Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Ikrar


__ADS_3

Entah kenapa Jenar menangis haru setelah Frans mengucapkan ikrar suci pernikahan mereka, walau pernikahan ini berlangsung disebuah bilik dalam lapas dan dijaga ketat oleh beberapa petugas kepolisian dikarenakan keadaan Frans yang seorang tahanan, tapi itu tidak mengurangi kesakralan pernikahan mereka.


"Terima kasih sudah mau bertanggung jawab padaku, Frans!" lirih Jenar dengan wajah sendunya. Semua orang yang hadir dalam pernikahan sederhana mereka baru saja kembali ke peraduan masing-masing, termasuk Irene dan Bagas.


"Hmm, kau tidak bahagia? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Frans menyelidik ke arah wajah Jenar yang sudah berstatus sebagai istrinya.


"Aku bahagia karena aku tidak usah lagi mengkhawatirkan tentang nama siapa yang harus ku buat diatas akte kelahiran anakku kelak," papar Jenar.


Frans tersenyum tipis. "Hanya itu yang kau pikirkan?" tanyanya tak habis pikir.


Jenar mengangguk samar.


"Aku justru memikirkan hal lain," ucap Frans.


"Apa?"


"Bagaimana caraku melewati hari sebagai suamimu, tapi aku masih berada disini untuk menjalani masa hukuman."


"Maksudmu?"


"Statusku sudah berganti menjadi suamimu sekarang, tapi aku tidak bisa melindungimu dan bayi kita di luaran sana, maafkan aku untuk hal itu."


Jenar tercenung mendengar ucapan Frans, benarkah Frans berniat melindunginya dan bayi mereka, jika keadaannya tidak mengharuskannya berada dibalik jeruji besi seperti saat ini? Kenapa sekarang ia makin merasa terharu dengan ucapan yang Frans utarakan.


"Maukah kamu menunggu hingga aku benar-benar keluar dari sini?"


"Me-menunggu?" Jenar tercekat.


"Hmm, selama didalam sini aku merenungkan kesalahanku. Aku juga akan belajar membuka hati untuk kamu dan saat keluar nanti aku berharap kita masih bersama karena aku menginginkan tanggung jawab itu."


"Tanggung jawab apa?"


"Tanggung jawab sebagai suamimu dan sebagai ayah dari anak kita. Kalau aku sudah keluar dari sini, ku harap kita bisa memulai semuanya, mulai dari awal yang lebih baik." Frans mengelus perut Jenar yang sudah nampak membuncit, saat itu juga wanita itu menitikkan airmatanya.


Jenar tidak menyangka bahwa Frans akan membuka hati untuknya, ingin benar-benar mengemban tanggung jawab sebagai seorang lelaki sejati. Ingin memulai semuanya dari awal, padahal Jenar hanya mengharap pertanggungjawaban Frans diatas kertas saja, sejauh yang ia pikirkan, agar kelak anaknya memiliki silsilah orangtua yang lengkap dengan terteranya nama Frans diatas akte lahir anaknya nanti.


"Aku... aku akan menunggu kamu, Frans. Selama kamu disini aku akan berusaha menjaga harga diriku karena kita sudah menikah dan statusku sekarang adalah istrimu. Aku akan berusaha menjadi lebih baik," ucap Jenar.

__ADS_1


Frans mendekat pada Jenar dan mengecup dahi wanita itu hingga Jenar benar-benar speechless dan tidak bisa berkata apapun, semua ini diluar ekspektasinya.


"Bukalah hatimu untukku juga, kita akan memulai semuanya dari awal. Lupakan masa lalu kita yang menyakitkan." Frans mengelus pipi mulus Jenar yang lagi-lagi hanya bisa mengangguk dalam kegugupan.


____


"Cira!!!!"


Cira menoleh dan melihat seorang pria dengan tampang berkharisma berkecak pinggang-- tak jauh dari hadapannya. Cira mundur beberapa langkah ke belakang dengan wajah pias. Ia menggeleng keras, berharap ini hanya mimpi saja namun kakinya menubruk sebuah dinding dan menyadarkannya bahwa ini semua adalah kenyataan.


