Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Menemukan Cira


__ADS_3

Rasta terbangun di pagi harinya dengan wajah yang semakin kusut saja. Pintu kamarnya diketuk dari luar dan ia menemukan Paman Sapta disana.


"Ada apa, Paman?" tanya Rasta sembari menggacak rambutnya secara asal.


"Gimana mau ketemu jodohmu jam segini baru bangun!" cibir Paman Sapta. Rasta melirik jam kecil yang ada diatas nakasnya, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Rasta langsung teringat jika hari ini ia harus mencari Cira kembali namun sepertinya ia sudah terlambat menuju lokasi.


"Maaf paman... aku harus siap-siap mencari Cira lagi," kata Rasta hendak beranjak, namun Paman Sapta segera menarik ujung kerah belakang kemeja yang masih ia kenakan sejak kemarin.


"Gak usah dicari lagi," kata Paman Sapta datar.


Rasta melotot. "Aku harus mencari Cira, Paman. Lepaskan bajuku!" kata Rasta yang merasa bajunya masih tersangkut ditangan sang paman.


"Gak usah dicari lagi. Cira sudah di Rumah Sakit sekarang!"


"Apa? Serius? Benarkah itu? Siapa yang memberitahu Paman?"


"Tadi malam ada yang menelpon ke hp kamu, paman yang terima teleponnya, kamu mabuk, paman gak bisa menyadarkan kamu, sampai sekarang baru kamu bangun dengan sendirinya," terang paman Sapta.


"Kalau begitu aku segera kesana!" Rasta hendak menuju pintu keluar, namun lagi-lagi paman Sapta mencegah langkahnya.


"Mandi dulu! Gak malu sama penampilanmu? Apa begini Paman mengajarimu bertemu orang lain?"


Rasta segera menelisik ke arah dirinya sendiri dan sekarang ia sadar bahwa aroma tubuhnya sangat tidak sedap ditambah lagi aroma minuman yang menguar, membuatnya semakin mual sendiri.


"Bagaimana kondisi Cira, paman?" Rasta teringat dia belum tahu keadaan gadis kecilnya.


"Dia masih hidup, ada warga yang menemukannya kemarin dan langsung membawanya ke Rumah Sakit."


Rasta pun bisa bernafas lega karena hal ini.


Setengah jam kemudian, Rasta telah siap dengan penampilan yang lebih rapi dan lebih harum tentunya.


"Aku berangkat, Paman."


Rasta segera menuju Rumah Sakit yang paman sampaikan padanya.


Beberapa saat berkendara, Rasta pun tiba dirumah sakit. Sebelumnya ia sudah memberitahu Devia juga mengenai Cira.


"Apa saya bisa bertemu dengan pasien?" Rasta menanyai seorang yang tampak berdiri didepan ruang rawat Cira, karena sebelumnya ia juga sudah diberitahukan tentang kamar inap gadis itu.

__ADS_1


"Anda siapanya ya, Mas? Apa anda mengenali gadis yang didalam itu?"


"Ya, saya kerabatnya."


"Baiklah, silahkan ditemui tapi dia belum bangun, baru tertidur lagi karena minum obat."


"Terima kasih, Mas. Selanjutnya biar saya yang menungguinya disini. Dengan Mas siapa?"


"Saya Dika... ini istri saya Nisa."


Rasta menyalami kedua orang yang menemukan Cira itu, ia berbicara mengenai keadaan Cira yang ternyata ditemukan sore hari setelah Cira terjatuh siang itu. Keadaan yang kalut, membuat Dika dan Nisa tidak bisa memberi tahu siapapun dan langsung berangkat membawa Cira ke Rumah Sakit begitu saja. Setelah dua hari menjagai Cira, saat pulang kerumah untuk mengambil kebutuhan harian barulah mereka sadar bahwa banyak orang yang mencari Cira disepantaran aliran Sungai. Dika pun memberitahu salah satu petugas mengenai keadaan Cira yang sudah berada di Rumah Sakit.


"Sekali lagi terima kasih sudah menolong Cira, ya, Mas." Rasta kembali menyalami kedua orang itu, tak lupa ia juga memberikan ung terima kasih kepada mereka.


