Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mimpi buruk


__ADS_3

Bagaimana Zahra tak gugup, Ken memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' dan kini terus membujukknya untuk mengeja nama kontak Ken yang tertera di ponselnya.


"Ya udah, aku gak mau maksa kamu lagi, Nanti juga kamu bakal terbiasa panggil aku dengan sebutan itu." Ken tersenyum tipis diseberang sana.


Zahra terdiam dan tak berani menatap wajah Ken yang terpampang di layar ponselnya.


"Oh iya, besok siang kita pergi untuk menyicipi menu makanan yang akan dijadikan prasmanan saat acara pernikahan kita, ya. Tadi Mama udah bilang sama aku."


"Iya, Ken."


"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. Hari ini pasti sangat melelahkan." Ken mengerlingkan matanya sekilas-- membuat Zahra membuang pandangan lagi. Sejak mereka bertunangan, sikap Ken selalu membuatnya ingin bersembunyi dibawah bantal saja, malu.


"Iya, kamu juga pasti lelah karena kesana - kemari hari ini."


"Gak apa - apa, Sayang. Yang penting aku bisa memastikan kamu dalam kondisi yang baik - baik aja," ucap Ken sembari mengulumm senyum. Ia sudah bisa menebak jika wajah Zahra akan merona setelah kalimatnya tercetus.


Zahra tak menggubris perkataan Ken yang lagi - lagi membuatnya salah tingkah itu. Ia segera memberi salam dan menutup panggilan video mereka begitu saja.


Setelah panggilan itu terputus, Zahra memegangi dadanya yang terasa berdebar - debar kencang.


"Ken, aku gak tahu harus senang atau sedih dengan semua ini. Sikap kamu belakangan hari terlalu manis, aku takut semakin jatuh dalam perasaan ini. Aku takut, saat aku semakin berharap sama kamu tapi kamu akan menyakiti aku lagi nanti,' gumam Zahra pesimis.


Ting'


Ponsel Zahra kembali berbunyi, ternyata itu sebuah pesan text yang dikirimkan oleh sebuah nickname 'Hubby❤️'. Sekali lagi Zahra menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan nama kontak yang diberikan Ken untuk namanya sendiri diponsel Zahra.


^^^Hubby❤️ :^^^


^^^Goodnight my little angel, semoga perasaan kamu selalu terjaga untuk aku, ✌️^^^


Zahra hanya bisa mengulumm senyum kembali saat membaca pesan yang dikirimkan Ken kepadanya itu, tanpa berniat membalasnya Zahra pun mulai membaringkan tubuh dan bersiap untuk tidur.


_____


"Han, kamu satu - satunya gadis yang aku harapkan. Apa kali ini Allah benar - benar menghadiahkan kamu untuk aku yang hina ini? Aku rasa hadiahku ini terlalu sempurna, aku merasa kecil diri untuk memiliki kamu. Tapi aku juga gak akan bisa jika kamu dimiliki orang lain." Ken bermonolog sambil memandangi foto Zahra yang ada diponselnya.


Ken mulai terlelap dalam tidurnya, didalam tidur ia bermimpi.


Ia berada disebuah lapangan luas yang banyak ditumbuhi ilalang. Disana ia tak menemukan satu orangpun kecuali dirinya sendiri yang mengenakan pakaian serba hitam.


Sampai akhirnya, ada sebuah suara yang memanggil namanya. Suara itu terdengar tak asing bagi Ken. Sayup - sayup suara yang terus memanggil namanya itu mulai terasa semakin dekat, Ken menoleh ke belakang dan mendapati sosok gadis yang mengenakan baju panjang serta kerudung putih, Zahra.


Wajah Zahra tampak sangat teduh dengan bulu mata yang lentik, matanya jernih, berpadu dengan senyuman yang sangat manis, penampilannya sederhana namun tidak mengurangi keanggunannya. Satu kata untuk gadis itu, cantik.


"Han, kamu yang memanggilku?"


Zahra mengangguk.


"Ada apa?" tanya Ken.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat kamu." Zahra tersenyum lembut.


Setelah mengatakan itu, gadis itu pun langsung berlari ke arah berlawanan. Ken berusaha mengejarnya, namun ia kehilangan jejak dan tak menemukan sosok Zahra lagi dimanapun. Semua terjadi begitu cepat.


Sejauh mata memandang, Ken tetap tak melihat Zahra, bahkan bayangannya pun tidak terlihat.


Tiba - tiba, Ken merasa ketakutan. Ia merasa sendirian ditempat yang terasa asing baginya. Tidak pernah sekalipun Ken merasa takut dalam hidupnya, karena ia sudah biasa ditinggalkan dan meninggalkan orang lain. Tapi, kepergian Zahra barusan membuatnya sangat ketakutan. Ia tak mau ditinggal seorang diri karena seharusnya Zahra yang menemaninya ditempat ini.


Ken menatap nanar pada arah dimana Zahra menghilang, ia masih belum paham dengan ucapan yang Zahra katakan padanya. Ia merasa ada keanehan.


Disaat perasaan aneh itu melingkupinya, tiba - tiba suasana sekeliling Ken berubah menjadi gelap dan tempat kakinya berpijak--ambruk--lalu menyebabkannya terperosok dan hampir jatuh ke dalam sana--dimana matanya melihat banyak kobaran api.


