
Zahra mengirimkan makan siang untuk sang suami melalui jasa kurir. Tak berapa lama dari itu Rasta pun tiba dikediamannya.
"Ayo, Kak. Makan yang banyak!" Zahra menyajikan makanan yang telah dimasaknya untuk sang kakak.
"Kamu udah gak kerja kan, Han? Setelah ini apa rencana kamu, dek?" tanya Rasta sembari mengunyah makanannya dihadapan Zahra.
"Aku berniat membuka toko roti, Kak. Rencananya akan dibuka di dekat Bengkel Ken. Yah, lumayan untuk mengisi waktu kosong."
"Itu bagus Han, sudah sampai dimana perkembangannya?"
"Belum banyak, kami masih mencari bangunan yang cocok dan akan merenovasinya sedikit nanti."
"Ya, kakak dukung... bagaimana kondisi kamu sekarang?"
"Alhamdulillah sudah membaik, Kak. Syukurlah kandunganku kuat dan tidak terjadi apa-apa."
"Lain kali lebih berhati - hati ya, dek... sekarang kan kamu tahu kalau kamu lagi hamil," kata Rasta mengingatkan.
"Iya, Kak..."
Setelah Rasta siap dengan makan siangnya, tak lupa Zahra juga membungkuskan makanan untuk dibawa pulang oleh sang kakak.
"Ini makanan buat Paman Sapta, kak. Apa beliau sehat, Kak?" tanya Zahra.
Rasta memang tak mengatakan pada Zahra sama sekali tentang insiden kemarin, dan Rasta juga tahu jika Ken masih menutupi ini dari Zahra sehingga Rasta hanya mengangguki pertanyaan sang adik tanpa bisa bercerita yang sebenarnya.
"Aku pulang dulu, kamu baik-baik dirumah." Rasta menepuk pelan pundak sang adik.
"Iya, Kak."
Seperginya Rasta, Zahra memilih menghubungi Ken.
"Hallo, Sayang?" Terdengar suara Ken menyapa dengan riang dari seberang sana.
"Ken, apa makan siangnya sudah tiba?" tanya Zahra.
"Sudah, aku baru selesai makan dan baru aja mau telepon kamu. Makasih ya, Sayang."
"Iya, apa makanannya enak?"
"Enak seperti biasanya," jawab Ken jujur.
"Alhamdulillah. Oh iya, tadi Kak Dirga kesini...."
"Lalu?"
"Kenapa ya aku merasa dia menutupi sesuatu. Apa kamu tahu ada apa dengannya, Ken?"
"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan, ya"
"Baiklah, Ken..."
#####
Seminggu berlalu, hari ini Zahra dan Ken akan pergi memeriksakan kandungan di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan baik dan Ken cukup mensyukuri itu. Ken sudah mendengar perihal Owen yang telah meninggalkan Indonesia, itu berarti pria itu memang berniat untuk mengibarkan bendera damai.
Sekarang yang menjadi pikiran Ken adalah Frans, karena ia tahu bahwa saudara tirinya tak mungkin diam saja setelah pertemuan mereka di Rumah Sakit beberapa hari lalu.
Hanya saja, Ken berharap Frans sudah menyerah. Dalam relung hati Ken yang terdalam, ia ingin seperti Owen yang bisa ikhlas melepaskan belenggu dendam. Ia memetik pelajaran dari pria asing itu yang bisa dengan gentle mengikhlaskan keadaan.
__ADS_1
"Kamu memikirkan apa, Ken?" tanya Zahra yang melihat Ken melamun di kursi tunggu Rumah Sakit--saat mengantri giliran.
"Enggak, aku hanya memikirkan Frans.."
"Frans...?"
"Ya, aku lupa bilang, kemarin dia sempat datang untuk menjenguk kamu dirumah sakit."
"Lupa bilang atau sengaja gak bilang?" sindir Zahra.
Ken tersenyum tipis dan mengusap punggung tangan istrinya. "Lupa, Sayang," katanya pelan.
"Ibu Zeevana Ayudia?" Seorang perawat memanggil nama asli Zahra. Ya, Zahra sudah memutuskan untuk menggunakan nama aslinya sesuai dengan surat-surat pernikahan mereka, data dirinya juga sedang diurus untuk dirubah menjadi sama dengan nama lahirnya.
Ken tak mempermasalahkan itu lagi karena semua yang berkaitan dengan dendam masa lalu di keluarga Zahra sudah berakhir sejak Owen memutuskan pergi meninggalkan Indonesia. Zahra dan Rasta sudah bisa hidup dengan identitas asli mereka sekarang.
Pemeriksaan itu tak berlangsung lama, keadaan janin dalam kandungan Zahra baik-baik saja meski usianya baru menginjak 3 minggu dan itu sangat kecil.
"Jangan lupa susu dan vitamin hamilnya di minum ya, Bu." pesan Dokter Clara yang menangani kandungan Zahra.
"Iya, Dokter."
"Oh iya, Dok..." Ken mulai angkat bicara, ia sebenarnya penasaran dengan hal ini sedari awal ia mengetahui jika Zahra hamil.
Zahra menoleh pada Ken, bingung dengan ucapan Ken dan ingin tahu hal apa yang ingin ditanyakan sang suami pada Dokter Clara.
"Ada apa, Pak?" tanya Dokter Clara ramah.
"Begini, istri saya kan sedang hamil. Di perutnya ada bayi... jadi, saya... emm,.." Ken tampak ragu mengutarakan pertanyaannya.
"Kenapa, Pak? Tanyakan saja apa yang menurut Bapak penting, apalagi jika itu menyangkut kehamilan Ibu Zee," pinta Dokter menyarankan.
