Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Persiapan


__ADS_3

Pagi - pagi sekali, Ken langsung menuruni tangga rumah dengan cepat, menuju dapur--dimana sang Mama masih tampak sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka hari ini, dibantu oleh Mbak Warsih.


"Ma, aku mau bicara."


"Tunggu Ken, sebentar lagi ini selesai."


Ken beralih menatap ke Mbak Warsih, sang ART. "Mbak, tolong gantikan Mama..." kata Ken pelan, kemudian Mbak Warsih segera mengambil alih kegiatan yang tengah dilakukan oleh Devia.


Devia mencuci tangannya di kitchen sink sejenak, lalu mengelapnya dengan washlap yang tergantung.


"Ada apa sih, Ken? Pagi - pagi begini sudah mau bicara hal yang serius?"


"Aku mau menikahi Hana, Ma!" ucap Ken dengan lugas.


"Ya, ya... Mama juga tahu hal itu!"


"Tapi bukan dibulan depan. Aku akan menikahinya lusa ..."


Devia tampak terperangah dengan keputusan mendadak yang dibuat anaknya ini.


"Ada apa, Ken? Kenapa tiba - tiba jadi berubah menjadi lebih cepat? Ada masalah?" tanya Devia dengan dahi berkerut.


"Kemarin, Hana dijemput paksa oleh Frans. Meskipun Frans melepaskan Hana begitu saja, tapi aku tidak yakin dia akan rela jika tahu yang bertunangan dengan Hana adalah aku. Aku takut Frans lepas kendali."


Devia cukup terperangah mendengar hal ini, dia tak tahu persoalan ini karena seharian kemarin ia sibuk menemui WO untuk pernikahan Ken dan Zahra--diluar kantor.


"Malam tadi, aku juga bermimpi buruk... jujur saja, aku takut, Ma! Bukan takut dengan Frans, tapi lebih takut jika Hana pergi dari sisiku lagi, aku takut dia ragu lagi padaku. Saat ini hubungan kami mulai membaik, jadi ku rasa ini juga waktu yang terbaik." imbuh Ken sembari menatap ke arah manik mata Devia dengan lekat, menyatakan keseriusannya lewat sorot mata. Jika ia memang tak main - main dalam memutuskan hal ini.


"Mama tidak masalah, Ken. Lusa ataupun bulan depan ... yang penting menantu Mama tetap Hana." Devia tersenyum hangat sembari mengelus pundak puteranya itu.


"Tentu saja, Ma! Aku juga sudah memikirkannya. Aku pikir, lebih cepat akan lebih baik. Aku juga tidak bisa tanpa Hana, aku ingin melindunginya. Jika aku sudah berstatus suaminya, aku harap Frans akan sadar diri."


Devia mengangguk dan memeluk tubuh bidang Sang Anak.


"Baiklah, kalian menikah secepatnya. Biar Mama minta tolong Zaki untuk mengurus soal penghulu serta surat-suratnya di KUA."


Ken tersenyum puas, ternyata sang Mama benar - benar mengerti dan mendukung keputusannya.


"Apa Hana sudah setuju dengan hal ini?".


Ken mengangguk cepat secara berulang dan Devia terkekeh pelan.


"Baiklah, pastikan tidak ada yang kamu lupakan termasuk maharnya. Satu lagi, jangan salah menyebutkan nama." Devia mewanti - wanti agar Ken menyiapkan diri.


Setelah membahas hal ini dengan sang Mama. Ken pun langsung menghubungi Rasta. Walaupun Rasta adalah sahabatnya sejak lama, tapi saat Ken ingin menikahi Zahra yang notabene nya adalah adik kandung pria itu, maka mau tak mau Ken tetap harus mengatakan hal ini pada Rasta secara baik - baik.


______


Keesokan harinya, Ken, Zahra, Devia, Rasta dan Zaki sudah berkumpul dikediaman Devia. Tentu saja mereka akan membahas tentang acara pernikahan yang akan dilakukan esok hari.


"Berkasnya udah lengkap, besok penghulunya datang pagi hari. Kamu jangan sampai telat bangun ya, Ken!" Zaki terkekeh setelah mengucapkan hal itu.

__ADS_1


"Aku sekarang selalu bangun pagi, Bang!" sahut Ken malas.


Kini giliran Rasta yang tergelak. "Nggak yakin gue!" cibirnya.


Ken hanya berdecak dengan wajah datarnya itu.


"Susah sih emang, kalo iblis mau berubah jadi malaikat... banyak rintangannya, Bro! Termasuk gak dipercaya sama orang lain!" Rasta mengolok Ken lagi, kali ini bahkan terang - terangan hingga membawa - bawa istilah 'iblis dan malaikat' yang biasa mereka bahas.


"Tapi Ken beneran udah mulai berubah kok sekarang..." ucap Devia membela sang anak.


Ken mulai menunjukkan senyumnya lagi, namun itu hanya sementara karena selanjutnya Sang Mama justru ikut - ikutan mencibirnya setelah memujinya beberapa saat lalu.


