Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Spesial Rasta/Cira 4


__ADS_3

Rasta mengantarkan Cira pulang ke rumah dan bertemu dengan Devia yang tampak tergesa-gesa.


"Ada apa, Ma?" tanya Cira kebingungan.


"Syukurlah kalian sudah tiba, Mama harus segera ke rumah sakit soalnya kondisi Frans pasca operasi kurang baik," kata Devia dengan wajah pucat.


"Rasta, tolong kabari Ken masalah ini. Tante takut terjadi sesuatu dengannya, bilang sama Ken untuk mengabari Irene karena tante tidak memiliki akses untuk menghubungi dia ataupun Bagas di Luar Negeri."


"Oke, Tant.."


Devia segera mengambil tasnya, bersiap untuk pergi dari rumah itu.


"Tan, aku anterin aja!" kata Rasta. Devia menatap Rasta sekilas kemudian mengangguk.


"Ayo Cira ikut juga, jangan dirumah sendirian. Mbak Ira juga udah Mama suruh pulang tadi."


"Tapi, Ma..."


"Nggak apa-apa, ada Mama dan Rasta, kamu gak usah takut."


Bagaimana pun Devia memahami jika Cira takut untuk muncul ditempat umum, tapi Devia juga risau jika meninggalkan Cira sendirian dirumah itu.


Mereka bertiga menaiki mobil milik Rasta dan segera menuju Rumah Sakit dimana Frans berada.


Sampai disana, Rasta terkejut mendapati Jenar yang tampak gelisah didepan ruangan Frans. Ruangan yang dijaga oleh beberapa aparat kepolisian itu sepertinya sedang dimasuki oleh Dokter dan perawat untuk memeriksakan keadaan Frans disana.


"Kau disini?" tanya Rasta pada Jenar. Jenar mengangguk samar.


Cira melihat Rasta yang mengenali sosok Jenar, disaat itulah ia merasa sifat insecure yang ada pada dirinya kembali menjadi, karena ternyata pergaulan Rasta yang luas membuat pria itu bisa mengenal sosok wanita secantik Jenar, pantas saja Rasta tidak pernah meliriknya, selain ia masih bocah, tampangnya juga pasti pas-pasan dimata pria itu karena jika dibandingkan dengan Jenar, ia tidak ada apa-apanya. Rasta bisa bersikap tak acuh pada wanita secantik Jenar, pantas saja sikapnya ke Cira juga begitu.


Devia yang menjadi wali untuk Frans langsung menerobos masuk kedalam ruangan karena ia memang memiliki hak untuk itu.


Akhirnya, Rasta, Cira dan Jenar menunggu didepan ruang perawatan Frans. Mereka duduk disebuah kursi tunggu yang ada disisi luar ruangan.


"Tadi aku kesini untuk mengajak Frans mengobrol, perihal kandunganku, aku baru saja ingin menunjukkan hasil USG padanya..." celetuk Jenar tiba-tiba, ia tidak memikirkan rasa malu lagi membahas kandungannya karena ia tahu Rasta pun sudah mengetahui jika yang ia kandung adalah anak Frans. Sementara melihat sosok Cira yang masih mengenakan seragam SMA, Jenar menganggap gadis itu tak mungkin mencampuri permasalahan yang akan ia utarakan pada Rasta sekarang.


"Terus, apa yang terjadi dengannya? Ku dengar dia baru selesai operasi?"


"Ya, hubungan kami membaik akhir-akhir ini. Frans juga sudah mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab dengan menikahi aku. Tapi ...."

__ADS_1


"Tapi kenapa?"


"Tadi aku belum sempat masuk, belum sempat bicara padanya seperti biasanya, belum ssmpat menunjukkan hasil USG padanya tapi dia sudah dalam pemeriksaan dokter, menurut perawat yang tadi ku tanyai katanya Frans dalam keadaan tak baik," kata Jenar dengan mata berkaca-kaca.


"Kau takut kehilangan dia?" tebak Rasta.


"Ya, dia adalah ayah dari anakku."


"Jika dia bukan ayah dari anakmu?"


"Aku tidak akan mempedulikannya," jawab Jenar menyeka airmata yang menetes begitu saja.


Rasta menggeleng. "Ku pikir kau memiliki perasaan padanya, entah menganggapnya teman atau lebih.. tapi yang jelas kau menganggap Frans sebagai manusia, tidak seperti aku atau Ken yang menganggapnya hanya angin." Rasta tertawa kecil diujung kalimatnya.


"Mungkin begitu, bagaimanapun Frans selalu ada saat aku terpuruk, dia yang menemaniku waktu aku kehilangan Ken karena Ken menikah dengan Zahra secara mendadak." Jenar terisak mengingat momen kebersamaannya dengan Frans.


Sementara itu, Cira dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, mau tak mau ikut menyimak pembicaraan Jenar dan Rasta, ia jadi mengetahui sebuah kenyataan bahwa wanita disebelah Rasta adalah mantan pacar Ken, ia juga tahu jika kini wanita itu hamil anak Frans. Namun, yang ia tidak habis pikir, kenapa Rasta bisa mudah menyimpulkan perasaan Jenar, sementara Rasta tidak bisa menyimpulkan perasaan Cira kepadanya.


