Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mengajak berlibur


__ADS_3

Ken kembali ke rumah, dan melihat istri tercintanya sedang membuat sajian makan malam dibantu oleh Mbak Ira dan Devia yang masih menetap dirumah mereka sejak Zahra sakit.


Kedatangan Ken, mengalihkan atensi ketiganya, Devia yang lebih dulu menyapa puteranya itu.


"Bagaimana, Ken? Sidangnya sudah usai?"


"Udah, Ma."


"Berapa tahun vonisnya?"


"5 tahun," jawab Ken apa adanya.


Devia mengangguk samar walau ia kurang puas dengan masa tahanan yang akan dijalani oleh Frans.


Ken melirik kearah dimana istrinya nampak tercenung, mungkin Zahra memikirkan juga tentang hukuman yang kini didapatkan oleh Frans.


Ken memeluk mesra tubuh Zahra, tidak memedulikan adanya ART dan sang Ibu yang masih berada disana.


Jika dulu Zahra akan protes dengan perlakuan Ken ini, sekarang tidak lagi karena Zahra memang lebih banyak diam sejak insiden yang dilakukan oleh Frans kepadanya.


"Sayang, aku mau bicara," bisik Ken ditelinga Zahra.


"Soal apa?" kata Zahra pelan.


"Kita bicara dikamar aja ya," Ken mengelus peeut Zahra dari posisinya yang mendekap tubuh sang istri dari belakang.


Zahra mengiyakan dan Ken memberi kode pada sang Mama untuk permisi ke kamarnya, Devia mengangguk samar untuk menanggapi isyarat yang Ken berikan.


"Mau bicara apa, Ken?"


"Aku cuma mau tanya, apa yang kamu pikirkan sekarang, hmm?" Ken membuka jaketnya dan meletakkannya asal didekat nakas.


"Enggak ada," ucap Zahra singkat.


"Jangan memmendam apapun, usahakan keluarkan segala yang mengganjal dihati kamu. Ada aku yang akan selalu siap mendengarkan kamu." Ken mengelus pipi Zahra dengan punggung tangannya.


"Apa--apa ... F-Frans sudah mendapatkan hukuman yang setimpal?" tanya Zahra yang dimulai dengan ucapan ragu.


"Kalau boleh jujur sebenernya itu gak setimpal, sih! Tapi semua udah ada peraturannya dan dia cuma di vonis 5 tahun penjara."


"Hmmm..." Zahra berdehem pelan.


"Apa kamu merasa hukuman itu terlalu ringan? Aku bisa menghukumnya lebih dari ini sampai kamu gak perlu melihat wajahnya lagi sampai kapanpun."


Zahra menggeleng. "Semua ini udah cukup, kita doakan semoga setelah keluar nanti Frans bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini dan dia bisa jadi lebih baik lagi."


"Aamiin.... kamu memang luar biasa, Sayang. Kamu bisa lebih ikhlas padahal aku aja enggak bisa seikhlas itu apalagi sampe doain dia segala, itu hal termustahil?!" ucap Ken jujur.

__ADS_1


Zahra tersenyum simpul. "Allah aja maha memaafkan, kita juga harus bisa memaafkan dong!" katanya.


Ken tertawa pelan. "Udah aku duga pasti berujung dengan kalimat itu," ujarnya masih dengan tawa kecil.


"Tadi kamu bilang mau ngomong, sebenernya bukan soal apa yang aku pikirin, kan?" tanya Zahra.


Ken mengangguk. "Gini, Sayang. Sejak kita menikah kan kita belum pernah honeymoon. Nah, sekarang semua masalah kita udah selesai... jadi aku mau ajak kamu jalan-jalan, berhubung kamu udah mengandung jadi anggap aja ini momen babymoon!" jelas Ken.


"Semua masalah kita udah selesai? Yakin kamu?" tanya Zahra memastikan.


"Yakin, dong!" jawab Ken cepat.


"Gimana dengan masalah kamu sama wanita itu?"


"Jenar?"


Zahra mengangguk mengiyakan.


"Udah kelar juga dan itu beneran bukan anak aku. Anak aku cuma yang ini." Ken mengelus perut Zahra yang mulai terasa membuncit meski belum terlihat secara signifikan.


"Dari mana kamu bisa menyimpulkan hal itu? Kamu yakin? Udah ketemu buktinya?"


"Udah sayang." Ken menunjukkan ponselnya pada Zahra. "Bukan cuma ini tapi di Flashdisk juga ada buktinya, aku juga udah tahu siapa ayah biologis dari anak yang dikandung Jenar."


"Siapa?"


Zahra melongo, kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Kenapa? Kamu kaget? Aku gak kaget lagi karena aku udah duga semuanya dari awal. Mereka sekongkol buat rusak hubungan rumah tangga kita dan mereka gak akan berhasil karena sampai kapanpun aku gak akan lepasin kamu."


