
"Han, sekarang aku tanya sama kamu... Jika kamu disuruh memilih, kamu memilih aku atau Ken?" Rasta mengendikkan dagu demi menunjuk Ken yang duduk didepannya.
"Lo gila, Men!" Ken mendengkus keras saat mendengar penuturan kawan karibnya itu. Bahkan Rasta sudah memanggil Zahra dengan panggilan 'Aku-kamu' membuat Ken mengumpat dalam hati saja.
"Kak..." lirih Zahra menatap nanar pada manik mata Rasta.
Mendengar dan melihat itu, Ken semakin tersulut emosinya.
Bagaimana mungkin Hana sudah memanggil Rasta dengan sebutan 'Kakak' dan itu terdengar mesra! Sia lan! Sejak kapan mereka akrab? - batin Ken sangat marah.
Ken tidak bisa menutupi kecemburuannya kali ini, sepersekian detik berikutnya ia ingin meninju wajah Rasta yang seolah memberinya senyuman penuh cibiran.
"Bang-sat lo, Cukk! Lo pikir gue gak berani mukul lo?" kata Ken dengan tangan yang sudah terkepal di depan wajah sang kawan karib.
"Yaudah, pukul coba!" Rasta berdiri juga dari duduknya. "Lo pilih deh ... mau mukul yang kiri apa yang kanan," tantangnya sembari menyodorkan wajah pada pria gondrong didepannya.
"Kak... udah! Jangan diteruskan hal seperti ini, kita pulang saja!" Zahra ikut bangkit untuk menenangkan sang Kakak, namun Ken semakin marah sebab Zahra menyentuh tangan Rasta bahkan menariknya demi mengajak pria itu pulang.
"Han... kamu memilih dia ... daripada aku?" Kini Ken menatap Zahra, melupakan niatnya yang hendak menghadiahi Rasta dengan tinjuan.
"Gak ada yang perlu dipilih disini! Kalian kayak anak kecil tau gak!" Zahra melepaskan tautan tangannya di lengan Rasta, kemudian berlalu pergi ke arah pintu keluar cafe.
Ken terdiam menatapi sosok Zahra yang mulai menjauh.
"Lo mau ngejar dia atau mau lanjut nonjok wajah gue?" Suara Rasta menyadarkan Ken dari sikap diamnya yang sempat mematung.
Bugh!!
Akhirnya Ken meninju bahu Rasta sekilas, sampai Rasta terkekeh pelan.
"Urusan kita belum kelar! Lo hutang penjelasan sama gue!" Setelah mengatakan itu, kemudian Ken langsung berlari keluar cafe demi mengejar Zahra.
Rasta hanya menggeleng samar sembari tersenyum tipis.
"Salah lo sendiri gak mau jujur tentang perasaan lo, Cukk!" gumam Rasta sembari memanggil pelayan cafe dan meminta bill untuk menyelesaikan pembayaran pesanan makanannya.
-
-
-
"Han!" seru Ken saat melihat sosok Zahra sudah ingin menyetop laju taxi dipinggir jalan.
Zahra tak mengindahkan panggilan Ken, ia menunggu Taxi yang mulai menepi didepannya.
Ken bergerak cepat, menaiki taxi tepat saat Zahra sudah akan menutup pintunya.
"Kebiasaan!" gumam Zahra, Ken selalu seperti ini, menyerobot masuk kedalam taxi yang ia tumpangi.
"Jalan, Pak!" kata Ken santai pada sang sopir.
Taxi itupun mulai melaju pelan.
Hanya ada keheningan diantara mereka berdua, sampai suara sopir memecahkan senyap yang tercipta.
"Ini tujuannya kemana ya, Neng?" tanya sopir itu.
__ADS_1
"Taman kota." Ken yang menyahut, sedang Zahra diam saja.
Setengah perjalanan yang masih diisi keheningan, Ken sudah tak tahan ingin bertanya pada Zahra tentang apa yang terjadi.
"Kamu ... sejak kapan mengenal Rasta?" tanyanya.
"Maksud kamu Kak Dirga?" Zahra justru balik bertanya pada Ken.
"Kamu mengenalnya dengan nama Dirga?"
"Hmm..."
"Jarang sekali Rasta mengenalkan diri sebagai Dirga," gumam Ken pelan.
"Jadi tadi kamu nonjok wajah Kak Dirga?" tanya Zahra.
"Enggak jadi," jawab Ken cepat.
"Terus... sejak kapan kamu kenal sama Rasta?"
"Baru kemarin," jawab Zahra pelan.
"Baru kemarin tapi sudah seakrab itu?" tanya Ken dengan suara pelan. Mungkin bisa dibilang dia bukan bertanya, lebih tepatnya menggerutu.
"Kenapa?"
"Nggak apa - apa, kalian akrab sekali padahal kamu gak pernah begitu sama aku. Emm... pernah sih tapi udah lama banget waktu kita masih SMA!" kata Ken tersenyum tipis.
"Apa salah akrab dengan Kakak sendiri?"
"Kak Dirga itu Kakakku..." terang Zahra sembari menatap pemandangan diluar jendela taxi.