Rasta masuk ke dalam ruang rawat Cira, ia melihat gadis kecilnya terbaring lemah diatas hospital bed, ia merasa bersalah karena kejadian ini bisa menimpa Cira, lagi-lagi ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi Cira lebib dari yang selama ini ia lakukan.


"Ci, maafin gue ya, cepat pulih, ya?!" Rasta membelai pelan sisi wajah Cira yang terdapat memar akibat insiden ini. Pelipis Cira juga terluka dan lengan gadis itu juga banyak yang lecet, Rasta terenyuh melihat kondisi Cira yang seperti ini.


Andai ia menjemput Cira siang itu, andai ia bisa datang lebih cepat, dan banyak 'andai' lainnya yang ada dikepala Rasta agar kejadian kemarin tidak terjadi pada Cira, sayangnya semua telah lewat, semua telah terjadi. Siang itupun Rasta memang tak ke sekolah Cira karena insiden 'ciuman' beberapa waktu lallu, membuatnya malu bertemu gadis itu lagi.


____


"Enghh..." Cira menggeliat namun merasa sakit yang lebih dominan ditubuhnya sehingga ia pun meringis.


"Cira..." Rasta bangkit dari duduknya, ia menyadari pergerakan Cira, ia mendekat ke sisi wajaah Cira dan menatap lekat pada gadis yang mengerjap-ngerjapkan matanya.


Sebenarnya Cira sudah dari tadi sadar, hanya saja tadi dia masih mencerna situasi sembari mengagumi sosok Rasta dalam diam, Rasta yang memainkan ponsel sembari satu tangannya menggenggam tangan Cira tidak mengetahui hal itu, ia tahu Cira sadar saat gadis itu menggeliat barusan.


"O-om..." ucap Cira terbata.


"Iya, ini gue. Lo mau apa? Butuh apa? Laper? Haus? Atau butuh yang lain?" cecar Rasta tak sabaran.


Cira menggeleng lemah, masih menahankan sakit dibeberapa bagian.


"Sakit? Apa dokternya gak kasi pereda nyeri? Sebentar gue telepon dulu dokternya?" Rasta mulai panik, mencoba mencari tombol darurat untuk memanggil Dokter.


"Gak usah, Om! Aku gak apa-apa," kata Cira pelan.


"Tapi wajah lo itu kesakitan banget, gue tuntut Dokternya kalo lo terus kesakitan gini. Harusnya lo dikasi anestesi yang tinggi bia gak ngerasain sakit!" protes Rasta gelabakan.

__ADS_1


"Apaan sih, Om! Jangan lebay sampe segitunya! Mungkin efek pereda nyerinya mulai hilang." Cira memanyunkan bibir.


"Serius gue khawatir kalo lo kesakitan!"


"Gak apa-apa, Om! Ini gak sakit kok!"


"Serius?"


Cira mengangguk. "Om sejak kapan disini?" tanyanya.


"Dua jam yang lalu."


"Om gak kerja?"


"Gak penting..."


Cira menahan tawa. "Lalu, kalau aku apa penting, Om?"


"Ya, iya! Kalo lo gak penting mana mungkin gue buang-buang waktu nungguin lo disini. Kalo lo gak penting gak mungkin gue ikut nyariin lo disepanjang aliran sungai!" pungkas Rasta kesal.


Cira mengulumm senyuman. "Om tahu kenapa aku bisa jatuh ke sungai?"


Rasta menghela nafas panjang. "Lo dikejar sama Ayah angkat lo, kan?"


"Hmmm," ucap Cira berdehem.


"Itu gak akan terjadi lagi!" tekad Rasta.


"Kok, Om bisa seyakin itu?" tanya Cira memicingkan matanya pada pria itu.


"Iya, setelah ini...gue bakal nikahin lo!"


Cira membekap mulutnya yang ternganga karena ucapan Rasta. "Serius, om?" tanyanya.


"Iya, gue serius. Lo masih mau kan? Gak punya kandidat lain kan? Awas aja kalo lo udah punya lelaki cadangan!" ancam Rasta sambil terkekeh.


Cira sebenarnya ingin bersorak senang, namun kondisinya yang tidak memungkinkan membuatnya hanya bisa tersenyum lebar.


*****

__ADS_1


__ADS_2