
Setelah menjemput Paman Sapta di Dermaga kemudian mengantarkannya dan Rasta untuk pulang, Ken pun kembali ke Rumah Sakit.
Hari menjelang subuh, saat Ken tiba disana. Ia melihat istrinya yang masih nyenyak dalam tidur, begitupula sang Mama yang tertidur pulas di ranjangg kosong yang terdapat disebelah ranjangg yang ditempati Zahra.
Ken membersihkan diri di kamar mandi yang ada didalam ruangan VVIP itu, setelah itu ia pun berwudhu.
Ken tidak tahu kenapa ia merasakan perubahan pada dirinya sendiri mengenai hal ini. Jika dulu ia akan melakukan hal ini karena ingin berubah dan menjadi layak untuk Zahra, namun sekarang bukan hal itu yang membuatnya ringan untuk melakukan ibadah. Entahlah... seperti ada dorongan dalam diri sendiri yang membuatnya ikhlas melakukan semua itu tanpa rasa terpaksa.
Mungkin diawal - awal ia memutuskan untuk berubah, ini terasa sangat sulit bahkan malas selalu melanda. Namun belakangan hari, ia merasakan perubahan yang cukup signifikan pada dirinya sendiri.
Ken mulai melakukan shalat sunnah di malam itu.
Kejadian hari ini cukup membuatnya lelah dan ingin mengadukan segalanya pada Sang Pencipta di sepertiga malam.
Usai melakukan rakaatnya, Ken mulai mengadahkan tangan dan berdoa, ia mendoakan kedua orangtuanya terlebih dahulu, berlanjut pada mendoakan istrinya yang tengah mengandung buah cinta mereka.
Ken tidak tahu apakah doa seorang pendosa seperti dirinya akan diterima atau tidak. Namun yang ia yakini bahwa, Sang Maha Menciptakan akan selalu mendengar keluh - kesah serta segala permohonan para hamba-Nya.
Entah kapan do'a itu diijabah, Ken hanya bisa melangitkan doa setinggi-tingginya berharap do'a itu bisa menaungi dengan aspek kebaikan untuk kehidupan keluarga kecilnya yang baru akan dimulai.
_____
Zahra terbangun saat sayup - sayup indera pendengarannya mendengar seseorang tengah mengutarakan do'a. Ia membuka mata dan melihat suaminya tengah duduk bersimpuh diatas sejadah merah berhiaskan rumbai keemasan, miliknya.
Ia terkesiap, namun buru-buru terdiam demi menyimak do'a apa yang tengah dirapalkan Ken kepada Sang Maha Pendengar.
"Ya Allah, ampunkanlah segala kesalahanku dimasa lalu. Ridhoi aku agar menjadi lebih baik lagi, istiqomahkan hatiku agar bisa menetap dijalanMu..."
"...mungkin sebagai hambaMu aku terlalu banyak meminta, tidak sepadan dengan segala perbuatanku yang penuh dosa. Dosa yang pernah ku lakukan tanpa pernah mengingatMu... ampuni, ampuni aku ya Allah. Tapi, izinkanlah aku yang berdosa ini untuk mendo'akan orang - orang yang ku sayangi."
"Lindungilah keluargaku, Ya Allah. Jauhkan dari segala masalah yang tak dapat kami lalui. Hamba tahu Engkau meletakkan kami dijalan ujian yang memang mampu untuk kami lalui. Berilah aku kesempatan agar bisa menjadi imam yang lebih baik untuk istri dan anak-anakku, kelak. Lindungi pula anak dalam kandungan istriku,"
Ken tampak menitikkan air mata namun itu segera diseka oleh pria itu, sebelum akhirnya Ken melanjutkan doa lagi dengan suara yang tercekat bak menahan isak.
"A--aku sangat mencintai Hana, Ya Allah... jangan pisahkan aku dengannya. Beri aku ujian, asal jangan mengambilnya dariku... bilapun nanti kami harus berpisah karena umur, maka atas izinmu ambillah nyawaku lebih dulu daripada dia, jangan izinkan siapapun manusia mengambilnya dari sisiku... Aamiin, Aamiin ya Rabbal Alaamiin..."
Ia ikut tercekat mendengar doa suaminya di sepertiga malam. Ia ingin bangkit dari posisinya dan menghambur ke dalam pelukan pria yang telah memporak-porandakan pondasi hatinya. Ia ingin menangis haru dalam dekapan pria itu.
Namun, niat itu ia urungkan karena ia melihat Ken bangkit dan seperti tengah mencari - cari sesuatu didalam sling bag miliknya diatas nakas.
Ia tahu saat ini Ken belum menyadari jika sekarang ia telah sadar dari tidur. Ia berusaha tetap diam karena ingin melihat hal apa yang ingin sang suami lakukan selanjutnya.
Ken tampak menyunggingkan senyuman kecil saat menemukan sebuah mini alqur'an yang ada didalam sling bag miliknya. Rupanya Ken mencari itu didalam tasnya, mungkin Ken tahu jika ia sering membawa mini Alqur'an itu.
Apa Ken mau membaca Al-qur'an itu? Selama menikah 2 bulan ini, ia memang belum pernah melihat atau mendengar Ken membaca Al-qur'an.
__ADS_1
Ken kembali duduk bersila di sejadahnya, tampaknya Ken benar - benar tak sadar jika tengah ia perhatikan dalam posisinya yang masih berbaring, kini.
