Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Zeevana


__ADS_3

Frans semakin tempramental saja begitu tiba di kantornya, semua ini karena kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Ia masuk ke ruangannya, merangsek kedalam kamar mandi yang ada disana dan mencuci wajahnya di wastafel. Ia bercermin dan menatap pantulan dirinya didepan sana. Melihat pancaran kemarahan yang terpancar jelas diwajah tampannya.


"Secepat itu Zahra akan bertunangan dengan orang lain?" ucapnya marah dengan rasa tak percaya.


"Kenapa, Ra? Kenapa secepat itu? Kenapa saat aku melamarmu kamu tolak? Tapi sekarang kamu menerima pinangan orang lain." Hatinya teriris, sebenarnya ia juga kecewa kenapa Zahra harus menjadi milik orang lain selain dirinya.


"Tidak! Dia tidak boleh menjadi milik orang lain... dia harus ku peralat untuk membuat Ken lemah!" Kini logikanya yang marah, karena sejatinya dendam itu lebih berkuasa daripada cintanya terhadap Zahra.


Frans meninju cermin yang ada diatas wastafel, menyebabkan kaca itu berhamburan pecah seperti butiran jagung dan buku - buku jarinya yang memutih mengeluarkan cairan merah.


Terkadang Ia marah pada dirinya sendiri. Hatinya menginginkan Zahra karena mencintai gadis itu, tapi logikanya yang dendam akan Ken, juga menginginkan gadis itu untuk alat balas dendam. Membuatnya serba salah harus memperlakukan Zahra seperti apa. Membuatnya seperti punya dua kepribadian yang menuntutnya bersikap berubah - ubah terhadap gadis itu.


Sebentar marah dan ingin menghancurkan, sebentar lagi ia tak tega karena rasa cinta itu masih terlalu kuat.


______


Devia hanya bisa menenangkan Zahra yang menangis diruangannya dengan bahu yang tampak berguncang. Ia tahu apa yang membuat gadis itu amat bersedih, selain kata - kata pedas Frans yang terlalu merendahkan, Zahra juga pasti amat merasa malu pada dirinya. Belum lagi ucapan itu mungkin mengingatkan Zahra tentang masa kelam yang pernah dialami gadis itu.


Ia tentu tidak mau menanyakan atau membahas hal yang akan membuat Zahra bersedih. Ia tak mau mencampuri prahara yang mungkin ingin dilupakan oleh gadis itu.


Maka, yang bisa ia lakukan hanyalah mengelus pundak Zahra.


"Han, kamu gak perlu sungkan dengan saya, semuanya akan baik - baik saja sekarang, hmmm..." Devia merangkul bahu Zahra yang terduduk, mencoba menenangkan gadis itu.


"Terima kasih, Tante sudah mau membantu saya keluar dari situasi tadi." Zahra menyeka airmata untuk yang kesekian kalinya.


"Ya, saya tidak bisa melihat ada yang menyakiti wanita seperti itu, apalagi saya mengenal kamu."


"Apa Tante mengenal Frans?" tanya Zahra.


"Ya, dia cukup terkenal di kalangan pebisnis. Wajahnya juga sering muncul di media," jawabnya.


Zahra mengangguk - anggukkan kepala.


"Oh iya, ini cincinnya saya kembalikan, Tant!" ucap Zahra.


Zahra pun mencoba membuka cincin yang sempat tersemat dijari manis gadis itu. Kemudian menyerahkan cincin itu kembali padanya berikut serta kotak bludru berwarna biru gelap yang sempat menjadi saksi bisu permainan akting mereka tadi di hadapan Frans.


"Sekali lagi, terima kasih ya, Tant." Zahra pun hendak beranjak dari ruangannya.


"Oh iya, kamu ada lihat Zaki tidak? Dia mengatakan ada yang ingin disampaikan pada saya mengenai cincin bayi milik kamu," ucapnya membuat langkah Zahra terhenti.

__ADS_1


"Oh iya, itu ... saya ingin tahu asal - usul cincin bayi itu Tant," ujar Zahra.


"Iya, Zaki sudah bilang. Boleh saya lihat cincinnya?"


"Saya ambil dulu di ruangan saya ya, Tant."


_______


Zahra cukup lega, karena Devia menolongnya terlepas dari tindakan intimidasi yang Frans lakukan padanya.


Ia juga cukup bersyukur, atasannya itu tak mengorek lebih dalam perihal semua ucapan Frans yang jelas - jelas sudah merendahkannya.