"Asal bandelnya gak kumat lagi aja!" lanjut Devia terkikik.


Zahra yang sejak tadi menyimak percakapan itu ikut tertawa pelan.


"Mudah - mudahan Ken menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah menikah," kata Devia kemudian.


"Aamiin..." sahut mereka nyaris serentak.


"Mama juga berharap kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Hana ya, Ken."


Ken mengangguk. "Insya Allah, Ma!" jawabnya.


"Han, malam ini kamu nginap disini aja! Rasta juga... jadi besok semuanya tinggal datang kesini, baik itu MUA dan yang lainnya. Mama sudah pesankan kebaya pengantin untuk besok."


"Cepat sekali, Tant?"


"Oh iya, jangan panggil Tante lagi ya, panggil Mama..." Devia tersenyum hangat kemudian.


"Iya, Ma..." sahut Zahra yang membuat semua yang ada disana ikut merasa bahagia dengan panggilan itu.


Menjelang sore, seseorang therapis datang untuk melakukan perawatan tubuh bagi Zahra--sang calon pengantin. Siapa lagi yang punya ide ini jika bukan Devia. Devia bahkan menyiapkan hal semacam ini dengan telitinya, ia tak mau calon menantunya kurang satu apapun.


Zahra melakukan perawatan itu setelah melakukan shalat ashar terlebih dahulu.


Therapis itu cukup handal dan membuat tubuh Zahra rileks.


Setelah selesai dengan kegiatan itu, Zahra mengucapkan terima kasih pada sang therapist lalu berniat mengantar wanita itu sampai ke ambang pintu.


"Han..." Tiba - tiba Ken sudah berada dibelakang tubuh Zahra yang akan kembali ke kamar.


"Kenapa, Ken?" Zahra tertunduk, entah kenapa memikirkan jika pria dihadapannya akan segera menikahinya besok-- membuatnya ingin bersembunyi dari pandangan Ken.


"Aku mau bicara..." kata Ken pelan.


"Ya, bicara aja." Zahra masih tertunduk tak berani menatap.


"Di teras belakang," Setelah mengatakan itu sambil mengulumm senyum, Ken langsung beranjak dari hadapan Zahra--berharap Zahra mengikuti langkahnya.


Ken tampak sudah duduk di kursi teras dengan penampilan santai andalannya ketika Zahra tiba disana.

__ADS_1


"Kenapa, Ken?" tanya Zahra memberanikan diri untuk buka suara.


"Kenapa malu - malu gitu, sih?" goda Ken pada Zahra.


"Enggak..." sanggah Zahra.


"Aku lihat kamu tunduk terus dari tadi. Grogi ya dekat sama aku?" tanya Ken terang - terangan.


Zahra tak menjawab, ia justru memilinn ujung baju yang ia kenakan. Ucapan Ken tidak salah, ia memang malu sekali saat ini. Entahlah, rasanya ia bingung harus bertingkah seperti apa dihadapan pria ini sekarang.


"Mau sampai kapan berdiri disana? Ayo duduk sini!" Ken menepuk sisi lapang di sebelahnya.


Zahra menggeleng cepat. "Enggak," jawabnya.


"Kenapa? Cuma duduk doang kan gak ada salahnya. Emang kamu mau berdiri terus, begitu?"


"Cepat katakan kamu mau ngomong apa..." kata Zahra mulai terintimidasi dengan tatapan mata Ken yang menghunus kearahnya.


"Syarat pasca pernikahan kita dibatalkan aja, ya?"


"Enggak!" tegas Zahra yang mulai berani menatap Ken sekarang.


"Ntar kalau Mama tanya gimana? Aku mau jawab apa, Sayang?"


Zahra kembali tertunduk mendengar kalimat Ken itu.


"Mana mungkin Mama tanya soal seperti itu!" ucap Zahra pelan.


"Ya kamu kayak gak tahu mamaku aja. Dia selalu detail orangnya."


"Ya, tapi gak semuanya bakal ditanyain Mama, Ken. Kamu aja yang cari - cari alasan, kan?"


Ken nyengir diseberang sana. "Kalau beneran ditanya, gimana?" tanyanya.


"Ya kamu bilang aja udah!"


"Udah apanya?" goda Ken.


"Ya udah.... pokoknya udah aja."


"Kamu suruh aku bohong, gitu?" Ken bicara dengan berbisik - bisik pelan meski jarak mereka sekarang terbilang jauh.


"Bukan gitu! Aku---" Zahra tak bisa melanjutkan kalimatnya. Bingung mau bilang apa lagi.


"Syaratnya batal ya.." Ken menatap Zahra dengan senyuman mautnya yang memikat.


"Aku bilang enggak ya enggak Ken." Zahra langsung berbalik badan, hendak pergi dari hadapan Ken.


Ken menghela nafas panjang. "Yaudah, kalau Mama tanya, aku suruh kamu yang jawab!" pekik Ken saat Zahra sudah berjalan ke arah dalam rumah.


*******

__ADS_1


__ADS_2