
Frans menahan amarah dengan rahang yang mengeras. Sorot mata tajamnya seolah menunjukkan jika kobaran perang diantara ia dan Ken belum berakhir sampai disini. Namun, tanpa berkata apapun lagi, pria itu berlalu dari hadapan Ken dengan langkahnya yang lebar.
Ken menghela nafas perlahan, kemudian kembali menyusuri koridor untuk tujuan awalnya yakni menghubungi Rasta. Setelah berjalan tak terlalu jauh dari ruangan sang istri barulah Ken mengambil ponsel dari saku celana jeans yang ia kenakan.
Ken menanyakan tentang keadaan Rasta dan Paman Sapta, syukurlah mereka sekarang dalam keadaan baik - baik saja dan sudah ada dokter yang datang untuk mengobati beberapa bagian tubuh yang terluka akibat kejadian semalam.
Ken menyarankan untuk melakukan Rontgen, terutama pada paman Sapta karena Ken khawatir ada luka dalam pada tubuh orang tua itu dan Rasta mengiyakan usul adik iparnya itu.
Setelah menelepon, Ken memutuskan untuk kembali ke ruang rawat istrinya.
"Dari mana?" tanya Zahra begitu Ken tiba didalam ruangan, ternyata sang istri sudah terbangun dari tidur.
"Abis nerima telepon," jawab Ken.
Zahra mengangguk. "Gak ada masalah lagi, kan?" tanyanya.
"Gak ada, Sayang."
"Jangan bohong!"
"Iya, enggak ada masalah apapun lagi. Serius," ucap Ken tersenyum tipis.
"Berapa lama lagi aku disini, Ken? Aku mau pulang aku enggak betah disini."
"Besok kita pulang ya, makanya kamu jangan banyak bergerak dulu biar cepat pulih."
"Apa gak bisa hari ini aja pulangnya? Aku bosen Ken disini..." keluh Zahra.
"Besok ya, sekalian nanti diganti perbannya dengan yang baru. Abis itu baru kita pulang," ucap Ken memberi pengertian.
"Hmmm, maafin aku ya," kata Zahra membuat Ken mengernyit.
"Kamu minta maaf kenapa?" tanya Ken tak mengerti.
"Maaf udah banyak ngerepotin kamu..." lirih Zahra.
Ken yang sudah duduk dikursi samping tempat tidur yang menampung tubuh istrinya itu-- semakin beringsut untuk merapatkan diri. "Hei, Sayang... kamu bilang apa? Gak ada yang direpotkan disini. Kamu itu tanggung jawab aku sekarang, berhenti menyalahkan diri kamu," ujar Ken sembari menyentuh dagu sang istri.
Tidak salah lagi, keadaan ini sudah membuat Zahra menyalahkan diri sendiri. Padahal baik ia ataupun Zahra, tidak ada yang mau insiden seperti ini terjadi. Bagaimana jika Zahra tahu tentang insiden malam tadi yang hampir menghilangkan nyawa Paman Sapta, Rasta dan bahkan Ken sendiri, pastilah Zahra akan terus - menerus menyalahkan diri.
Ada benarnya juga Ken tak memberitahu Zahra secara gamblang mengenai problem ini-- karena sekarang bukan cuma kondisi Zahra yang Ken pikirkan, tetapi juga ada si jabang bayi yang kini berada dalam rahim sang istri--yang juga menjadi prioritas utama bagi Ken.
"Aku mau pulang Ken, aku mau pulang hari ini...." rengek Zahra.
Ken sebenarnya cukup heran dengan mood istrinya yang mendadak berubah ini, namun ia mencoba lebih menekankan sikap tenang untuk menghadapi apapun perubahan pada diri istrinya yang twngah mengandung.
"Baiklah, aku akan tanya ke Dokter dulu... jika memang diperbolehkan, kita akan pulang hari ini juga. Tapi jika belum bisa pulang, aku minta kamu sabar, ya."
Zahra mengangguk patuh.
Sekitar pukul empat sore, mereka akhirnya tiba di rumah dan disambut oleh Devia yang sudah menunggu kepulangan mereka karena sebelumnya Ken sudah memberitahukan perihal kabar kepulangan ini.
Zahra boleh pulang karena kondisinya memang sudah membaik, perban dikepalanya juga sudah diganti sebelum meninggalkan ruang perawatannya.
