
Begitu Ken tiba di kamar, Zahra langsung menghampiri dan menginterogasi suaminya itu.
"Siapa yang datang, Ken? Apa Frans?"
Ken menggeleng. Melihat wajah wanita yang ia cintai itu membuatnya cukup tenang namun sekaligus membuatnya teringat akan peringatan yang baru saja disampaikam Bagas kepadanya.
"Papaku yang datang," jawab Ken pelan. Ia bingung harus apa sekarang? Haruskah ia jujur pada Zahra tentang keadaan yang dicemaskan kedua orangtuanya? Memang ini menyangkut tentang Zahra juga? Tapi jika ia jujur, ia takut istrinya itu ikut cemas dan yang paling ia takutkan justru Zahra menyalahkan diri sendiri karena telah membawa dirinya masuk kedalam hidup wanita itu.
Ken tahu, Zahra tidak memiliki salah apapun, bahkan ia masih terlalu kecil saat orangtuanya memiliki permasalahan ini dulu.
"Ken? Apa ada masalah, hmm?" Mata teduh Zahra menatapnya dengan lekat, sesekali mata itu mengerjap disertai senyum kecil yang tersungging dari bibir Zahra.
"Ng-nggak ada, Papa hanya menanyakan kabarku dan pernikahan kita..." dustanya.
"Oh, seharusnya tadi aku menyapa Om Bagas juga..." kata Zahra tertunduk.
"Kamu harus memanggilnya Papa sekarang. Papa juga titip salam untuk kamu tadi," ucapnya berusaha baik - baik saja, padahal sekarang ia tengah berpikir keras bagaimana ia melindungi sang istri tercinta.
"Iya, Ken. Lain kali apa boleh kita mengunjungi Papa? Aku tidak enak, karena pernikahan kita dilakukan tanpa persetujuan beliau," kata Zahra.
"Ya, lain kali kita pasti akan kerumah Papa, itupun jika kamu siap bertemu dengan Frans."
"Ah iya, seharusnya Frans tidak mencariku lagi, Ken. Bukankah waktu itu dia sudah bilang mau merelakan dan mencoba melupakan aku?"
Ia mengelus pelan pipi Zahra yang lembut. "Mungkin dia belum sepenuhnya rela, apalagi dia tahu jika yang menikahi kamu adalah aku. Pasti dia merasa tertipu dan dibodohi."
Zahra mengangguk. Sepertinya Zahra memang belum siap bertemu Frans dalam waktu dekat.
"Emm, Ken... aku merasa kamu sedang memikirkan sesuatu sekarang?" Zahra menatapnya lagi, kali ini bahkan lebih lekat dan tampak penuh selidik.
Apa pernikahan mereka yang baru berjalan seminggu sudah membuat Zahra bisa membaca kebohongannya? Atau istrinya itu memang mampu melihat jika sekarang ia sedang memikirkan suatu problem?
"Ehm... kenapa kamu bisa merasa begitu? Tidak ada, Sayang. Tidak ada yang aku pikirkan sekarang selain kamu," kilah Ken tak sepenuhnya berbohong.
Zahra hanya menggelengkan kepalanya pelan.
____
Keesokan harinya, Zahra pergi bersama Devia dan Ken menuju kantor, tentu Zahra ingin menyelesaikan pekerjaannya yang sedikit terbengkalai sebelum ia benar - benar resign dari sana.
Ken selalu mengantar kemanapun sang istri pergi, apalagi sekarang ia mengingat pesan Papanya untuk tidak lengah. Ken merasa harap - harap cemas sebenarnya tapi ia juga belum bisa berterus terang pada Zahra tentang masalah besar ini.
"Ah, Ken... apa kalian tidak berbulan madu? Aku pikir itu sangat baik untuk hubungan kalian." Ucapan Zaki membuat Ken tersadar dari lamunannya.
"Ah ya, kenapa Bang?"
"Kamu melamun?" tanya Zaki. "Apa ada masalah?" lanjutnya.
__ADS_1
"Ng-nggak bang, bukan apa - apa, Abang membahas apa tadi?"
"Apa kamu dan Hana tidak ada niat berbulan madu? Pergilah beberapa hari."
"Oh itu? Ya, ada rencana ... tapi belum tahu kapan," ucap Ken mencoba tersenyum. Awalnya ia memang memikirkan hal ini tapi sekarang ia bingung jika harus mengajak Zahra bepergian.
"Oh, apa kalian akan berbulan madu setelah acara resepsi bulan depan?"
"Re-resepsi?" tanya Ken yang sempat melupakan hal itu.
"Ya, bukankah harusnya kalian menikah dibulan depan, tapi ternyata akadnya sudah dipercepat? Aku pikir resepsi itu akan tetap berjalan karena setahuku Mama tidak membatalkan undangan dan WO untuk di hotel."
Astaga, Ken melupakan hal ini padahal ini adalah perhelatan mengenai acara pernikahannya yang akan diketahui publik. Diketahui publik? Akankah ini justru berimbas membahayakan dia dan Zahra nantinya?
"Bang, aku permisi dulu... aku akan menemui Mama sekarang!"
"Ada apa, Ken? Apa yang terjadi?"
"Tak apa, Bang. Lain kali aku akan menceritakannya padamu. Terima kasih sudah mengingatkan perihal resepsi itu!"
Ken pun berlalu dari hadapan Zaki, ia langsung beranjak menuju ruangan sang Mama.
Ken membuka pintu dan melihat jika sang istri juga ada disana. Bagaimana ia harus berbicara empat mata pada sang Mama sekarang?
"Ada apa, Ken?" tanya Devia heran.
