
Ken tidak tahu apakah kali ini Zahra bisa membaca gelagatnya lagi atau tidak, namun Ken mencoba bersikap baik - baik saja didepan istrinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Ken berusaha setenang mungkin.
"Jangan bohongi aku, jangan tutupi apapun!" kata Zahra tegas.
Ken menghela nafas sejenak. Tampaknya istrinya memang sulit untuk ia kelabui. Tentu Ken tak bermaksud membohongi atau menutupi apapun didepan sang istri, namun Ken melakukan ini untuk kebaikan Zahra dan kandungan wanita itu. Ken tak mau semua masalah yang baru saja ia hadapi menjadi beban pikiran istrinya.
"Ken..." Zahra terus mendesak.
"Iya, iya... baiklah," ucap Ken menyerah. Ia selalu tak bisa menolak permintaan sang istri.
"Ceritakan ada masalah apa!" tuntut Zahra.
"Tapi janji dulu... jangan terlalu kamu pikirkan, bisa?"
"Aku gak bisa janji! Kalau memang itu masalah berat pasti jadi pikiran aku nanti."
"Masalahnya udah selesai, jadi kamu janji dulu untuk gak memikirkannya, setelah itu baru aku ceritain apa yang terjadi."
Perasaan Zahra menjadi tak enak, sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang ditutupi Ken darinya? Zahra ingin tahu, namun Zahra tak bisa berjanji jika nantinya tak akan memikirkan masalah ini. Hanya saja, rasa ingin tahunya lebih tinggi sekarang ketimbang janji yang belum tentu bisa ia tepati didepan suaminya.
"Gimana, Han? Sepakat?" tanya Ken.
Akhirnya Zahra mengangguk mengiyakan.
"Rasta... dia mencari tahu apa yang terjadi soal kecelakaan kamu. Dia mengirimi aku pesan yang akhirnya membuat aku mencari dia."
"Hah? Memangnya apa yang terjadi pada Kak Dirga? Kemana dia mencari tahu tentang kecelakaan itu, sampai - sampai kamu juga ikut mencari dia?" tanya Zahra melongo.
"Intinya semua yang terjadi sama kamu... adalah unsur kesengajaan yang ternyata dibuat oleh musuh Almarhum Papa kalian. Tapi ya udah, masalahnya udah beres."
"Beres? Tunggu dulu..."
"Kenapa lagi, Sayang? Ayo kita siap - siap shalat subuh!"
"Kenapa segampang itu beres? Aku enggak paham! Kamu kok cerita setengah - setengah gini!"
Ken menggeleng. "Shalat dulu, udah masuk waktunya ini. Nanti kalau ingat aku ceritakan lagi detailnya."
"Kalau ingat?" Zahra menatap Ken dengan kernyitan jelas.
"Iya, udah, ayo!"
Tak berapa lama Devia pun terbangun untuk menunaikan kewajiban yang sama.
Mereka semua pun melakukan shalat subuh berjamaah di-imami oleh Ken. Zahra shalat dengan posisi duduk di tempat tidur karena keterbatasan kondisinya. Sementara Ken dan Devia shalat di sejadah seperti seharusnya.
Selesai melakukan shalat itu, Devia mengatakan ingin kembali ke rumah lebih dulu sekalian membantu Ken mengecek keadaan Bengkel yang kebetulan hari ini adalah hari pertama beroperasi. Devia senang bisa membantu puteranya.
__ADS_1
Ken mengantar sang Mama sampai pintu keluar, sebelum benar - benar pergi dari Rumah Sakit, Ken pun menceritakan kejadian yang menimpa Rasta dan Paman Sapta kemarin malam pada sang Mama, agar Mamanya tak lagi khawatir.
"Kamu yakin orang itu akan melepas Rasta dan Hana begitu saja setelah kejadian malam tadi?"
"Aku yakin, Ma..."
"Tapi Mama masih takut, mana mungkin dia berbaik hati melepas musuhnya begitu saja!"
"Aku tahu, Ma. Tapi aku yakin dia gak akan berbuat jahat lagi, dia..."
"Dia kenapa, Ken?"
"Hana pernah menyelamatkan dia dari kecelakaan. Waktu itu dia belum mengetahui jika Hana adalah Zee, dia jatuh cinta pada istriku." Ken tertunduk sejenak dan Devia mulai mencerna ucapan Ken.
"Lalu, apa gak makin berbahaya kalau dia memiliki perasaan seperti itu pada Hana?"
"Entahlah, Ma. Tapi, perasaanku mengatakan dia tulus dengan perasaannya dan dia tak mungkin menyakiti Hana," ujar Ken.
"Tapi, Ken..."
"Aku gak tahu kenapa perasaanku mengatakan dia tak seberbahaya yang kita kira. Karena aku sempat melihat wajah khawatirnya saat menunggu didepan ruang rawat Hana kemarin. Aku justru lebih cemas jika Hana berkaitan dengan Frans ketimbang pria itu," papar Ken.
"Baiklah, jika memang kamu merasa seperti itu. Tapi, jangan lengah dalam menjaga istrimu, Ken. Kita tidak tahu apa motif dan maksud orang lain, jadi tetap waspada."
"Iya, Ma."
"Ya sudah, kembali ke ruangan Hana, dia pasti menunggu kamu! Itu taxi Mama sudah datang."
"Apa itu, nak?"