Tak lupa Zahra juga diberi syarat-syarat yang dipetuahkan oleh Dokter. Dokter memintanya untuk bedrest, agar menjaga kandungannya yang masih sangat muda. Dokter juga mewanti - wanti agar Zahra tidak melupakan anjuran minum obat yang teratur.
"Sayang, kamu istirahat, ya..." Ken mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih.
"Ken..." panggil Zahra.
"Hmm?"
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Jangan pergi, temani aku, disini saja."
Ken tersenyum kecil. "Aku mau mandi, Sayang... aku gak akan pergi kemanapun." Setelah mengucapkan itu, Ken menarik handuk yang ada di gantungan dalam kamarnya.
####
Sudah dua hari sejak kepulangan Zahra dari Rumah Sakit. Devia juga baru pulang kerumahnya kemarin sore sebab pekerjaannya juga sudah terlalu lama ditinggalkan sejak peresmian Bengkel Ken beberapa hari lalu.
Kini, Zahra dan Ken yang kembali tinggal berdua dikediaman mereka.
Zahra mulai membaik meski Ken belum mengizinkan istrinya itu untuk turun dari tempat tidur sedikitpun.
Setiap hari perban dikepala Zahra diganti oleh perawat yang khusus datang dari pihak Rumah Sakit.
Selebihnya, Ken lah yang bertugas menjaga dan merawat sang istri-- layaknya seorang pelayan untuk Zahra. Ken menjalani pekerjaan baru itu dengan hati senang karena bisa semakin dekat dengan istrinya.
"Sayang, aku bisa sendiri.. kamu keluarlah," ucap Zahra dengan wajah memerah saat Ken lagi - lagi ingin membantunya membersihkan diri di kamar mandi.
Ken amat senang karena sekarang Zahra sudah mau memanggilnya dengan panggilan yang lebih mesra--menunjukkan bahwa tidak ada sekat lagi diantara hubungan mereka--namun, ia masih bingung kenapa Zahra harus terus malu jika ia ingin membantu Zahra dalam hal mandi atau berpakaian.
"Aku mau bantu kamu, masa aku disuruh keluar," kekeh Ken cuek sambil mulai membukakan ikatan dirambut Zahra karena hari ini rencananya Zahra akan keramas.
"Aku bisa sendiri, ini juga udah duduk di bathub... gak akan jatuh. Kamu tolong isikan aja air hangatnya, nanti kalau udah siap aku panggil deh," kekeuh Zahra.
Ken menggeleng, ia justru menunggu jadwal istrinya mandi untuk membantu aktivitas ini. Mana mungkin ia meninggalkan istrinya sendirian di kamar mandi. Selain takut istrinya kenapa - napa, tentu karena kegiatan ini semacam hal baru yang meneyenangkan untuknya.
"Aku mau bantu kamu, Sayang. Gimana coba mau keramas kalo sendirian? Kan dikepalanya masih ada perban."
"Iya juga, ya!" Zahra tampak berpikir sejenak. "...yaudah kamu bantu keramas aja deh, ntar aku lanjutin yang lainnya sendiri."
Ken mengangguk saja agar tidak terjadi perdebatan diantara mereka mengenai hal ini.
Pertama Ken lebih dulu membasahi rambut panjang Zahra, sedikit berhati- hati agar tidak mengenai perban atau lukanya, memberi shampo di surai hitam itu dengan perlahan - lahan.
"Kenapa? Aromanya gak enak ya? Pasaran, ya?" tanya Zahra yang duduk membelakangi Ken.
"Iya, sebenarnya aromanya pasaran tapi kok pas dipakai kamu jadi harum banget ya..."
"Dasar kamu, ih..." kata Zahra terkekeh mendengar gombalan sang suami itu.
Ken ikut terkekeh. "Tuh kan... suaminya udah jujur juga! Aku baru tahu ini yang buat rambut kamu harum banget, nanti aku beli yang banyak di supermarket." ujarnya serius.
Selesai memberi shampo dan membilas rambut Zahra, Ken beralih pada tubuh Zahra yang sudah terbalut bathrobe.
"Apaan?" tanya Zahra seperti menyemprot Ken dengan kata - kata karena melihat Ken memandanginya dengan sorot mata berbeda.
"Mau buka bathrobe kamu, lah!" ujar Ken tenang.
"Enggak usah, kan perjanjiannya bantuin keramas doang! Aku bisa sendiri, kok."
Ken menatap Zahra dengan mulut mencebik. "Ayolah, aku bisa membantu menggosok punggung Anda, Nyonya!" kelakar Ken dan Zahra tergelak mendengarnya.
