
Pria asing yang menyekap Rasta-- keluar dari pabrik garam itu--diikuti oleh dua orang anak buahnya yang berjalan dibelakang.
Salah seorang dari kedua orang itu membukakan pintu mobil untuk dinaiki oleh ketua Clan mereka, namun pria itu mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobilnya, instingnya merasakan sesuatu--ia berbalik arah untuk menatap ke satu titik yang dirasanya janggal.
Didetik yang sama, ia langsung tersenyum miring saat mendapati sosok Ken yang tengah berdiri disana sambil memandangnya tajam.
Ia menghampiri Ken yang terlihat tetap diam ditempat tanpa merasa gentar sedikitpun.
"Sejak kapan kau disana?" tanyanya pada Ken yang memasang wajah tenang.
"Sejak kau mengatakan jika kau jatuh cinta pada istriku," jawab Ken santai.
Pria itu menyeringai. "Jadi kau mendengarnya? Baguslah jika kau sudah tahu. Apa kau mau menjemput kakak iparmu?" tanyanya dengan senyum mencibir.
"Ya," jawab Ken datar.
"Jasadnya ada didalam. Ah ... sayang sekali kau datang terlambat, jika saja tadi kau menerobos masuk, sepertinya dia masih memiliki nyawa!"
Tanpa diduganya, Ken justru tertawa pelan seperti mengoloknya.
"Kalau begitu, biarkan saja mayatnya membusuk di dalam sana! Aku tidak akan mendapat apa-apa jika hanya membawa mayatnya, justru istriku akan sedih nanti," kata Ken hendak pergi begitu saja.
"Kau tidak mau membawa jasadnya?"
"Untuk apa aku menjemput orang yang sudah mati," kekeh Ken pelan.
"Apa kau mau menyusulnya?" Ia mengambil sesuatu dari balik jas yang ia kenakan, sebuah senjata api dan mengacungkan itu ke arah Ken. "Mungkin dengan kau mati, Zahra akan bisa ku miliki," sambungnya.
Ken tersenyum miring. "Hidupmu sungguh menyedihkan sekali, Tuan!" senyuman diwajah Ken tampak sangat mengejeknya.
Ia menarik pelatuk pistol dan siap menembak Ken, namun ia kalah cepat dari gerakan refleks kaki panjang Ken yang menendang senjata ditangannya begitu saja. Sungguh diluar prediksi dan sungguh berani lelaki ini-batinnya.
Pistolnya terlempar jauh, dua anak buahnya yang sejak tadi mendengar pembicaraannya dengan Ken-- langsung mengambil sikap dengan mengambil pistol mereka masing - masing demi menghujani lelaki itu dengan tembakan, namun yang tak pernah ia duga jika lawannya kali ini--Ken--justru sigap menarik tubuhnya lalu menodongkan senjata tepat dipelipisnya. Membuat posisi terbalik.
Kini, ia lah yang menjadi tawanan dari Ken. Seorang lawan yang tak pernah ia bayangkan, ia menyadari jika ia terlalu meremehkan kemampuan Ken. Gerakan Ken begitu cepat seolah terlatih, intuisinya yang biasa bisa menilai gelagat seseorang dan bisa membaca situasi--sekarang justru terlambat menyadari kecekatan yang dimiliki Ken, ia juga sadar bahwa sejak Ken tiba ditempat ini tadi, ia tak mendengar langkah kaki Ken sama sekali.
"Seharusnya kau tidak usah mengeluarkan senjatamu, Tuan! Jadi, akupun tak perlu repot menodongmu seperti ini!" bisik Ken tepat ditelinganya.
Sialan! Bisa - bisanya ia tertawan oleh seorang anak kemarin sore seperti Ken!
"Aku bisa saja menghabisimu sekarang dengan menem bak kepalamu!" kata Ken menekankan kata - kata, mencoba menjatuhkan mentalnya. "Suruh anak buahmu mundur, sebelum mereka melihatmu meregang nyawa didepan mata mereka saat ini juga!" lanjut Ken.
