
"Jen!!" seru Ken pada sosok wanita yang ia yakini sebagai Jenar, namun wanita itu seakan menghindar dari Ken.
Dengan langkahnya yang jenjang dan sedikit berlari akhirnya Ken mampu mencapai posisi terakhir dari wanita yang ia sangka sebagai Jenar, namun sampai disana Ken tak menemukan siapapun.
"Kemana dia?" Ken menatap sebuah ruangan yang tertutup. Ia meyakini jika wanita tadi telah menyelinap masuk kedalam ruangan itu.
Ken bisa saja ikut masuk kesana, namun ia tidak mau melakukan hal itu karena ia memiliki rencana lainnya.
Ken memutuskan untuk pergi dari sana dan menyusul Rasta yang sejak awal ia suruh menunggu didepan gerbang bangunan pengadilan itu.
"Ketemu?" tanya Rasta saat melihat Ken kembali, Ken menggeleng samar.
"Terus? Lo biarin aja?"
"Gue yakin sih itu Jenar, tapi gue punya cara lain biar bisa ketemu dia, gak dengan cara kejar-kejaran kayak gini."
"Oke lah," kata Rasta sembari berjalan menuju mobil tua yang masih setia ia gunakan sampai saat ini.
"Kalo perlu bantuan apa-apa, lo hubungin aja gue!"
"Sip!" Ken mengacungkan jempol dan berbalik kearah lain dimana banyak mobil terparkir.
Sampai diparkiran, ia menelepon nomor ponsel Jenar. Jika menunggu tidak mendapatkan hasil, maka harus memulai untuk mengungkap segalanya.
Panggilan pertama Ken tidak dijawab oleh Jenar, Ken terus menghubungi nomor wanita itu hingga akhirnya Jenar menjawab teleponnya.
"Kau dimana?" tanya Ken to the point.
"A-aku... dirumah, ya dirumah!" jawab Jenar terbata.
"Apa kau tidak jadi melakukan tes DNA?"
"Tentu jadi, aku juga mau membuktikannya padamu, Ken."
"Ya sudah, aku sudah siap sekarang, Dimana aku menemuimu?"
"Jangan sekarang!" cegah Jenar cepat.
"Kenapa?"
"Ehm, usia kandunganku masih terlalu dini untuk melakukan hal itu... akan sangat membahayakan nanti."
"Lalu kapan?"
"Beberapa bulan lagi."
"Baiklah, aku ingin bertemu denganmu sekarang."
"Sekarang? U-untuk apa?"
"Untuk membahas tentang anak itu, cepatlah!"
"Aku tidak bisa sekarang Ken! Aku sibuk dirumah," tolak Jenar.
"Kenapa kau menghindar?"
"Bukan begitu, Ken!"
"Apanya yang bukan begitu? Kau menghindar dariku! Bukankah tempo hari kau yang mengajakku bertemu? Kenapa sekarang menghindar?"
Jenar terdiam dan Ken memutus panggilannya sebelah pihak. Ia berdiri bersedekap didepan sebuah mobil.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya yang Ken rencanakan terjadi. Mobil yang Ken sandari terdengar berbunyi karena remote alarm pengakses mobil ditekan oleh sang empunya.
Ken terkekeh sinis saat mendapati Jenar sudah berada didepannya dengan tampang terkejut saat melihatnya.
"Jadi pengadilan ini rumahmu?" sindir Ken karena tadi Jenar mengatakan sedang berada dirumahnya.
__ADS_1
Jenar ingin lari menghindar, tapi Ken segera menangkap lengan wanita cantik itu.
"Aku bilang aku belum mau bertemu denganmu, Ken!" tegas Jenar.
"Kenapa kau menghindariku? Sudah jelas aku tadi melihatmu!" kekeh Ken pelan, jika tadi ia tidak bisa mecegat Jenar, maka menunggu didepan mobil wanita ini tentu akan membuahkan hasil seperti saat ini, bukan? Ia tak perlu lelah berlari mengejar Jenar yang sengaja menghindarinya.
"Apa maumu, Ken?" tanya Jenar akhirnya.
_______
Rasta keluar dari area pengadilan dan mengendarai mobil tuanya dengan kecepatan sedang.
Sampai dipertengahan perjalanan, ia menghentikan mobil didepan sebuah apotek karena ingin menebus obat Paman Sapta.
Rasta kembali ke mobilnya dengan berjalan santai, namun ia begitu terkejut saat mendapati seseorang sudah berada didalam jok belakang mobilnya sambil meringkuk, suara ngos-ngosan dari seseorang itulah yang membuat Rasta menoleh kebelakang.
"Astaga!" Rasta memegangi dadanya sanking terkejutnya, perasaan ia hanya meninggalkan mobil sejenak untuk menebus obat kenapa sekarang sudah diisi oleh orang lain, kapan masuknya? Mobil tuanya memang memiliki kelemahan di pintu belakang yang bisa dibuka begitu saja meski pintu lainnya terkunci.
Seorang yang meringkuk di jok perlahan-lahan mulai berani membuka wajahnya dan menatap pada wajah Rasta.
"Cira?" Rasta amat terkejut ternyata ia mengenali sosok itu.
"Om, tolong aku, Om!" Cira menangis sambil sesekali tatapannya menyelidik ke arah jalanan.
Rasta panik. "Lo kenapa, bocil?" tanyanya heran.