Ken membuka lembaran mini Al-qur'an yang kini ada dalam jemari. Kemudian pria itu mulai membuka mulut dan membaca salah satu surah didalamnya.
"Audzubillah Himinas Syaiton Nirojim,"
"Bismillahirrahmanirrahim,"
"Ar Rahmaan ..."
"Allamal Quran,"
"Khalaqal insaan,"
"'Allamalhul bayaan,"
Ia langsung tahu surah apa yang kini tengah dibaca Ken. Ia pun mencoba diam dan mendengarkan bacaan suaminya yang terdengar kaku namun lafalnya terdengar cukup baik. Ia sungguh tak menyangka jika Ken bisa membaca Al-qur'an dengan nada sebaik ini.
Dan ia kembali menyimak surah Ar-Rahman yang masih lanjut dibaca oleh suaminya itu.
"Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan ..."
Suara Ken terdengar bergetar saat membaca ayat itu, entah kenapa ia pun jadi menitikkan airmata, sungguh ia ikut merasakan kesedihan Ken saat membaca ayat ke 16 itu.
Ayat yang diulang dan disebutkan sebanyak 31 kali didalam surah yang sama.
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Mungkin saat ini Ken tengah menyadari tentang kesalahannya dimasa lalu yang terlalu banyak memungkiri Nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya, entahlah...
Namun, ia seakan ikut larut dalam bacaan syahdu sang suami, hingga ia pun tak bisa menahan tangisan haru-nya.
Ken berhenti melanjutkan bacaan. Mungkin karena mendengar isakannya yang tak terbendung, pria itu menoleh sekilas ke arahnya dengan senyum tipis, lalu benar - benar menyudahi bacaan Al-qur'annya.
"Sadaqallahul azim ..." Ken menutup mini Al-qur'an ditangan, lalu melipat sejadah.
Pria itu mendekat ke arahnya, setelah menyimpan semua barang - barang tadi ketempat semula.
"Kenapa, Sayang? Kamu bermimpi buruk?" tanya Ken lembut padanya.
Ia mencoba duduk dengan dibantu sang suami, lalu tanpa kata ia langsung mendekap tubuh Ken dari samping.
"Kenapa, hmm??" Terasa jemari Ken mengelus puncak kepalanya secara berulang.
"Aku... terharu, kamu menyebutkan namaku didalam doamu."
__ADS_1
Ken berkedip sesaat, lalu menoleh padanya. "Kamu denger aku berdoa tadi?"
Ia mengangguk pelan masih dalam dekapan pria itu.
Ken menghela nafas panjang. "Aku gak tahu kamu dengerin aku doa tadi," kata Ken.
"Ya, kalau kamu tahu mungkin doanya gak dilanjut makanya aku menyimak dalam diam saja," ucapnya terus - terang.
Tiba - tiba ia merasakan sebelah tangan Ken bergerak dan jemari Ken mengelus pelan dibagian perutnya.
"Disini sudah ada calon anak kita, kamu jangan sering menangis... nanti anak kita jadi ikut sedih karena hal itu," kata Ken dengan lembutnya.
"Apa kamu mencintai kami?" tanyanya memastikan. Walau tak perlu Ken jawab pun, ia sudah tahu jawaban pria itu, hanya saja ia ingin mendengar langsung ungkapan cinta dari suaminya, karena rasanya ia tak akan pernah muak mendengar kalimat itu.
Ken melepas dekapan, membiarkan posisi mereka berhadapan satu sama lain dan menangkup pipinya dengan kedua tangan.
Ken menatapnya lekat dengan tatapan penuh cinta.
"Sekarang coba kamu lihat dimata aku! Kamu bisa perhatikan bahwa ada cinta yang penuh buat kamu dan anak kita," tutur Ken tak kalah lembut dari sebelumnya.
"Apa cintanya memang penuh?" tanyanya lagi dengan polosnya.
Ken mengangguk dalam posisi yang masih menangkup sisi wajahnya.
"Full ... bahkan mungkin sudah meluber keluar, melimpah - ruah!" ucap Ken yang kini terkikik dengan ucapan sendiri.
Ia mengelus jemari Ken yang masih setia berada di pipinya.
"Makasih, Ken..."
"Iya, Sayang."
"Apa masalah kamu sudah selesai? Tadi aku sempat terbangun dan mencari kamu, tapi kamu gak ada... kata Mama, kamu sedang ada keperluan mendadak."
"Ya, itu hanya keperluan dan bukan masalah seperti yang kamu bilang, itu semua sudah selesai, Sayang." Ken berucap sembari menatap ke lain arah, tak lagi menatap ke manik matanya, sontak saja ia merasa ada yang ditutupi oleh suaminya ini.
"Ditengah malam memangnya ada keperluan apa? Maka itulah aku menyimpulkan jika kamu tengah memiliki masalah."
"Sudahlah, jangan dipikirkan... semuanya baik - baik saja, Han. Kita siap - siap subuhan yuk, sebentar lagi akan adzan subuh," Ken menghindar dan ia membaca gelagat Ken itu.
"Sebentar, Ken..." Ia menggeleng, sekarang ia yang menangkup wajah Ken agar tidak menghindar dari tatapan matanya.
"Kenapa, hmm?" Ken tampak bersikap baik-baik saja dengan menunjukkan sikap datarnya yang memang telah mendarah daging.
"Jangan bohongi aku, jangan tutupi apapun!"
__ADS_1
*******