
"Siapa yang pacaran!" sanggah Cira cepat.
"Kita emang belum pacaran kok!" celetuk Rendy sembari tersenyum pada Rasta.
"Belum? Maksudnya bakalan pacaran, gitu?" Rasta menatap nyalang pada sosok cowok yang masih mengenakan helmnya itu, tapi Rendy hanya nyengir menanggapi pertanyaan dan sikap Rasta padanya karena ia mengira Rasta adalah om-nya Cira yang protektif terhadap keponakannya.
"Masuk, lo!" titah Rasta pada Cira dan gadia itu segera berjalan untuk masuk kedalam rumah, namun belum sampai ke ambang pintu, Cira kembali menoleh ke arah dimana Rasta dan Rendy masih berada disana.
"Rendy, sekali lagi makasih ya udah anterin aku pulang. Maaf udah merepotkan kamu." Cira tersenyum sungkan pada Rendy dan Rendy pun mengangguk sembari melambaikan tangan pada gadis itu. Akan tetapi, Cira segera menundukkan wajah saat matanya tak sengaja menatap Rasta yang sudah memelototinya.
Cira langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Rasta segera menatap Rendy lagi setelah memastikan Cira benar-benar sudah masuk kedalam rumah. "Elo..." Rasta menunjuk Rendy dengan telunjukknya. "Jangan sekali pun lagi nganterin Cira, paham lo!" tegasnya.
Rendy membuka helmnya, kemudian mengulurkan tangan pada Rasta.
"Apaan nih?" tanya Rasta merujuk pada uluran tangan Rendy itu. Dia cukup terkejut melihat tampang Rendy yang ternyata mempunyai kegantengan versi personil boyband--tipikal cowok idaman gadis-gadis di masa kini.
"Salim dulu, om!" kata Rendy yang lagi-lagi hanya nyengir kuda pada Rasta dan langsung saja menarik tangan Rasta untuk dicium secara takzim.
"Apaan sih!" Rasta melepas segera tangannya itu. "Lo denger gak tadi gue bilang apa?" tanyanya.
"Denger, Om!" kata Rendy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan dekati Cira lagi!"
"Emang kenapa, Om?"
"Pake nanyak lagi nih bocah, pokonya gue bilang jangan ya jangan. Cira itu tugasnya sekolah, dia gak boleh dekat sama cowok apalagi pacaran!"
"Oh gitu ya, Om? Ya udah aku pulang dulu ya!"
"Ya, satu lagi... lo gak usah ikut-ikutan Cira manggil gue Om! Gue bukan Om lo!"
"I-iya Om... eh, Pak!"
"Kok Pak? Emang gue Bapak lo?"
"Enggak.... yaudah deh permisi aja kalo gitu." Rendy yang tak tahu hendak memanggil Rasta dengan sebutan apa, segera memakai kembali helm-nya dan menstater motor gedenya untuk segera berlalu dari hadapan Rasta yang disangkanya adalah Om Cira.
******
Rasta masuk ke dalam rumah dan melihat Cira yang sudah mengganti pakaiannya, sepertinya Cira hendak makan siang sekarang.
Rasta bergerak menuju kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalamnya. Ia melirik Cira yang mengambil piring makan lalu menuju ke arah dimana letak rice cooker.
"Makan lo?" tanya Rasta yang melihat Cira diam saja, padahal dia menunggu Cira yang mengajaknya bicara namun sayangnya gadis itu cuek saja dengan keberadaan Rasta.
"Hmm," sahut Cira tak acuh.
Rasta merasa sikap Cira sangat aneh karena biasanya Cira akan banyak bicara, apa Cira marah padanya karena sikapnya tadi yang menuduh Cira berpacaran?
__ADS_1
"Ambilin gue juga dong! Gue laper!" kata Rasta mencoba cari perhatian agar ia tahu Cira benar marah atau tidak padanya.
Cira tak menyahut, hanya mengambil piring lain untuk Rasta dan mengambilkan nasi juga untuk pria itu.
Sesaat kemudian Cira memberikan piring yang sudah berisi nasi pada Rasta. Rasta menerimanya dengan tatapan aneh kepada Cira yang mendadak jadi pendiam.
Cira duduk di meja makan dan mengambil lauk yang disajikan oleh Mbak Ira yang juga berada disana karena Devia sudah ke Rumah Sakit lagi untuk mengurusi Frans.
Rasta ikut duduk disebelah Cira, mengambil lauk juga dan mulai makan namun ia tidak tahan melihat sikap Cira yang seperti sengaja mendiamkannya.
Cira juga tidak tahu kenapa Rasta beekunjung kerumah ini dan mendapatinya pulang bersama Rendy tadi. Sungguh sial nasibnya. Namun, Cira tak mau menanyakan apa tujuan Rasta datang, ia lagi dalam mode malas bicara pada sosok pria disebelahnya ini.
"Lo marah sama gue?" tanya Rasta akhirnya.
"Enggak," sahut Cira sembari mengunyah makanannya.
"Terus kenapa diem?"