"Tapi, Ken. Kamu tahu darimana soal ini?"


"Dari Jenar, dia sendiri yang ngaku ke aku. Kalau kamu gak percaya kamu denger aja rekamannya yang ada di ponsel aku."


Zahra tidak mau mendengar hal yang akan membuatnya sakit hati. Meskipun dalam rekaman itu Jenar mengakui anak yang dikandungnya adalah anak Frans bukan anak Ken, namun tetap saja Zahra tak bisa menampik tentang hubungan spesial antara Ken dengan wanita itu dimasa lalu. Walau bagaimanapun, tetaplah ia merasa sakit mengingat hal itu. Bukan ia berlebihan, tapi setiap wanita pasti akan merasakannya jika berada di posisi yang sama dengannya.


"Aku gak mau mendengarnya, aku udah percaya sama kamu, kok!"


"Yakin?"


Zahra mengangguk.


"Hmm, kalau gitu kamu pilih deh mau babymoon kemana dan menetap berapa lama disana."


"Menetap? Bukannya cuma jalan-jalan, ya?"


"Iya, gak apa-apa kita menetap dulu ditempat lain untuk sementara. Sampai bayi kita lahir atau sampai dia sekolah juga gak apa-apa!"

__ADS_1


"Terus toko roti aku bagaimana? Udah selesai renov juga kan di akhir bulan kemarin?"


"Cita - cita kamu soal toko roti itu memang penting, tapi kesehatan kamu jauh lebih penting. Aku mau kamu bahagia dan rileks dulu sekarang. Urusan usaha itu belakangan, masih ada aku yang bisa menghandle semua kebutuhan kamu lahir dan batin."


Zahra tersenyum mendengar penuturan Ken itu.


"Aku sekarang udah merasa lebih tenang, Ken."


"Baguslah," ucap Ken sembari mengecup puncak kepala sang istri. "Kasi tahu aku kamu mau kemana biar kita pesan tiketnya segera, oke?"


Zahra mengangguk didalam dekapan Ken.


******


"Bocil.... lo cari calon yang lain deh jangan gue!" kata Rasta menolak.


Cira mencebikkan bibirnya. "Kenapa, Om? Om udah mapan, cukup umur juga! Aku gak bakal kelaparan kalo jadi istri, Om!" ucap Cira bersikukuh.


"Lo pikir pernikahan itu permainan? Lo pikir cuma ijab qabul abis itu selesai, gitu? Terus lo pikir nikah itu cuma mikirin soal kelaparan atau enggaknya! Gak semudah itu, Ferguso!" kata Rasta menempeleng jidat Cira yang isinya hanya jalan pintas saja tanpa memikirkan efek jangka panjangnya.


"Ya, namanya juga usaha, Om!" kata Cira manyun.


"Usaha apaan kayak gitu? Gue kalo mau cari calon istri juga milih-milih kali, minimal yang berpengalaman di ran jang!" kata Rasta to teh point.


"Ih om om emang pikirannya me s um melulu! Aku emang gak berpengalaman, tapi minimal aku udah pernah nonton yang begituan secara live... om aja gak pernah kan?" cibir Cira.


"Ya emang gak pernah sih! Makanya jangan nyari kandidat yang om om dong, kalo gak mau di me sumin!" kata Rasta terkekeh.


"Tuh kan! Om ngaku juga kalo om itu om om!"


"Ya gimana, bentar lagi Hana juga bakal punya anak dan gue bakal jadi Om juga pada akhirnya," ucap Rasta tersenyum miring.


"Makanya itu, Om! Kak Hana aja udah mau punya anak, Om nikah aja belom, apa gak malu sama umur? Udah ada calon yang jelas didepan mata ini, Om! Kenapa gak dimanfaatkan aja!" ucap Cira tak putus arang membujuk Rasta.


"Sekarang gini yah, Cil... nikah itu minimal nih ya... minimal, punya cinta! Gue gak cinta lo dan lo gak cinta gue, mana bisa, Bocil!"


"Bisa dong! Cuma nikah doang, kalau nanti aku udah terlepas dari orangtua angkat yang gila itu, om boleh kok melepaskan aku!"


Rasta menghela nafas panjang mendengar celotehan Cira yang absurd.


"Emang lo mau jadi janda di umur belasan tahun?"


"Ya enggak, tapi minimal aku bisa lepas dulu dari problem ini. Urusan janda atau enggak itu belakangan deh... aku kan cantik, ntar bisa dapet yang lebih dari Om pastinya!"


"Pede gila lo!" Rasta tertawa sampai memegangi perutnya sendiri, ia merasa lucu dengan ucapan Cira yang terkesan polos dan tidak memikirkan suatu keputusan secara matang-matang.


******

__ADS_1


__ADS_2