"Aku dikejar-kejar sama orang!"
"Kok bisa?"
"Nanti aja ceritanya, bisa gak kalau sekarang pergi dari area ini?" desak Cira sambil menangis.
Rasta menghela nafas kemudian mengangguk juga.
"Pindah ke depan! Gue bukan sopir lo!" sarkasnya, namun Cira menggeleng keras.
"Jadi lo mau tetap dibelakang?"
"Mereka?" tanya Rasta lagi. Fix yang mengejar Cira bukan satu orang, melainkan lebih.
Setelah berdecak lidah, Rasta mengemudikan juga mobilnya. Sesekali ia melirik Cira yang masih menyurukkan wajah di jok belakang.
"Mau kemana nih? Pulang ke panti?" tanya Rasta.
"Enggak, aku udah gak tinggal disana!"
"Hah? Kenapa?"
"Panjang ceritanya, Om."
"Terus sekarang kemana dong?"
"Ke rumah Kak Hana, gimana?" ucap Cira memberi usul.
"Jangan, Hana lagi sakit dan banyak masalah."
"Ya udah ke rumah Om aja!"
Rasta tertawa sinis. "Yang bener aja lo masa gue bawa lo kerumah. Apa kata dunia!"
"Please tolongin aku, Om!"
"Gue bakal tolong lo kalo lo ceritain dulu apa yang terjadi."
"Iya iya..."
Akhirnya Rasta membawa Cira menuju ke taman kota. Sampai disana gadis itu tetap tidak mau turun dari mobil karena masih dalam keadaan ketakutan.
__ADS_1
"Lo kenapa sih? Kalo lo terus gini gue tinggalin aja lo disini, turun enggak?" ancam Rasta.
"I-iya," kata Cira akhirnya.
Rasta bersiap menuruni mobil, namun tangan Cira menarik hoodie yang ia kenakan.
"Apa lagi?
"Pinjem ini...." Cira menunjuk Hoodie milik Rasta.
"Lo udah minta tolong masih ngerepotin juga ya!" desis Rasta, namun melihat wajah Cira yang memelas akhirnya ia tidak tega juga, ia pun melepas hoodienya untuk dikenakan oleh gadis itu.
Rasta segera turun dari mobil tanpa menunggu Cira yang masih mengenakan hoodie agar tidak mudah dikenali oleh orang-orang yang mengejarnya.
Rasta duduk di kursi taman kemudian Cira menyusul duduk disebelahnya.
"Aku udah diadopsi orang lain, Om."
Ucapan Cira berhasil membuat Rasta menoleh.
"Terus? Ya bagus kan kalo diumur lo yang sekarang elo udah nemuin orangtua angkat!"
Cira menggeleng. "Mereka gak setulus itu sama aku. Siapa sih yang mau nampung anak gadis asing tanpa niat tertentu."
"Maksud lo?"
"Suami istri itu punya kelainan... mereka malah mau menjadikan aku partner untuk hubungan suami istri diantara mereka."
"What? Maksud lo mereka mau jadiin lo partner untuk three-some, gitu?" tebak Rasta yang kaget bukan main.
Cira mengangguki tebakan Rasta yang benar adanya.
"Terus? Udah kejadian?"
Cira justru menangis. "Hampir, di hari-hari pertama aku tinggal sama mereka, mereka sih kelihatan sayang dan anggap aku anak, tapi akhirnya aku... aku..."
"Kenapa? Lo diapain sama mereka?" Entah kenapa Rasta merasa emosi mendengar kenyataan ini.
"Aku dipaksa melihat mereka berhubungan..."
Rasta menatap Cira dengan mata membola. "What, yang bener aja!?"
"Awalnya cuma disuruh lihat aja, lama-lama aku disuruh gabung. Aku enggak mau, aku nolak, diawalnya mereka masih maklum, lama-lama mereka gak mau tahu lagi, aku dipaksa, aku terus mencoba kabur sejak tahu mereka aneh. Berulang kali, sampai akhirnya hari ini aku berhasil kabur."
Rasta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Laporin ke polisi aja, ya!" katanya memutuskan.
"Aku enggak berani, Om! Mereka orang yang berada dan cukup berpengaruh dikota ini."
Rasta menghela nafas panjang. "Tapi lo belum diapa-apain, kan?"
"Belum, gak tahu kalo tadi aku gak berhasil kabur, mungkin aja.... udah..." lirih Cira.
"Lo masih dibawah umur, kalo lo ikut gue dan mereka yang punya surat kuasa adopsi, yang ada gue yang bakal bermasalah. Satu-satunya jalan, ya lo harus berani laporin mereka ke pihak berwajib baru lo bisa lepas dari mereka."
Cira terdiam, ucapan Rasta benar, ia belum genap 17 tahun dan surat adopsi itu memang dimiliki oleh sepasang suami istri yang sakit itu.
"Aku gak berani, Om!"
"Kapan lo 17 tahun?"
"Tiga bulan lagi."
"Ya udah, jalan satu-satunya lo harus lapor ke polisi atau kalo lo enggak berani juga, ya lo harus dalam pelarian sambil nunggu cukup umur."
"Kalo udah cukup umur, aku harus apa?"
__ADS_1
"Lo cari laki-laki yang mau nikahin lo, udah kelar deh... karena suami lo bakal lebih berhak atas lo, daripada kedua orangtua angkat lo itu!"
******