Ia memberi kode kepada kedua anak buahnya lewat isyarat mata, agar mereka menjatuhkan senjata yang kini mereka arahkan kepada Ken.
Bersamaan dengan itu, Rasta keluar dari dalam pabrik dengan terengah - engah dan tampak terbatuk - batuk.
__ADS_1
Masih punya tenaga juga dia! - batinnya.
Tapi, kenapa Rasta keluar sendirian? Mana anak buahnya yang lain--yang tadi ia suruh mengurus Rasta didalam sana?
_____
"Lo beneran gak mau bawa mayat gue kalo gue mati?" teriak Rasta dari seberang sana. Ken tak menggubris pertanyaan Rasta itu, karena kini ia fokus menodongkan pistol pada pria asing yang sempat ia temui di Rumah Sakit siang tadi, ia begitu jengah dan merasa bodoh karena sempat terpedaya dengan pria yang mengaku telah menyelamatkan nyawa Zahra, istrinya.
Ken mengambil senjata lain dari balik kantong jaket yang ia kenakan lalu melempar pelan benda itu pada Rasta.
Rasta menarik pelatuk pistolnya, kemudian tanpa aba - aba ia langsung menembak kaki kedua orang anak buah musuhnya yang berdiri tak jauh dari mereka. Kedua orang itu hanya diam karena Bos mereka-- masih ditodong senjata oleh Ken, mereka bahkan tak berani bergerak, membuat Rasta mudah menembak.
DorR
DorRr
Rasta melotot. "Pistol asli, Men!" kekehnya pelan dan Ken menggeleng samar, bisa - bisanya Rasta membuat lelucon seperti ini, jelas - jelas lelaki itu bisa membedakan pistol yang asli dan palsu.
Kedua orang yang ditembak Rasta pun terduduk, karena betis mereka sudah tertembak dan mengeluarkan darah.
Sementara itu, Ken menatap musuh yang saat ini menjadi tawanannya. "Kau menunggu bantuan dari anak buahmu yang lain?" tanyanya.
Pria itu tak menjawab, namun Ken tahu jika sekarang pria itu memikirkan tentang kemana anak buahnya yang tadi berada didalam pabrik garam itu.
"Kalau ku bilang mereka semua sudah mati, apa kau percaya?" Ken melepaskan cengkramannya pada pria itu dan melempar pistolnya ke sembarang arah. Ia tak mau menembak pria itu dengan pistolnya sekarang. Ia memilih baku hantam saja karena saat ini tenaganya masih full dan siap untuk disalurkan.
Ken tertawa sumbang, ia mendekat pada musuhnya dan menatapnya tajam.
"Kau meremehkanku ya? Aku lebih tertantang melawanmu dengan tangan kosong!" kata Ken sembari membenturkan kepalanya sendiri pada kepala pria itu. Membuat Pria itu terhuyung mundur.
Rasta yang lemas diujung sana tak berniat membantu Ken untuk menyerang musuh, ia justru terkekeh melihat ulah Ken itu.
"Kau akan kalah, Tuan! Kepala Ken pasti sangat keras daripada kepalamu! Dia kepala batu!" kata Rasta terkekeh pelan sambil memegangi beberapa bagian tubuhnya yang sakit.
Ken dan pria asing itu pun terlibat perkelahian yang mengandalkan otot, beberapa kali Ken terduduk dan ia cukup salut dengan tenaga musuhnya yang meski sudah babak belur sejak kedatangan Ken--yang Ken yakini karena ulah Rasta--masih bisa kuat menghadapinya yang masih full energi.
Beberapa saat perkelahian itu terjadi, mereka berdua terduduk dengan nafas yang terengah - engah.
"Dimana Paman Sapta?" tanya Ken pada pria disampingnya, mereka sama - sama tidak melawan lagi satu sama lain. Benar - benar berhenti dan Ken mengambil kesempatan ini untuk bernegosiasi.
"Mayatnya sudah ku buang ke laut untuk menjadi makanan Hiu!" jawab Pria itu enteng sambil mengatur nafas.