Tangannya terus menggapai - gapai, berusaha memegang apa saja agar tak membuatnya terjatuh kedalam lautan api dibawah sana yang tampak menyala - nyala dan siap untuk segera melahapnya. Ketakutannya yang tadi ada, kini semakin menjadi - jadi.


Lalu, Ken merasakan sebuah tangan meraih tangannya, memegangnya kuat seolah tak mengizinkan Ken jatuh kebawah sana. Saat ia mengadah dan melihat siapa yang membantunya, ternyata itu adalah Zahra. Zahra kembali dan ingin menyelamatkannya.


"Han, kenapa kamu kembali kesini? Pergilah... aku tidak apa - apa, aku takut kamu terjatuh dan masuk kesana!" pekik Ken disisa - sisa tenaganya yang terkuras.


Zahra menggeleng. "Aku gak bisa ninggalin kamu, Ken!" katanya dengan wajah panik.


Zahra menarik kuat tangan Ken dan membawanya naik ke atas. Ken selamat, namun Zahra terpeleset dan terjatuh kedalam api.


"Hana..."


"Han!"


"Hanaaa ....!!!"


Ken menangis, baru sekali ini ia menangisi seorang wanita, selain Ibu kandungnya sendiri. Ia amat menyesal. Ia belum sempat mengatakan pada Zahra tentang perasaannya, tapi Zahra tak kunjung kembali.


Disaat itupula, Ken tersadar dari mimpinya. Ia terbangun dengan nafas yang terengah - engah. Keringat sebesar butiran jagung pun membasahi dahinya.


"Astagfirullah..." Ken beristighfar. Ia mengusap kasar wajahnya sendiri. Kemudian mengambil air putih yang ada diatas nakas lalu meneguknya.


Ken melihat jam yang tergantung di dinding kamar, pukul setengah tiga pagi, berarti sudah dini hari. Perasaan Ken mulai tak enak sebab mimpi buruk yang ia alami.


Dengan gerak cepat, ia meraih ponsel dan mencoba menghubungi Zahra.


Dalam sekali panggilan, ternyata Zahra langsung menerima teleponnya.


"Han..." suara Ken bergetar memanggil nama Zahra.


"Assalamu'alaikum. Ada apa, Ken?" tanya Zahra dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam. Kamu dimana, Sayang? Tidak tidur? Maaf aku mengganggu kamu di jam ini..."


Zahra masih canggung jika Ken memanggilnya dengan mesra seperti itu. Tapi akhirnya ia menjawab juga.


"Aku di kos, dimana lagi? Kebetulan aku baru selesai shalat malam, Ken..."

__ADS_1


Pantas saja Zahra langsung menerima panggilan, ternyata Zahra memang dalam keadaan sadar dan tidak tertidur. Ken menghela nafas dalam, perasaan lega melingkupinya setelah mendengar suara Hana-nya.


"Ada apa, Ken? Kenapa menelpon di jam segini?"


"Aku bermimpi buruk tentang kamu!"


"Mimpi itu biasa, itu adalah bunga tidur, Ken! Jangan terlalu dipikirkan. Apa aku boleh menyarankan sesuatu?" pinta Zahra pelan dan hati - hati.


"Apa itu? Katakan..."


"Ambillah wudhu, shalat tahajud, biar kamu sedikit tenang ... bisa?"


Ken mengangguk walau ia tahu Zahra tak bisa melihat itu.


"Iya, aku shalat sebentar, abis itu aku telepon kamu lagi ya?"


"Iya," kata Zahra lembut.


Suara Zahra memang mampu menenangkan Ken. Ken pun segera berwudhu lalu melakukan shalat tahajud sesuai saran yang Zahra berikan.


Selesai dengan urusan itu, Ken merasa lega. Benar saja kata Zahra, sekarang ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Dan ia langsung memutuskan suatu keputusan setelah melakukan sholat itu.


Kali ini Ken kembali menghubungi Zahra, tapi dengan video call.


"Assalamu'alaikum... Han..."


"Wa'alaikumsalam. Gimana? Udah shalatnya?"


Tampak Ken mengangguk di seberang sana.


"Han, boleh aku meminta sesuatu dari kamu?"


"Apa?" Zahra mengeryit.


"Persetujuan kamu." ucap Ken. Ia harus memutuskan hal ini dengan cepat, sesuai dengan pemikirannya setelah shalat tadi.


"Tentang?"


"Aku sudah memutuskan, aku akan menikahi kamu secepatnya. Tidak di bulan depan, tapi dalam 2 atau 3 hari ini."


"Hah?"


"Aku meminta persetujuan kamu, Han."


"Kenapa mendadak? Ada apa, Ken?"


Ken menggeleng lemah. "Aku... aku takut kehilangan kamu, Han! Aku gak bisa menunggu sampai sebulan lagi karena aku ingin segera menjaga kamu. Aku mau kamu dalam perlindunganku sesegera mungkin. Tak apa jika kita hanya menikah sederhana, jika tetap ingin mengadakan pesta seperti rencana Mama, itu bisa kita lakukan di bulan depan sesuai rencana awal. Tapi, aku ingin akad secepatnya."


"Tapi, Ken---"

__ADS_1


"Aku harap kamu setuju, Han!" potong Ken cepat.


*****


__ADS_2