Devia benar - benar definisi atasan yang menghargai privasi orang lain tanpa berniat mencampuri, meski pasti wanita itu sudah mendengar jelas ucapan Frans yang telah mempermalukannya tadi.


Setelah kedatangan Frans tadi, ia jadi sadar jika masalah besar yang akan dihadapinya selanjutnya adalah perihal biaya finalty yang harus ia bayar karena melanggar kontrak kerja diperusahaan milik Ayah Frans.


Huffff...


Ia lebih memilih melupakan kejadian itu sejenak, sebelum nanti ia akan memikirkan lagi jalan keluarnya.


Sekarang, ia harus fokus bekerja. Ia juga punya tugas baru yang lebih penting tentang mencari jati dirinya sendiri.


Kesempatan bekerja di perusahaan pengrajin berlian, membuat pikirannya terbuka. Ia jadi ingin mencari tahu asal - usul cincin bayi miliknya yang sudah bertahun - tahun ia jadikan bandul kalung.


Ia pun mengambil kotak perhiasan sederhana berbahan akrilik di laci kerjanya.


"Semoga Tante Devia tahu produsen pembuat perhiasan ini," ucapnya bermonolog.


Ia keluar dari ruangannya dan kembali keruangan Devia, ternyata disana sudah ada Zaki yang tengah berbincang dengan sang Ibu.


"Permisi, Tant..."


"Masuk saja, Han!"


Ia masuk dan duduk disofa tepat disebelah Devia, sedangkan Zaki berada diseberang mereka.


"Boleh saya lihat cincin bayinya?" Devia mengulurkan tangan ke arahnya dan ia memberikan kotak perhiasan pada wanita itu.


Devia mulai melihat cincin bayi itu dan wajahnya menampilkan keterkejutan yang jelas.


Namun, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir wanita baya itu. Entah apa yang Devia pikirkan saat ini.


"Apa Tante tahu produsen cincin itu?' tanyanya melihat Devia hanya diam saja.

__ADS_1


Devia masih diam sembari memperhatikan cincinnya lekat - lekat.


"Ma, apa Mama tahu?" Zaki mengulangi pertanyaannya terhadap sang Mama.


Tiba - tiba Devia mengadahkan wajah, menarik nafas dalam, kemudian mengangguk perlahan.


Ia menatap Devia dengan bingung. Benarkah semudah itu? Devia langsung mengenali cincin bayi itu dengan sekali pandang? Tanpa perlu menyelidiki apapun seperti perkiraannya?


"Tante ... sudah menebak ini, Han!" kata Devia dengan lirih. "Hanya saja, Tante ingin membuktikannya dengan melihat cincin ini secara langsung!"


"Maksudnya apa, Ma?" tanya Zaki yang juga menyimak pembicaraan ini.


"Apa Tante tahu sesuatu perihal desain cincin ini?" tanyanya dengan heran.


Devia mengangguk sembari meneteskan airmata. Kenapa wanita baya ini harus menangis?


"Tentu saja Tante tahu, karena Tante sendiri yang mendesain khusus cincin ini ketika Tante masih muda, Han!"


"Apa?"


Ia dan Zaki nyaris bertanya dengan serentak. Terkejut, tentu saja.


"Cincin ini sebenarnya sepasang dengan dua ukuran. Satunya dengan ukuran balita dan satunya lagi untuk bayi. Berliannya satu jenis dengan kadar yang sama dan bentuk yang serupa."


"Jadi, maksud Tante ... ada satu cincin lagi yang mirip seperti ini?" tanyanya speechless.


"Hmm..."


"A-apa Tante juga sudah tahu si-siapa orangtuaku?" tanyanya melirih.


Devia mengangguk. "Cincin satunya pasti dimiliki oleh kakak kandungmu, Zee..." kata Devia memanggilnya dengan nama asing.


"Zee?" Ia menatap Devia dengan mata berkabut dan memanas--ingin menangis juga, entah kenapa.


"Jika cincin itu memang milikmu, seharusnya nama aslimu Zeevana," terang Devia sembari menitikkan airmata.


"Ma... siapa orangtua kandung Hana dan kenapa Mama menangis?" Rupanya Zaki lebih tak sabaran dan ingin tahu.


Devia hanya diam dengan mata yang banjir airmata. Wajah Devia juga tampak seperti orang yang menyimpan beban berat. Tiba - tiba wanita itu memeluknya dengan sangat erat.


"Maafkan saya, Zee... maafkan saya yang baru bisa menemukan kamu sekarang."


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2