menerpa rumah tangga kami. Jagalah perasaan istriku, jangan biarkan dia pergi dari sisiku. Aku sangat mencintai dia... Aamiin."
Usai berdoa dalam hati, Ken menangkup wajah Zahra dan mengecup dahi istrinya dengan rasa penuh kasih.
"Maafin aku, Sayang..." ucap Ken tulus.
Zahra menitikkan airmata, namun buru- buru menyekanya sebelum Ken menyadari hal itu. Ia menangis karena merasa terharu atas doa dan tindakan Ken pada dirinya. Betapa keadaan ini membuatnya semakin dalam mencintai pria itu.
Tapi, Zahra belum bisa melupakan kejadian saat di Mal tadi. Perempuan itu sangat cantik dan ia sebagai sesama perempuan cukup merasa rendah diri jika dibandingkan dengan sosok seperti Jenar yang memiliki perawakan blasteran.
"Kamu... udah bisa jelasin siapa Jenar?" tanya Zahra dengan suara tercekat.
"Dia... wanita yang ada dimasa lalu aku!" jawab Ken pelan.
"Apa yang menyebabkan kalian putus?"
"Apa aku perlu menjawab hal itu?" tanya Ken.
"Perlu..." jawab Zahra singkat.
"Aku tidak mencintainya dan kami berpisah." Ken sebenarnya menjawab jujur namun Zahra menatapnya seakan tak percaya.
"Mana mungkin..." gumam Zahra pelan.
"Apanya yang mana mungkin?"
"Kamu... gak mencintai gadis itu? Sepertinya mustahil. Jika kalian pernah menjalin hubungan special, setidaknya pasti karena ada rasa tertarik satu sama lain."
"Rasa tertarik tentu ada, aku akui itu karena aku gak mau munafik! Tapi, untuk lebih daripada itu, atau bermain rasa dengan perempuan lain... itu bukan aku!" tutur Ken.
"Kenapa begitu?" tanya Zahra heran.
__ADS_1
"Ya karena aku sudah mencintai gadis lain sejak lama. Dan kamu tahu gadis itu siapa kan? Itu kamu!"
"Tapi Ken... dia terlihat cocok mendampingi kamu."
Ken berdecak lidah. "Cocok atau tidaknya itu gak perlu dibahas, Sayang. Aku justru ngerasa kita berdua yang lebih cocok. Udah kan? Aku rasa perkara ini selesai sampai disini. Kalau kamu marah, aku minta maaf... aku juga gak nyangka ketemu dia disana tadi."
Zahra mengangguk pelan. "Baiklah, kita anggap masalah ini selesai. Aku gak akan membahasnya lagi. Tapi kamu beneran udah selesai sama dia kan?"
Ken tersenyum kecil. "Tentu saja! Tapi... kamu cemburu, ya?" tanyanya.
"Ya aku istri kamu kan sekarang. Apa salah kalau aku cemburu?" tanya Zahra balik.
Ken menggeleng. "Kamu cemburu karena cinta sama aku kan? Ayo bilang cinta sama aku!" ucapnya senang.
"Aku cemburu karena kamu suami aku."
"Ya itu juga, tapi yang paling tepat adalah karena kamu cinta aku. Coba bilang sekarang..."
Zahra memutar bola matanya. "Gak segampang itu! Kamu tunggu aja kalimat itu keluar kapan-kapan!" ucapnya cuek.
Ken terkekeh, kemudian merangkul bahu istrinya. "Kapan - kapan itu kapan?" tanyanya mendekatkan wajah.
"Tau ah! Tunggu aku khilaf kali..." Zahra terkikik dan Ken menjadi gemas dengan suara tawa Zahra yang seolah meledeknya itu.
"Sebelum kamu khilaf, aku mau khilaf duluan... tapi khilafnya beda!" bisik Ken membuat Zahra merinding seketika.
"Seharian ini aku capek. Aku mau tidur, boleh?" Zahra balas berbisik ditelinga Ken.
"Oh, sudah berani rupanya istriku ini, ya...." Ken pun menggelitiki perut Zahra sampai Zahra memohon padanya untuk menghentikan hal itu.
"Hentikan Ken!" ucap Zahra sambil menahan tangan Ken yang menggelitikinya. Zahra mencoba memelototi suaminya itu namun Ken tetap melanjutkan aksi dan tak menggubris protes sang istri.
"Ken, please!" Zahra terkikik-kikik sebab ulah sang suami.
Seketika Ken menghentikan hal itu, ia menatap Zahra dengan lekat.
"Jangan mendiamkan aku lagi, aku gak bisa. Aku gak mau kamu bersikap dingin sama aku. Aku mau kamu perhatiin terus. Aku mau denger omelan kamu tiap hari, walaupun itu bakal buat aku pusing... tapi itu lebih baik ketimbang kamu mendiamkan aku. Bisa?"
Zahra mengangguk dan Ken mengecup pipi kiri dan kanan milik istrinya.
"Tidurlah, aku tahu kamu lelah. Aku akan tidur setelah memastikan kamu sudah nyenyak," ucap Ken dengan lembut.
******
__ADS_1