"Tolong Mama lihat keadaan Rasta dan Paman Sapta, siapa tahu mereka butuh sesuatu, karena mereka tidak baik - baik saja sekarang."
"Oh, itu gampang. Nanti Mama kesana sekalian bawain bubur juga, nanti sebagian Mama kirim kesini juga buat Hana."
"Makasih banyak ya, Ma."
Setelah melihat taxi yang membawa sang Mama pergi, Ken kembali ke ruang rawat istrinya dan melihat Zahra tengah memainkan ponsel disana.
"Lihat apa, sayang?" Ken mendekat dan bergabung di tempat tidur istrinya yang lumayan besar dan cukup menampung tubuh keduanya walau tidak bisa leluasa.
"Gak ada, lagi main sosmed aja." Zahra tersenyum kecil.
"Sayang, aku kangen..." ucap Ken manja dan memeluk tubuh Zahra lalu menciumi tengkuk leher istrinya. Selain memang merindukan istrinya, ia juga ingin mengalihkan pikiran Zahra, siapa tahu sang istri masih ingin membahas masalah yang tadi ia ceritakan setengah-setengah.
Ulah Ken itu berhasil membuat tubuh Zahra meremang, ia buru - buru protes dengan aksi suaminya itu.
"Kamu gak lupa kan kalau aku lagi sakit dan sekarang kita ada dimana?" tanya Zahra.
Ken menipiskan bibir, ia tak menjawab ucapan sang istri. Ken malah memejamkan matanya sembari semakin mendekap erat tubuh Zahra, merasa nyaman dengan posisinya sekarang dan itu membuatnya semakin mengantuk karena semalaman ia memang tak tidur sama sekali.
__ADS_1
"Ken, kalau Dokter masuk gimana?" protes Zahra.
"Kita gak ngapa-ngapain, Sayang! Ya biarkan saja!" ucap Ken cuek.
"Tapi posisi kita seperti ini," protes Zahra.
"Aku ngantuk, Sayang. Semalaman aku gak tidur. Biarkan dulu seperti ini. Ini tempat favoritku sekarang."
"Tapi Ken..." Zahra tak melanjutkan kalimat karena sudah mendengar dengkuran halus suaminya.
#####
Menjelang siang, bubur yang dikirim Devia datang dengan jasa kurir. Devia mengatakan akan kembali ke Rumah Sakit saat sore hari namun Ken menolak karena ia tahu sang Mama juga lelah mengurusi semua imbas dari problemnya.
Setelah makan dan minum obat, Zahr tertidur pulas dan Ken beranjak ke luar ruangan-- karena ia ingin menghubungi Rasta untuk menanyakan keadaannya.
Namun, langkah Ken terhenti kala melihat sosok seseorang yang sangat familiar berdiri tak jauh dari depan ruangan Zahra-- yang masih dijaga beberapa orang bodyguard.
Ken menghampiri orang itu. Dia adalah Frans yang datang dengan setelan santai.
"Kau disini?" tanya Ken cuek.
"Aku mau melihat kondisi Zahra, aku mendengar dia kecelakaan kemarin," jawab Frans apa - adanya.
Ken tahu, Irene yang kemarin datang bersama Papanya ke acara grand opening Bengkel, pasti juga telah mendengar tentang insiden yang menimpa Zahra, inilah yang membuat Frans tahu tentang keberadaan Zahra sekarang.
Ken tetap bersikap tenang, walau bagaimanapun disini ia lah yang berstatus suami Zahra bukan Frans, meski Ken merasa cemburu dengan sikap Frans yang terang-terangan mengunjungi istrinya, namun ia harus tetap bersikap sewajarnya.
"Oh, kau mau menjenguk istriku?" Ken tersenyum tipis yang tampak meremehkan.
Frans mengepalkan tangan saat melihat senyuman penuh olokan yang ditampilkan Ken didepannya.
"Ku pikir istriku tidak perlu dijenguk olehmu. Pulanglah!" usir Ken pelan.
"Aku ingin bertemu Zahra!" desis Frans menekankan kata - katanya.
"Dia istriku! Jika kau belum tahu maka sekarang ku beri tahu! Aku... suaminya, berhak menentukan siapa yang boleh dia temui atau tidak! Dan kau... kau ku haramkan untuk menemui istriku!" tegas Ken.
Frans tersenyum miring. "Kau pikir kau sudah menang jika sudah memperistri Zahra?" tanyanya menantang.
"Aku tidak memikirkan siapa yang menang atau kalah! Tapi disini aku bicara tentang kenyataan," ucap Ken cuek sambil melipat tangan di dadanya.
"Kau!" geram Frans tertahan.
"Kenapa? Kau mau bertemu Hana, memancing kemarahanku lalu aku akan memukulmu, begitu?" Ken terkekeh sumbang.
"...lalu kau akan menunjukkan bakat playing victim mu didepan istriku? Agar istriku bersimpati padamu? Cara lama seperti itu tidak berlaku lagi sekarang! Kau mudah ditebak, Frans!" sambung Ken masih dengan senyum penuh kesinisan.
"Lihat saja, Ken! Aku tidak pernah kalah atau mengalah darimu!"
__ADS_1
"Buktinya sekarang apa?" Ken menatap Frans lekat. "Kau," katanya menunjuk Frans dengan jari telunjuknya. "...atau aku yang kalah?" sambungnya disertai seringaian tipis yang membuat wajah Frans terlihat murka.
******