
Hari beranjak terang saat Zahra masih termenung dibalik jendela kamarnya. Entah sudah berada lama ia melamun disana. Ia mencoba mengingat lagi momen yang sempat terlewat malam tadi. Namun, ia tak mengingat apapun juga, yang ada hanya airmatanya yang terus mengalir deras dan tanpa terasa sudah mengering dipipinya.
"Ken, kenapa kamu membuatku menjadi gadis yang kotor seperti ini?" lirihnya terisak.
Ia menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air lagi. Sejak kepulangannya malam tadi, ini adalah kegiatan mandi yang entah keberapa kalinya. Mungkin sudah lebih dari tiga kali ia menggosok tubuhnya sendiri. Sampai merasa menggigil, barulah ia menyudahi kegiatan itu.
Ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan kacau dan tubuh yang lemas. Bajunya basah kuyup dan kembali menggigil.
Pikirannya pun kembali melayang, membayangkan tangan lancang Ken yang sudah menjamahh tubuhnya.
Ia memang mencintai pria itu sejak Iama, tapi hal seperti ini tak pernah ia duga sebelumnya. Tentunya ia menginginkan sebuah ikatan suci yang mengikatnya dengan Ken, bukan diawali dengan insiden buruk seperti ini.
Jika ada seorang pria yang ia harapkan untuk menikahinya, maka pria itu memanglah Kendra Winarya, meski ia tahu sikap kaku dan dingin pria itu tak pernah berubah sampai hari ini, namun memang hanya pria itulah yang ada dihatinya sejak lama.
Ia sempat begitu senang saat semesta mempertemukan mereka lagi, euforia itu tidak berkurang walau sekarang Ken terlihat lain dari segi penampilan-- perasaannya tetaplah sama terhadap pria itu.
Tapi, apa yang Ken lakukan padanya? Ken membuatnya seperti wanita yang tidak berharga, Ken merusaknya, mengambil hal yang ia jaga, memaanfaatkan saat ia tak berdaya.
Seharusnya Ken melindunginya. Namun, harapan tinggal harapan, kenyataannya orang yang ia harap itulah yang telah merenggut kehormatannya. Ia merasa seperti sampah yang sangat kotor sekarang.
Ternyata ia memang mencintai pria yang salah selama ini.
Harapannya sia-sia untuk merasakan balasan perasaan dari Ken, nyatanya Ken memang tidak pernah mencintainya.
Ken hanya menganggapnya wanita pelampiasan naf-su atau mungkin mainan seru yang berhasil diperebutkan bersama Frans. Pasti sekarang Ken merasa puas karena telah menang dari Frans.
Tawaran menikah itu hanya sebagai bentuk kemenangan Ken dan jika ia menerima--tak lama dari itu-- ia akan didepak kasar oleh seorang Kendra Winarya.
Sekarang ia sadar, jika selama ini ia telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk memupuk perasaan cinta terhadap seorang pecundang seperti Ken.
Tiba-tiba ia kembali merasa sangat kotor, dan saat pikiran seperti itu datang lagi dikepalanya, ia memutuskan mengulangi aktivitas mandinya.
Namun, saat kembali melangkahkan kaki dan masuk ke kamar mandi lagi, ia terjerembab lemas dilantai dan terisak nyeri.
"Aku sudah kotor sekarang, walau aku menyucikan diri berkali-kali, semuanya tetap tidak akan sama lagi," raungnya.
__ADS_1
Zahra merangkak, nyeri dihatinya sangat terasa. Ia marah dan kecewa atas tindakan Ken.
"Ya Allah, ambil nyawaku saja! Jangan hukum aku dengan menjadikanku hidup sebagai wanita hina," ucapnya, kemudian meraih sebotol wip*l yang tak jauh darinya posisi merangkaknya.
Daripada ia hidup dengan rasa kecewa terhadap pria yang ia cintai itu, ia lebih memilih mengakhiri hidup saja.
Ia mulai membuka tutup wip*l itu, ingin menenggaknya langsung, tapi secara mendadak alarm dikepalanya langsung berbunyi nyaring, seolah mengingatkannya bahwa semua ini adalah dosa besar dan tindakan yang jelas salah.
