
Ken hendak mengambil minuman kaleng dsri dalam kulkas saat sang Mama baru saja masuk ke dalam rumah.
Ken menghampiri wanita yang melahirkannya itu dengan berjalan pelan dan santai. Satu tangannya dimasukkan kedalam saku celana jogger yang ia kenakan, dan satu tangannya lagi masih setia memegangi kaleng softdrink.
Sudah banyak sekali pertanyaan yang ingin Ken tanyakan pada sang Mama saat ini juga, tentunya mengenai awal mula perkenalan sang Mama dengan Zahra dan sejak kapan Mama mengetahui jika Ken memiliki 'sesuatu' dengan gadis itu.
"Ma..." sapa Ken pada Devia.
Devia menatap Ken. "Kenapa, Ken?" tanyanya.
"Apa Mama lelah? Ada banyak hal yang mau aku tanyakan pada Mama."
"Lumayan lelah, sih. Tapi, Mama akan menjawab pertanyaan kamu kok." Devia tersenyum penuh arti, seakan bisa tahu apa yang ingin Ken tanyakan padanya.
"Oke, aku tunggu Mama di teras belakang, ya..." Ken pun berlalu dari sana, sementara Devia langsung menuju kamarnya untuk mandi dan shalat maghrib dulu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Devia menghampiri Ken yang sudah terduduk kursi teras belakang sembari tampak melamun.
"Ken..." sapa Devia.
"Ma! Ayo duduk sini..." kata Ken tersenyum pada sang Mama.
"Auranya lagi seneng nih," goda Devia pada Ken dan Ken mengangguki ucapan Mamanya itu.
"Ma, sejak kapan Mama mengenal Hana?" tanya Ken memulai pertanyaan saat Devia mulai terduduk disisinya.
Devia menghela nafas panjang. "Kalau mengenal sih baru sebulan ini, ya... tapi kalau tahu sosok gadis yang kamu sukai, rasa - rasanya sudah lama sekali Mama tahu!"
"Benarkah?" Ken tersenyum miring tanpa menatap wajah sang Mama.
Devia mengangguk samar. "Yang perlu kamu tahu adalah ... tidak ada seorang ibu didunia ini yang benar - benar tidak peduli dengan anaknya. Meskipun dia sudah meninggalkan anak itu, secara sadar atau tidak... pasti dari 100% sikap acuhnya, paling tidaknya pasti tetap ada sebuah kepedulian untuk anaknya, meskipun itu hanya 0,5% saja! Hanya terkadang, seorang ibu tak perlu menunjukkan kepedulian itu secara gamblang pada sang anak."
Ken tersenyum kecil sambil mengangguk. "Jadi intinya, selama ini Mama mata - matain kehidupanku, begitu?" tanya Ken yang sudah menarik sebuah kesimpulan.
"Bisa dibilang begitu..." jawab Devia terus - terang.
"Jadi, Mama juga mengikuti Hana sampai kesini? Atau memang Mama sudah bekerja disini sejak lama?" tanya Ken.
"Tentu perusahaan Mama sudah lebih dulu ada disini Ken. Mama tidak mengikutinya! Bahkan sebenarnya, Mama tidak tahu kenapa Hana bisa ke kota ini. Mungkin dari awal memang takdir yang ingin mempertemukan Mama dengannya."
"...saat itu, Mama sedang menyetor uang di Bank, lalu Mama tidak sengaja melihat sosok Hana yang tampaknya baru tiba di sebuah penginapan. Penginapan itu letaknya tepat di seberang Bank yang Mama kunjungi."
"Lalu?"
"Karena merasa tidak yakin, Mama mengikuti dia sampai masuk kedalam penginapan itu. Mama duduk di lobby dan tak sengaja mendengar obrolan Hana dengan seorang pekerja disana. Mereka menceritakan problem yang ternyata tengah dihadapi Hana."
__ADS_1
Ken mengernyit, belum memahami maksud sang Mama. "Problem? Problem apa?" tanyanya.
"Jadi, begitu tiba didaerah ini, Hana ternyata ditipu orang. Mama merasa kasihan. Mama juga merasa dia seperti Mama yang juga pernah ditipu investor. Lalu, Mama menolongnya. Tidak ada yang salah kan? Apalagi dia gadis yang disukai anak Mama..." ungkap Devia sambil terkekeh pelan.
"Oh, iya... aku ingat jika aku juga pernah mencari Hana di penginapan itu, pekerja disana mengatakan jika Hana ditipu dan kehilangan dompet serta ponselnya, aku juga sempat melihat rekaman cctv disana untuk memastikan itu benar Hana atau bukan!"
"Ya ... itu benar Hana, Ken!" jawab Devia.
"Tapi, tunggu dulu..."
"Kenapa lagi?"
Ken tampak mengingat sesuatu yang dia lupakan. "Astaga... bahkan aku melihat Mama yang tengah membantu Hana saat itu. Mama adalah wanita yang membeli cincin Hana kan?" desak Ken ingin memastikan.
Devia pun mengangguk. "Iya," jawabnya nyengir.
"Ya ampun... aku gak tahu itu Mama, karena posisi cctv berada dibelakang tubuh Mama. Jadi pandanganku hanya bisa menatap sosok Hana dan tidak mengenali Mama."
"Kamu kan memang payah!" Devia mencebik karena anaknya tidak mengenali dirinya didalam rekaman cctv itu.
"Ya maaf, Ma... soalnya waktu itu aku lagi fokus mencari keberadaan Hana." Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Devia tersenyum lembut, sampai Ken buka suara lagi karena tak habis pikir dengan semua ini.