Ken melirik Zahra yang kini juga menatapnya bingung.
Devia mengernyit, sedetik berpikir, wanita itu langsung paham apa yang hendak Ken bahas dan ini berhubungan dengan peringatan Bagas tempo hari.
"Ah ya, masalah itu sebenarnya Mama juga bingung, Ken."
"Kenapa, Ma?" timpal Zahra yang masih mendengar percakapan mereka.
"Begini, Mama merasa tidak enak dengan kamu, Han. Sebenarnya Mama ingin menunda resepsi itu. Karena masih ada problem sedikit, Apa kamu keberatan?"
Zahra menggeleng "Tidak, Ma. Justru aku tidak memikirkan melanjutkan resepsi lagi. Bagiku pernikahan kemarin sudah sangat sakral dan lebih dari cukup."
"Oh, syukurlah..." Devia bernafas lega sembari melirik Ken yang tampak mendesahh panjang.
"Em, Ken... setelah ini bisa kita bicara sebentar?" tanya Devia, ia tahu Ken tak bisa memulai kalimat itu jika dihadapan sang Istri, jadi lebih baik ia saja yang lebih dulu memulai.
"Ya, ya, Ma!" sahut Ken pelan dan saling memandang penuh arti dengan Devia.
"Han, Mama tinggal dulu ya. Mama mau bicara mengenai saham dengan Ken. Kamu lanjutkan saja sisa laporannya ke jurnal, setelah itu tulis ulang jadwal meeting 2 hari kedepan, nanti kirimkan saja ke email Mama," pungkas Devia.
"Baik, Ma."
__ADS_1
Ken menghampiri Zahra setelah Devia meninggalkan ruangan.
"Aku bicara sebentar dengan Mama."
Cup
Ken mengecup dahi Zahra sekilas dan berlalu dari sana setelah Zahra menganggukinya.
_______
Devia sibuk menelepon pihak hotel, Wo, Catering dan segala yang berkaitan dengan acara resepsi pernikahan Ken dan Hana dibulan depan.
Ken menatapi sang Mama yang tampak gamang, padahal biasanya sang Mama paling bijak dalam mengambil sebuah keputusan, tapi kali ini Ken tahu bahwa Devia tengah dilanda rasa cemas dan khawatir yang berlebihan.
"Seharusnya Mama mengingat ini lebih awal, seharusnya Mama sudah bisa memperkirakan hal ini sebelum Papamu memberitahu, Ken!" ucap Devia sembari fokus pada layar gadget digenggamannya, entah siapa lagi yang akan dihubungi sang Mama kali ini.
"Ya... ya, saya batalkan."
"Iya, tidak apa jika dp nya hangus! Ya, terima kasih."
Ken menghela nafas panjang, jika tadi Zaki tak memberitahunya, ia juga pasti tak tahu menahu masalah ini. Mama benar - benar lengah dan lupa hingga tak memikirkan imbas dari acara resepsi itu sendiri. Syukurnya semua bisa digagalkan sebelum hari H, walau Mama akan rugi besar karena kehilangan uang muka yang sudah ia transfer ke beberapa orang terkait berlangsungnya acara resepsi bulan depan.
"Ma... tenanglah, semua pasti akan baik - baik saja. Kalau Mama dan Papa bersikap berlebihan seperti ini, aku juga akan sangat cemas, bukan hanya mencemaskan diriku sendiri tapi aku sangat mencemaskan istriku. Aku takut tidak bisa menjaganya," ujar Ken lesu.
"Ken... maafkan Mama, Nak." Devia memeluk tubuh Ken dan menangis di dada bidang sang anak, ia kehilangan cara untuk menghadapi ketakutannya sendiri akan hal buruk yang menguntai anak dan menantunya.
"Aku akan bicarakan ini dengan Rasta. Kami pasti bisa menjaga diri terutama menjaga Hana, Ma!"
"Mama menyesal, Ken..." lirih Devia.
"Mama menyesal telah menikahkan aku dengan Hana?" tanya Ken.
"Bukan itu, Ken! Mama menyesal karena tidak bisa menyembunyikan udentitas asli Hana saat kalian menikah."
"Ma, semua itu bukan salah Mama. Lagipula kami menikah memang harus menggunakan nama lahir Hana, yang sudah kita ketahui. Lain hal jika kita tidak tahu siapa Hana sebenarnya."
Devia mengangguk, cepat atau lambat, berkas pernikahan Zahra dan Ken pasti akan naik ke catatan kantor urusan agama dan meninggalkan jejak disana.
"Mereka pasti akan menemukan kalian, Ken!"
"Ya, Ma. Aku tahu... mungkin ini saatnya Rasta dan Hana tidak perlu bersembunyi lagi. Mereka memang harus menuntaskan permasalahan ini, agar tidak hidup dalam persembunyian terus ataupun hidup menjadi orang lain."
"Ken, bayarlah bodyguard untuk Hana. Kalau perlu untuk kalian berdua!"
Ken tersenyum kecil. "Keberadaan bodyguard justru akan membuat orang semakin curiga, Ma!"
Devia menggeleng, "Ini untuk kebaikan juga, Ken! Toh semua akan terungkap nantinya. Lalu bagaimana Hana bisa melindungi diri jika ternyata identitasnya terlacak sementara kamu belum menyiapkan perlindungan apa - apa untuk dia!"
__ADS_1
"Baiklah, Ma!" jawab Ken menurut, meski Ken tidak yakin jika Zahra akan menyetujui hal ini, entahlah apa Zahra akan mengerti setelah nanti Ken bererus - terang tentang keadaan yang tak lagi kondusif dalam kehidupan mereka sekarang.
*****