Segala yang terjadi padanya adalah karena ia mampu melewatinya, ia tidak boleh menghindari apapun cobaan yang diberikan kepadanya. Ia tak boleh lari dari kenyataan, apalagi lari dari dunia seperti ini.
Semua masalah yang menerjang hidupnya tak seharusnya membuatnya kalah.
"Astagfirullah..." Zahra bersyukur imannya masih cukup kuat untuk menahan godaan setan yang telah membelenggunya. Ia segera mencampakkan botol itu ke lantai, beristighfar berkali-kali sambil tetap menangis. Tidak tahu stok airmatanya sebanyak apa, yang jelas ia memang terus menangis sejak dini hari tadi.
Zahra mencoba bangkit dari posisinya, mengganti bajunya yang kuyup, menguatkan dan menegarkan hatinya. Hidupnya akan terus berlanjut, ia tak boleh kalah dari kenyataan.
Selama ini hidupnya sudah ditempah untuk menjalani kehidupan yang keras sejak ia kecil. Ia tak boleh kalah dengan semua ini.
Setelah selesai berpakaian, ia mulai mengemasi semua barang-barangnya, ia akan segera meninggalkan kota ini walau tidak tahu tujuannya akan kemana.
Hampir semalaman Ken tak tidur, setelah mengantarkan Zahra ke kontrakan gadis itu, ia pulang ke bengkel dan meratapi kesalahan yang telah ia perbuat ditempat yang sama.
Beberapa kali Rasta dan Chandra meneleponnya, namun ia sengaja tak menjawab panggilan telepon kedua orang itu.
Hanya satu panggilan telepon yang dijawabnya yakni dari Frans, dan ia menerima panggilan itu semata-mata untuk mengejek Frans saja.
Setelah hari beranjak siang, ia memutuskan menelepon sang Ayah untuk menyatakan niatnya. Ia mencari ponselnya yang sempat ia campakkan pagi tadi--setelah selesai menerima telepon Frans.
Ternyata ponsel itu telah K.O alias mati total karena bantingannya yang cukup keras. Damned!
Ia beranjak dan menuju meja kerjanya di ruangan lain, disana ada saluran line telepon yang bisa membantunya untuk menghubungi sang Ayah.
"Pa, aku mau menikah ..." ucapnya begitu panggilan diterima sang Ayah.
Ia sudah bisa mengira jika Ayahnya itu akan menanggapi pembicaraannya ini dengan tertawa kencang.
__ADS_1
"Jangan memutuskan sesuatu karena emosi, Ken! Papa tahu kamu melakukan ini karena tak mau kalah dari Frans, kan?"
"Aku serius, Pa! Dan gadis yang mau ku nikahi adalah Hana ..."
"Hana?"
"Maksudku, Zahra... Zahra Alhana," ralatnya cepat.
Lagi dan lagi sang Papa terkekeh dari seberang sana, menganggap ucapannya hanya lelucon yang konyol.
"Ini tidak lucu, Ken! Zahra akan menikah dengan Frans, Nak!"
"Gak, Pa! Gak akan ada yang menikahi dia kecuali aku!"
"Percaya diri sekali kamu, Ken!"
"Tapi memang begitu kenyataannya! Kalau Papa gak percaya, silahkan Papa tanyakan padanya. Dia memilih Frans atau aku!"
"Ken ... Jika niatmu ingin menghancurkan Frans, bukan dengan cara seperti ini, Nak! Ini benar-benar tidak lucu!" Intonasi suara sang Ayah terdengar berubah lebih serius sekarang.
"Aku sangat serius, Pa! Tolong lamar dia untukku!"
"Hentikan hal gila ini, Ken! Papa tutup teleponnya--"
"Tunggu, Pa! Hana mencintaiku, Pa! Dia sudah mengatakannya padaku kemarin!"
Seketika hening, sang Papa tak menyahuti ucapannya itu.
Sampai tiba-tiba, Papanya kembali bersuara.
"Lalu, bagaimana denganmu, Ken? Siapa gadis yang kamu cintai? Jika kamu hanya ingin mempermainkan Zahra, Papa rasa ini tidak boleh dilanjutkan!"
...Bersambung ......
...Tinggalkan jejak ya readers♥️......
__ADS_1