"Mama... Mama... padahal kalau niat bantu Hana waktu itu, ngapain juga beli cincinnya! Tingal diberikan saja bantuan pinjaman uang," celetuk Ken sambil geleng - geleng kepala.
Tiba - tiba, Devia mengeluarkan sesuatu dari sisi tubuhnya, kemudian menyerahkan itu pada Ken.
"Ambil ini... Mama sudah memastikan ukurannya pas di jari Hana," ucap Devia sembari menarik tangan Ken.
Ken menatap nanar sebuah kotak cincin yang sudah diletakkan sang Mama ditelapak tangannya.
"Ini... apa, Ma?"
"Itu cincin untuk pertunangan kamu dan Hana. Mama sudah memesannya begitu tahu ukuran jari Hana. Mama juga sudah memastikannya karena sempat meminta Hana untuk mengenakannya tempo hari. Ukurannya sangat pas, tinggal acaranya saja. Jadiz jangan ragukan semua rencana Mama yang sudah terencana dengan matang ya!" Devia pun tersenyum cerah sembari bertepuk tangan riang dihadapan Ken, rasanya ia sudah tak sabar melihat Ken dan Zahra menikah.
"Jangan bilang ... kalau Mama sengaja membeli cincin Hana saat dipenginapan, agar tahu ukuran jari Hana!" kata Ken dengan sorot matanya yang tajam.
Mama menaik-naikkan alisnya dihadapan Ken. "Ya begitulah! Mama tetap membeli cincin Hana untuk tahu ukuran jarinya... karena memang ini niat awal Mama, Mama ingin sekali mendesain khusus sepasang cincin untuk anak Mama dan calon mantu Mama." Devia pun terkekeh nyaring, bahkan Ken sampai melongo karena tindakan Mama yang ternyata diluar prediksinya.
"Ya ampun Mama..." Ken menepuk dahinya sendiri. "Terus, rencana apa lagi yang udah Mama susun selain hal ini?" tanya Ken.
Devia pun tersenyum penuh arti.
______
__ADS_1
Hari minggu pun tiba, Zahra bersiap - siap untuk menghadiri undangan dari Devia. Ia mengenakan kebaya yang sudah Devia belikan untuknya tempo hari.
Ia mematut diri didepan cermin, menghias wajah dengan make-up flawless yang sederhana. Memakai perona pipi dan lipstick berwarna nude sudah teroles di bibirnya.
Tak lupa ia mengenakan hijab yang senada dengan kebaya yang sudah terpasang pas ditubuh rampingnya.
Zahra mengambil tas tangan miliknya, berharap itu bisa melengkapi penampilannya. Kemudian mengenakan heels yang cukup tinggi agar menyesuaikan dengan songket yang membalut kaki jenjangnya.
"Siap..." gumam Zahra merasa antusias. Ia jarang sekali menghadiri acara formal seperti ini.
"Tinggal nunggu Kak Dirga jemput!" celetuknya lagi sembari memasang arloji kecil di pergelangan tangannya.
Rencananya memang hari ini Zahra akan dijemput oleh Rasta, sang Kakak. Karena Rasta juga mengatakan diundang oleh Ken dalam acara tersebut.
"Tunggu dulu... tampaknya aku melupakan sesuatu." Mode peringatan dikepala Zahra tiba - tiba seperti tengah berbunyi, mencoba mengingatkannya akan sesuatu momen atau hal apa yang barangkali dilupakannya.
Belum sempat Zahra mengingat hal apa yang terlupa, ternyata satpam tempat kos-nya sudah memanggil untuk mengatakan jika Rasta sudah menjemput Zahra dan tengah menunggu didepan gerbang.
Dalam beberapa menit, Zahra sudah tiba di mobil sang Kakak.
"Cantik banget ya adik aku..." celetuk Rasta.
Zahra tertawa pelan dengan gombalan kuno sang Kakak.
"Untung aja adik gue! Kalau bukan, pasti udah gue tikung si kanebo kering!" celetuk Rasta sembari mengulumm senyuman.
Zahra hanya bisa menggeleng samar demi menanggapi ucapan Kakaknya yang terdengar nyeleneh itu.
Sampai di rumah Devia, Zahra merasa terpaku saat menatap dekorasi yang sudah terpasang indah disana. Pasalnya, dekorasi pertunangan itu memperlihatkan tulisan namanya dan Ken disana.
Ini bukan hanya sekedar inisial nama, melainkan memang nama asli mereka tertera disana.
Kendra & Zeevana
Astaga... itu nama asli Zahra, bukan?
Dan didetik yang sama, Zahra baru mengingat hal yang sempat ia lupakan dan ia coba ingat - ingat saat di kost tadi.
"Tante Devia mengatakan jika hari ini adalah momen pertunangan anaknya yang baru tiba. Anak yang beliau maksud tentunya bukan Zaki! Anak tante Devia yang lain dan yang baru tiba... adalah... Ken?" batin Zahra, ia pun langsung merasa tak enak hati.
"Ya Allah, kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini? Harusnya aku sudah menyadari jika yang akan bertunangan hari ini adalah anak Tante Devia yang ternyata itu adalah Ken..." gumam Zahra tercekat. Ia sampai sulit menelan ludahnya sendiri.
"Ken dan aku?" kata Zahra bermonolog.
"Iya, kamu dan aku... apa kamu lupa jika kamu sudah menerima lamaranku kemarin?"
__ADS_1
Dan Zahra berbalik badan saat mendengar suara yang tak asing itu, ia mendapati Ken disana dan benar saja, rasanya ia ingin pingsan saat ini juga akibat terkejut.
...Bersambung ......