
"Bang..." Seorang anak remaja menyapa Ken yang baru memasuki gerbang yayasan miliknya.
"Reno, dimana Darma?" tanya Ken pada remaja tanggung itu.
"Ada dibelakang, sebentar aku panggilkan dulu, Bang..." Remaja bernama Reno itupun bangkit dari kursi kayu yang didudukinya dekat pintu masuk yayasan.
Tak berapa lama, Darma keluar dari dalam dan duduk dihadapan Ken.
"Bang..." sapa Darma dengan wajah sungkan pada Ken.
"Hmmm..." Ken hanya berdehem, ia bingung harus memulai pembicaraannya darimana pada Darma.
"Kemarin, kami sudah tutup Bengkel lebih awal seperti yang Abang suruh," kata Darma lebih dulu memulai.
Ken mengangguk sekilas lalu menghela nafas sejenak, perkara inilah yang ingin ia bicarakan pada Darma-- orang kepercayaannya di Bengkel-- namun ia bingung untuk memulai darimana.
"Apa ada masalah, Bang?" tanya Darma penuh selidik dan Ken mengangguk lemah.
"Carilah pekerjaan lain, sampaikan hal ini sama anak-anak bengkel yang lainnya!" Ken menatap Darma serius walau ia tak sampai hati mengutarakan hal ini tapi tetap saja ia harus mengatakannya.
"Kenapa begitu Bang? Apa masalahnya?"
"Maafin Abang, bengkel harus tutup!" kata Ken menambahkan.
Bengkel itu dibeli dari uang Ayahnya dan Ken tidak mau itu menjadi aset yang dipermasalahkan suatu saat nanti, tidak seperti yayasan yang dibangun Ken secara diam-diam, keberadaan bengkel tetaplah diketahui oleh sang Ayah.
Saat ini, Ken sendiri bingung harus mencari pundi-pundi uang darimana selain dari bengkel mobil yang sudah sejak lama dikelola dan dikembangkannya itu.
Mungkin Ken akan memanfaatkan sisa uang pribadinya untuk usaha yang sama namun dalam lingkup yang lebih kecil. Ataupun, memanfaatkan title yang selama ini tak digunakannya untuk mencari pekerjaan baru.
"Maaf, Bang, aku gak maksud mencampuri urusan Abang. Tapi, kalau abang lagi ada problem, cerita! Kita-kita mungkin gak bisa bantu banyak, tapi kita semua banyak hutang budi sama Abang," kata Darma.
Ken tersenyum kecil kemudian menggeleng pelan. "Jangan dipikirkan, biar ini jadi urusan abang, kalian baik-baik disini. Abang tetap akan bertanggung jawab sama kehidupan yayasan, tolong jaga adik-adik dan para orangtua kita disini," kata Ken sembari menepuk pelan pundak Darma.
"Tapi, Bang..." Darma mengadah pada Ken yang sudah berdiri ingin beranjak darisana.
"Nanti, jika abang berhasil merintis usaha baru, kalian tetap orang-orang yang akan abang andalkan, itupun jika kalian masih mau bekerja dengan Abang," Ken tersenyum meyakinkan Darma, namun pemuda itu tampak tak puas dengan keputusan yang Ken berikan ini.
__ADS_1
______
Seminggu kemudian ...
"Selamat, Zaki! Ternyata progres desain 'Sang Pemikat' milik kamu, benar-benar bisa diperhitungkan. Desain gambarnya juga sudah muncul di katalog edisi terbaru. Mudah-mudahan produknya segera launching dan dapat dipasarkan, kita tinggal menunggu pengrajin membuat sesuai dengan desain yang telah ada. Itu bensr-benar elegant dan pasti bisa menarik banyak peminat!" puji Devia pada Zaki-sang Anak.
Senyuman Zaki mengembang sempurna berkat pujian dan antusiasme sang Ibu terhadap tema desain barunya-- yang sudah beberapa hari ini mereka bahas di dalam rapat.
"Aku juga gak menyangka jika desain ini bisa masuk pasar dalam jangka waktu secepat ini, Ma!" kata Zaki masih dengan senyum yang sama.
Zahra yang masih ada didalam ruang rapat yang telah berakhir itu--hanya bisa diam tanpa mau menimpali pembicaraan Ibu dan Anak tersebut.
"Inspirasi kamu kali ini harus Mama acungi jempol, desainnya benar-benar seperti judulnya, memikat siapapun yang melihat dalam sekali pandangan," puji Devia tak henti-hentinya.
