
Pagi-pagi sekali, Zahra keluar dari area penginapan. Ia berencana untuk membeli ponsel dari sisa uang menjual cincinnya kemarin. Dengan ponsel itu, ia ingin mencari lowongan pekerjaan ditempat barunya.
Zahra mengunjungi Bank yang terletak tepat diseberang penginapan untuk mencairkan cek-nya. Selain itu, ia juga mengurus tentang kehilangan debitnya di bank tersebut, kebetulan bank itu sama dengan yang selama ini ia gunakan.
Bermodalkan buku tabungan yang masih ia pegang, syukurnya semua saldo direkeningnya bisa dimutasi ke rekening baru yang dibuatnya.
Setelah selesai mengurus soal keuangannya, Zahra menuju pusat perbelanjaan terdekat, dengan menggunakan taxi ia sampai disana dan membeli ponsel barunya.
Di pusat perbelanjaan itu, Zahra sekalian mencari-cari lowongan pekerjaan. Ia tidak mau mengandalkan ijazah terakhirnya, karena ia orang baru ditempat yang baru. Apapun pekerjaan akan ia lakukan asal itu halal, ia tak mau banyak memilih. Tetapi jika diberi peluang, tentu saja ia akan bekerja yang sesuai dengan kualifikasi kemampuan dirinya.
"Hana ..."
Zahra menoleh dan mendapati wanita baya yang kemarin membeli perhiasannya berdiri disana tengah menyapanya dan tersenyum hangat.
"Tante Devia ..." Zahra ikut tersenyum.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Devia.
"Saya tadi membeli ponsel," kata Zahra menunjukkan paperbag ditangannya.
Devia manggut-manggut mengerti.
"Tante sedang ada keperluan disini?" tanya Zahra basa-basi.
"Iya, tadi dari toko..." jawab Devia tak menjelaskan lebih lanjut. Zahra mengira orang se-fashionable Devia pastilah tengah shopping di pusat perbelanjaan untuk menunjang penampilannya.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya wanita itu pada Zahra.
"Sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan, Tant..." jawab Zahra jujur sambil menyengir kecil.
"Oh ya, saya ingat kamu seorang pendatang di kota ini... apa kamu akan menetap disini sehingga kamu mau mencari pekerjaan? Saya pikir kamu kesini justru karena suatu urusan pekerjaan," ucap Devia.
Zahra menggeleng. "Saya akan menetap disini dan saya mencari pekerjaan," tuturnya lembut.
"Bagaimana kalau kamu bekerja pada saya?"
"Bolehkah?" Zahra tampak antusias walau ia ragu, takut tertipu lagi dengan orang lain. Haruskah ia mencurigai Devia? Wanita yang menolongnya kemarin? Entahlah...
Devia tertawa pelan. "Bagaimana kalau kita bicara di sana," Devia menunjuk sebuah tempat makan yang masih berada dalam naungan tempat perbelanjaan itu.
Zahra setuju dan mengikuti langkah Devia, mereka pun memesan minuman.
"Begini, saya punya usaha kecil-kecilan. Usaha yang mulai naik daun beberapa waktu belakangan ini," terang Devia.
Zahra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Usaha itu dalam bidang apa ya, Tant?" tanyanya.
__ADS_1
Devia membuka tas yang dibawanya, tas itu berukuran cukup besar. Kemudian wanita itu mengeluarkan sebuah katalog yang tampak berkilat.
"Ini..." katanya mengulurkan itu pada Zahra.
Zahra menerima dan melihat cover katalog yang ternyata cukup membuat matanya membola.
"Perhiasan? Berlian?" Zahra speechless sembari membuka lembaran-lembaran gambar yang menampilkan berbagai bentuk dan desain perhiasan bertahtakan berlian yang berkilauan seperti aslinya.
Devia mengangguk sambil tersenyum. "Saya memiliki rumah produksi berlian, Hana. Sebenarnya sudah berjalan sangat lama, hanya saja dulu saya sempat bangkrut karena ditipu investor. Ini saya baru memulai lagi dengan para pekerja setia yang masih mendukung saya," terangnya.
"Saya kesini juga untuk memasarkan produk ke toko-toko perhiasan yang ada disini. Sebenarnya bisa dilakukan orang lain, hanya saja saya ingin turun langsung ke pasar pembeli sekaligus memantau minat yang sedang digandrungi," imbuh Devia lagi.
"Tante wanita yang hebat..." puji Zahra tulus serta rasa takjub yang masih melingkupi dirinya.
"Jangan berlebihan memuji saya, Hana." kata Devia pelan.
Zahra hanya tersenyum lembut dengan ucapan Devia yang tidak mau meninggikan pencapaiannya itu.
"Gimana, Han? Apa kamu tertarik?"
"Tentu saja saya sangat tertarik, Tante... tapi, kalau boleh saya tahu kenapa Tante mau membantu saya? Kita baru mengenal, dan lagi ... apa tante tidak takut saya menipu tante juga? Bukankah Tante pernah ditipu?"
"Kita sama kan?" kekeh Devia dan Zahra jadi tertawa mengingat hal itu.