"Jadi ... Hana, apa kamu Zeevana?" tanya Ken yang sudah memahami keadaan.
"Iya, aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu.."
"Ahhh..." Ken memijat pelipisnya sendiri. Tak terbayang jika tadi ia benar - benar menonjok wajah Rasta dengan penuh emosi.
Jika itu sampai terjadi, Ken tidak mau disalahkan. Salah Rasta sendiri yang memancingnya. Mana Ken tahu jika dia dan Zahra kakak beradik.
Tak lama, Taxi yang mereka tumpangi berhenti ditaman kota. Ken mengajak Zahra turun dan mereka berjalan pelan menyusuri paving blok taman yang mengarahkan mereka pada kursi besi yang ada disisi - sisi taman.
"Duduk disini saja, ya..." kata Ken.
Zahra sebenarnya masih berat menerima dan memaafkan kesalahan Ken, tapi entah kenapa dengan bodohnya dia menuruti saja kemauan Ken. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, ia tak bisa menyanggah ucapan pemuda itu dan duduk seperti yang diminta Ken padanya.
Ken berdehem sebelum kembali buka suara.
"Gimana ya kalau tadi aku beneran nonjok wajah Rasta?" celetuk Ken tiba - tiba.
"Ya, paling kalian gak jadi teman lagi," jawab Zahra cuek.
Ken tertawa pelan. "Aku gak khawatir soal itu! Kita udah biasa tinju - tinjuan sebenarnya. Kadang kita salah paham atau saling ngerjain satu sama - lain, kita biasa bikin wajah babak belur!"
"Terus? Apa yang kamu khawatirkan?"
"Aku khawatir dia gak mau ngerestuin hubungan kita, gimana pun dia bakal jadi kakak iparku nanti!" ucap Ken dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Hubungan kita? Hubungan apa maksud kamu?" Zahra menggeleng pelan sembari mengulum senyum mendengar ucapan Ken yang terlalu pede.
"Han, aku mau kita menikah! Apa kamu lupa dengan hal itu?"
Zahra mengendikkan bahu cuek.
"Berhubung aku udah tahu jika Rasta adalah kakak kandung kamu, aku akan meminang kamu secara baik - baik padanya nanti."
"Ken, jangan gegabah! Kamu memang punya salah sama aku, tapi kamu gak perlu bertanggung jawab jika akhirnya kamu terpaksa melakukan semua itu!"
Ken menggeleng. "Aku gak terpaksa, Han!" ucapnya.
"Sudahlah, Ken... gak ada hubungan apapun diantara kita kan?"
Secara tiba - tiba, Ken berlutut dihadapan Zahra, membuat Zahra terkejut bukan main.
"Ken, kamu jangan seperti ini..."
"Maafin aku, Han... jangan biarkan aku hidup dengan rasa bersalah seperti ini. Tolong terima lamaran aku, aku rela mengemis sama kamu asal kamu mau menjawabku dengan satu kata 'iya', hmm?" Ken memandang Zahra dengan tatapan penuh harap.
"Ken, malu dilihat orang!" ucap Zahra pelan sembari memperhatikan sekeliling mereka yang memang mulai memandang kearah mereka sekarang.
"Aku gak peduli..." Ken masih dengan sikap berlututnya, menunduk, berharap saat ia mengadah nanti Zahra sudah memberinya jawaban yang sesuai dengan keinginannya.
"Kasi aku satu alasan yang membuat aku harus menerima kamu!" kata Zahra akhirnya.
Ken terdiam, ia menimbang - nimbang jawaban apa yang harus ia berikan atas ucapan Zahra itu.
"Aku ingin bertanggung jawab!" kata Ken akhirnya.
"Hanya itu?" Zahra berkata sembari menahan rasa kecewa dihatinya.
Ken mengangguk lemah.
"Kak Dirga mengatakan jika kita harus menikah, karena kalau tidak, dia takut melihat kamu jadi orang gila."
"Ya itu benar, aku bisa gila jika kamu menolakku lagi."
Zahra tersenyum kecut. "Berarti, alasan aku harus menerima kamu hanya karena gak mau kamu jadi gila, begitu?"
"Enggak juga," kata Ken pelan.
"Lalu, apa alasan lainnya?"
"Karena ... kamu mencintai aku!" jawab Ken.
"Hah, percaya diri sekali! Sudahlah, lupakan saja permintaan untuk menikah." Zahra berbalik badan ingin segera pergi.
"Han..."
Zahra menghentikan langkah, ia mengira jika Ken akan menyatakan perasaannya kali ini seperti yang ia harapkan didalam hatinya.
"Aku antar pulang ya..."
Zahra menghela nafas kecewa, Ken tetaplah Ken, tidak mau menyatakan hal tentang perasaan. Zahra semakin yakin jika Ken memang tidak pernah memiliki perasaan padanya. Perasaan Zahra hanyalah cinta sebelah pihak, yang tidak tahu kapan akan berbalas dari seorang Kendra Winarya.
...Bersambung ......
__ADS_1