Pria yang tak lagi muda itu mengejar Cira yang sudah berlari gelagapan menuju ke arah berlawanan dari area sekolah, sayangnya Cira memilih jalan yang salah, ia malah masuk ke dalam semak yang menghubungkan kedalam hutan yang terletak tak jauh dari sekolahnya.


Hutan itu bukanlah hutan belantara yang menyeramkan, namun disana tentu tidak ada siapapun untuk Cira mintai pertolongan.


Cira berlari sejauh mungkin, berharap pelariannya tidak dikejar oleh ayah angkatnya lagi namun ternyata ia salah, pria itu terus berlari mengejarnya seolah tidak kehabisan tenaga--mungkin karena sang ayah angkat sering melakukan olahraga sehingga mengejar gadis kecil seperti Cira bukanlah hal yang terlalu sulit baginya. Ia bahkan bisa mengimbangi kecepatan Cira dalam berlari.


"Mau kemana lagi kau, hah?" tanya pria itu dengan tampangnya yang bengis, disaat seperti ini auranya yang berkharisma diawal langsung hilang berganti menjadi aura hitam yang menyeramkan.


"Tolong... jangan ganggu aku lagi," kata Cira yang sesekali menoleh ke arah belakang. Ia tidak bisa kemana-mana lagi karena ia terjebak dalam tempat yang salah. Dibelakangnya adalah tanah terjal yang pasti mengarah ke sungai sebab suara air sudah mulai terdengar diindera pendengaran Cira.


"Aku tidak mau ada kekerasan, Cira! Pulanglah selagi aku masih berbaik hati!"


_____


"Rendy.... Cira, Ren!"


Rendy mengernyit melihat Alina yang berlari-lari kearah parkiran tempat ia memrkirkan motornya di sekolah.


"Kenapa? Cira kenapa?" Rendy panik.


"Gue lihat dia lari-lari ke arah hutan. Dikejar sama bapak-bapak!" terang Alina.


Rendy langsung menstater motornya.


"Gue ikut, Ren!" kata Alina segera naik ke boncengan motor Rendy tanpa menunggu perstujuan cowok itu.


Motor yang dikendarai Rendy pun masuk kedalam hutan yang tadi Cira tuju, sayangnya begitu mereka tiba disana mereka tidak menemukan Cira, hanya menemukan seorang pria baya yanh diyakini Alina sebagai pria yang tadi mengejar Cira hingga Cira nekat masuk kedalam hutan ini.

__ADS_1


"Manaa Cira?" tanya Rendy dingin pada sosok pria itu.


Pria itu tidak menjawab, ia hanya memberi gelengan kecil dengan wajah suramnya kemudian berjalan menuju arah sekolah dimana mobilnya berada.


Alina dan Rendy membeku dengan wajah pias. Apa maksud gelengan lemah pria baya itu.


Tanpa meminta penjelasan, Rendy segera membawa motornya semakin masuk ke dalam hutan dan disana mereka tetap tak menemukan siapapun.


"Lo punya nomor telepon Om nya Cira?" tanya Rendy pada Alina.


"Om nya Cira?"


"Iya, yang biasa sering jemputin Cira ke sekolah!"


"Itu bukan Om nya Cira, Ren! Itu calon suaminya Cira!"


"Apa?" Rendy terkejut bukan main.


"Iya, itu yang Cira ceritain ke gue!" pungkas Alina.


Rendy terdiam beberapa saat, kemudian dia berkata. "Kalo lo punya nomornya, telepon dia! Kasi tahu semua kejadian hari ini!"


Alina menggeleng. "Enggak punya, tapi..."


_____


Devia sedang menyiapkan menu makan siang bersamaa Bi Irah saat ponselnya terdengar berdering.


"Hallo?"


"Hallo, apa ini mamanya Cira?"


"Ya, siapa ini? Ada apa dengan Cira?" tanya Devia dengan perasaan kalut, sebab si penelepon terdengar ngos-ngosan saat menghubunginya.


"Tante... Cira jatuh ke sungai!" pekik Alina dari seberang sana.


Devia tertegun beberapa saat kemudian ia syok mendengar kabar ini.

__ADS_1


"Kami sudah menghubungi pihak sekolah dan sekarang sedang dalam pencarian untuk menemukan keberadaan Cira dengan menyusuri sungai."


*****


__ADS_2