"Aku malu..." ucap Zahra pelan, membuat Ken gemas. Malu apanya? Bukankah Ken sudah sering melihat tubuh istrinya bahkan yang tak tertutup sehelai benangpun. Bisa - bisanya sekarang Zahra berkata malu didepannya.
"Malu apalagi? Kan aku udah biasa lihat, udah hafal bentuknya juga, Sayang!" ucap Ken dengan senyum nakal nya.
"Tapi ini ... dimandiin rasanya risih, Ken!"
"Makanya kalau gak mau risih harus sering dilakukan, pasti nanti terbiasa deh!"
"Dasar kamu!" ucap Zahra dengan bibir yang dimanyunkan.
__ADS_1
Ken memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Zahra yang maju dua centi itu secara kilat.
"Ih... kamu!" protes Zahra sembari memukul pundak Ken sekilas.
"Abisnya bibirnya nantangin gitu!" Ken tertawa pelan.
"Udah ah, kalau begini gak selesai - selesai dong mandinya!" getutu Zahra.
"Makanya, sini aku bantuin biar cepat selesai," jawab Ken masih dengan senyuman nakal, ia menunggu sang istri pasrah dan akhirnya Zahra menyerah tanpa kata.
"Nah, ini baru istri sholeha!" kata Ken begitu Zahra mulai membuka ikatan bathrobe yang dikenakannya.
"Awas aja mandinya jadi makin lama kalau dibantuin kamu ya!" kata Zahra memperingati.
"Gak sayang, aku juga tahu kamu lagi sakit. Ayo jangan ditutupin pakai tangan begitu, sini aku mau kasih sabun disitu!" Ken menunjuk tubuh Zahra dengan dagunya, gestur tubuh Ken tampak tenang namun dipikirannya tentu sudah liar sekarang.
Acara mandi itu harus berlangsung lama dari yang seharusnya karena sudah pasti merembet kemana - mana akibat ulah Ken yang memang punya niat terselubung dibalik kegiatan yang katanya 'hanya' membantu Zahra mandi.
Selesai mandi, Ken membantu Zahra mengenakan pakaian. Bahkan memakaikan lotion di sekujur tubuh istrinya.
"Sudah cantik dan harum. Bagaimana pelayanan saya, Nyonya?" tanya Ken begitu Zahra telah siap dengan kegiatan mandi yang juga menguras energi.
"Pelayanan kamu bagus, lebih bagus lagi kalau gak nakal!" kata Zahra bersungut-sungut.
"Nakalnya sama istri sendiri, gak ada yang salah!" Ken tertawa pelan dengan tampang tak bersalah sama sekali, benar - benar menunjukkan wajah tengil yang penuh kelicikan. Bisa - bisanya mencuri kesempatan.
"Padahal tadi kamu sendiri loh yang bilang aku lagi sakit."
"Kan yang sakit kepalanya, Sayang. Tubuhnya enggak." Ken mengeles.
"Terus menurut kamu sah - sah aja gitu?"
"Sah dong, kamu juga mau. Udah rindu kan sama aku?" Ken malah balik bertanya menggoda sang istri.
"Tau ah!" kata Zahra dengan wajah memerah.
Ken kembali tertawa pelan. Kemudian dia menggendong Zahra dengan hati-hati, lalu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan ke atas ranjangg.
"Beneran gak kangen sama aku?" tanya Ken tepat didepan wajah Zahra yang masih merona.
Zahra mengendikkan bahu dan tak berani membalas tatapan mata sang suami.
Ken semakin mendekatkan diri ke wajah sang istri.
"Aku kangen banget, lanjut disini lagi ya..." kata Ken memelas.
Zahra pun mengangguk pasrah karena tubuhnya tidak bisa menolak seperti bibirnya yang mampu melakukan protes.
Ting Tong
Bel rumah terdengar berbunyi dan Ken mencoba mengabaikan itu.
Ting Tong
Ting Tong
Tidak sekali tapi sudah beberapa kali terdengar bunyi yang sama.
"Ada tamu, Ken..." lirih Zahra dibawah tubuh sang suami.
Ken berdecak, kemudian mencium hidung mancung Zahra sekilas, ia bangkit dari posisinya lalu mengenakan kaos yang tadi sempat ia buka saat membantu Zahra mandi.
__ADS_1
"Aku ke depan dulu liat siapa yang datang, kamu istirahatlah," katanya pelan dengan senyum yang dipaksakan karena kegiatannya yang harus tertunda.
*****