"Emang mau bahas apa? Gak ada yang perlu dibahas!" Cira mengendikkan bahu tak acuh.
"A-ada lah!" kata Rasta cepat.
"Apa emang?"
"Itu... soal--soal elo pacaran! Kan udah gue bilang jangan pacar-pacaran!"
Cira menatap sengit pada pria itu. "Aku kan udah bilang kalo aku gak pacaran!" jawabnya kesal. Ia menghentikan aktivitas makannya seketika karena badmood dengan pembahasan Rasta yang menyebalkan.
"Dia cuma temen aku yang anterin aku pulang, apa salah?" potong Cira cepat.
"Salah lah!" jawab Rasta tak mau kalah.
"Salahnya dimana? Aku mau pesan taxi online kayak biasanya tapi hp aku lowbet. Aku gak punya pilihan lain jadi aku nebeng sama Rendy. Om seenaknya aja nuduh aku, marahin aku didepan temen aku, aku malu, Om!" jawab Cira emosi.
Rasta terdiam, baru kali ini ia melihat Cira amat marah karena tindakannya. Apa-apaan? Harusnya dia yang marah karena gadis ini pulang diantar sama cowok, kenapa sekarang justru Cira yang memarahinya?
"Kok jadi lo yang marah, sih?"
"Ya iya, aku marah! Aku malu dituduh begitu didepan temen aku!"
"Harusnya gue yang marah, Cil... lo yang pulang bareng cowok itu harusnya gue yang marah!" kata Rasta menurunkan intonasi suaranya.
"Kenapa harus marah? Cemburu?" kata Cira kesal.
"Cemburu? Dari mana lo menyimpulkan hal itu? Ya enggaklah! Gue kan cuma gak terima kalo lo pacaran sementara gue udah capek-capek bantuin lo daftar sekolah!" sanggah Rasta.
"Kan aku udah bilang bukan pacaran! Dia cuma temenku!" Cira bangkit dari kursinya dan ingin segera beranjak.
"Loh mau kemana lo? Makannya belom selesai ini!" protes Rasta.
"Tauk!" Cira melangkah cepat menuju kamarnya yang berada di sisi lain ruangan lantai dasar itu.
__ADS_1
******
Rasta melamun didalam kamarnya, entah kenapa ia memikirkan kepulangan Cira dari sekolah siang tadi, yang diantarkan oleh seorang cowok.
"Ken dan Hana dulu saling punya rasa sejak SMA, kan? Gue juga denger kalo Ken sering nganterin Hana pulang ke panti naik motor..." Rasta bermonolog pada dirinya sendiri.
"Kalau Cira sering diantarin kayak gitu sama cowok itu... mungkin aja kan dia bakal punya rasa ke tuh cowok!" Rasta mulai gundah memikirkan hal ini. Akhirnya ia memilih untuk menelepon Ken.
"Hallo,"
"Lo ganggu aja, Cuuk!" protes Ken sembari berdecak dari seberang panggilan.
"Ganggu ya? Emang lagi ngapain lo, Cuuk? Gue mau cerita!"
"Lagi garap ladang, Cuuk!" jawab Ken.
Rasta mendengkus karena ia tahu apa yang Ken maksudkan, sementara Ken terbahak dari seberang sana.
"Jeda dulu kegiatan lo! Gue mau cerita tentang Cira!" kata Rasta akhirnya.
Kembali Ken tertawa mendengar ucapan Rasta.
"Kenapa lo ketawa? Ada yang lucu? Adik ipar durhaka emang lo!"
"Gue pikir ada masalah penting apa sampe nelepon gue! Rupanya mau sesi curhat-curhatan," cibir Ken.
"Serius gue...."
"Kenapa sama Cira? Jadi lo nikahin dia?"
Rasta menghela nafas panjang. "Enggak lah!" jawabnya. "Dia aja udah deket sama cowok disekolah barunya."
"Serius lo? Ya wajar sih, untuk ukuran anak SMA... Cira emang cantik, gak kalah lah sama istri gue pas SMA. Sampe sekarang juga gitu!" kekeh Ken sengaja menggoda Rasta.
"Sia lan lo! Gue serius lo tanggepin kayak gini! Nyesel gue nelepon lo! Ngabisin kuota gue aja!"
Kembali Ken terbahak karena gerutuan kakak iparnya itu.
"Udahlah, lo gak perlu cerita panjang lebar gue udah bisa nebak kalo lo itu cemburu, kan?"
"Mana ada!" sanggah Rasta.
"Yah... kalo lo mau saingan sama anak SMA sih lanjutkan aja, Bro! Tapi, kalo lo gak mau bersaing lagi karena malu sama umur ada baiknya lo halalin aja, kelar...."
"Bang sat lo emang!"
"Hahaha, ya udah sih saran gue gitu aja! Udah ya, nanti Hana ngambek kalo gue cuekin!"
Rasta menatap kesal pada ponselnya yang sudah tak tersambung panggilan itu karena Ken memutus teleponnya begitu saja.
"Adik ipar gak ada akhlak ya gini nih!" gerutunya sembari mengacak rambutnya sendiri.
__ADS_1
*****