"Kalau begitu, kau harus siap jika ku jadikan santapan singa di kebun binatang!" ucap Ken tenang.
"Kau mengancamku?"
__ADS_1
"Tidak, atau kau mau opsi yang lain?" tanya Ken dengan senyuman miring.
Pria itu tak menjawab, ia justru menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya heran. "Mana anak buahku yang lain?" tanya pria itu.
"Mereka masih didalam pabrik itu! Aku tidak tahu mereka mati atau tidak! Aku hanya melempar gas penenang ke dalam ruangan itu setelah melihat Rasta berhasil lolos dari mereka tadi. Mungkin mereka hanya tertidur," kata Ken yang juga tengah mengatur nafas.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak mau membunuh orang! Istriku sedang hamil, jadi aku masih berbaik hati untuk melepasmu! Ku harap kau tidak menjadi batu sandungan untukku dan keluargaku dikedepan hari," kata Ken memberi keputusan.
Pria asing itu menatap Ken dengan tatapan aneh, ekspresinya tak terbaca, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
Tiba - tiba Rasta menghampiri mereka berdua. "Ayok pulang!" kata Rasta pelan. "Capek gue main perang - perangan kayak gini, udah kayak main paintball aja!" gerutu Rasta sembari berlalu mencari mobil Ken yang entah diparkir dimana.
"Pria tua itu ada di Dermaga, dia belum mati," kata pria itu akhirnya.
"Aku tahu kau tak membunuhnya!" kata Ken.
"Kenapa kau yakin?"
"Karena sebelum kesini tadi, Hana sempat bercerita dan memberitahuku tentangmu. Dia bilang dia seperti pernah melihatmu lalu dia mulai mengingatmu," terang Ken.
"Benarkah? Dia masih mengingatku?"
"Ya, dia menceritakan pertemuan kalian padaku, kau memborong dagangannya dan dari situ aku menarik kesimpulan bahwa kau tidak seburuk kelihatannya, kau masih memiliki nurani hanya saja kau diliputi rasa dendam."
Pria itu menunduk. Selama ini hidupnya memang diliputi dendam yang teramat kuat.
"Seharusnya kau membunuhku saja!" kata pria itu.
"Tidak! Hana pernah menyelamatkan nyawamu, aku tidak mau usaha istriku itu menjadi sia-sia! Seharusnya kau memanfaatkan kesempatan hidup yang masih diberikan kepadamu sejak saat itu, bukan justru mengikuti dendammu!"
Pria itu tertawa sumbang. "Kau menasehatiku?"
"Tentu saja tidak, aku tidak layak menasehatimu! Akupun lebih parah daripada kau!"
Pria itu terdiam, mencerna semua kata - kata yang Ken utarakan.
"Dendam Ayahmu seharusnya sudah terbalas saat kedua orangtua Rasta dan Hana meninggal. Bukan hanya kau yang hidup tak tenang selama ini tapi kedua keturunan Dirgantara yang kau cari pun merasakan demikian. Kau tidak perlu meneruskan dendam itu lagi, karena itu akan mengotori tanganmu sendiri!"
Ken bangkit dari posisinya dan berjalan perlahan. Ken sadar, ucapan itu juga ia tujukan pada dirinya sendiri yang memiliki dendam pada Frans, sedikit banyak ia mengerti perasaan pria asing ini yang hidup dalam kemelut dendam--sama seperti dirinya sendiri.
"Kau yakin membiarkan aku hidup? Kau tidak takut aku merebut Zahra darimu?" teriak pria itu.
Ken berbalik sekilas. "Dia sangat mencintaiku, dan cintaku sudah cukup untuk dia. Aku suaminya dan kau siapa? Apa menurutmu dia akan mudah kau rebut?" Ken tersenyum smirk dan berlalu dari sana.
__ADS_1
Ken pun menyusul Rasta yang sudah bersandar didepan mobil--dengan kondisi wajah yang sulit dijelaskan.
****