"Itu semua karena Hana, Ma! Dia yang membuatku terinspirasi dengan desain ini," kata Zaki merujuk Zahra sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu hanya bisa menunduk, ia tidak tahu kenapa dalam beberapa hari ini Zaki selalu memujinya, sebenarnya ia risih berada didekat pria seperti Zaki. Setiap sikap dan ucapan yang keluar dari bibir pria itu-- seperti sengaja menggoda Zahra dengan terang-terangan--bahkan didepan Devia sekalipun, pemuda itu tak ada rasa sungkan untuk menggombali Zahra.
Devia terkekeh mendengar ulasan yang diberikan Zaki, lalu ia melirik Zahra yang nampak canggung setelah ucapan Zaki berakhir.
"Kamu jangan membuat Hana menjadi malu, Zak!" kata Devia mengingatkan.
Devia geleng - geleng kepala pada Zaki. Ia kembali menatap Zahra yang diam sedari tadi, seolah menilai sikap gadis itu.
"Han, bisa kita bicara sebentar," ucap Devia.
"Ba-baik, Tant." Zahra mengambil kesempatan ini untuk pergi mengikuti langkah Devia, ia ingin melarikan diri dari Zaki, karena jika Devia berlalu lebih dulu, maka tinggallah ia dan Zaki yang berada diruang rapat itu--sebab para pekerja yang lain telah keluar dari ruangan itu lima belas menit yang lalu--dan Zahra tak mau itu sampai terjadi.
"Kita makan siang bersama ya, Han!"
"Iya, Tant. Tapi, saya ambil tas dulu di ruangan."
Devia mengangguk.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah meninggalkan lobby dan makan siang bersama di cafe seputaran gedung perkantoran tempat bernaungnya perusahaan berlian milik Devia.
Disaat makan siang itu berlangsung, Devia tak henti memperhatikan Zahra yang tengah menyuap makanannya dengan perlahan.
__ADS_1
"Han..."
"Ya, Tante..."
"Apa kamu terganggu dengan sikap Zaki?" tebak Devia.
Zahra tentu tak bisa berterus - terang pada wanita baya itu, meski hatinya ingin terbuka namun ia tahu jika Zaki adalah anak Devia dan ia tak mau Devia tersinggung dengan kejujurannya mengenai sikap Zaki.
"Kenapa diam, Han? Katakan saja terus terang? Kamu terganggu atau justru kamu senang dengan perhatian yang Zaki beriksn terhadap kamu?"
"Sebenarnya saya--saya ..." Zahra bingung ingin memulai dari mana.
"Begini, Han! Saya melihat Zaki itu tertarik sama kamu, saya bisa menilainya. Lalu, kamu bagaimana?" tanya Devia serius.
"Saya?" tanya Zahra menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu! Jika kamu tertarik dengan Zaki ... maka saya merasa tidak ada yang salah, tapi jika kamu terganggu dengan hal ini... maka saya rasa, saya akan menegur Zaki agar tidak melakukan hal berlebihan lagi terhadap kamu,"
"Sebenarnya saya bukan terganggu, Tant. Tapi saya kurang nyaman saja," jawab Zahra jujur dengan hati-hati.
Devia mengangguk. "Alasan apa yang membuat kamu kurang nyaman?" tanyanya.
"Kami baru mengenal, namun Zaki bersikap terlalu terus - terang seolah memiliki ketertarikannya pada saya. Maaf Tant, bukannya saya terlalu percaya diri, tapi saya benar-benar tidak nyaman saja,"
"Baiklah, untuk kenyamanan kamu ... Zaki yang nanti akan saya beri pengertian. Tapi, jika boleh saya tahu, apa kamu sudah punya pacar?"
Zahra menggeleng. "Saya tidak tertarik dengan hubungan semacam itu," kata Zahra.
"Oh, syukurlah..."
"Memangnya kenapa, Tant?"
"Tak apa, saya ingin kamu fokus saja dalam pekerjaan ini... dan soal Zaki, biar saya yang bicara dengannya nanti."
Zahra mengangguk dan mereka melanjutkan sesi makan siang itu dengan pembicaraan yang lebih ringan mengenai kegiatan sehari-hari.
Zahra sudah tidak tinggal dipenginapan lagi karena sekarang dia sudah menempati kos-kosan yang dekat dengan area kantor.
__ADS_1
...Bersambung ......