
Setelah acara pernikahan Rasta dan Cira selesai digelar, Rasta segera membuktikan ucapannya, ia memmbantu Cira berkemas dan malam ini juga mereka akan tinggal dikediaman Rasta.
"Bagus banget lo ya, ingat Cira masih sekolah!" Ken mewanti-wanti Rasta dsngan senyum liciknya.
"Ya gue tahu!"
"Kak, semoga rumah tangga kalian rukun ya, aku berharap kakak bisa jadi imam yang baik untuk Cira, bagaimanapun Cira itu masih labil," kata Zahra menambahi.
"Iya adik-adikku sayang...." kata Rasta tersenyum kecut namun ia tulus bahwa ia memang menyayangi pasangan suami istri itu.
Tiba-tiba Cira yang sudah selesai berkemas hadir diantara ketiga orang itu.
"Udah?" tanya Rasta pada Cira.
"Udah, Om."
Rasta langsung menggantikan Cira membawa tas yang berisi baju-baju gadis itu.
"Oh iya, tas nya jangan sampai hilang ya," kata Zahra memleringati, ia mengingat malam nya bersama Ken yang diawali dengan letak koper yang entah kemana alias menghilang.
Ken tersenyum kecil mendengar ucapan Zahra, karena ia tahu maksud ucapan Zahra itu tengah menyindirnya karena sebenarnya koper Zahra malam itu ia yang menyembunyikannya.
Setelah kepergian Rasta dan Cira, Ken pun mengajak istrinya untuk beristirahat.
____
Rasta mengantarkan Cira ke dalam kamar yang ada dirumahnya. Kamar itu adalah kamar yang pernah Zahra tempati saat menginap di rumah sang kakak.
"Mulai malam ini, lo tinggal di kamar ini." Rasta berbalik, ingin menuju kamar pribadinya.
"Om tidur dimana?"
Pertanyaan Cira beehasil membuat Rasta menghentikan langkah.
__ADS_1
"Gue tidur dikamar satunya. Ntar kalo lo udah tamat sekolah baru kita bisa sekamar, kalo sekarang gue takut kena pasal," ucap Rasta enteng.
Cira menghela nafas lega, ia bersyukur ternyata Rasta tidak menuntut hak-nya malam ini juga.
"Gue nikahin lo karena gue mau lo semakin dekat dalam perlindungan gue." Rasta pun berlali setelah mengucapkan kalimat itu.
Cira tersenyum kecil, baginya sikap Rasta ini sangat manis dan membuatnya semakin mengagumi sosok Rasta sang dewa pelindingnya.
_____
Keesokan harinya, Ken, Zahra, Devia, Rasta, Cira, Zaki dan Lala pergi bersama-sama menuju Yayasan. Mereka akan mengadakan syukuran kandungan Zahra.
Disana mereka menyalurkan banyak makanan, obat-obatan dan bahan pangan, tidak lupa mereka melakukan pengajian dan doa syukur atas kehamilan Zahra yang mulai memasuki trimester ketiga.
Disitulah Zahra tahu semakin yakin jika Yayasan itu adalah milik suaminya.
"Ternyata orang dermawan itu suamiku sendiri," batin Zahra semakin mencintai sosok Ken yang ternyata tidak pernah mengunbar kebaikannya bahkan pada istrinya sekalipun.
______
"Papa," ucap Ken. Ia memeluk tubuh pria baya yang mengenalnya selama hampir 28 tahun hidupnya ini. "Apa Papa sehat?" tanya Ken melibat Papanya yang semakin tua.
"Alhamdulillah Papa sudah semakin sehat sekarang," kata Bagas.
"Syukurlah, Pa"
Disaat itu pula, Bagas melihat keadaan Zahra yang berubah, perut menantunya mulai nampak membuncit dan ia langsung menerka jika Zahra tengah berbadan dua.
"Apa Zahra mengandung cucu Papa?"
Ken mengangguk. "Maaf selama ini aku merahasiakannya dari papa," kata Ken sungkan. Hanya saja, Ken tahu jika papanya pasti memahami kenapa ia merahasiakan tentang kehamilan istrinya itu.
"Nggak apa-apa, Ken. Papa senang sekali, Nak." Bagas meneteskan air mata haru. Kemudian Zahra menyalami Papa mertuanya itu.
__ADS_1
"Ra, apa boleh Papa yang memberinya nama?"
Zahra menatap Ken dan mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Tentu saja boleh, Pa."
"Ehmm... Papa ingin namanya Alfaro, bagaimana?"
"Itu bagus, Pa!" kata Ken jujur.
Mereka semua tersenyum senang, sampai pada kehadiran Irene dan seorang wanita muda membuat Ken dan Zahra terdiam.
"Ken... Zahra..." Baru kali ini Irene tampak senang dengan kehadiran pasangan itu.
Irene bahkan memeluk hangat tubuh Zahra. Sepertinya wanita itu tulus dengan ungkapan permintaan maafnya tempo lalu.
"Jenar?"
Wanita muda yang merasa dipanggil namanya itupun tersenyum.
"Aku dan Frans sudah menikah, Frans memintaku untuk tinggal disini agar Mama bisa mudah menjaga aku dan kandunganku. Frans menitipkan aku pada Mama, dia berlebihan sekali bukan," kata Jenar ramah sembari mengelus perutnya yang juga tampak membuncit.
"Alhamdulillah," kata Ken dan Zahra serentak.
"Frans juga meminta maaf pada kalian, Ken, Zahra... semoga kalian bisa memaafkan suamiku atas kesalahannya dimasa lalu. Aku mewakilinya untuk meminta maaf," kata Jenar tertunduk segan.
"Kami sudah memaafkannya," ucap Zahra tulus dan Ken pun menganggukinya. Ken sudah tahu jika Frans adalah sepupunya dan ia sudah memaafkannya dengan tulus karena Ken sudah menerima kenyataan serta menganggap semuanya adalah pelajaran hidup.
"Aku akan mengunjungi Frans di lapas nanti." Ken tersenyum simpul sembari menggenggam tangan istrinya.
*******
...______Tamat_______...
__ADS_1
Kalaau rajin, entar aku kasi bonchap ya... makasih ya yang sudah mendukung dan baca karya ini sampai happy ending ,๐๐ป๐๐ป๐๐ป
Sslamat lebaran yaaaaa,๐งก๐งก๐งก๐งก๐๐๐๐๐๐ mohon maaf lahir dan batin...