"Ken..." desis Zahra protes, namun Ken tampak biasa saja dengan aksi protes istrinya itu.
Dokter Clara justru tertawa pelan. "Pertanyaan seperti ini memang sering ditanyakan oleh suami, Pak. Tidak perlu sungkan, kok!" Ternyata bukan Ken saja yang menanyakan pertanyaan semacam itu, terbukti dari ucapan yang Dokter Clara berikan.
"Jadi, yang Bapak maksud disini pasti tentang berhubungan antara suami istri disaat istri tengah mengandung, kan?"
Ken mengangguk cepat.
"Itu tidak masalah, Pak. Asal ritme yang dilakukan tetap harus diperhatikan. Jangan terlalu memaksakan, pelan-pelan dan kalau bisa serileks mungkin. Posisi yang tepat juga dianjurkan."
"Posisi yang tepat itu seperti apa, Dok?" tanya Ken antusias, sementara Zahra membuang pandangan ke arah lain sebab pertanyaan suaminya yang terlalu terang - terangan itu.
"Lebih baik jika posisinya istri Anda yang berada di atas," kata Dokter Clara membuat Zahra melongo. "Posisi itu lebih aman untuk ibu hamil, jadi perutnya tidak tertindih," sambung Dokter Clara lagi.
Ken mengangguk samar, paham dengan ucapan sang Dokter, sementara Zahra rasanya ingin menyembunyikan wajah jika saja bisa.
"Oh iya, berhubung masih hamil muda jangan terlalu sering juga..." kata Dokter Clara lagi membuat Ken menghela nafas panjang.
"Baik, Dok. Saya sudah paham sepertinya," kata Ken nyengir kemudian.
Selepas dari ruang pemeriksaan itu, Zahra menatap Ken dengan sorotan tajam.
"Kenapa sih, Yang?" tanya Ken berlagak bodoh.
"Kamu kayak gak ada pertanyaan lain aja, aku malu banget, Ken!"
"Malu apanya? Kan dokter juga tahu... kamu istri aku dan aku suami kamu. Apalagi yang membuat kamu malu?"
__ADS_1
"Pertanyaan kamu itu lho ..."
"Ya, gak salah kan? Daripada gak bertanya dan aku terus penasaran, aku juga takut kalau anak aku kenapa-napa, Sayang...."
"Terserah kamu lah!" kata Zahra badmood.
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian mulai menyamakan langkah Zahra yang sudah lebih dulu berlalu didepannya.
Ken mulai paham sekarang jika Zahra sedang dalam mode badmood maka ia lebih memilih diam daripada menyahuti ucapan istrinya yang moody-an sejak mengandung.
"Aku mau beli rujak, Ken!" kata Zahra saat mereka baru memasuki mobil.
"Oke, kita cari penjual rujaknya," kata Ken mengalah karena sudah tahu saat ini mood Zahra memang tak baik sejak keluar dari Rumah Sakit tadi.
"Aku gak mau rujak yang biasa, Ken!"
"Lah terus? Emangnya ada rujak yang luar biasa, gitu?" tanyanya sembari tertawa pelan.
Zahra mencebik. "Aku mau rujak tapi pakai buah yang beda dari biasanya."
"Emang maunya ngerujak pake buah apa? Mangga, nenas, jambu?" Ken bertanya sembari fokus mengemudikan mobilnya.
"Bukan buah itu! Itu rujak yang biasa! Kan udah dibilangin pakai buah yang beda dari biasanya."
"Ya, buah apa, Sayang?"
"Ngerujak pakai sirsak enak kali ya..." celetuk Zahra tanpa rasa berdosa, Zahra tampak bersemangat sementara Ken terperangah mendengar ucapan istrinya itu. Dimana ia harus mencari rujak dengan isian sirsak?
"Kamu serius?" tanya Ken memastikan.
Zahra mengangguk. Membuat Ken menghela nafas panjang. Zahra pasti sudah dalam mode mengidam yang aneh.
"Duh.. ngidamnya aneh-aneh aja! Mana ada rujak isinya sirsak?" gerutu Ken.
"Kamu bilang apa, Ken?"
"Enggak..."
"Serius, kamu bilang apa tadi?"
"Emmm ... sayang, mana ada rujak pakai buah sirsak," ujar Ken akhirnya.
"Yah? Kok gak ada... aku pengen banget, Ken! Kamu cariinlah... mikir dimana gitu ada yang jual, ini kan demi anak kamu juga! Yang aku kandung ini anak kamu loh, Ken!" kata Zahra dengan mata berkaca-kaca.
"Muter otak gimana juga gak akan ada yang jual rujak pake sirsak! Dasar anakku, masih dalam perut aja permintaannya aneh-aneh!" batin Ken tak berani mengutarakan pendapatnya.
______
Hallo, yang berkenan.. mampir ke cerita baru ku yuk! Ini ceritanya Owen. Iya, Owen yang ada di Novel Ken dan Hana....
Jadi ini Novel tentang kehidupan Owen yang sudah meninggalkan Indonesia. Apa yang dia lakukan selanjutnya?
Novel ini lagi iseng-iseng aku ikutin lomba... boleh baca dan jadikan favorit yah genk β€οΈπππ
Klik Profilku dan temukan disana yahβ€οΈ
Ini novel berlatar belakang bukan di Indonesia yah dan jangan ada yang judge tentang pergaulan bebas disana ya...
__ADS_1
Hanya bacaan untuk menghibur. Mohon dukungannya dengan berikan like dan komentar pertama disanaπππ