Tak berapa lama, beberapa perawat dan Dokter yang menangani Frans keluar dari ruangan yang sama. Devia juga keluar dan menatapi ketiga orang yang menunggu diluar itu.


"Bagaimana keadaan Frans, Tante?" Jenar lebih dulu bertanya, raut wajahnya tampak kekhawatiran yang jelas.


Cira segera beringsut menuju Devia. "Kenapa Mama sedih? Bukankah Abang Frans adalah anak Tante Irene?" tanya Cira yang sudah banyak tahu mengenai keluarga Devia dari cerita wanita itu sendiri.


"Entahlah, Cira. Mama merasa Frans sama seperti Ken. Keadaanlah yang membuatnya menjadi pria yang kurang empati. Padahal Hana sempat bercerita pada Mama bahwa dia mengenal Frans dengan pribadi yang baik saat di Singapore. Mungkin, rasa iri dan dengki yang terbentuk sangat kuat dalam diri Frans lah yang membuatnya tega melakukan apa saja pada Ken, tapi sebagai seorang Ibu... Mama merasa ikut sedih melihat kondisinya." Cira pun memeluk tubuh Devia untuk mencoba menenangkan wanita baya itu.


Jenar menangis tersedu. "Lalu bagaimana sekarang, Tant? Apa kata Dokter untuk penyembuhan Frans selanjutnya?" tanyanya.


"Kemungkinan akan diberi obat lain yang memiliki khasiat serupa untuk pemulihan kondisinya."


_______


"Aku ke kantin dulu, ya, Ma. Aku belum makan siang, aku lapar." Cira bangkit dadi duduknya dalam ruang rawat Frans yang tampak terlelap.


"Aku ikut!" kata Rasta cepat.


Cira berjalan lebih dulu, ia ingin menjaga jarak dengan Rasta karena kini ia sadar diri dengan dirinya yang sama sekali tak menarik dimata pria itu sesuai ucapan Rasta saat menjemputnya tadi.


Rasta berjalan santai tak jauh dibelakang posisi tubuh kecil Cira, ia memasukkan kedua tangannya kedalam kantung saku celana bahan yang ia kenakan hari ini, karena pagi tadi ia baru saja mengadakan meeting mengenai pemasok SDA minyak bumi di kantornya.

__ADS_1


"Cira?" Cira menoleh pada seseorang yang menyapanya.


"Bu Saskia?" jawab Cira, ternyata itu adalah guru bahasa Inggris disekolahnya.


"Sedang apa disini, Bu?" tanya Cira pada gurunya. Belum sempat Saskia menjawab Cira tiba-tiba Rasta masuk dan ikut nimbrung diantara percakapan itu.


"Kia?" Rupanya Rasta mengenali guru Cira itu.


"Rasta?" Saskia tersenyum pada sosok Rasta dihadapannya.


"Apa kabar?" tanya Rasta pada Saskia.


"A-aku baik," jawab Saskia gugup dan langsung menundukkan wajah.


Cira menatap cengo kedua orang yang kini ada dihadapannya. Ia tak menyangka Rasta dan Saskia saling mengenal satu sama lain.


"Baguslah," kata Rasta. "Aku juga baik sejak kamu putusin!" sambung Rasta sambil tertawa kecil. Disaat itulah Cira memahami situasi yang terjadi bahwa Saskia adalah mantan pacar Rasta.


"Om, aku ke kantin duluan!" kata Cira segera beringsut, ia hanya mengulas senyuman pada Saskia sebagai isyarat untuk undur diri.


Melihat Cira yang pergi begitu saja, Rasta segera mengejarnya, ia meninggalkan Saskia yang masih menatapnya dengan nanar.


"Cil?!" Rasta memanggil Cira namun gadis itu terus berjalan menuju ujung rumah sakit--dimana letak kantin berada.


"Cil! Bocil!!!" pekik Rasta namun tak sekalipun Cira menoleh atau menghentikan langkah, justru ia semakin berjalan cepat nyaris berlari.


Rasta berdecak, kesal dengan sikap Cira yang kekanak-kanakan. Tapi, Cira kan memang masih anak-anak.


"Cira!!!" panggil Rasta akhirnya dan itu berhasil membuat Cira menoleh kepadanya.


"Apa?" tanya Cira tak senang.


"Lo kenapa? Marah kenapa lagi hari ini?"


"Siapa yang marah! Nggak ada! Aku laper!" Cira segera memutar tubuh untuk kembali melangkah.


Namun sayang, Rasta segera menangkap lengan gadis itu. "Lo marah? Lo cemburu?" tanya Rasta, niatnya memang ingin mengejek Cira, tak tahunya Cira justru menangis didepannya.


"Ke-kenapa jadi nangis?" Rasta jadi gelagapan.

__ADS_1


"Pantes aja om nolak aku! Rupanya mantan pacar om itu Bu Saskia. Tau gak, dia itu guru tercantik di sekolah aku! Cocok sih om sama dia! Kalo Om nanya aku cemburu atau enggak jawabannya iya aku cemburu, puas!"


__ADS_2