"Terima kasih Tante mau membantu saya dan mau percaya dengan orang seperti saya."
"Sekalian interview disini, gimana?" kelakar Devia namun Zahra mengangguki itu.
"Baiklah, Han... apa kemampuan kamu?" tanya Devia tetap dengan senyum penuh kharismanya yang anggun.
Zahra cukup terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Devia, ia mengira Devia akan menanyakan jenjang pendidikannya atau minimal pekerjaan terakhirnya, namun siapa sangka wanita baya ini justru menanyakan kemampuannya?
"Kalau dalam bidang ini, saya belum memiliki kemampuan apapun, saya buta dalam dunia perhiasan semacam ini, Tant..." jawab Zahra polos.
Devia terkekeh, ia paham betul dengan hal itu karena kemarin Zahra juga menjual cincinya dengan harga yang terbilang murah padahal sekarang harga perhiasan sedang naik. Menurut penilaiannya, Zahra ini terlalu naif atau mungkin benar-benar polos dan lurus-lurus saja.
"Kalau dalam bidang lain?" Devia mencoba mengetes pertanyaan ini demi menilai karakter Zahra lebih dalam.
"Dalam bidang pekerjaan terakhir, saya seorang perancang ide, Tant. Tapi diluar pekerjaan yang saya geluti hampir 6 tahun itu, saya juga terbiasa melakukan hal mandiri lainnya," terang Zahra.
Zahra mulai menceritakan tentang kehidupannya selama ini, ia sudah merancang banyak hal dari kecil untuk ia jadikan pundi-pundi uang, memasarkan hasilnya lalu menjualnya.
"Kamu punya banyak bakat berarti," kata Devia semringah.
"Tidak terlalu, Tant!" kata Zahra sungkan dengan pujian yang diberikan Devia.
__ADS_1
"Ya, kamu punya bakat menjadi perancang bahkan marketing sedari kamu kecil."
Zahra hanya terkekeh pelan.
"Saya jadi bingung mau menempatkan kamu dibidang apa. Kamu bisa jadi perancang sekaligus marketing pemasaran produk baru saya kalau begitu," kekeh Devia senang.
"Terserah Tante saja, saya akan mengusahakan yang terbaik," kata Zahra pelan dengan perasaan gugup.
"Apa kamu punya kendala lain?" terka Devia melihat wajah Zahra berubah gugup.
"Maksudnya?" tanya Zahra.
"Ya, kamu lebih suka bidang yang mana? Marketing atau perancang?"
"Saya tidak terlalu pintar menggambar sebenarnya, hanya saja saya lebih suka merancang karena ide yang sering muncul tiba-tiba seperti pekerjaan lama saya meskipun dibidang yang berbeda. Kalau marketing... saya lebih terkendala dengan hal itu, karena rasa tidak percaya diri terhadap pertemuan dengan orang luar," aku Zahra terus terang.
"Baiklah, saya paham dan saya sudah tahu mau menempatkan kamu dimana." kata Devia bijak.
______
Frans merasa sangat putus asa sejak tahu Ken telah merusak Zahra. Ia tidak semangat bekerja dan semakin tak ada minat saat Zahra kembali tak datang ke kantor hari ini.
Kemarin ia ingin mengunjungi rumah Zahra tapi Ken sudah lebih dulu ada disana.
Ditambah lagi ia sudah mengetahui kenyataan tentang gadis yang dicintai Ken dan itu adalah Zahra sendiri, membuatnya semakin murka saja.
"Arkkkkh...." Frans menggeser kasar semua benda yang ada dimeja kerjanya-- hingga semua itu berjatuhan ke lantai dan terserak disana.
Frans belum tahu mengenai Zahra yang pergi meninggalkan kontrakan. Ia berniat mengunjungi Zahra sekarang juga. Ia ingin membujuk Zahra, agar gadis itu melaporkan Ken ke polisi terkait perbuatan yang telah dilakukan Kakak tirinya itu.
"Ken, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di penjara!" kata Frans dendam.
Hati kecilnya ingin menerima Zahra meskipun sekarang keadaan Zahra tak sama lagi.
Tapi, logika dan rasa dendamnya pada Ken, seakan tak terima jika ia harus bersama Zahra-- mengingat gadis itu sudah dijamahh oleh sang kakak tiri.
Harga dirinya akan terasa diinjak-injak jika ia sampai mendapatkan bekas dari Kakak tirinya itu.
Kenapa Ken harus merusak masa depannya bersama gadis yang sudah menjadi pilihannya?
Breng-sek! Ken memang breng-sek!
Tanpa berpikir lagi, diambilnya remot mobil dan segera berlalu dari gedung perkantoran demi menyambangi gadis yang ia cintai. Hal terpenting baginya sekarang, bukan lah tentang menerima kondisi Zahra atau tidak. Tapi, menjebloskan Ken ke dalam penjara. Papanya tidak akan bisa membela Ken kali ini karena perbuatan Ken yang sekali ini benar-benar tak termaafkan.
...Bersambung ......
__ADS_1